Setelah seorang hamba membekali dirinya dengan ilmu dan
amal, dia memiliki kewajiban untuk 'melihat' kanan dan kirinya, peduli terhadap
lingkungan sekitarnya. Kepedulian itu ia apresiasikan dengan bentuk
'menularkan' dan mendakwahkan ilmu yang telah ia raih dan ia amalkan kepada
orang lain.
Inilah fase ketiga yang seharusnya dititi oleh seorang
muslim, setelah ia melewati dua fase di atas. Dia berusaha untuk mengajarkan
ilmu yang ia miliki kepada orang lain, terutama keluarganya terlebih dahulu,
dalam rangka meneladani metode dakwah Rasulullah shallallahu'alaihiwasallam
yang Allah ceritakan dalam firman-Nya,
"وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ الْأَقْرَبِينَ". الشعراء:
214.
Artinya: "Dan berilah peringatan (terlebih dahulu)
kepada keluarga terdekatmu". QS. Asy-Syu'arâ': 214.
Tidak sepantasnya seorang da'i menyibukkan dirinya untuk
mendakwahi orang lain di mana-mana lalu 'menterlantarkan' keluarganya sendiri;
sebab sebelum ia 'mengurusi' orang lain, ia memiliki kewajiban untuk
'mengurusi' keluarganya terlebih dahulu, sebagaimana yang dijelaskan oleh Allah
ta'ala dalam firman-Nya,
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ
نَاراً". التحريم: 6.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri
kalian dan keluarga kalian dari api neraka". QS. At-Tahrîm: 6.
Dalam berdakwah terhadap keluarga maupun kepada orang lain,
kita dituntut untuk senantiasa mengedepankan sikap hikmah, dalam rangka
mengamalkan firman Allah ta'ala,
"ادْعُ إِلِى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ
الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ". النحل: 125.
Artinya: "Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan
hikmah dan pengajaran yang baik, serta berdebatlah dengan mereka dengan jalan
yang baik". QS. An-Nahl: 125.
Inilah kunci ketiga yang akan mengantarkan seorang hamba ke
surga. Namun seseorang tidak dibenarkan untuk langsung meloncat ke fase ketiga
ini (yakni dakwah) tanpa melalui dua fase sebelumnya (yakni ilmu dan amal);
karena jika demikian halnya ia akan menjadi seorang yang sesat dan menyesatkan
ataupun menjadi seorang yang amat dibenci oleh Allah ta'ala.
Mereka yang berdakwah tanpa ilmu, Rasulullah
shallallahu'alaihiwasallam sifati dalam sabdanya sebagai orang yang sesat dan
menyesatkan,
"إِنَّ اللَّهَ لَا
يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ، وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ
بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ، حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا؛ اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا
جُهَّالًا، فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا". رواه
البخاري ومسلم من حديث عبدالله بن عمرو رضي الله عنهما، واللفظ للبخاري.
"Sesungguhnya Allah tidak melenyapkan ilmu (dari muka
bumi) dengan cara mencabut ilmu tersebut dari para hamba-Nya, namun Allah akan
melenyapkan ilmu (dari muka bumi) dengan meninggalnya para ulama; hingga jika
tidak tersisa seorang ulamapun, para manusia menjadikan orang-orang yang bodoh
sebagai panutan, mereka menjadi rujukan lalu berfatwa tanpa ilmu, sehingga
sesat dan menyesatkan". HR. Bukhari dan Muslim dari hadits Abdullah bin
'Amr radhiyallahu'anhuma, dengan redaksi Bukhari.
Sedangkan mereka yang berdakwah kemudian tidak mengamalkan
apa yang didakwahkannya, Allah ta'ala cela dalam firman-Nya,
"يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لِمَ تَقُولُونَ مَا لَا
تَفْعَلُونَ . كَبُرَ مَقْتاً عِندَ اللَّهِ أَن تَقُولُوا مَا لَا تَفْعَلُونَ".
الصف: 2-3.
Artinya: "Wahai orang-orang yang beriman, mengapa
kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci
di sisi Allah jika laian mengatakan apa-apa yang tidak kalian kerjakan".
QS. Ash-Shaff: 2-3.
Kunci Keempat: Sabar
Kesabaran dibutuhkan oleh setiap muslim ketika ia mencari
ilmu, mengamalkannya dan mendakwahkannya; karena tiga fase ini susah dan berat.
Proses pencarian ilmu membutuhkan semangat 'empat lima' dan
kesungguhan, sebagaima disitir oleh Yahya bin Abi Katsir :, "Ilmu tidak
akan didapat dengan santai-santai".
Pengamalan ilmu juga membutuhkan kesabaran, karena hal itu
merupakan salah satu jalan yang utama yang mengantarkan seorang hamba ke surga,
dan jalan menuju ke surga diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai oleh
nafsu. Dalam hadits shahih disebutkan,
"حُفَّتْ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ وَحُفَّتْ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ".
رواه مسلم من حديث أنس بن مالك رضي الله عنه.
"(Jalan menuju ke) surga diliputi dengan hal-hal yang
dibenci (nafsu), sedangkan (jalan menuju ke) neraka diliputi dengan hal-hal
yang disukai hawa nafsu". HR. Muslim dari hadits Anas bin Mâlik
radhiyallahu'anhu.
Tidak ketinggalan, dakwah juga membutuhkan kesabaran, karena
itu merupakan jalan yang dititi para rasul dan nabi.
عن سعد رضي الله عنه قال:
قُلْتُ: "يَا رَسُولَ اللَّهِ أَىُّ النَّاسِ أَشَدُّ بَلاَءً؟" قَالَ:
"الأَنْبِيَاءُ ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ...". رواه الترمذي وقال حسن
صحيح، وكذا قال الشيخ الألباني.
Sa'ad bertanya, "Wahai Rasulullah, siapakah orang yang
paling berat cobaannya? Beliau shallallahu'alaihiwasallam menjawab, "Para
nabi lalu mereka yang memiliki keutamaan yang tinggi, lalu yang di bawah mereka…". HR. Tirmidzi dan beliau
berkata, "Hasan shahih",
Mutiara Jasmin






Home
Posting Komentar