"وَالْعَصْرِ . إِنَّ الْإِنسَانَ لَفِي خُسْرٍ . إِلَّا الَّذِينَ
آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ".
العصر : 1-3.
Artinya: "Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar
dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang (1) beriman , (2) beramal shalih, (3)
saling nasehat menasehati dalam kebaikan dan (4) saling nasehat menasehati
dalam kesabaran". QS. Al-'Ashr: 1-3.
Sedemikian agungnya surat ini, sampai-sampai Imam Syafi'i
rahimahullah berkata, "Seandainya Allah tidak menurunkan hujjah atas para
hamba-Nya melainkan hanya surat ini; niscaya itu telah cukup" .
Berikut penjabaran ringkas, masing-masing dari empat kunci
tersebut di atas:
Kunci Pertama: Ilmu
Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu agama, ilmu yang dibutuhkan oleh seorang insan untuk
menjalankan kewajiban-kewajiban agama, wajib hukumnya untuk dicari oleh setiap
muslim dan muslimah, sebagaimana ditegaskan oleh Rasulullah
shallallahu'alaihiwasallam dalam sabdanya,
طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ# رواه ابن ماجه
من حديث أنس بن مالك رضي الله عنه وصححه الشيخ الألباني في تحقيقه على مشكاة المصابيح.
"Mencari ilmu hukumnya wajib atas setiap muslim". (HR.
Ibnu Majah dari hadits Anas bin Mâlik)
Di antara beragam disiplin mata ilmu agama, yang seharusnya
mendapatkan prioritas pertama dan utama untuk dipelajari dan didalami terlebih
dahulu oleh setiap muslim adalah ilmu tauhid. Karena itulah pondasi Islam dan
inti dakwah seluruh rasul dan nabi. Allah ta'ala berfirman,
"وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَّسُولاً أَنِ اعْبُدُواْ
اللّهَ وَاجْتَنِبُواْ الطَّاغُوتَ". النحل : 36.
Artinya: "Dan telah Kami utus seorang rasul di setiap
umat (untuk menyerukan) sembahlah Allah semata dan jauhilah thaghut". QS.
An-Nahl: 36.
Kunci Kedua: Amal
'Perjalanan suci' seorang hamba setelah memiliki ilmu belum
usai, namun masih ada 'fase sakral' yang menantinya; yaitu mengamalkan ilmu
yang telah ia miliki tersebut. Ilmu hanyalah sarana yang mengantarkan kepada
tujuan utama yaitu amal.
Demikianlah urutan yang ideal antara dua hal ini; ilmu dan
amal. Sebelum seorang beramal ia harus memiliki ilmu tentang amalan yang akan
ia kerjakan, begitupula jika kita telah memiliki ilmu, kita harus mengamalkan
ilmu tersebut.
Seorang yang memiliki ilmu namun tidak mengamalkannya akan
dicap menyerupai orang-orang Yahudi, dan mereka merupakan golongan yang
dimurkai oleh Allah ta'ala, sebaliknya orang-orang yang beramal namun tidak
berlandaskan ilmu, mereka akan dicap menyerupai orang-orang Nasrani, dan
merupakan golongan yang tersesat. Dua golongan ini Allah singgung dalam ayat
terakhir surat al-Fatihah:
"اهدِنَا الصِّرَاطَ المُستَقِيمَ . صِرَاطَ الَّذِينَ أَنعَمتَ
عَلَيهِمْ غَيرِ المَغضُوبِ عَلَيهِمْ وَلاَ الضَّالِّينَ". الفاتحة : 6-7.
Artinya: "Tunjukkanlah pada kami jalan yang lurus.
Yaitu jalan golongan yang engkau karuniai kenikmatan atas mereka, bukan
(jalannya) golongan yang dimurkai ataupun golongan yang tersesat". QS.
Al-Fatihah: 6-7.
Mutiara Jasmin






Home
Posting Komentar