Dan Dia-lah Tuhan yang membentangkan bumi dan menjadikan
gunung-gunung dan sungai-sungai padanya. Dan menjadikan padanya semua
buah-buahan berpasang-pasangan. Allah menutupkan malam kepada siang.
Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi
kaum yang memikirkan. (al-Ra’d:
3)
Yang dimaksud berpasang-pasangan, ialah jantan dan betina,
pahit dan manis, putih dan hitam, besar kecil dan sebagainya.
“wa min kull
al-tsamarat ja’al fiha
zawjain itsnain”. Semua
buah-buahan dicipta berpasanga. “yughsyi
al-lail al-nahar”. Malam
menutupi siang. Ketika Tuhan membicarakan pasangan buah-buahan dinyatakan
dengan bahasa tegas meminjam bahasa perjodohan manusia, “zawjain itsnain”.
Tapi saat membicarakan pasangan waktu malam dan sing dipakai kata “yughdyi” yang artinya menutupi, mencampuri, memasuki. Mirip
dengan ideom “ taghasy-sya” yang artinya “menyetubuhi”, seperti pemberitaan Tuhan tentang senggama Adam
dan Hawwa’ (al-A’raf:189).
Semua yang difirmankan Tuhan pasti benar dan terkait hal di
atas, kira-kira arahnya begini, bahwa cara dan praktik berpasangan antara
buah-buahan (al-tsamarat) dan waktu (al-lail al-nahar) itu berbeda. Maka,
ilmuwan yang hendak memahami atau meneliti praktik berpasangan keduanya harus
hati-hati. Untuk tsamarat, kiranya ilmuwan biologi, ilmuwan tanaman adalah
ahlinya. Dari membedakan jenis sel maupun kelaminnya. Bisa jadi pasangan sel
itu ada dalam satu batang pohon, sehingga tidak perlu dikawinkan dengan milik
pohon lain sudah bisa menghasilkan buah.
Namun yang umum dan sudah diketahui oleh para petani ortodok
sejak zaman dulu adalah pohon korma. Tradisi petani pra Islam mengawinkan
kepala putik dengan benang sari, sehingga menghasilkan buah korma yang bagus.
Itu sunnatullah yang berlaku di dunia pertanian. Diriwayatkan, bahwa Rasulullah
SAW pernah lewat di sebuah perkebunan dan melihat petani kormamengawinkan bunga
jantan dengan bunga betina. Rasul menyindir, tak usah dikawinkan, toh ada Tuhan
yangMahakuasa dan petani itu menurut.
Saat musin panen tiba, ternyata setoran zakat korma dari
para petani menurun drastis. Rasulullah SAW terkejut dan bertanya “mengapa?”. Diberitahukan, bahwa hal itu karena para petani
menuruti anjuran nabi, “tidak usah
mengawinkan korma”. Nabi
merunduk dan mengakui kekurangannya, lalu mengoreksi diri: ”soal tehnik keduniawian, kalian lebih mengerti
daripada saya”. Kemudian,
mereka mengawinkan lagi dan hasilnya berlimpah seperti biasanya. Apakah
berpasangannya siang dan malam sama seperti buah? Apa hikmah yang biasa diambil
dari hadis di atas?
Berpasangannya waktu, siang dan malam tentu tidak demikian
dan ilmuwan bidang ini adalah ahlinya. Kata “yughsyi” dalam ayat studi di atas
lebih pada kerja intervensi radikal dan penggantian kondisi lama dengan kondisi
baru. Waktu malam datang menghapus semua elemen-elemen siang, sehingga suasana
berubah menjadi malam yang relatif lebih gelap. Begitu halnya bila waktu siang
tiba, maka semua elemen malam sirna dan tergantikan dengan elemen siang. Saat
al-Qur’an turun, listrik belum
ditemukan, apakah listrik juga berpasangan?. Ya, ada arus plus dan ada minus,
dipadukan dan menghasilkan energi.
Bila Hadis di atas benar, maka hikmahnya adalah,: Pertama,
nabi itu manusia biasa yang bisa salah. Tapi tidak pernah terus menerus dalam
kesalahan. Kesalahan yang dilakukan nabi pasti segera direvisi dan dibetulkan,
sehingga hukum akhir yang dijadikan pedoman adalah hasil revisi. Itulah wahyu,
sedangkan apa yang dilakukan nabi sebelumnya adalah proses menuju kebenaran.
Kedua, memberi tuntunan bahwa sehebat apapun manusia,
tidaklah mesti lengkap dan bisa semua. Ada keunggulan di bidang tertentu, tapi
lemah di bidang lain. Maka, tak ada alasan untuk merendahkan orang lain.
Ketiga, jika seseorang melakukan kesalahan, maka jangan
malu-malu mengoreksi diri dan membetulkan sebagaimana mestinya.
DR. KH. A Musta'in Syafi'ie M.Ag (diterbitkan di Bangsaonline.com)






Home
Posting Komentar