Shalat adalah penenang seorang muslim dan hiburannya, puncak
tujuan dan cita-citanya. Rasulullah shallallahu ‘alahi wasallamberkata kepada
bilal, “Tenangkanlah kami dengan shalat.” Beliau bersabda,
جُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي
الصَّلاةِ
“Dan dijadikan penyejuk hatiku dalam shalat.” (HR. an-Nasa’I dan Ahmad)
Shalat menjadi penyejuk hati , kenikmatan jiwa dan surga hati bagi seorang
muslim di dunia. Seolah-olah ia senantiasa berada di dalam penjara dan
kesempitan, sampai akhirnya masuk ke dalam shalat, sehingga baru bisa
beristirahat dari beban dunia dengan shalat. Dia meninggalkan dunia dan
kesenangannya di depan pintu masjid, dia meninggalkan di sana harta dunia dan
kesibukannya di dalam hatinya. Masuk masjid dengan hati yang penuh rasa takut
karena mengagungkan Allah mengharapkan pahalaNya.
Abu bakar ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, apabila sedang dalam keadaan shalat,
seolah-olah ia seperti tongkat yang ditancapkan. Apabila mengeraskan bacaannya,
isakan tangis menyesaki batang lehernya. Sedangkan ‘Umar al-Faruq radhiyallahu
‘anhu, apabila membaca, orang yang di belakangnya tidak bisa mendengar
bacaannya karena tangisannya. Demikian juga ‘Umar bin abdul ‘Aziz rahimahullah,
apabila dalam keadaan shalat, seolah-olah ia seperti tongkat kayu.
Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, apabila datang waktu shalat,
bergetarlah ia dan berubah wajahnya. Tatkala ditanya, dia menjawab, “Sungguh
sekarang ini adalah waktu amanah yang Allah tawarkan kepada langit, bumi dan
gunung, mereka enggan untuk memikulnya dan takut dengan amanah ini, akan tetapi
aku memikulnya.”
Di antara manusia ada yang shalat dengan badan dan seluruh persendiriannya,
menggerakkan lisannya dengan ucapan, menundukkan punggung mereka untuk ruku’,
turun ke bumi untuk sujud, akan tetapi hati mereka tidak bergerak ke arah Allah
Sang Pencipta Yang Maha Tinggi. Mereka menampakkan ketundukkan, sedangkan
hatinya lari menjauh. Mereka membaca al-Qur’an, akan tetapi tidak meresapinya.
Mereka bertasbih, akan tetapi tidak memahaminya. Mereka berdiri di hadapan
Allah dan di dalam rumahNya, akan tetapi sebenarnya pandangannya kea rah pekerjaan
mereka, tinggal bersama ruh mereka di tempat tinggal mereka.
Begitulah keadaannya, seseorang telah mengerjakan shalat dalam waktu yang lama,
akan tetapi ia tidak pernah menyempurnakan shalatnya, meskipun hanya sehari
saja, karena ia tidak menyempurnakan ruku’nya, sujudnya, dan khusyu’nya.
Barangsiapa keadaannya seperti ini, sungguh ia tidak bisa mengambil manfaat
dari shalatnya, sehingga kadang-kadang ia memakan harta manusia dengan batil,
melakukan kerusakan di antara manusia, melaksanakan amalan yang bertentangan
dengan agama dan akhlak, bahkan dia menjadikan shalatnya hanya untuk
mendapatkan pujian manusia, untuk menutupi kedua tangan dan kakinya.
Majalah Immasjid






Home
Posting Komentar