Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Manaqib Al Imam Al Habib Ali Bin Muhammad Bin Husein Al Habsyi

Penggubah Untaian Mutiara Kehidupan Rasulullah SAW, Maulid Simthuddurar, Al Allamah Arifbillah Al Imam Al Habib Ali bin Muhammad Al Habsyi dilahirkan di Qasam, Yaman pada hari Jum’at, tanggal 24 Syawwal 1259 H (1839 M). Nama Ali adalah pemberian dari Al Allamah Arifbillah Al Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi untuk bertabarruk dari Imam Ali Khali Qasam.

Ayahnya kelahiran Qasam, 18 Jumadil Akhir 1213 H, adalah seorang ulama dan wali besar yang kemudian hijrah ke Makkah Al Mukarramah dan menjadi Mufti Syafi’iyyah disana setelah kewafatan Al Allamah Arifbillah Asy Syaikh Ahmad Dimyati tahun 1270 H. Beliau tetap menjadi Mufti hingga kewafatannya pada hari Rabu, tanggal 21Dzulhijjah 1281 H. Beliau dimakamkan di pemakaman Hauthah Saadah Ba’alawi, Makkah. Sedangkan ibunya, Syarifah Alwiyah binti Husain bin Ahmad Al Hadi Al Jufri, adalah seorang wanita yang gemar mengajar dan berdakwah dari kota Syibam. Beliau dilahirkan pada tahun 1240 H dan wafat pada tanggal 6 Rabiul Akhir 1309 H. Habib Ali memiliki beberapa saudara, diantaranya Habib Abdullah, Habib Ahmad, Habib Husain, Habib Syaikh dan Syarifah Aminah.

Nasab Habib Ali adalah, Habib Ali Shahib Maulid bin Muhammad bin Husain bin Abdullah bin Syaikh bin Abdullah bin Muhammad bin Husain bin Ahmad Shahib Syi’ib bin Muhammad Ashghar bin Alwi bin Abu Bakar Al Habsyi bin Ali bin Ahmad bin Muhammad Assadullah bin Hasan Atturabi bin Ali bin Muhammad Faqih Muqaddam bin Ali bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali Qasam bin Alwi bin Muhammad Shahib Saumah bin Alwi Shahib Sumail bin Ubaidillah Shahib Aradh bin Ahmad Al Muhajir-ilallah bin Isa Arrumi bin Muhammad Naqib bin Ali Al Uraidhi bin Ja’far Ash Shiddiq bin Muhammad Al Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husain Asy Syahid Syabul Jannah bin Ali bin Abu Thalib yang menikah dengan Fathimah Azzahrah binti Rasulullah SAW.

Ketika Habib Ali berusia tujuh tahun, ayahnya diperintahkan oleh Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi untuk hijrah ke Makkah dan tinggal disana hingga wafat. Pada usia ke-11, Habib Ali hijrah dari Syibam ke Seiwun bersama ibunya, sesuai perintah dari Al Allamah Arifbillah Al Habib Umar bin Hasan Al Haddad. Dalamp erjalanan itu beliau singgah di Masileh dan tinggal di rumah Habib Abdullah bin Husain bin Thohir Ba’alawi. Disana beliau menggunakan kesempatan sebaik-baiknya untuk menelaah kitab, mengambil sanad dan ijazah.

Atas permintaan ayahnya, pada usia 17 tahun Habib Ali berlayar menuju Makkah dan memperdalam ilmu agama kepada ayahnya. Disana beliau tinggal selama dua tahun dan pulang kembali ke Yaman saat adiknya, Aminah menikah dengan Habib Alwi bin Ahmad Assegaf, salah seorang murid ayahnya. Setelah itu beliau kembali memperdalam ilmu agama kepada ulama-ulama di Yaman. Diantara guru-guru beliau adalah :

Habib Abu Bakar bin Abdullah Al Attas (Guru Futhuh beliau)
Habib Ahmad bin Muhammad Al Muhdhar
Habib Abdullah bin Husain bin Muhammad Ba’alawi
Habib umar bin Hasan Al Haddad
HabibAbdurrahman bin Muhammad Al Masyhur
Habib Ali bin Idrus Syahab
Habib Umar bin Abdurrahman Syahab
Habib Ahmad bin Abdullah Al Baar
Habib Idrus bin Umar Al Habsyi
Habib Muhammad bin Ibrahim Ba’alawi

