Adv 1
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Kedudukan Bulan Rajab

Saat ini kita sudah akan memasuki bulan Rajab, dimana bulan ini termasuk salah satu dari bulan-bulan haram sebagaimana firman Allah SWT:

إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْراً فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ فَلا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ

Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, Maka janganlah kamu Menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa (At-Taubah 36)

Empat bulan haram itu disebutkan dalam sabda Rasulullah SAW berikut :

إن الزمان قد استدار كهيئته يوم خلق السماوات والأرض السنة اثنا عشر شهرا منها أربعة حرم ثلاث متواليات ذو القَعدة وذو الحجة والمحرم ورجب مضر الذي بين جمادى وشعبان (رواه البخاري ومسلم).

“Sesungguhnya zaman telah berputar seperti pada hari penciptaan langit dan bumi, setahun terdapat dua belas bulan dan empat di antaranya adalah bulan haram dan tiga diantaranya berturut-turut, yaitu dzul qa’dah, dzul hijjah, muharram dan rajab mudhar yang berada di antara jumadil awal, jumadil akhir dan sya’ban” (HR. Bukhari dan Muslim)

Bulan-bulan haram memiliki kedudukan yang agung, dan bulan rajab termasuk salah satu dari empat bulan tersebut. Dinamakan bulan-bulan haram karena :

1.  Diharamkannya berperang di bulan-bulan itu kecuali musuh yang memulai.

2. Keharaman melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dibulan ini lebih besar di bandingkan bulan yang lain.

Allah berfirman :

يا أيها الذين آمنوا لا تحلوا شعائر الله ولا الشهر الحرام

“Wahai orang-orang yang beriman janganlah kamu melanggar syi’ar-syi’ar Allah, dan janganlah melanggar kehormatan bulan-bulan haram” (Al-Maidah 2)

Yaitu janganlah melakukan perbuatan-perbuatan yang diharamkan sehingga merusak kesucian bulan-bulan tersebut. Larangan ini mencakup melakukan atau beritikad melakukan perbuatan dosa.

Karena kedudukannya yang khusus itu maka hendaklah dijaga kesucian bulan-bulan haram dengan menjauhi maksiat, sebab kadar dosa dan maksiat akan diperbesar karena pemuliaan Allah atas bulan-bulan tersebut. Karena itulah Allah telah secara khusus memperingatkan kita di ayat yang lalu agar jangan menzalimi diri di bulan-bulan itu padahal secara umum perbuatan tersebut diharamkan pada setiap waktu.

Di antara do’a yang dibaca ketika memasuki bulan rajab sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah SAW dari sahabat Anas bin Malik ra. adalah :

اللّهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِي رَجَبٍ وَشَعْبَانٍ وَبَلِّغْنَا رَمَضَان

“Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya’ban dan sampaikanlah (umur) kami hingga ramadhan”.



Habib Rifqi al Hamid
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Jelang Konfercab, PAC GP Ansor Gebog Gelar Tanding Sepak Bola Api


Indonesia memiliki banyak jenis tradisi. Ada salah satu tradisi unik para snatri menyambut Ramadhan yaitu tradisi bermain sepak bola api. Mendengar nama permainan ini tentu muncul suatu kengerian. Bisakah kita bermain sepak bola api?

Meskipun terlihat ekstrem, namun olahraga ini banyak digemari oleh para santri lho. Bahkan pada hari tertentu tradisi satu ini acap kali dimainkan. Selain menyehatkan lantaran berolahraga, ternyata sepak bola api berasal dari alam. Bongkahan kelapa tua yang telah kering menjadi bahan dasar pembuatan bolanya. Lalu, setelah itu direndam di minyak tanah dengan waktu lama agar saat dibakar nanti bisa hasilkan api.

Dalam sepak bola api, permainannya sendiri menggunakan peraturan layaknya sepak bola pada umumnya. Tapi, pada umumnya saat memainkannya para pemain yang terlibat tidak menggunakan alas kaki.

Tradisi unik inilah yang akan dijadikan PAC GP Ansor Gebog sebagai salah satu acara menjelang Konfercab GP Ansor Gebog tahun 2020. Bertepatan dengan jelang bulan Ramadhan yang tinggal dua bulan lagi, PAC GP Ansor Gebog mencoba mengangkat tradisi unik santri pondok pesantren ini untuk dikenal luas oleh masyarakat.

Pembahasan mengenai teknis kegiatan Sepak Bola Api ini sudah dilakukan para pengurus PAC GP Ansor Gebog pada 18 Februari 2020 yang lalu dalam kegiatan SorBan Jalan PAC GP Ansor Gebog di kediaman Dasa Susila yang juga baru saja didapuk sebagai Ketua PC GP Ansor Kabupaten Kudus.

Dalam pembahsan tersebut disepakati kegiatan Sepak Bola Abi akan digelar selama dua hari yaitu Ahad hingga Senin malam tanggal 23-24 Februari 2020 mulai ba’da isya. Kegiatan tersebut akan dipusatkan di Lapangan Desa Gribig. Bagi yang bernyali boleh ikut lho

Dalam agenda ini, PAC GP Ansor Kecamatan Gebog juga akan mengadakan acara reuni atau temu kangen dengan para alumni. Acara temu kangen tersbeut figelar usai kegatan Sepak Bola Api pada Ahad 23 Februari 2020.



Sumber informasi: PAC GP Ansor Gebog
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Kesunnahan Memberi Kabar Gembira

Perkataan seseorang memiliki efek bagi lawan bicaranya. Apalagi bila kata-kata ini berurai mutiara nasihat, doa, dan kebaikan-kebaikan yang me­motivasi dirinya dan orang lain. Yang de­mikian ini menjadi perhatian Allah dan Rasul-Nya, sehingga patutlah dipapar­kan pada kajian hadits berikut ini. Namun sebelumnya marilah kita perhatikan ayat berikut ini.

“Maka (dari sebab itu) sampaikanlah berita gembira itu kepada hamba-hamba-Ku, yang mendengarkan per­kata­an lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya.” (QS Az-Zumar: 17-18).


Ayat ini menggambarkan ciri ulul albab, yakni orang-orang yang mende­ngar­kan secara sungguh-sungguh, dan diberi pe­tunjuk serta memperoleh berita gembira sebagai balasannya, karena orang-orang tersebut telah memurnikan ketaatan kepa­da Allah SWT dengan upaya beribadah dan patuh secara murni kepada-Nya.



Para ulama berbeda pendapat ten­tang makna kata al-qaul (perkataan) pada ayat di atas. Ada yang memaha­mi­nya dalam arti ajaran Islam, baik yang bersumber dari Al-Qur’an maupun as-sun­nah. Ada juga yang berpendapat bah­wa al-qaul yang dimaksud adalah segala macam ucapan, yang baik dan yang tidak baik. Mereka mendengarkan semuanya lalu memilah-milah, dan mengambil serta mengamalkan yang baik saja. Tidak menghiraukan bahkan membuang yang buruk.


Sedang yang dimaksud dengan al-ahsan (terbaik) adalah yang wajib dan yang utama, walaupun tidak tertutup kemungkinan menjalankan yang baik dan yang sunnah. Misalnya tidak mem­balas kejahatan dengan kejahatan se­rupa, tetapi memaafkan, walau memba­lasnya dibolehkan. Dengan demikian ayat di atas bagaikan menyatakan bahwa mereka itu mendengar dengan sungguh-sungguh perkataan yang baik dan yang terbaik, tetapi mereka selalu berusaha mengambil yang terbaik.

Dalam ayat lain dikatakan, “Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat daripada-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya surga yang kekal.” (QS At-Tawbah: 21).

Bila menilik ayat sebelumnya, yakni ayat 20, Allah Ta‘ala menyebutkan bah­wa orang-orang yang beriman, yang berhijrah, yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwanya, adalah orang-orang yang memperoleh derajat yang paling tinggi di sisi Allah, dan dianugerahi predikat “beruntung” dan “pemenang”. Lalu Allah Ta‘ala, sebagaimana ayat di atas, akan menggembirakan bagi mere­ka dengan kegembiraan yang tiada tara, sebagaimana tersebut.

  

Demikianlah berita gembira bagi mereka yang memiliki tiga karakter, yakni iman, hijrah, dan jihad, yang dibalas dengan tiga hadiah, yaitu rahmat, ridha, dan surga nan abadi, dari Allah SWT.

Dari Abu Ibrahim, dan disebut juga Abu Muhammad atau Abu Mu’awiyah, Abdullah bin Abi Aufa RA, ia berkata, “Bahwasanya Rasulullah SAW menyam­paikan kabar gembira kepada Khadijah RA tentang sebuah rumah di dalam surga yang terbuat dari mutiara, yang di dalamnya tidak ada hiruk-pikuk dan kesulitan.” (Muttafaq ‘Alaih).



Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dalam bab Keutamaan Sahabat Sub-bab Pernikahan Nabi SAW dengan Khadijah RA serta Keutamaan Khadi­jah. Sedangkan Muslim meriwayat­kan­nya dalam bab Keutamaan-keutamaan Sub-bab Keutamaan Khadijah RA.


Hadits ini menerangkan keutamaan Sayyidah Khadijah RA, istri pertama Nabi SAW, yang paling utama. Ia pe­rem­puan yang pertama menyatakan ke­iman­an, yang paling banyak meng­hi­bah­kan harta dan jiwanya buat dakwah Rasulullah, dan yang paling dicintainya. Sehingga, tentangnya, Rasulullah SAW bersabda, “Dialah yang menyatakan beriman kepadaku ketika orang-orang kufur, yang membenarkanku tatkala orang-orang mendustaiku, dan yang mencurahkan dakwah dengan hartanya tatkala orang-orang enggan mengeluar­kan hartanya.” Sayyidah Khadijah wafat pada tahun keenam sebelum hijrah.


Pada hadits ini terdapat pelajaran, seyogianya seseorang yang telah mem­beri arti positif dalam kehidupan selalu dibalas dengan menyemangatinya de­ngan berbagai kebaikan, termasuk janji atau kabar yang menggembirakan hati. Sehingga timbullah sikap saling dorong dalam kebaikan dan ketaqwaan. Inilah cara Allah membalas makhluk-Nya yang terbaik dalam langkah kehidupan, dan inilah sunnah atau kebiasaan Rasulullah SAW bagi sahabat-sahabat­nya, terma­suk istri beliau yang telah kita ketahui keutamaan-kekutamaannya, yang patut ditiru tatkala kita hidup bersama orang-orang yang kita cintai karena kebaikan dan amal shalihnya kini.    



Majalah Al Kisah
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Populer Sepekan

Live Streaming


Pojok Doa


Doa Keteguhan Iman Islam

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

Yaa Muqallibal Quluub, Tsabbit qalbi 'ala diinik

“Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu"

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا

Rabbanaa laa tuzigh qulubanaa ba'da idz hadaitanaa

Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger