Hati-hati. Jangan pernah mendurhakai kedua orang tua. Sebab amarah mereka
memantik azab Allah SWT yang kontan, tidak ditunda. Jika mau, kutunjukkan
kepada kalian orang-orang yang dulunya durhaka kepada orang tua agar kalian
tahu bagaimana kenaasan kini selalu menggelayuti mereka. Barangsiapa
menghendaki kebahagiaan di dunia dan akhirat, hendaklah ia berbakti kepada
kedua orang tuanya. Sungguh, aku telah merasakannya. Setiap perbuatan yang
dilakukan seseorang terhadap kedua orang tuanya, kelak akan dibalas oleh
anak-anaknya. Demi Allah, aku telah menyaksikan semua itu dengan jelas.
Meminta yang berlebihan kepada kedua orang tua termasuk durhaka. Bakti
dalam hati lebih utama dari bakti dengan tingkah laku. Maksudnya, rasa bakti
dan hormat kepada orang tua harus terus bersemayam di hati, sedang lisan dan
tubuh sekadar pelaksana. Dalam keyakinanku, bakti yang hakiki adalah
menempatkan orang tua diatas diri kita sendiri, bahkan anak-anak kita. Hatta
seumpama kita disuruh memilih, siapa yang sebaiknya meninggal, anak atau orang
tua kita, Maka, meninggalnya anak kita lebih kita harap daripada meninggalnya
orang tua kita. Nah inilah birrul walidain yang sejati.
Jangan sangsi, kebahagiaan abadi bakal diraih dengan bakti kepada orang tua.
Mereka, para pemilik mata batin menyaksikan sendiri bukti shahihnya. Coba
perhatikan firman Allah SWT berikut ini,
أَنِ اشْكُرْ لِي وَلِوَالِدَيْكَ إِلَيَّ الْمَصِيرُ
“Bersyukurlah kepadaku dan kepada dua
orang ibu bapakmu, Hanya kepada-Kulah kembalimu.” (Lukman;14)
Di ayat ini Allah SWT memakai redaksi (wa) yang
berarti “dan” sebagai konjungsi, bukan (tsumma) yang berarti “kemudian”.
Maksudnya kurang lebih-wallahu a’lam, syukur kepada Allah SWT tidaklah cukup
bila tidak beriring dengan syukur kepada kedua orang tua. Sebab mereka berdua
berperan sebagai sebab wujudnya kita.
Barangsiapa menelaahi al-Qur’an dan mencermati
kandungan ayat-ayatnya dengan seksama, ia akan yakin bahwa bakti kepada kedua
orang tua adalah sumber segala kebajikan dan merupakan amal yang paling utama.
Dalam risalah qusairiyah diceritakan, dahulu ada
seorang lelaki yang suka berbuat nista. Hari-harinya selalu diisi dengan
maksiat. Suatu hari ia sakit parah. Merasa ajalnya dekat, ia berwasiat kepada
ibundanya. “Wahai ibuku, jika aku mati, jangan beritahu siapapun perihal
kematianku, sebab semua orang sudah pasti bakal mencelaku. Aku mohon juga,
injakkan kaki ibu di salah satu telingaku, lalu berujarlah, “ini balasan orang
bejat yang suka bermaksiat.” Lalu bayarlah beberapa orang untuk memandikan,
mengkafani lalu menguburkanku. Jika aku sudah di dalam kubur, berdirilah di
kuburanku dan berserulah tiga kali, “Wahai tuhanku, sesungguhnya aku meridhai
anakku ini. maka, ridhailah dia!”
Ketika si anak meninggal, sang ibu melaksanakan
semua wasiatnya. Terakhir, ia berdiri di atas pusara buah hatinya dan
menyerukan kalimat yang telah dipesankan seraya menengadahkan tangan. Tak
dinyana, baru saja sang ibu selesai munajat, ia mendengar kumandang suara dari
langit. “Aku ridha kepada anakmu”
Aku ketengahkan kisah ini kembali sebagai teladan
bagi kalian yang mengharapkan kebahagiaan akhirat. Soalnya, kini kebanyakan
dari kita sudah lupa akan nilai birrul walidain. Padahal, kebanyakan musibah
dan bencana yang menimpa kita saat ini adalah akibat perbuatan durhaka kepada
ibu-bapak. Ya, saat ini uququl walidain merajalela. Jadinya, orang-orang masa
kini tak mendapatkan keberkahan, baik di dunia maupun akhirat.
Durhaka kepada kedua orang tua tergolong dosa
besar. Tak ada amal yang bisa menebusnya, kecuali tobat yang benar-benar tulus.
Maka, kuperingatkan diriku sendiri secara khusus, serta semua orang, agar
berusaha sekuat tenaga berbakti kepada orang tua selagi masih ada, kedua-duanya
atau salah satunya. Sebab tak lama lagi mereka akan meninggalkan kita. Mari
manfaatkan kesempatan yang ada untuk berbakti, agar kita beruntung di dunia dan
akhirat.
Habib
Segaf bin Muhammad bin Umar as-Segaf






Home
Posting Komentar