Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Tiga Alasan Memiliki Rumah Minimalis


Tersebutlah seorang penganut tasawuf bernama Nidzam al-Mahmudi. Ia tinggal di sebuah kampung terpencil, dalam sebuah gubuk kecil. Istri dan anak-anaknya hidup dengan amat sederhana. Akan tetapi, semua anaknya berpikiran cerdas dan berpendidikan. Selain penduduk kampung itu, tidak ada yang tahu bahwa ia mempunyai kebun subur berhektar-hektar dan perniagaan yang kian berkembang di beberapa kota besar. Dengan kekayaan yang diputar secara mahir itu ia dapat menghidupi ratusan keluarga yg bergantung padanya. Tingkat kemakmuran para kuli dan pegawainya bahkan jauh lebih tinggi ketimbang sang majikan. Namun, Nidzam al-Mahmudi merasa amat bahagia dan damai menikmati perjalanan usianya.

Salah seorang anaknya pernah bertanya, "Mengapa Ayah tidak membangun rumah yang besar dan indah? Bukankah Ayah mampu?"

"Ada beberapa sebab mengapa Ayah lebih suka menempati sebuah gubuk kecil," jawab sang sufi yang tidak terkenal itu. 

"Pertama, karena betapa pun besarnya rumah kita, yang kita butuhkan ternyata hanya tempat untuk duduk dan berbaring. Rumah besar sering menjadi penjara bagi penghuninya. Sehari-hari ia Cuma mengurung diri sambil menikmati keindahan istananya. Ia terlepas dari masyarakatnya. Dan ia terlepas dari alam bebas yang indah ini. Akibatnya ia akan kurang bersyukur kepada Allah."

Anaknya yang sudah cukup dewasa itu membenarkan ucapan ayahnya dalam hati. Apalagi ketika sang Ayah melanjutkan argumentasinya. 

"Kedua, dengan menempati sebuah gubuk kecil, kalian akan menjadi cepat dewasa. Kalian ingin segera memisahkan diri dari orang tua supaya dapat menghuni rumah yang lebih luas. 

Ketiga, kami dulu cuma berdua, Ayah dan Ibu. Kelak akan menjadi berdua lagi setelah anak-anak semuanya berumah tangga. Apalagi Ayah dan Ibu menempati rumah yang besar, bukankah kelengangan suasana akan lebih terasa dan menyiksa?"

Si anak tercenung. Alangkah bijaknya sikap sang ayah yang tampak lugu dan polos itu. Ia seorang hartawan yang kekayaannya melimpah. Akan tetapi, keringatnya setiap hari selalu bercucuran. Ia ikut mencangkul dan menuai hasil tanaman. Ia betul-betul menikmati kekayaannya dengan cara yang paling mendasar. Ia tidak melayang-layang dalam buaian harta benda sehingga sebenarnya bukan merasakan kekayaan, melainkan kepayahan semata-mata. Sebab banyak hartawan lain yang hanya bisa menghitung-hitung kekayaannya dalam bentuk angka-angka. Mereka hanya menikmati lembaran-lembaran kertas yang disangkanya kekayaan yang tiada tara. Padahal hakikatnya ia tidak menikmati apa-apa kecuali angan-angan kosongnya sendiri.

Kemudian anak itu lebih terkesima tatkala ayahnya meneruskan, "Anakku, jika aku membangun sebuah istana anggun, biayanya terlalu besar. Dan biaya sebesar itu kalau kubangunkan gubuk-gubuk kecil yang memadai untuk tempat tinggal, berapa banyak tunawisma/gelandangan bisa terangkat martabatnya menjadi warga terhormat? Ingatlah anakku, dunia ini disediakan Tuhan untuk segenap mahkluknya. Dan dunia ini cukup untuk memenuhi kebutuhan semua penghuninya. Akan tetapi, dunia ini akan menjadi sempit dan terlalu sedikit, bahkan tidak cukup, untuk memuaskan hanya keserakahan seorang manusia saja."



Diambil dari Forum PISS KTB
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Bedah Buku Menara Cinta, Kisah Cinta Santri Penghafal Al Qur’an



Novel “Menara Cinta” yang mengangkat  kisah nyata kehidupan pesantren pada era 1995 resmi  dirilis pada 23 September 2017 . Novel tersebut mencoba untuk menggambarkan beberapa bagian kehidupan kota Santri Kudus melalui latar ceritanya.

Dalam launching Novel yang dilaksanakan di Ruang Seminar Gedung Rektorat Universitas Muria Kudus, Penulis yang sekaligus Mahasiswa Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Danar Ulil Hasnugraha, mengungkapkan bahwa novel tersebut mulai ditulisnya pada Februari 2017 dengan mengambil latar belakang kehidupan pesantren di Kudus dan kehidupan tokoh penghafal al qur’an (hafidz) yang terlibat kisah asmara. Melalui tokoh tersebut, sang penulis mencoba menyampaikan dakwah dalam novelnya.

Di dalam novel yang mengambil latar dari beberapa tempat, yakni di Jekulo (Kudus), Balekambang (Jepara), dan Gunung Tidar (Magelang). tersebut dikisahkan kehidupan dua tokoh santri bernama Sholikin, seorang laki-laki yang sederhana namun taat agama dan Qurrota A'yuni, seorang perempuan cantik yang Ahlul Quran.

Singkat cerita, kisah novel itu berawal dari Sholikin yang rupanya jatuh cinta kepada Putri Kiai di Pondok Pesantren Al-Akhyar Jekulo. Sholikhin dianggap oleh teman-temannya sebagai santri kesayangannya kyai Mukhtar Ali, ayah Qurrota A'yuni. Seiring berjalannya waktu, Cinta kedua insan tersebut saling berbalas, namun tidak mendapat restu dari Kyai.


Dalam acara launching tersebut juga hadir drs. Muhammad Kanzanuddin (Ketua Pusat Studi Kebudayaan UMK) dan Ust. Muhammad Subhan Ad Dawiy Al Hifdzi (Pengasuh Majelis Ghidza’il Qulub).

Menurut Ust. Subhan seperti yang kami kutip dari Parits.id, “Dalam novel ini, bukan sekedar memamerkan keindahan karya sastra, namun juga mengajak pembaca agar senantiasa mengingat Allah SWT. Novel ini, menceritakan kisah cinta dengan latar santri, persoalan itu, yg biasa ditemui menjadi kendala dalam belajar, tapi Danar mengemas kisah itu karena Allah.”

Launching novel tersebut dihadiri oleh ratusan siswa dan mahasiswa serta masyarakat umum yang tertarik dengan novel bertajuk kehidupan pesantren tersebut. Bahkan Rektor UMK pada kesempatan itu mengapresiasi karya mahasiswanya yang telah berhasil meluncurkan novel perdananya itu. ‘’Apa yang dihasilkan Mas Danar ini semoga bisa menjadi inspirasi mahasiswa lain, agar bisa menghasilkan karya-karya. Jujur saja, budaya menulis kini agak luntur. Semoga ke depan, budaya menulis bisa meningkat dan bergairah kembali, ungkapnya seperti yang kami kutip dalam website resmi Universitas Muria Kudus''

Ingin tahu kisah selengkapnya, buruan aja beli buku novelnya. Bagaimana cara membelinya dan berapa harganya, silahkan ditanyakan langsung saja ke Mas Danar melalui akun twitter miliknya @DanarUlil


Foto kegiatan bedah buku oleh parits.id
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Muharram, Bulannya Allah SWT


Muharram, yang merupakan bulan pertama dalam Kalender Hijriyah, termasuk diantara bulan-bulan yang dimuliakan (al Asy- hurul Hurum). Sebagaimana firman Allah Ta'ala: "Sesungguhnya bilangan bulan di sisi Allah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah diwaktu Dia menciptakan langit dan bumi, diantaranya terdapat empat bulan haram." (Q.S. at Taubah: 36).

Dalam hadis yang dari shahabat Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda : "Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaiman bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati : 3 bulan berturut-turut; Dzul Qo'dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab Mudhar, yang terdapat diantara bulan Jumada tsaniah dan Sya'ban." (HR. Bukhari dan Muslim)

Pada keempat bulan ini Allah melarang kaum muslimin untuk berperang. Dalam penafsiran lain adalah larangan untuk berbuat maksiat dan dosa. Namun bukan berarti berbuat maksiat dan dosa boleh dilakukan pada bulan-bulan yang lain.
 

Muharram secara bahasa, berarti diharamkan. Maka kembali pada permasalahan yang telah dibahas sebelumnya, hal tersebut bermakna pengharaman perbuatan-perbuatan yang dilarang Allah memiliki tekanan khusus untuk dihindari pada bulan ini.

Bulan Muharram merupakan suatu bulan yang disebut sebagai "syahrullah" (Bulan Allah) sebagaimana yang disampaikan Rasulullah SAW, dalam sebuah hadits. Hal ini bermakna bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah).

Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan), sebagaimana istilah baitullah, Rasulullah, Syaifullah dan sebagainya.
 

Rasulullah bersabda : "Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam". (H.R. Muslim)






Al Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Untaian Doa




Doa Untuk Ummat Nabi Muhammad SAW

اللهم اغفر لامة سيدنا محمد، اللهم ارحم امة سيدنا محمد، اللهم استر امة سيدنا محمد، اللهم اجبر امة سيدنا محمد، اللهم اصلح امة سيدنا محمد، اللهم عاف امة سيدنا محمد، اللهم احفظ امة سيدنا محمد، اللهم ارحم امة سيدنا محمد رحمة عامة يا رب العالمين، اللهم اغفر لامة سيدنا محمد مغفرة عامة يا رب العالمين، اللهم فرج عن امة سيدنا محمد فرجا عاجلا يا رب العالمين

Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger