ﻭﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻫﻮ ﺇﺗﺒﺎﻉ ﻗﻮﻝ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺩﻭﻥ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻘﻮﻝ،
ﻭﺇﻥ ﺗﻮﻓﺮﺕ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺠﺔﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻧﻔﺴﻪ .
ﺍﻟﻼ ﻣﺬﻫﺒﻴﺔ ﺍﺧﻄﺮ ﺑﺪﻋﺔ ﺗﻬﺪﺩ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ، ﺻﺤﻴﻔﺔ٦٩
Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengerti
dalil yang digunakan atas keshahihan pendapat tersebut, walaupun mengetahui
tentang keshahihan hujjah taqlid itu sendiri. Taqlid itu hukumnya haram bagi seorang Mujtahid dan Wajib
bagi seorang yang bukan mujtahid.
Imam al- Suyuthi mengatakan :
ﺛﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺘﻬﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ . ﻓﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻣﻄﻠﻘﺎ . ﻋﺎﻣﻴﺎ
ﻛﺎﻥ ﺍﻭ ﻋﺎﻟﻤﺎ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻓﺎﺳﺌﻠﻮﺍ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﻻ ﺗﻌﻠﻤﻮﻥ .
ﺍﻟﻜﻮﺍﻛﺐ ﺍﻟﺴﺎﻃﻊ ﻓﻲ ﻧﻈﻢ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺠﻮﺍﻣﻊ ﺟﺰ ٢ ﺻﺤﻴﻔﺔ ٤٩٢
Kemudian , manusia itu ada yang menjadi mujtahid dan ada
yang tidak. Bagi yang bukan mujtahid wajib bertaqlid secara mutlaq, baik ia
seorang awam ataupun orang alim. Berdasarkar firman Allah SWT ( QS. Al- anbiya'
7) bertanyalah kamu kepada orang yang ahli ( dalam bidangnya) jika kalian tidak
tahu..
Dengan demikian taqlid itu tidak hanya terbatas pada orang
awam saja. orang- orang alim yang sudah mengetahui dalilpun masih dalam
kategori seorang muqallid. Selama belum sampai pada tingkatan mujtahid, mereka
tetap wajib ber-taqlid, sebab pengetahuan mereka hanya sebatas dalil yang
digunakan, tidak sampai kepada proses, metode dan seluk-beluk dalam menentukan
suatu hukum.
Dalam kitab turats ulama disebutkan, bahwa ulama salaf juga
mewajibkan taqlid bagi orang awam (bukan mujtahid) kepada ulama yang mujtahid.
Bahkan, al Hafizh al Iraqi dan Imam al Qarafi menyebut praktik taqlid kepada
ulama yang mujtahid adalah ijma' mulai zaman shahabat.
1. Imam Malik Bin Anas
Dalam kitab adz Dzakhirah, Imam al Qarafi al Maliki menukil
dari al Hafizh Ibn al Qashshar, bahwa Imam Malik juga mewajibkan taqlid bagi
orang awam.
ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ
ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﻛﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﻥ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ
ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﺑﻐﺪﺍﺩ
"Imam Malik berkata: "Wajib bagi orang awam
bertaqlid kepada ulama mujtahid dalam perkara hukum. Mereka juga wajib
berijtihad mencari mujtahid tertentu sebagaimana mujtahid berijtihad terhadap
dalil. Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang menyelisihi kaum Muktazilah
Baghdad".
2. Imam Ahmad Bin Hanbal
ﻭَﻣَﻦْ ﺯَﻋَﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟﺘَّﻘﻠﻴﺪَ، ﻭَﻻَ ﻳُﻘﻠِّﺪُ ﺩﻳﻨَﻪ
ﺃَﺣَﺪﺍً، ﻓَﻬَﺬَﺍ ﻗَﻮْﻝُ ﻓَﺎﺳﻖٍ
"Barang siapa yang menyangka bahwa dia tidak menganggap
taqlid dan tidak bertaqlid dalam agamanya kepada siapapun, maka ini adalah
ucapan orang fasiq" (I'lamul Muwaqqin).
Beliau juga berkata:
ﻣﻦ ﺗﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺷﻴﺊ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺨﻄﺄ
"Siapa yang berbicara sesuatu sementara dalam hal
tersebut dia tak ada imam panutan, aku khawatir dia silap". (Al Adab asy
Syar'iyyah)
3. Salaf Ber-Ijma Boleh Taqlid
Al-Qarafi dalam adz Dzakhirah dan al Iraqi dalam nukilan
Musallam ats Tsubut berkata:
ﻗﺎﻋﺪﺓ : ﺍﻧﻌﻘﺪ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺃﺳﻠﻢ ، ﻓﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺪ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ
ﺑﻐﻴﺮ ﺣﺠﺮ . ﻭﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ : ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻔﺘﻰ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ، ﺃﻭ ﻗﻠﺪﻫﻤﺎ ، ﻓﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻔﺘﻲ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ ، ﻭﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ، ﻭﻳﻌﻤﻞ
ﺑﻘﻮﻟﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻧﻜﻴﺮ ، ﻓﻤﻦ ﺍﺩﻋﻰ ﺭﻓﻊ ﻫﺬﻳﻦ ﺍﻹﺟﻤﺎﻋﻴﻦ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ
"Telah terjadi ijma, orang yang masuk Islam boleh
bertaqlid kepada ulama manapun dia suka tanpa ada pelarangan. Shahabat juga
berijma', orang yang meminta fatwa Abu Bakar atau Umar radhiyalllahu anhuma
atau taqlid kepada keduanya, maka ia boleh meminta fatwa kepada Abu Hurairah
dan Muadz bin Jabal dan yang lainnya dan mengamalkan pendapat mereka tanpa
diingkari. Barang siapa yang mengaku dua ijma' ini tidak berlaku, maka
hendaklah dia menampilkan dalil".
4. Harus Punya Imam
Abdullah bin Wahb, pakar hadits murid Imam Malik, berkata:
ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺣﺪﻳﺚ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻓﻬﻮ ﺿﺎﻝ
"Setiap ahli hadits yang tidak memiliki imam panutan
dalam fikih, maka dia bisa tersesat". (Al Jami' lil Qairuwani).
Ini bagi ahli hadits yang belum sampai level mujtahid mutlak
baik mustaqil atau muntasib.
6. Tidak Boleh Sembarangan Mengambil Pendapat Tetapi Tetap
Merujuk Ulama Mujtahid
Imam Ahmad berkata:
" ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﻤﺼﻨﻔﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ
ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﺷﺎﺀ ﻭﻳﺘﺨﻴﺮ ﻓﻴﻘﻀﻲ ﺑﻪ
ﻭﻳﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺄﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻳﺆﺧﺬ ﺑﻪ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﺮ ﺻﺤﻴﺢ
"Jika pada seseorang terdapat kitab-kitab karangan yang
di sana terdapat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ikhtilaf
shahabat dan tabi'in, maka ia tidak boleh mengamalkan sembarangan dan memilih
apa saja hingga menjadikannya sebagai putusan dan pengamalan sampai dia mau
bertanya kepada pakar ilmu; mana yang bisa diambil. Dengan demikian dia telah
mengamalkan hal yang benar" (I'lam al Muwaqqi'in Li Ibn Qayyim)
Ust. Hidayat Nur dan Ust. Ulil Albab, Alumni Pondok Ploso
Kediri, Alumni Pondok kalibeber Wonosobo, Anggota Bahtsul Masail NU Jateng.






Home
Posting Komentar