Pada usia 37 tahun, beliau membangun sebuah Ribath (Pondok Pesantren) yang pertama kali didirikan di Hadramaut, yaitu di Seiwun dengan nama Ribath Riyadh. Kemudianpada tahun 1303 H, saat berusia 44 tahun, beliau membangun sebuah masjid disamping Ribath itu, dengan nama yang sama, Masjid Riyadh. Semua biaya untuk membangun keduanya ditanggung oleh Habib Ali, juga biaya-biaya santri yang monok di Ribath, ditanggung oleh beliau. Pada tahun 1255 H, putra beliau yang bernama Habib Alwi juga membangun Masjid Riyadh di Solo, Indonesia.

Telah banyak ratusan alim ulama yang dicetak di Ribath Riyadh di bawah bimbingan Habib Ali. Diantara murid-murid Habib Ali adalah :

Habib Abdullah, Habib Muhammad, Habib Ahmad dan Habib Alwi (anak-anak beliau)
Habib Syaikh bin Muhammad Al Habsyi (adik beliau)
Habib Thoha bin Abdul Qadir bin Umar Assegaf
Habib Ahmad bin Abdurrahman Assegaf (ayah Al Quthub Habib Abdul Qadir Assegaf)
Habib Muhammad bin Hadi Assegaf
Habib Abu Bakar bin Muhammad Assegaf (Al Quthub, Gresik)
Habib Ali binAbdul Qadir Alaydrus
Habib Abdullah bin Ali Syahab
Habib Abdullah bin Umar Asy Syathiri (ayah Sulthanul Ulama Habib Salim)
Habib Muhammad bin Idrus Al Habsyi (Gubah Ampel, Surabaya)

Yang paling masyhur dari keharuman nama Habib Ali adalah karena gubahannya yang indah, sebuah untaian mutiara perihal perjalan hidup dan akhlak datuknya yang agung, yaitu kitab Simthuddurar Fii Akhbar Maulid Khoiril Basyar Wama Lahu Min Akhlaq Wa-aushof Wa-sirr, yang dikenal dengan nama Maulid Simthuddurar atau Maulid Habsyi. Beliau menggubah kitab ini ketika berusia 68 tahun. Pada hari Kamis, 26 Shafar 1327 H beliau mendiktekan bab pertama, lalu pada hari Kamis 10 Rabiul Awwal 1327 H, beliau menyempurnakannya, dan pada hari Jum’at 12 Rabiul Awwal1327 H, beliau membacakan seluruh isi kitab untuk pertama kalinya di rumah salah seorang muridnya, Habib Umar bin Hamid Assegaf.

Suatu ketikaHabib Ali pernah berkata mengenai kitab Maulidnya, “Jika sesorang menjadikan kitab Maulidku (Simthuddurar) sebagai salah satu wiridnya atau menghafalnya, maka sirr (rahasia) Rasulullah SAW akan nampak pada dirinya. Aku yang mengarangnya dan mendiktekannya, namun setiap kali kitab itu dibacakan kepadaku, maka dibukakan bagiku pintu untuk berhubungan dengan Rasulullah SAW. Pujianku terhadap beliau dapat diterima oleh masyarakat. Ini karena besarnya cintaku kepada beliau, bahkan dalam surat-suratku, ketika aku meyifatkan RasulullahSAW, Allah SWT membukakan padaku susunan bahasa yang tidak ada sebelumnya. Ini adalah ilham yang diberikan Allah kepadaku.”

Pada penghujung hayatnya yang mulia, kesehatan Habib Ali mulai menurun dan dua tahun sebelum kewafatannya, beliau kehilangan penglihatannya. 70 hari menjelang wafat, beliau mengalami Isthilam hingga kesehatannya semakin melemah. Hingga pada waktu Dzuhur, hari Ahad tanggal 20 Rabiul Akhir 1333 (1913 M), beliau wafat meninggalkan dunia fana untuk berjalan di atas sutra surga menuju Rabb dan Kekasih-Nya. Jenazah beliau dimakamkan di sebelah barat Masjid Riyadh, Seiwun.

Habib Muhammad Al Habsyi, putra tertua Habib Ali ditunjuk oleh beliau sebagai khalifah penggantinya. Sedangkan saudaranya yang lain, yaitu Habib Alwi, kemudian hijrah dan berdakwah di Indonesia. Habib Ali menikah dua kali. Pertama dengan seorang wanita dari Qasam, dan melahirkan Habib Abdullah. Kedua dengan Syarifah Fathimah binti Muhammad Mulakhela dan mempunyai empat anak, Habib Muhammad, Habib Ahmad, Habib Alwi dan Syarifah Khadijah. Hingga kini anak cucu Habib Al i terus berdakwah meneruskan perjuangan Habib Ali, diantara mereka adalah Habib Anis bin Alwi bin Ali Al Habyi, Solo.


Ust. Ibnu Zainil Muttaqiin
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

6 Penyebab Kerusakan Hati

Imam Hasan Bashri berkata, "Kerusakan hati manusia itu disebabkan oleh enam faktor, yaitu:


1) Sengaja berbuat dosa dengan harapan dosanya nanti diampuni;


2) Memiliki ilmu, tetapi tidak diamalkannya;


3) Apabila beramal tidak ikhlas;


4) Memakan rezeki Allah, tetapi tidak pernah bersyukur;


5) Tidak ridha dengan pemberian Allah; dan


6) Sering mengubur orang mati, namun tidak mau mengambil pelajaran dari kematian tersebut.”


Sehubung dengan masalah keikhlasan, Imam Ahmad bin Hambal berdo’a sebagai berikut:


ﻳَﺎ ﺩَﻟِﻴْﻞَ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺭَﻯ ﺩُﻟَّﻨِﻲْ ﻋَﻠَﻰ ﻃَﺮِﻳْﻖِ ﺍﻟﺼَّﺎﺩِﻗِﻴْﻦَ ﻭَﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲْ ﻣِﻦْ ﻋِﺒَﺎﺩِﻙَ ﺍﻟْﻤُﺨْﻠَﺼِﻴْﻦَ


“Wahai Dzat yang memberikan petunjuk kepada orang-orang yang bingung, tunjukkanlah aku ke jalan orang-orang yang benar dan jadikanlah aku termasuk hamba-Mu yang ikhlas dalam beramal.”


Rasulullah SAW bersabda:


ﺇِﻥَّ ﺍﻟْﻘَﺒْﺮَ ﺃَﻭَّﻝُ ﻣَﻨَﺎﺯِﻝِ ﺍﻵﺧِﺮَﺓِ ﻓَﺈِﻥْ ﻧَﺠَﺎ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﻳْﺴَﺮُ ﻣِﻨْﻪُ ﻭَﺇِﻥْ ﻟَﻢْ ﻳَﻨْﺞُ ﻣِﻨْﻪُ ﻓَﻤَﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ ﺃَﺷَﺪُّ ﻣِﻨْﻪُ


“Sesungguhnya kubur itu merupakan tempat yang pertama dari beberapa tempat yang ada di akhirat. Jika seseorang selamat dari siksa kubur, maka pada tempat-tempat berikutnya dia pun akan selamat dengan mudah. Jika dia tidak selamat dari siksa kubur, maka pada tempat-tempat berikutnya akan lebih berat siksanya daripada siksa di kubur.” (HR. Tirmidzi, Ibn Majah, dan Hakim)


ﺇِﻥَّ ﻟِﻠْﻤَﻮْﺕِ ﻓَﺰَﻋًﺎ , ﻓَﺈِﺫَﺍ ﺃَﺗَﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﻭَﻓَﺎﺓَ ﺃَﺧِﻴﻪِ , ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ : ﺇِﻧَّﺎ ﻟِﻠَّﻪِ ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻴْﻪِ ﺭَﺍﺟِﻌُﻮﻥَ , ﻭَﺇِﻧَّﺎ ﺇِﻟَﻰ ﺭَﺑِّﻨَﺎ ﻟَﻤُﻨْﻘَﻠِﺒُﻮﻥَ , ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻛْﺘُﺒْﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤُﺤْﺴِﻨِﻴﻦَ , ﻭَﺍﺟْﻌَﻞْ ﻛِﺘَﺎﺑَﻪُ ﻓِﻲ ﻋِﻠِّﻴِّﻴﻦَ , ﻭَﺍﺧْﻠُﻒْ ﻋَﻘِﺒَﻪُ ﻓِﻲ ﺍﻵﺧِﺮِﻳﻦَ , ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﻻ ﺗَﺤْﺮِﻣْﻨَﺎ ﺃَﺟْﺮَﻩُ , ﻭَﻻ ﺗَﻔْﺘِﻨَّﺎ ﺑَﻌْﺪَﻩُ


“Sesungguhnya dalam kematian itu ada suatu ketakutan. Karenanya, barang siapa mendengar berita kematian saudaranya (sesama muslim), maka hendaknya membaca do’a berikut ini: innaa lillaahi wa innaa ilaihi rooji’uun. Wa innaa ilaa rabbinaa lamunqalibuun. Allahummaktubhu ‘indaka fil muhsiniin, waj’al kitaabanaa fii ‘illiyyiin, wakhluf ‘aqibahuu fil aakhiriin. Allahumma laa tahrimnaa ajrohuu walaa taftinnaa ba’dahu.”


(Sesungguhnya kami ini kepunyaan Allah dan kepada-Nyalah kami kembali, hanya kepada Rabb kami, kami dikembalikan. Ya Allah catatlah dia disisi-Mu termasuk orang-orang yang baik; dan jadikanlah catatan amalnya berada di ‘illiyyiin; dan berilah orang-orang yang ia tinggal pengganti yang lain. Ya Allah janganlah Engkau halangi kami untuk mendapatkan pahala mendo’akannya dan janganlah pula engkau timpakan kepada kami cobaan sesudahnya.” (HR. Thabarani)


ﻣَﻦْ ﺳَﻤِﻊَ ﺑِﻤَﻮْﺕِ ﻣُﺴْﻠِﻢٍ ﻓَﺪَﻋَﺎ ﻟَﻪُ ﺑِﺨَﻴْﺮٍ ﻛَﺘَﺐَ ﺍﻟﻠﻪُ ﻟَﻪُ ﺃَﺟْﺮَ ﻣَﻦْ ﻋَﺎﺩَﺍﻩُ ﺣَﻴًّﺎ ﻭَﺷَﻴَّﻌَﻪُ ﻣَﻴِّﺘًﺎ


“Barang siapa yang mendengar kematian seorang muslim, kemudian dia mendo’akan kebaikan untuknya, maka Allah akan menuliskan baginya pahala sama dengan orang yang menjenguknya ketika ia masih hidup dan mengantarkan jenazahnya.” (HR. Daruquthni)



Dikutip dari kitab Nashaihul Ibad karya Imam Nawawi Al-Bantani
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Resepsi Pernikahan (Walimah)

وَالْوَلِيمَةُ طَعَامُ الْعُرْسِ أَوْ كُلُّ طَعَامٍ صُنِعَ لِدَعْوَةٍ وَغَيْرِهَا .
   
“Walimah ialah makanan pesta perkawinan atau setiap makanan yang dihidangkan untuk undangan (pesta) dan yang lainnya". (Tuhfah al-Muhtaaj 31/373)
 
 
عن أنس: أن رسول الله صلى الله عليه وسلّم رأى على عبد الرحمن أثر صفرة وقال: «ما هذا؟» فقال: يا رسول الله تزوجت امرأة على وزن نواة من ذهب. فقال النبي صلى الله عليه وسلّم «بارك الله لك أولم ولو بشاة.
 
 
Dari Anas Ibnu Malik Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah melihat bekas kekuningan pada Abdurrahman Ibnu Auf. Lalu beliau bersabda: "Apa ini?". Ia berkata: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku telah menikahi seorang perempuan dengan maskawin senilai satu biji emas. Beliau bersabda: "Semoga Allah memberkahimu, selenggarakanlah walimah walaupun hanya dengan seekor kambing." (Shohih Bukhori XVII/233).  

Penjelasan dalam Tafsir al Tsa'labi I/578:
 
 
حَدَّثَنَا مُحَمَّدُ بْنُ يُوسُفَ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ عَنْ مَنْصُورِ ابْنِ صَفِيَّةَ عَنْ أُمِّهِ صَفِيَّةَ بِنْتِ شَيْبَةَ قَالَتْ أَوْلَمَ النَّبِىُّ صلى الله عليه وسلم عَلَى بَعْضِ نِسَائِهِ بِمُدَّيْنِ مِنْ شَعِيرٍ .  

“Nabi SAW Menyelenggarakan walimah kepada sebagian isterinya dengan dua mud gandum” (Shohih Bukhori XVII/578)
 
 
حَدَّثَنَا مُسَدَّدٌ عَنْ عَبْدِ الْوَارِثِ عَنْ شُعَيْبٍ عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم أَعْتَقَ صَفِيَّةَ ، وَتَزَوَّجَهَا وَجَعَلَ عِتْقَهَا صَدَاقَهَا ، وَأَوْلَمَ عَلَيْهَا بِحَيْسٍ .
 
 
“Bahwa Rasulullah SAW telah memerdekakan Shofiyah dan menjadikan kemerdekaannya sebagai maskawinnya dan beliau menyelenggarakan resepsi atas Shofiyah dengan Bubur Haisah" (Shohih Bukhori XVII/259)
 
 
أنسَ بنَ مَالِكٍ رضي الله عنه يقولُ: أَقَامَ رسولُ الله بينَ خَيْبَرَ والمدينةِ ثلاثَ ليالٍ يُبْنَى عليهِ بِصَفِيَّةَ، فدعوتُ المسلمينَ إلى وليمةِ رسولِ الله ما كانَ فِيْهَا خبزٌ ولا لحمٌ، وما كانَ إلاَّ أَنْ أَمَرَ بالأَنْطَاعِ فَبُسِطَتْ وأَلْقَى عَلَيْهَا التَّمْرَ والأَقِطَ والسَّمْنَ
 
 
Sahabat Anas berkata:  Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam pernah berdiam selama tiga malam di daerah antara Khaibar dan Madinah untuk bermalam bersama Shafiyyah (istri baru). Lalu aku mengundang kaum muslimin menghadiri walimahnya. Dalam walimah itu tak ada roti dan daging. Yang ada ialah beliau menyuruh membentangkan tikar kulit. Lalu ia dibentangkan dan di atasnya diletakkan buah kurma, susu kering, dan samin. (Sunan al Kubra lil Baihaqi juz 11 halaman 57)
 
Sesuai dengan keterangan hadits-hadits diatas maka tidak ada ketentuan dalam menyelenggarakan sebuah acara walimah karena dalam satu riwayat Nabi menganjurkan memotong kambing, diriwayat lain memakai dua mud gandum, buah kurma, susu kering, saminbahkan denganmemakai masakan bubur.
 
Karenanya para Ulama fuqaha khusus dalam masalah walimah memberikan kesimpulan :
 
 
وأقلها للمتمكن شاة ولغيره ما قدر عليه قال النشائي والمراد أقل الكمال شاة لقول التنبيه وبأي شئ أولم من الطعام جاز وهو يشمل المأكول والمشروب الذي يعمل في حال العقد من سكر وغيره اه. 

Paling sedikitnya dalam acara walimah bagi yang mampu melaksanakannya/memiliki pengaruh adalah seekor kambing dan bagi lainnya sebatas kemampuannya, yang dimaksud dengan kata paling sedikitnya adalah paling sedikitnya kesempurnaan sesuati keterangan ‘at-Tanbih’ dan dengan makanan apapun yang ia gunakan sebagai walimah diperbolehkan baik berupa makanan, minuman yang dihidangkan saat akad perkawinan seperti gula dan lainnya. (Hawaasyi as-Syarwaani VII/425)




Ust. Masaji Antoro
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Untaian Doa




Doa Nabi Khodir

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺸﻐﻠﻪ ﺳﻤﻊ ﻋﻦ ﺳﻤﻊ

yaa man laa yusyghiluhu sam’un ‘an sam’in

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﺗﻐﻠﻄﻪ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ

yaa man laa tughlithuhul masaa`il

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺘﺒﺮﻡ ﺑﺈﻟﺤﺎﺡ ﺍﻟﻤﻠﺤﻴﻦ

yaa man la yatabarromu bi ilhaahil malhiin

ﺃﺫﻗﻨﻲ ﺑﺮﺩ ﻋﻔﻮﻙ ﻭﺣﻼﻭﺓ ﺭﺣﻤﺘﻚ

adziqnii burda ‘afwika wa halaawata rohmatika

“Wahai Dzat yang tidak disibukan pendengarannya dengan
pendengaran lain.

Wahai Dzat yang tidak pernah salah memberi kepada banyak
orang yang meminta-minta.

Wahai Dzat yang tidak pernah bosan mendengar permintaan
hamba-Nya yang terus menerus(Fathul Baari)

Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Gedung Seni dan Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger