Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Kasih Sayang Pada Sesama (2)

Nabi Musa AS, bermunajat:
“Ya Tuhan, perlihatkan padaku, aku akan melihat-Mu…”
 
Kemudian Allah berfirman:
“Lihatlah pada bukit!” (Maksudnya kamu tidak bisa melihat-Ku, manakala kamu melihat selain Diri-Ku).


Sebagian kaum ‘arifin bertawaf di Ka’bah, salah seorang memanggilnya, lalu muncul hasrat untuk berpaling pada pemanggil itu, lantas muncul suara bisikan tanpa suara: “Tidaklah termasuk golongan Kami orang yang berpaling pada selain Kami”.



Kisah lain juga, ketika sedang berthawaf, tiba-tiba orang tersebut melihat perempuan, tiba-tiba muncul tangan dari udara dan menampar matanya. Lalu muncul suara, “Engkau memandang kepada selain Kami dengan matamu, maka Kami menampar matamu. Manakala kamu memandang dengan hatimu kepada selain diri-Ku pasti akan Aku colok matamu dengan api.”


Dzun Nun al-Mishry ra mengatakan, “Siapa yang memandang dari tauhidnya menuju dirinya, tauhidnya tidak akan selamat dari neraka. Siapa yang berpaling dari Allah ketika sholat, ia telah turun dari derajat orang yang sholat. Siapa yang berpaling dari waktu-Nya ke waktu dirinya, maka sang waktu sirna tanpa ia merasa.”
 
Dalam hadits disebutkan, “Hamba, manakala berpaling  dalam sholat, Allah SWT berfirman, “Hamba-Ku, apakah engkau berpaling pada yang lebih baik dibanding Aku? Menghadaplah! Jangan kau palingkan wajahmu dari Diri-Ku, sebab itu bisa membuat-Ku berpaling darimu.”


Nabi SAW, bersabda, “Jibril datang kepadaku membawa kunci perbendaharaan dunia, namun aku sama sekali tidak berpaling padanya dan aku tidak menghadapnya.” Ditanyakan pada salah seorang Sufi, “Bagaimana kabarmu saat tadi pagi?” Ia menjawab, “Sejak dini – sungguh dua alam (dunia dan akhirat) – terhalang dariku, dan Dia menghalangiku untuk memandang keduanya.”


Al-‘arif as-Sary as-Saqathy ra mengatakan, “Saya pernah mencari sahabatku selama tiga puluh tahun. Dan aku tidak menemukannya. Suatu hari, ketika aku lewati sebuah bukit , tiba-tiba kawanku itu berdiri di atas batu, lalu aku mendekatinya, aku tarik ujung pakaiannya. Lalu ia berkata, “Tinggalkan aku Sary, karena Allah bisa cemburu. Karena Dia tidak akan memandangmu jika engkau masih memandang yang lain, hingga engkau gugur dari pandangan-Nya.”


Kisah tentang Rabi’ah Adawiyah ra ketika sedang berjalan menuju Makkah, tiba-tiba ada lelaki menghadapnya, sembari berkata, “Hai perempuan, seluruh dirimu dengan kesemuanya begitu sibuk?” (sebuah rayuan, pent).


Rabi’ah menjawab, “Kalau kamu benar, maka keseluruhanku bagi dirimu telah terkorbankan. Kecuali saya punya saudari yang lebih elok dariku, dan ia ada di belakangmu.” Lelaki itu seketika menoleh, lantas Rabi’ah menampar muka laki-laki itu, sembari berkata, “Begitu mudah engkau berpaling dariku wahai peselingkuh? Engkau mengaku mencintaiku lantas kamu memandang selain diriku? Aku melihatmu dari jauh, lalu aku berkata, “Wah, aku menemukan orang yang ‘arif, tapi ketika anda bicara, aku berkata pada diri sendiri, “Aku berjumpa dengan orang yang kasmaran, dan ketika kutarik dirimu kulihat dirimu adalah pendusta!”


“Aku tidak melihatmu dari pilihan kaum ‘arifin dan harga diri mereka,” lanjut Rabi’ah, “juga aku tidak melihatmu sebagai penempuh jalan pecinta dan perlindungan-Nya.”


Lelaki itu langsung berteriak keras, dan menghaburi wajahnya dengan debu, lalu berkata, “Aku mengundang cinta sesama makhluk, lalu aku berpaling dari-Nya, kemudian tamparan mengena di wajahku! Sungguh aku takut untuk merasa mencintai Sang Khaliq, manakala hatiku berpaling dari-Nya, pastilah Dia menampar hatiku!”



Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Kasih Sayang Pada Sesama (1)

Rasulullah SAW, bersabda, “Janganlah kalian saling iri - dengki, dan janganlah saling dendam, dan janganlah saling mencari-cari kesalahan. Jadilah kalian sebagai saudara, seperti yang telah diperintahkan Allah Ta’ala.”


Teks hadits demikian sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Tirimidzi dan yang lain, riwayat dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah SAW, bersabda:
“Hindarilah kalian dari berburuk sangka. Karena buruk sangka itu sedusta-dusta ucapan. Jangan saling memata-matai, dan jangan saling mencari-cari kesalahan orang, dan jangan saling bermusuhan, dan jangan saling ber-iri-dengki, dan jangan saling mengumbar dendam, dan jangan saling bermusuhan, dan jadilah kalian semua hamba-hamba Allah yang bersaudara seperti perintah Allah SWT."


Muslim itu saudara sesama muslim, tidak saling mendzalimi, tidak saling menghina, dan tidak saling merendahkan. Taqwa itu di sini, taqwa itu di sini, taqwa itu di sini – dan beliau menunjuk kearah dadanya.


Maka dengan kriteria seseorang berbuat buruk adalah Menghina sesama saudaranya yang muslim. Setiap muslim terhadap sesama muslim itu terhormat Darahnya, harga dirinya, dan hartanya. Sesungguhnya Allah tidak memandang fisik kamu sekalian, dan juga tidak memandang rupa kamu. Namun Allah SWT hanya memandang hatimu dan amalmu.” Dalam hadits mulia ini ada  rahasia kema’rifatan kepada Allah SWT, yang penuh dengan keajaiban, bahwa Allah SWT memerintahkan kita agar kita menepiskan diri dari sifat-sifat Iblisiyah, yaitu: Dengki. Kemudian membuang sifat Nafsaniyah, yaitu: Dendam pada makhluk Allah SWT.


Lalu naik dari sifat yang rendah yaitu: Mencari-cari kesalahan orang. Dan kemudian bila meraih derajat sempurna melalui pemurnian diri, Allah SWT memerintahkan agar melihat sirnanya perbedaan antara satu sama lain dari sesama saudara beriman, dan hal ini merupakan perintah Allah SWT.


Manakala perilaku tersebut sempurna, akan benar-benar meraih kepastian ma’rifat Billah. Dari rahasia inilah ucapan Sayyidina Ali KarromAllahu Wajhah berlaku, “Siapa yang mengenal dirinya, maka benar-benar mengenal Tuhannya.”


Anak-anak sekalian. Ketahuilah bahwa seorang hamba itu berada diantara Allah Ta’ala dan makhluk-Nya: Bila berpaling dari  makhluk-Nya menuju Allah SWT, Allah mendekatkan kepada-Nya dan menyambungkannya untuk lebih dekat. Karena apabila Allah Ta’ala mencintai seorang hamba Dia bergegas menurut kadar kedekatan hamba kepada-Nya, dan kadar kecintaannya pada Allah Ta’ala, dan si hamba tidak sama sekali berpaling kepada sesuatu selain Allah, Jika si hamba memandang sesuatu selain Allah SWT, Allah menyiksa sang hamba dengan sesuatu yang membuat berpaling tadi, dan sesuatu itu dijadikan cobaan atas dirinya.
 
Ingatlah pada Iblis La’natullah ketika memandang dirinya, lantas berkata tentang Adam: “Aku lebih baik dibanding dia…” Maka Allah SWT, langsung melaknat dan melemparnya.


Begitu pun para malaikat, ketika mereka memandang tasbihnya dan penyuciannya kepada Allah SWT, dengan mengatakan, “Sedangkan kami bertasbih dengan memuji Mu dan menyucikan Mu…”, maka Allah Ta’ala memberikan ujian kepada mereka dengan bersujud kepada Adam.


Begitu pula setiap orang yang mengatakan, “Aku….” Pada saat yang sama Allah Ta’ala berfirman, “Tidak! Namun Aku!”, lantas Allah melemparkan siapa pun yang berkata “Aku” tadi ke derajat paling rendah.
 
Sedangkan orang yang berkata, “Engkaulah Allah,” maka Allah justru mengangkat derajatnya setinggi-tingginya.
 
Berpaling itu ada dua: Berpaling mata (muka) dan Berpaling qalbu.
 
Berpalingnya mata seperti firman Allah SWT kepada Nabi Muhammad SAW, kekasihNya:
“Janganlah engkau palingkan kedua matamu kepada pesona (kenikmatan) hidup yang telah Kami berikan diantara mereka (orang-orang kafir itu) sebagai bunga kehidupan dunia agar Kami uji mereka di dalamnya. Sedangkan rizki Tuhanmu lebih bagus dan lebih abadi.” (Thaaha: 121)


Lalu Allah Ta’ala memberikan anugerah kepada mereka, ketika Allah menjaganya, dengan mengatakan, “kalaulah bukan Kami kokohkan kamu, maka benar-benar kamu hampir condong pada mereka, dengan sesuatu yang sangat sedikit (hina).” Lalu Allah SWT memujinya karena 

Nabi Muhammad SAW, sama sekali tidak berpaling kepada selain Allah SWT, dalam firmanNya:
“Matahatinya tak pernah berpaling dan tak pernah dusta.”


Allah SWT mewariskan ”meninggalkan total” di atas, dengan mengangkat tirai hijab, hingga beliau melihat apa yang dilihat, dalam firmanNya: “Sesungguhnya (Muhammad) telah melihat Allah dalam tahap hakiki yang lain.”



Syeikh Ahmad ar-Rifa’y
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Nasehat Abu Nawas untuk Sang Sultan

Ketika Sultan Harun Ar-Rasyid menunaikan ibadah haji. Pada Saat tiba di kota Kuffah, tiba-tiba terlihat oleh Sultan, Abu Nawas yang menaiki batang kayu, berlari-larian ke sana kemari dan diikuti anak-anak dengan riang. Wajah sang Sultan mendadak menjadi ceria dibuatnya. Pandangan Mata Sang Sultan berbinar-binar karena sangat merindukan sosok Abu Nawas. Memang Abu Nawas dalam beberapa bulan terakhir meninggalkan kerajaan Baghdad sebagai bentuk protes atas ketidak-adilan dan kesombongan Sultan. 

Sejak kepergian Abu Nawas itulah Sultan mengalami kesepian. Tidak ada lagi orang yang diajaknya berdiskusi maupun bercanda. Karena itu Sultan sangat gembira begitu melihat sosok Abu Nawas.


Sultan Harun Ar-Rasyid kemudian bertanya kepada para pengawalnya.
 
“Siapa dia?” tanya Sultan.


“Dia si Abu Nawas yang gila itu,” jawab salah seorang pengawalnya


“Coba panggil dia kemari, tanpa ada yang tahu, dan sekali lagi aku peringatkan kamu jangan berkata yang buruk lagi tentang dia, perintah Sultan Harun.


“Baiklah wahai Sultanku,” jawab pengawal.
 
Tidak berapa lama kemudian para pengawal berhasil membawa Abu Nawas ke hadapan Sultan. Abu Nawas diperkenankan duduk di hadapan Sultan.
 
“Salam bagimu wahai Abu Nawas,” sapa Sultan Harun Ar-Rasyid.
 
“Salam kembali wahai Amirul Mukminin,” jawab Abu Nawas.
 
“Kami merindukanmu wahai Abu Nawas,” kata Sultan Harun Ar Rasyid.
 
“Ya, tetapi aku tidak merindukan Anda semuanya,” jawab Abu Nawas dengan ketus.


“Wahai Abu Nawas, aku merindukan kecerdasanmu, maka berilah aku nasihat,” pinta Sultan.


“Dengan apa aku menasehatimu, inilah istana dan kuburan mereka,” kata Abu Nawas.


“Tambahkan lagi, engkau telah memberikan nasihat yang bagus,” ujar Sultan mulai bersemangat.


“Wahai Amirul Mukminin, barang siapa yang dikarunia Allah SWT dengan harta dan ketampanan, lalu ia dapat menjaga kehormatannya dan ketampanannya, serta memberikan bantuan dengan hartanya, maka ia akan ditulis dalam daftar orang-orang yang shaleh,” kata Abu Nawas.


Sultan Harun Ar-Rasyid begitu senang mendapatkan nasihat itu. Ia kemudian mengira Abu Nawas menginginkan sesuatu darinya.


“Aku telah menyuruh para pengawalku untuk membayar hutangmu,” kata Raja.


“Tidak Amirul Mukminin, kembalikan harta itu kepada yang berhak menerimanya. Bayarlah hutang diri Anda sendiri,” kata Abu Nawas.


Namun Sultan Harun tak menyerah begitu saja. Ia kemudian mempersiapkan hadiah khusus pada Abu Nawas.


“Aku telah mempersiapkan sebuah hadiah untukmu,”katanya.


“Wahai Amirul Mukminin, apakah Paduka berfikir bahwa Allah hanya memberikan karunia kepada Anda dan melupakanku,” jawab Abu Nawas yang segera pergi dari hadapan raja.


Perlakuan itu membuat sang Raja merenung sambil mengevaluasi dirinya sendiri.


Sultan Harun sadar kalau selama ini dirinya kurang adil dan berlaku sombong dengan jabatannya sehingga mudah meremehkan orang lain. Usai mendapat nasihat dari Abu Nawas, Sultan Harun berubah menjadi Sultan yang adil dan bijaksana kepada rakyatnya.


Abu Nawas memberikan nasihat berupa sindiran, namun sang Sultan tidak tersinggug, atau marah atau bahkan memenjarakan Abu Nawas. Sultan malah merenung dan terus merenungi apa gerangan kesalahan yang telah dia buat selama memimpin kerajaan. 


Sultan Harun ar-Rashid dan Abu Nawas.


komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Untaian Doa




Sholawat Sughra Syaikh Abdul Qadir Al Jilany

ﺍَﻟﻠّﻬُﻢَّ ﺻَﻞِّ ﻋَﻠَﻰ ﺳَﻴِّﺪِﻧﺎَ ﻣﺤَُﻤَّﺪٍ ﺍﻟﺴَّﺎﺑِﻖِ ﻟِﻠْﺨَﻠْﻖِ


ﻧُﻮْﺭُﻩُ ﻭَﺭﺣْﻤَﺔً ﻟِﻠْﻌَﺎﻟَﻤِﻴْﻦَ ﻇُﻬُﻮْﺭُﻩُ ﻋَﺪَﺩَ ﻣَﻦْ ﻣَﻀَﻰ


ﻣِﻦْ ﺧَﻠْﻘِﻚَ ﻭَﻣَﻦْ ﺑَﻘِﻲَ ﻭَﻣَﻦْ ﺳَﻌِﺪَ ﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﻣَﻦْ

ﺷَﻘَﻰ ﺻَﻼَﺓً ﺗَﺴْﺘـَﻐْﺮِﻕُ ﺍﻟْﻌَﺪَّ ﻭَﺗﺤُِﻴْﻂُ ﺑِﺎﻟْﺤَﺪِّ

ﺻَﻼَﺓً ﻻَ ﻏَﺎﻳَﺔَ ﻟَﻬَﺎ ﻭَﻻَ ﻣُﻨْﺘـَﻬَﻰ ﻭَﻻَ ﺍِﻧــْﻘِﻀَﺎﺀَ

ﺻَﻼَﺓً ﺩَﺍﺋِﻤَﺔً ﺑِﺪَﻭَﺍﻣِﻚَ ﻭَﻋَﻠَﻰ ﺍَﻟِﻪِ ﻭَﺻَﺤْﺒِﻪِ

ﻭَﺳَﻠِّﻢْ ﺗَﺴْﻠِﻴْﻤًﺎ ﻣِﺜــْﻞَ ﺫَﺍﻟِﻚَ


Ya Allah curahkanlah keselamatan atas junjungan kami Muhammad, yang cahayanya mendahului keberadaan semua makhluk, yang kehadirannya menjadi rahmat bagi seluruh alam; rahmat yang jumlahnya sebanyak makhluk-makhluk-Mu, yang telah musnah dan yang masih ada, yang berbahagia ataupun yang menderita. Yaitu sebuah keselamatan yang melampaui bilangan dan batasan, yang tiada akhir, yang tak pernah putus; sebuah keselamatan yang kekal abadi seperti kekekalan-Mu. Shalawat serta salam yang demikian itu juga semoga dicurahkan kepada keluarga dan sahabat-sahabatnya (Kitab As-Safinah Al-Qadiriyah )

Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger