Ketika semua telah lenyap, yakni
fana’ di Hadhirat Allah SWT, yang tertinggal hanya Ruh Suci (Ruh al-Quds). Ia
melihat dengan Nur Allah, ia melihat Allah, ia melihat untuk Allah. Tidak ada
bayangan dan tidak ada yang menyerupai Allah, sebagaimana firman-Nya :
“Tidak ada sesuatupun yang serupa
dengan Dia, dan Dia-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (Q.S.
Asy-Syura: 11)
Satu yang tertinggal dan mutlak,
yakni Nur Suci. Suatu karunia yang tinggi yang diberikan kepada orang yang
utama. Tidak ada lagi yang ingin diketahuinya setelah tingkat ini. Inilah
peringkat fana’ (lenyap dan musnah). Tingkat puncak yang dapat dicapai oleh
manusia ketika berada di alam fana’ ini, tidak ada lagi, kecuali Allah. Hanya
Allah tempat bertanya, dan hanya Allah pula yang memberikan jawaban. Maka di
peringkat itu seseorang sangat dekat dengan Allah hingga tidak ada siapa dan
apapun yang menjadi celah di antara dia dengan Allah.
Itulah keadaan ketika seseorang
menjadi ‘kosong’, tanpa diri, kecuali Zat Allah yang wujud. Itulah pula keadaan
‘bersatu’ dan ‘berpadu’ dengan Allah, karena hati seorang Mu’min adalah rahasia
Tuhan.
Hal serupa juga diberikan secara khusus
sebagai karunia kepada orang-orang yang khusus pula, orang-orang yang
mencari-Nya hingga bertemu dengan-Nya, orang yang telah berma’rifah kepada
Tuhan Penciptanya, yang telah mengenali Tuhannya, dan kemudian Tuhan pun
mengenalinya, yang telah mencintai dan merindukan Tuhan Penciptanya, kemudian
Tuhan Pencipta pun mencintai dan merindukannya. Ucapan-ucapannya sangat sulit
dituangkan ke dalam bentuk tulisan karena terlalu sulit dan tidak dapat
diuraikan. Peristiwa atau keadaan ini bukanlah omong kosong. Karena itu, setiap
orang dapat menginterpretasikannya dengan sesuka hati. Orang yang belum
mengetahui hal ini, artinya mereka masih jahil. Dan orang yang jahil tidak
boleh membuat interpretasi keraguan dan kekeliruan, yang akhirnya membawa
keadaan tindakan saling menuduh, sesat dan menyesatkan.
Bagi orang yang belum mengenal
keadaan fana’ ini, sebaiknya menjauhkan diri darinya. Dan orang yang masih
berendam di tepi pantai yang dangkal, jangan mencoba-coba menduga lautan yang
dalam, karena kelak yang ditemuinya bukan hidayah, melainkan kesesatan.
Ini bukan medan permainan untuk
menguji nasib. Siapa suka boleh berbicara mengikuti nafsunya, atau menurut
akalnya yang sempit. Ini adalah ahwal hakiki yang menghendaki ma’rifah yang
hakiki pula.
Akan tetapi, bagi orang yng
benar-benar sudah mengenal yang haq dan yang batil, dia tidak akan berhenti.
Apa yang dicarinya selama ini telah ditemukannya. Dia telah mengenal dirinya,
dan kini dia telah mengenal Tuhannya. Dirinya adalah hamba. Sebagai seorang
hamba, dia tidak memiliki apa-apa, karena Zat Ketuhanan itulah Tuannya yang
memiliki segala kekuasaan-Nya.
Inilah keadaan ketika manusia
melepaskan dirinya dari segala perkara, dari segala sesuatu selain Allah,
mengosongkan diri dari segala sesuatu, kecuali Allah. Maka, ketika itulah Allah
akan memberi pakaian kepada manusia berupa sifat-sifat Ketuhanan, dan
tenggelamlah ia di dalam sifat-sifat Ketuhanan itu sehingga semua
gerak-geriknya tidak terlepas dari sifat-sifat Tuhan yang Maha Besar lagi Maha
Agung.
Semua itu adalah kesadaran ruhani
yang sangat dalam artinya, hasil dari mengenang dan memusatkan renungan hati
pada maksud dan pengertian batin Asma’ Allah tersebut.
M Syafii






Home
Posting Komentar