''Tidaklah
cukup suami-suami takut istri, karena kalau mau selingkuh mah gampang.
Semestinya, suami-suami takut Allah, itu baru sip''
Jika kita bahas lebih jauh, memang salah satu yang membentuk perilaku
keseharian kita adalah motivasi. Menurut Imam Al-Ghazali, motivasi terbesar
manusia adalah Khauf (takut) dan Roja (harap). Allah SWT telah
mengajarkan kita tentang motivasi terbesar takut dan harap itu dalam bentuk
surga dan neraka.
Dengan selalu berharap akan surga Allah dan takut terhadap azab neraka, maka
konsep takwa akan dapat diimplementasikan dalam keseharian kita. Dalam surah
As-Sajdah ayat 16, Allah menerangkan bahwa orang-orang yang percaya kepada
ayat-ayat Allah, lambung mereka jauh dari tempat tidurnya (maksudnya adalah
tidak tidur di waktu biasanya orang tidur untuk mengerjakan sholat malam) dan
mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap.
Memang diperlukan kesadaran untuk membentuk perilaku. Dan perilaku islami itu
hanya bisa ditumbuhkan dengan kesadaran bahwa Allah yang hidup kekal lagi terus
menerus (mengurus makhluknya) tidak mengantuk dan tidak pula tidur, selalu
hadir, melihat dan menyaksikan semua perilaku kita. Kesadaran inilah yang
membuat seseorang malu dan tak mau berbuat dosa.
Dalam sebuah hadis Rasullullah SAW bersabda, “Seseorang tidak mungkin mencuri
atau melakukan kejahatan, sedangkan ia beriman kepada Allah dalam arti
menyadari kehadiran dan pengawasan-Nya.'' (HR Muslim)
Dzakaro dalam arti menghadirkan dan dzikrullah dengan pemahaman selalu
menghadirkan Allah akan membuat kita merasa selalu merasa tertuntun dalam
setiap tingkah laku. Itulah yang selalu kita minta pula dalam surah Al-Fatihah
ayat 6, ''Tunjukilah kami jalan yang lurus.”
Kata “ihdina” berasal dari kata hidayaah atau huda yang dapat diartikan dengan
memberi petunjuk ke jalan yang lurus. Dan dengan meningkatkan kesadaran
terhadap hadirnya Allah dalam setiap saat akan membantu kita dalam berperilaku
dalam keseharian. Akhirnya membawa kita ke dalam jalan yang lurus yaitu jalan
yang diridhai Allah SWT.
Kesadaran tinggi terhadap pengawasan ini dinamai muraqobah. Imam Qusyairi dalam
bukunya Risalah Al-Qusyairiyah menuturkan: tiga keutamaan dari kesadaran
adanya pengawasan Allah itu. Pertama, muraqobah mendorong manusia melakukan
evaluasi dan introspeksi diri (mahasabat Al nafs).Kedua, muraqobah meningkatkan
rasa takut kepada Alloh SWT (makhafat Allah).Ketiga, muraqobah dapat meningkatkan
amal kebaikan (shalih Al a’mal).
Dengan selalu mengedepankan motivasi harap dan takut akan membuat kita lebih
waspada dalam setiap kesempatan. Lebih dari itu, Allah SWT menjanjikan
keberuntungan atau kemenangan. Sebagaimana tercantum dalah QS An Nuur, 24
: 52), “Dan barang siap yang taat kepada Allah dan Rasul-NYA dan takut kepada
Alloh dan bertaqwa kepada-NYA, maka mereka adalah orang-orang yang mendapat
keberuntungan/kemenangan”.
Dalam tafsir Al-Misbah diterangkan, kata Al-fa’izun adalah bentuk jamak dari
kata fa’iz yakni peraih keberuntungan. Kata tersebut diambil dari kata fa’uz
dan dapat diterjemahkan dengan keberuntungan atau kemenangan.Oleh karena itu
dengan taat kepada Allah dan Rasul-Nya dan takut (disebabkan dosa-dosa yang
telah diperbuat) serta bertaqwa (dalam artian menjalankan perintah-Nya dan
menjauhi larangan-Nya), maka kita akan menjadi peraih keberuntungan atau
termasuk kepada orang-orang yang meraih kemenangan. Insya Allah.
Kembali kepada konteks judul “Suami-Suami Takut Allah” adalah suatu bentuk
upaya mengingatkan dan mengembalikan kesadaran kita sebagaimana mestinya
secara realita, agar judul "Suami-Suami Takut Istri" itu hanyalah
sebuah bentuk hiburan tayangan televisi.
Yang memang walaupun sedikit banyaknya mengangkat potret-potret realitas,
tetapi tetap tidak dalam koridor yang secara tidak langsung menyatakan bahwa
sebaiknya suami-suami itu tidak seperti itu.
Hendaklah suami-suami sebagai pemimpin; kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi
kaum wanita,…(QS. An Nisaa, 4 : 34). Memelihara dirinya sendiri, keluarga dan
lingkungan agar terhindar dari api neraka. Sebagaimana ayat, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan
keluargamu dari api neraka….” (QS. At Tahrim 66 : 6)
Semoga kita termasuk orang-orang yang beriman, yang selalu memelihara diri,
keluarga, dan lingkungan kita agar selalu jauh dari api neraka.
Ustaz Erick Yusuf






Home
Posting Komentar