Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Hakikat Duka Cita


Ibnu Khafif mengatakan bahwa duka cita dapat memperkecil keinginan hawa nafsu dari bergolaknya suka cita.

Maka, boleh jadi rasa berduka merupakan kesempatan yang diberikan Tuhan untuk menyadarkan kesadaran batin kita. 

Alangkah hebatnya jika kita mampu menggunakannya sebagai media untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Begitu juga dengan puasa yang sedang kita jalankan, sesungguhnya rasa lapar dan haus, kelelahan, kepanasan, dan kelemahan badan adalah sarana untuk mengekang hawa nafsu sekaligus media untuk mendekat kepada Allah.

Seperti yang diucapkan oleh Abu Usman, segala bentuk duka cita adalah keistimewaan dan keutamaan bagi orang yang Mukmin, selagi bukan untuk kemaksiatan. Apabila ia tidak memberikan keistimewaan, maka ia pasti memberikan kebersihan jiwa.

Menurut Fudlail bin 'Iyadl, ulama salaf selalu berkata, "Segala sesuatu adalah zakat, sedangkan zakat adalah duka cintanya akal."

Suatu saat Abu Usman Al-Hiri ditanya tentang duka cita, dia mengatakan, "Orang yang berduka tidak akan lepas dari permohonan. Maka, carilah kedukaanmu, lalu bermohonlah kepada Allah!"

Mari jadikan kesedihan dan duka cita kita sebagai jalan untuk penyucian batin dan media untuk memohon kepada Allah, saat getar kesedihan itu muncul di hati alihkan kepada Allah, kembalikan kepada-Nya, jadikan ia sebagai medan untuk mendekatkan diri kepada-Nya.


Disarikan oleh Ust. Halim Ambiya dari Risalah Qusyairiyah, karya Imam Qusyairi
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Allah Memuliakan Tamunya di Masjid


Diantara apa yang menunjukkan keutamaan shalat berjama'ah di masjid adalah apa yang dijelaskan oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam bahwa orang yang datang ke masjid adalah tamu Allah 'Azza wa Jalla, dan orang yang dikunjunginya wajib memuliakan tamunya. 

Imam ath-Thabrani meriwayatkan dari Salman radhiallahu'anhu, dari Nabi Shallallahu 'alaihi wasallam, beliau bersabda :

"Barangsiapa yang berwudhu' di rumahnya dengan sempurna kemudian mendatangi masjid, maka ia adalah tamu Allah, dan siapa yang dikunjunginya wajib memuliakan tamunya." (Majma'uz Zawaa-id wa Manba'ul Fawaa-id, kitab ash-Shalaah, bab al-Masy-yi ilal Masaajid II/31. Al-Hafizh al-Haitsami berkata tentang hadits ini, "Ath-Thabrani meriwayatkan dalam al-Kabiir dan perawi salah satu dari kedua sanadnya adalah perawi yang shahih." ibid, II/31).

Bagaimana cara Allah memuliakan tamu-Nya, sedangkan Allah Subhanahuwata'ala adalah Rabb yang paling Pemurah, Penguasa langit dan bumi? 

Para Shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam juga menegaskan hal ini. Imam Ibnul Mubarak -rahimahullah- meriwayatkan dari 'Amr bin Maimun, ia mengatakan, "Para Shahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wasallam mengatakan, 'Rumah Allah di bumi adalah masjid, dan Allah wajib memuliakan siapa yang mengunjungi-Nya di dalamnya.'" (Kitab az-Zuhd (Ziyaadatuz Zuhd, karya Nu'aim bin Hammad), n0. 6, hal. 2).

Imam Ibnu Abi Syaibah -rahimahullah- meriwayatkan dari Abu Syaibah, dari 'Amr bin Maimun, dari 'Umar radhiallahu'anhu, ia mengatakan, "Masjid adalah rumah Allah di muka bumi, dan siapa yang dikunjungi wajib memuliakan tamunya." (Al-Mushannaf, kitab az-Zuhd, Maa Jaa-a fii Luzuumil Masaajid III/318, no. 16463).

Imam Ibnu Abi Syaibah -rahimahullah- juga meriwayatkan dari Salman radhiallahu'anhu, ia mengatakan, "Barangsiapa yang berwudhu' dengan sempurna kemudian mendatangi masjid untuk shalat di dalamnya, maka ia adalah tamu Allah, dan siapa yang dikunjungi wajib memuliakan tamunya." (Ibid XII/319, no. 16465).


Syaikh DR. Fadhl Ilah
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Mari Saling Memaafkan

Saling cinta mencintai akan membuat suami isteri saling hormat menghormati dan hormat menghormati akan membuat suami isteri bisa saling memaafkan bila terjadi kesalahan, apalagi bila hal itu tidak disengaja.

Suatu ketika Rasulullah SAW berkata kepada Aisyah ra, isterinya bahwa ia akan pergi dan pulang pada malam hari, bahkan mungkin sudah larut malam.  Maka malam itu Aisyah menunggu kedatangan Rasul SAW, suami yang dicintainya. Bahkan menunggunya di ruang tamu, bukan di kamar tidur, maksudnya adalah agar saat Rasulullah mengetuk pintu dan mengucapkan salam, ia cepat bisa menjawab dan membukakan pintu.

Namun, kenyataan menjadi lain, Aisyah ra mungkin sangat ngantuk dan lelah. Saat menunggu itu, Aisyah malah tertidur pulas di ruang tamu sehingga saat Rasul SAW pulang, sudah mengetuk pintu dan mengucap salam hingga tiga kali, iapun tetap tidak bangun dari tidurnya, ia sama sekali tidak tahu.

Rasulullah SAW tidak mau mengganggu orang yang sedang tidur, apalagi isteri yang sangat dicintainya. Maka Rasulullahpun memutuskan untuk tidur di teras rumahnya.

Saat menjelang fajar, Aisyah terkejut sambil berkata dalam hatinya: “Sudah jam segini kok Rasul belum juga pulang, lagi pula mengapa saya tidur di sini?”.

Aisyah mencoba melihat keluar, dari jendela itu nampaklah dalam pandangan matanya seseorang tidur di teras rumah, bisa jadi ini adalah Rasul yang tidur itu. Ia keluar dan memperhatikan siapa  gerangan yang tidur di situ. Ketika diperhatikan, ternyata benar bahwa Rasulullah SAW sang suami tercinta tidur di tempat yang tidak menyenangkan. Dengan sentuhan tangannya yang lembut, Rasulullah dibangunkan perlahan, saat beliau bangun, kalimat pertama yang diucapkan Aisyah ra adalah permintaan maaf atas kesalahannya tertidur sehingga tidak membukakan pintu bagi Rasul.

Namun Rasul yang mulia justeru menjawab: “Tidak ada yang perlu dimaafkan. Kamu tidaklah bersalah”. Hal ini karena orang yang tertidur memang tidak bersalah.

Begitulah kata-kata indah yang keluar dari lisan suami isteri yang mulia yang membuat kecintaannya menjadi semakin kokoh.

Pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa ini adalah:

1. Cinta mencintai antara suami isteri akan membuatnya saling hormat menghormati sehingga tidak ada yang disebut dengan kekerasan dalam rumah tangga.

2. Kekeliruan suami terhadap isteri atau isteri terhadap suami bisa saja terjadi, namun menjadi sangat indah bila suami mudah untuk memaafkan kesalahan isteri dan begitu pula sebaliknya sehingga persoalan akan cepat diselesaikan.


drs. H. Ahmad Yani
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Untaian Doa




Sholawat Sughra Syaikh Abdul Qadir Al Jilany

ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧﺎَ ﻣﺤَُﻤَّﺪٍ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻖِ ﻟِﻠْﺨَﻠْﻖِ


ﻧُﻮْﺭُﻩُ ﻭَﺭﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ ﻇُﻬُﻮْﺭُﻩُ ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﻦْ ﻣَﻀَﻰ


ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﺑَﻘِﻲَ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻌِﺪَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ

ﺷَﻘَﻰ ﺻَﻼَﺓً ﺗَﺴْﺘـَﻐْﺮِﻕُ ﺍﻟْﻌَﺪَّ ﻭَﺗﺤُِﻴْﻂُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺪِّ

ﺻَﻼَﺓً ﻻَ ﻏَﺎﻳَﺔَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻣُﻨْﺘـَﻬَﻰ ﻭَﻻَ ﺍِﻧــْﻘِﻀَﺎﺀَ

ﺻَﻼَﺓً ﺩَﺍﺋِﻤَﺔً ﺑِﺪَﻭَﺍﻣِﻚَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ

ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ﻣِﺜــْﻞَ ﺫَﺍﻟِﻚَ


Ya Allah curahkanlah keselamatan atas junjungan kami Muhammad, yang cahayanya mendahului keberadaan semua makhluk, yang kehadirannya menjadi rahmat bagi seluruh alam; rahmat yang jumlahnya sebanyak makhluk-makhluk-Mu, yang telah musnah dan yang masih ada, yang berbahagia ataupun yang menderita. Yaitu sebuah keselamatan yang melampaui bilangan dan batasan, yang tiada akhir, yang tak pernah putus; sebuah keselamatan yang kekal abadi seperti kekekalan-Mu. Shalawat serta salam yang demikian itu juga semoga dicurahkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya (Kitab As-Safinah Al-Qadiriyah )

Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger