Adv 1
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Indonesia Jaya?

Waktu yang cukup lama setelah bangsa kita merdeka, agaknya kita perlu merenungkan kembali arti kemerdekaan, agar kita dapat memaknai kembali ucapan terima kasih secara lebih dalam. Kata ini mudah diucapkan, kedua kata ini sama-sama terdiri dari dua susunan kata; terima kasih, matur nuwun, dalam bahasa jawa, tapi tanggung jawab dari dua susunan kata tersebut amat besar dan dalam sekali. Jadi kalau kita ucapkan terima kasih itu terlalu kecil, dibanding jasa-jasa para pendahulu kita.

Perumpamaannya, kita menerima nasi sudah masak, tinggal makan. Oleh sebab itu kita jangan sampai saling berebut. Kasihan yang menanak, kasihan yang mencangkul, kasihan yang mengairi, kasihan yang panen, kasihan yang menjemur, kasihan yang menggiling, kasihan yang bersihkan, kasihan yang masak, kasihan yang menyiapkan. Jadi kalau makan nasi saja, kita sudah berhutang budi pada sekian banyak orang.

Orang tua, karena sayangnya pada anak cucunya, boleh dikata kepala dijadikan kaki, kaki dijadikan kepala. Karena sayangnya pada anak cucunya, walaupun haram diambil dikasihkan ke anak, lalu ditanggung sendiri, karena terpepet, demi kehidupan putra-putrinya. Satu sisi melihat kenyataan itu saya kagum. Ibu-ibu yang jual nasi pagi hari, jam dua malam mereka sudah bangun. Tiada lain demi anak-anaknya. Setelah selesai dagang mereka mencuci pakaian, menyiapkan makan suami, mengurus anak-anak,  belanja. Mereka paham betul apa yang disukai suaminya, yang disukai anak-anaknya meskipun itu hal kecil. Itulah hebatnya ibu-ibu.

Sementara bapak-bapak yang jadi tukang beca semisal, pagi-pagi keluar menarik beca. Perut masih kosong, bisa masuk teh hangat saja sudah sangat untung. Menarik beras dua kuintal kepasar sebenarnya tidak mungkin kuat, perut kosong tapi dipaksakan demi uang tujuh ribu untuk makan anak-anak.

Dari pasar dapat muatan lagi, sementara peluh-keringat masih mengalir, diangkut demi mendapat beras dua kilogram. Terkadang waktu makan masih mikir, kalau makan telur, beras dua kilo berkurang, akhirnya tiap makan; tempe krupuk. Seandainya tempe krupuk bisa ngomong, pasti akan bilang; kamu tidak bosan-bosan makan aku. Tapi apa hendak dikata, kerupuk-tempe tidak terlihat, yang kelihatan anak dan istri. Orang tua-orang tua kita menyekolahkan anak-anaknya setinggi mungkin, walaupun mereka sendiri tidak tamat sekolah. Dalam ungkapan ‘Arab; ma fil aba fil abna, kalau orang tua tidak mendapat, anak harus dapat.

Jadi kalau kita mau berpikir jauh atas apa yang sudah disuguhkan orang tua,  jangankan nasi ada lauk pauknya, nasi saja kita sudah berterimakasih. Pasti kita akan berterimakasih pada mereka, dan orang yang mengerti terimakasih pasti akan berdoa; ya Allah jangan Engkau ambil aku terlebih dahulu, sebelum aku membahagiakan kedua orang tuaku. Ya Allah, panjangkanlah umur kedua orang tuaku, bahagiakanlah mereka, berilah kesehatan lahir batin, sehingga aku dapat memulikannya lebih dari yang kami harapkan. Itulah seorang anak yang paham arti terimakasih.

Itu sekup yang kecil, sekup keluarga, kalau kita tarik lebih jauh dari keluarga kita tarik ke anak bangsa. Terang saja, bagi orang yang sadar dilahirkan ditanah air ini, akan meningkatkan rasa cinta pada Republik dan tanah air. Keturunan boleh-boleh saja keturunan Cina, keturunan Arab, keturunan Belanda, karena yang dituntut Anda dilahirkan di tanah air ini.

Sebab itu anda dituntut untuk mencintai negeri tercinta ini. Mampukah kita menjadi golongan yang tidak mengecewakan orang tua, itu dalam keluarga. Kalau kita tarik dalam sekup Nasional, kitapun ditanya, sejauhmana kita sebegai generasi penerus, tidak akan mengecewakan pejuang-pejuang kita. Sebenarnya mereka di baka menanti atas jawaban kita. Apakah kita menjadi bangsa yang cengeng? Bangsa yang glamour, manja? Bangsa yang mudah dipicu? Ataukah kita menjadi penerus yang siap membangun bangsa?

Semulia-mulia segala utusan Allah, ditempatkan dipadang pasir bisa membangun. Tanah kering menjadi basah. Negara kita bukanlah padang pasir, sejak dahulu hingga sekarang negara kita ibarat karpet yang hijau. Mestinya kita jangan tertidur 

nyenyak karena hijaunya itu. Sebab yang mencangkul menunggu kita semua untuk membangun bangsa ini. Sehingga melahirkan tokoh-tokoh yang bisa menjawab tantangan umat, tantangan masa depan.

Nabi SAW pernah berpesan pada keturunannya; wahai anak cucuku, jangan mempermalukan aku dihapan Tuhan yang Maha Kuasa, umatku berdatangan dengan membawa banyak amal, budi pekerti, sementara engkau hanya membawa ke-aku-annya, karena keturunannya.

Kahawatiran baginda Nabi pada generasi penerusnya sejauh itu. Saya kira sesepuh dan para pejuang kita sama kalau kita artikan; ‘wahai generasiku jangan kalian permalukan aku dihadapan Allah, dihadapan Tuhanmu. Lihat bangsa lain bisa membangun negaranya. Mulai sektor ekonomi, ketahanan, dan bisa meningkatkan rasa jati dirinya, nasionalisme yang kuat, merasa mencintai, handar bening, memiliki, bukan sekedar basa-basi memiliki. Sedangkan kalian hanya  tidur, sedangkan kalian hanya santai-santai, membanggakan inilah negeri kami yang subur, gemah ripah loh jinawi’.

Pasti malu rasanya para sesepuh kita. Bangun, bangun, jangan terlambat, yang menunggu banyak. Generasi kita menunggu. Kita teriakan dengan perilaku kita; bukan lagi Indonesia Merdeka, tetapi Indonesia Jaya, Indonesia Jaya, Indonesia Jaya.



Habib Lutfi Bin Yahya
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

LPBINU Kudus Bangun Posko Pengungsian di Lombok


Gerakan NU peduli Lombok #PrayforLombok bergema di Media Sosial dan juga dunia nyata, tak terkecuali di Kabupaten Kudus. NU Kudus melalui badan-badan otonomnya dan juga LazisNU Kudus pun menggalang dana kemanusiaan untuk Lombok yang nantinya akan disalurkan langsung di Lombok.

Seperti yang diberitakan oleh Miftahurrahmah Ismail melalui media sosial, NU Kudus melalui LPBINU pun langsung turun ke Lombok untuk membantu Saudara-saudara kita yang terkena musibah gempa bumi. NU berserta anggota Badan Otonom NU Kudus yang dimotori oleh awak LPBINU Kudus pun ikut membangun posko pengungsian di Lombok Utara, daerah yang paling parah terdampak bencana gempa serta menyalurkan donasi dari masyarakat yang telah terkumpul.


Dalam foto yang diunggahnya, tampak beberapa tenda pengungsian berwarna biru di sebuah tanah lapang berjajar yang merupakan posko pengungsian yang diantaranya telah dibangun oleh LPBINU Kudus beserta LPBINU daerah lainnya. Pembangunan posko tersebut dilakukan secara gotong royong dengan warga sekitar, aparat, dan relawan lainnya.

Selain itu, menurut Miftahurrohmah Ismail, NU Kudus melalui LazisNU Kudus masih membuka posko bantuan Peduli Gempa Lombok di Kantor NU Care LazisNU Jl. Pramuka No. 20 Kudus. “Kami siap menyalurkan donasi anda. Sedikit empati kita, bangkitkan saudara-saudara di sana.”, tutur pria yang juga Nahdliyyin tersebut.


Seperti yang telah kita ketahui, Pulau Lombok kembali diguncang gempa hebat yang meluluh lantakkan bangunan-bangunan tempat tinggal penduduk dan juga merenggut jiwa penduduk Lombok dan sekitarnya yang terpapar efek gempa berkekuatan lebih dari 6 SR. Berita terjadinya bencana di Lombok yang juga dirasakan oleh warga masyarakat di Bali tersebut menjadi topik perhatian di tengah-tengah masyarakat luas mengingat dampak kerusakan yang luar biasa.

Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagamaan terbesar di Indonesia mengintruksikan agar ara Nahdliyyin ikut membantu meringankan beban-bena yang ditanggung oleh masayarakat Lombok dan sekitarnya yang terdampak bencana. Melalui badan-badan otonomnya maupun lembaga kemanusiaan di bawahnya, warga nahdliyyin maupun warga umum dapat ikut berpartisipasi memberikan donasi untuk saudara-saudara sebangsa dan setanah air di Lombok.



Sumber berita dan Foto: Miftahurrohmah Ismail
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Mensyukuri Nikmat Kemerdekaan


Seperti yang kita tahu, kita akan segera memperingati hari kemerdekaan Indonesia. Menurut ajaran Islam, kemerdekaan adalah hak asasi manusia yang pertama dan utama. Kenapa bisa begitu? 

Jawabannya karena adanya kemerdekaanlah yang menyebabkan manusia berbeda dari makhluk Allah yang lainnya. Antara lain, karena kemerdekaan hanya diberikan oleh Allah pada manusia saja. Bahkan bila dicermati, kemerdekaan yang diberikan Allah sangat besar, bahkan sampai tahap manusia bisa merdeka untuk memilih apakah akan patuh pada Allah atau tidak.

Oleh karena itu lah para Nabi dan Rasul diutus ke dunia ini dengan hanya diberikan tugas untuk berdakwah tetapi mereka tidak boleh memaksa manusia supaya beriman pada Allah. Tidak lain karena Allah sudah memberikan nikmat kemerdekaan pada manusia.

Bila kita merenungkan, sebenarnya nikmat kemerdekaan ini adalah suatu hal yang sangat berat dipikul oleh mansuia, Sebab sekali dipercaya untuk memegangnya, manusia memiliki kewajiban untuk mempertahankannya. Bahkan dalam sebuah keterangan, Allah pernah menawarkan amanat kemerdekaan pada gunung, langit dan bumi tapi mereka semua menolak, sampai akhirnya amanat ini dipikul oleh manusia.

Seorang Muslim harus sadar bahwa kemerdekaan membedakan manusia dengan binatang, apalagi faktanya nikmat yang berupa kemerdekaan ini lebih tinggi nilainya dari kehidupan itu sendiri, buktinya kadang kita harus mau mengorbankan kehidupan untuk mendapatkan kemerdekaan, dan orang yang mati karena mempertahankan kemerdekaan ini disebut sebagai orang yang terbunuh di jalan Allah, mereka mati syahid dan kita pun dilarang mengatakan bahwa mereka itu mati, sebab di sisi Allah mereka masih hidup. Inilah salah satu bentuk penghargaan dari Allah untuk orang-orang seperti mereka.

Itulah sebabnya Islam dan penjajahan tidak pernah bertemu, artinya Islam tidak pernah menjajah bangsa lain, dan sebaliknya Islam tidak pernah membiarkan diri dijajah bangsa lain.

Kalau hal ini kita perspektifkan pada Indonesia, tidak heran bila orang-orang yang menjadi pelopor perlawanan terhadap para penjajah di Indonesia, hampir semua didasari oleh ajaran tauhid dalam Islam.

Bahkan kalau kita tinjau sumbangan Islam terhadap Indonesia, ternyata menurut data sejarah, Islam lah yang mula-mula menanamkan perasaan satu nusa, satu bangsa, satu bahasa jauh sebelum peristiwa sumpah pemuda ada.

Pengaruh Islam dalam sejarah Indonesia sangat dalam dan luas, sampai-sampai ada satu peristiwa ketika raja Bali yang beragama Hindu membuat perjanjian dengan VOC yang beragama Nasrani, yang dipakai dalam surat perjanjian tersebut adalah bahasa melayu dengah tanggal hijriyah.

Dari sini bisa kita simpulkan bahwa tidak aneh ketika sumpah pemuda dicetuskan, dalam sekejap semangatnya langsung menyebar ke seluruh nusantara. Hal itu karena secara tidak sadar persatuan dan kesatuan sebenarnya sudah tertanam sejak lama, sebuah perasaan yang disebarkan oleh agama Islam.

Hanya sayangnya pengaruh Islam ini dihilangkan oleh Belanda, hingga dalam buku-buku pelajaran sejarah hal ini jarang disebut. Tapi mudah-mudahan, setelah kita tahu bahwa kemerdekaan adalah sebuah nikmat yang lebih tinggi dari kehidupan, maka kita akan menjadi bangsa yang bersyukur, dan kalau kita sudah bersyukur mudah-mudahan Allah akan menambah nikmat yang kita dapat, juga menambah keteguhan iman dan keluasan ilmu kita semua.


drs. Irfan Anshori
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Live Streaming


Doa Memohon Ampun


الشهد ان لا اله الّا الله أستغفر الله أسألك الجنّة وأعوذ بك من النّار
 
Ashadu alla ilaaha illallaah, Astaghfirullah, As a luka Ridhoka Wal Jannah, Wa a'udzubika Minannar (Min sakhotika Wannar)

Saya bersaksi tiada Tuhan selain Allah, Saya memohon ampun kepada Allah, saya meminta surga dan berlindung kepada Allah dari siksa neraka

اللهمّ إنّك عفوّ تحبّ العفو فاعف عنّى

Allahumma Innaka Afuwwun (Karim), Tuhibbul 'Afwa Fa'fu Anni (Ya Kariim) 3x

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, maka berikanlah Maaf kepada saya


Anda Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger