Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Topic Update »
Bagikan kepada teman!

Hukum Karma

1. Jika Karma adalah Balasan

Kalau yang dimaksud karma adalah balasan atas tindakan/amal sendiri selama di dunia, maka dalam QS. Asy Syuuro 40 dijelaskan,

وَجَزَٰٓؤُا۟ سَيِّئَةٍۢ سَيِّئَةٌۭ مِّثْلُهَا ۖ فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُۥ عَلَى ٱللَّهِ ۚ إِنَّهُۥ لَا يُحِبُّ ٱلظَّٰلِمِينَ
 

Wa Jazaa-U Sayyiatin Sayyiatun Mitsluhaa...
Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka Barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggunga
n) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim.
 

Juga hadits

عن جابر رضي الله عنه: قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم بروا آباكم يبركم أبناءكم، وعفوا تعف نساءكم، ومن يصل إليه فلم يقبل لم يرد على الحوض
 

Birruu Aabaa-Akum Tabirrukum Abnaa-Ukum (alhadis)
 

Pada akhir QS. albaqoroh  ayat 286 juga disebutkan :

لَا يُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۚ لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا ٱكْتَسَبَتْ
 

....Lahaa Maa Kasabat Wa 'Alaihaa Maktasabat
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupa
nnya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.
 

2. Jika Karma adalah kutukan

Bila yang dimaksud karma adalah kutukan, dalam hadits disebutkan bahwa doa yang dizholimi termasuk doa yang mustajab.

ثَلَاثَةٌ لَا تُرَدُّ دَعْوَتُهُمْ الْإِمَامُ الْعَادِلُ وَالصَّائِمُ حَتَّى يُفْطِرَ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ تُحْمَلُ عَلَى الْغَمَامِ وَتُفْتَحُ لَهَا أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَيَقُولُ الرَّبُّ عَزَّ وَجَلَّ وَعِزَّتِي لَأَنْصُرَنَّكَ وَلَوْ بَعْدَ حِينٍ
 

Tiga orang yang doa mereka tidak terhalang, yaitu imam (pemimpin) yang adil, orang yang berpuasa hingga ia berbuka, dan doa orang yang dizholimi. Doa mereka dibawa ke atas awan dan dibukakan pintu langit untuknya, lalu Allah Azza Wa Jalla berfirman: 'Demi izzah-Ku, Aku akan menolongmu meski setelah beberapa waktu." (HR. Ahmad)

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ حُجْرٍ قَالَ: أَخْبَرَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ إِبْرَاهِيمَ، عَنْ عُيَيْنَةَ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي بَكْرَةَ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَا مِنْ ذَنْبٍ أَجْدَرُ أَنْ يُعَجِّلَ اللَّهُ لِصَاحِبِهِ العُقُوبَةَ [ص:665] فِي الدُّنْيَا مَعَ مَا يَدَّخِرُ لَهُ فِي الآخِرَةِ مِنَ البَغْيِ وَقَطِيعَةِ الرَّحِمِ» هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحٌ "
 

Dalam Sunan Tirmidzi 4/664 dijelaskan bahwa Rosululloh bersabda, tidak ada dosa yang lebih pantas untuk disegerakan siksaan (balasan)nya dari Alloh di dunia serta ditabungkan di akhirat selain (dosa) “baghyun “ (tindakan jahat) dan memutuskan silaturahmi


وأخرج الحاكم 4/156، والخرائطي (245) من طريق بكار بن عبد العزيز ابن أبي بكرة، قال: سمعت أبي يحدث عن أبي بكرة رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يقول: "كل الذنوب يؤخر الله ما شاء منها إلى يوم القيامة إلا عقوق الوالدين، فإن الله يعجله لصاحبه في الحياة قبل الممات" وقال الحاكم: صحيح الإسناد. وتعقبه الذهبي بقوله: بكار ضعيف.
 

Imam Hakim meriwayatkan, bahwa Rosululloh bersabda, semua dosa diakhirkan (balasannya) oleh Alloh -sesuai dengan kehendaknya- sampai hari kiamat kecuali durhaka kepada orang tua. Maka sesungguhnya Alloh akan menyegerakan siksaannya ketika masih hidup sebelum mati. (HR. Imam Hakim, Sohihul Isnad).
 

Hemat saya karma adalah istilah yang ambigu. Karma paling tidak ada tiga bentuk :
 

a. Karma akibat perbuatan diri sendiri yang dialami di masa kini  


Hal ini yang biasanya dipahami oleh masyarakat kebanyakan, identik dengan 'kualat' ataupun ‘hukum kasualitas’.
 

b. Karma akibat perbuatan diri sendiri di kehidupan yang lampau


Hal ini yang identik dengan reinkarnasi Hindu-Budha dan menyebabkan karma cenderung tidak diakui oleh hukum Islam.


c. Karma akibat perbuatan orang tua yang ditanggung oleh anaknya


Hal ini karma yang salah kaprah, tidak diakui dalam Hindu maupun Budha, apalagi Islam.
 

Secara bahasa, Karma (Sansekerta) atau Kamma (Pali) berarti perbuatan atau aksi. Baik Hindu-Budha mengartikan hukum karma secara mutlak, yakni sebagai hukum yg timbul berkaitan dg suatu perbuatan, entah baik atau buruk, entah di kehidupan kini ataupun efek dari kehidupan lampau.


Istilah karma lebih dulu dipakai pada agama Hindu-Budha. Dimana kedua agama itu, disamping konsep karma yang bersifat kasualitas, juga memasukkan reinkarnasi sebagai bagian dari hukum karma. Dengan demikian pengucapan karma dalam Islam, andaipun dijumpai, diberlakukan sebagai kiasan saja dari hukum sebab-akibat (kasualitas), seperti perkataan: dia mendapat karma akibat durhaka pada orang tuanya. Wallahu a'lam bishshawaab.

 

http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/341961965826618/ oleh Ust. Umam Zain dkk
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Bolehkah Menumpuk Kuburan dan Memindahkan Mayit

Boleh menumpuk kuburan jika darurat (dlorurot) tidak ada tempat lain kecuali di tempat tersebut yang masih ada mayitnya, misal karena sempitnya lahan pemakaman, Haram jika tidak ada darurat.
 

Tidak boleh mengubur mayit di tanah yang ada mayitnya juga bahkan kalau masih ada tulang belulangnya juga tidak boleh kecuali telah hilang bekas mayitnya yang artinya sudah hancur lebur dan hancur belumnya mayit dikembalikan kepada pengurus pemakaman (ahlul khobroh) agar bisa diketahui apakah lahan ini bisa dibuat untuk menguburkan mayit kembali atau tidak (ada pendapat yang mengatakan bahwa masa hancurnya mayit 15 tahun).

Namun, di sini ada pengecualian yaitu ketika ada dlorurot semisal tidak bisa mengubur mayit di tempat lain kecuali di tempat tersebut sebab sempitnya lahan/TPU maka boleh mengubur mayit di tempat tersebut dengan mayit yang awwal karena adanya dlorurot.

Begitu juga jika banyak orang yang meninggal namun lahannya sempit tidak bisa jika di qubur satu-satu/terpisah maka boleh mengubur mayit lebih dari satu dalam satu liang qubur melihat dlorurot di sini yaitu sempitnya lahan pemakaman.
 

Haram memindahkan mayit sebelum memakamkan mayit dari tempat si mayit tinggal, ke tempat yang lebih jauh dari tempat pemakaman si mayit tinggal semasa hidupnya, kecuali jika si mayit dekat dengan Makkah, Madinah atau Baitil Muqoddas dengan syarat juga jaraknya tidak sampai mempengaruhi berubahnya si mayit (faktor pembusukan) dan bolehnya di pindahkan ke tempat tersebut setelah si mayit dimandikan, dikafani, dan disholatkan di tempat tinggalnya.

Menurut Imam Zarkasyi, seyogyanya boleh juga di pindahkan mayit dari tempat tinggalnya ke tempat pemakaman orang-orang yang baik dan sholeh karena orang matipun ingin pemakamnya bertetangga dengan orang-orang yang baik dan sholeh.

ويَحْرُمُ أيضاً: إدخالُ مَيِّتٍ علـى آخر، وإن اتّـحَدا جِنساً، قبل بَلاءِ جَميعِهِ، ويَرجَعُ فـيه لأهْلِ الـخِبرَةِ بـالأرْضِ. ولو وُجدَ بعضُ عظمِهِ قبل تَـمامِ الـحفْرِ وَجَبَ رَدّ تُرابِه، أو بعده فلا. ويجوزُ الدّفْنُ مَعَه،
حاشية إعانة الطالبين ج 2 ص 118

ولا يجوز جمع اثنين في قبر واحد بل يفرد كل واحد بقبر، وقال الماوردي بالكراهة عند اتحاد الجنس أو المحرمية أو الزوجية أو عدم بلوغ حدّ الشهوة، ويكره عند شيخ الإسلام وإن اختلف الجنس واختلفت المحرمية لكن يجعل بـينهما ما يمنع التماس كتراب ونحوه، والمعتمد الأوّل. نعم يستثنى من حرمة الجمع ما لو أوصى كل من الميتين بذلك، فيجوز لأن الحق له، ومن ذلك إدخال ميت على آخر قبل ذهاب أثره، ويحرم جمع عظام الموتى لدفن غيرهم، وكذا وضعه فوقها، نعم إن دعت الضرورة إلى ذلك كأن كثرت الموتى وعسر إفراد كل ميت بقبر لضيق الأرض فيجمع بـين الاثنين والثلاثة والأكثر في قبر بحسب الضرورة، ويحرم نقل الميت قبل دفنه من محل موته إلى محل أبعد من مقبرة محل موته ليدفن فيه إلا أن يكون بقرب مكة أو المدينة أو بـيت المقدس بحيث تكون المسافة لا يتغير فيها الميت، فيجوز حينئذ نقله إليها بعد غسله وتكفينه والصلاة عليه في محل موته لتوجه الفرض. قال الزركشي : وينبغي أن يكون مثل ذلك ما لو كان بقرب مقابر أهل الخير والصلاح لأن الشخص يقصد الجار الحسن.
نهاية الزين ص 149

قوله: (إدخال ميت على آخر الخ) وفي الزيادي ومحل تحريمه عند عدم الضرورة أما عندها فيجوز كما في الابتداء رملي انتهى اهــــ ع ش قوله: (قبل بلى جميعه) أفهم جواز النبش بعد بلى جميعه ويستثنى قبر عالم مشهور أو ولي مشهور فيمتنع نبشه مطلقاً م ر اهــــ سم قوله: (على أنه الخ) أي عجب الذنب قوله: (ويرجع فيه) أي في البلي قوله: (نحاه) أي نحى العظم من القبر بأن يجعله في جانب أو في موضع آخر كردي وحلبي وزيادي. قوله: (وليس ببعيد الخ) ظاهره الحرمة وإن وضع بينهما حائل كما لو فرش على العظام رمل ثم وضع عليه الميت فليراجع ع ش أقول قد يوافق ذلك الظاهر قول شيخنا ويحرم جمع عظام الموتى لدفن غيرهم وكذا وضع الميت فوقها اهــــ قوله: (بأن كثر) إلى قوله وعلم مما مر في النهاية والمغني إلا أنهما عبرا بالكاف بدل الباء في بأن كثر قوله: (بأن كثر الموتى) ينبغي الاكتفاء بالعسر وإن لم يكثر الموتى وأن يكون من العسر ما لو كان لو أفرد كل ميت بقبر تباعدت قبورهم بحيث تشق زيارتهم بأن لم يتيسر مواضع متقاربة سم وفيه نظر والظاهر ما في ع ش مما نصه فمتى سهل إفراد كل واحد لا يجوز الجمع بين اثنين ولا يختص الحكم بما اعتيد الدفن فيه بل حيث أمكن ولو غيره ولو كان بعيداً وجب حيث كان يعد مقبرة للبلد ويسهل زيارته وغايته تتعدد الترب وأي مانع منه وليس من الضرورة ما جرت به العادة في مصرنا من الاحتياج لدراهم تصرف للمتكلم على التربة في مقابلة التمكين من الدفن لأنه صار من مؤن التجهيز على أنه قد يمكن الاستغناء عنه بالدفن في غير ذلك الموضع اهــــ حواشي الشرواني ج 3 ص 148

 
https://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/693117800711031 oleh Ust. Syifa Hasanah
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Doa Anak Sholeh Kepada Orang Tuanya

Secara teori doa anak sholeh bermanfaat (bisa diharapkan meringankan siksa) bagi kedua orang tuanya, selama kedua orang tuanya tidak melakukan dosa syirik selama hidupnya. Namun realitasnya wallohu a'lam. Sehingga tetaplah mendo'akan kedua orang tua kita, jika kedua nya meninggal dalam keadaan muslim, betapapun kita melihatnya banyak melakukan dosa dan maksiyat selain syirik.



Allah SWT berfirman dalam hadits Qudsiy : Wahai Keturunan Adam, ketika kau berharap dan berdoa kepada Ku, kuhapuskan dosa dosa kalian dan tidak kupertanyakan lagi, wahai keturunan Adam, walau sampai dosamu memenuhi langit, dan kau mohon ampun pada Ku, kulimpahkan pengampunan Ku (HR Ahmad).



عن أنس رضي الله عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول - قال الله تعالى : يا بن ادم إنك ما دعوتني ورجوتني غفرت لك على ما كان ولا أبالي , يا بن ادم لو بلغت ذنوبك عنان السماء ثم استغفرتني غفرت لك , يا بن ادم إنك لو أتيتني بقراب الأرض خطايا ثم لقيتني لا تشرك بي شيئاً لأتيتك بقرابها مغفرة - رواه الترمذي وقال حديث حسن صحيح



Dari Anas radhiallahu 'anhu, ia berkata : Saya telah mendengar Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda : Allah ta’ala telah berfirman : “Wahai anak Adam, selagi engkau meminta dan berharap kepada-Ku, maka Aku akan mengampuni dosamu dan Aku tidak pedulikan lagi. Wahai anak Adam, walaupun dosamu sampai setinggi langit, bila engkau mohon ampun kepada-Ku, niscaya Aku memberi ampun kepadamu. Wahai anak Adam, jika engkau menemui Aku dengan membawa dosa sebanyak isi bumi, tetapi engkau tiada menyekutukan sesuatu dengan Aku, niscaya Aku datang kepadamu dengan (memberi) ampunan sepenuh bumi pula”. (HR. Tirmidzi, Hadits hasan shahih) [Tirmidzi no. 3540]



Banyak hadits Nabi SAW yang berarti bahwa amalan-amalan orang yang hidup bermanfaat bagi si mayit diantaranya ialah do’a kaum muslimin untuk si mayit pada sholat jenazah dan sebagainya yang mana do’a ini akan diterima oleh Allah SWT, pelunasan hutang setelah wafat, pahala haji, pahala puasa dan sebagainya serta do’a kaum muslimin untuk sesama muslimin baik yang masih hidup maupun yang sudah wafat sebagaimana yang tercantum pada ayat Ilahi Al-Hasyr.10 .

  

Begitu juga pendapat sebagian golongan yang mengikat hanya do’a dari anak sholeh saja yang bisa diterima oleh Allah SWT adalah pikiran yang tidak tepat baik secara naqli (nash) maupun aqli (akal) karena hal tersebut akan bertentangan juga dengan ayat ilahi dan hadits-hadits Nabi SAW mengenai amalan-amalan serta do’a seseorang yang bermanfaat bagi si mayit maupun bagi yang masih hidup.

  

Mengapa dalam hadits ini dicontohkan do’a anak yang sholeh karena dialah yang bakal selalu ingat pada orang tuanya dimana orang-orang lain telah melupakan ayahnya. Sedangkan anak yang tidak pernah atau tidak mau mendo’akan orang tuanya yang telah wafat itu berarti tidak termasuk sebagai anak yang sholeh.

  

Dari anak sholeh ini si mayit sudah pasti serta selalu (kontinu) menerima syafa’at darinya. Begitulah yang dimaksud makna dari hadits ini, dengan demikian hadits ini tidak akan berlawanan/berbenturan maknanya dengan hadits-hadits lain yang menerangkan akan sampainya pahala amalan orang yang masih hidup (penebusan hutang, puasa, haji, sholat dan lain-lain) yang ditujukan kepada simayit. Begitu juga mengenai amal jariahnya dan ilmu yang bermanfaat selama dua hal ini masih diamalkan oleh manusia yang masih hidup, maka si mayit selalu (kontinu) menerima juga syafa’at darinya.

  

Kalau kita tetap memakai penafsiran golongan pengingkar yang hanya mem- batasi do'a dari anak sholeh yang bisa sampai kepada mayyit, bagaimana halnya dengan orang yang tidak mempunyai anak? Apakah orang yang tidak punya anak ini tidak bisa mendapat syafa'at/manfaat do'a dari amalan orang yang masih hidup? Bagaimana do’a kaum muslimin pada waktu sholat jenazah, apakah tidak akan sampai kepada si mayyit? Sekali lagi penafsiran dan pembatasan hanya do'a anak sholeh yang bermanfa’at bagi si mayyit adalah tafsiran yang salah, karena bertentangan dengan hadits-hadits shohih mengenai amalan-amalan orang hidup yang bermanfaat buat si mayyit. Wallaahu A'lam .





http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/546680458688100/?comment_id=546711812018298&offset=0&total_comments=4 oleh Ust. Alif Jum’an
komentar | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Hot Threads

Untaian Doa




Doa Nabi Khodir

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺸﻐﻠﻪ ﺳﻤﻊ ﻋﻦ ﺳﻤﻊ

yaa man laa yusyghiluhu sam’un ‘an sam’in

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﺗﻐﻠﻄﻪ ﺍﻟﻤﺴﺎﺋﻞ

yaa man laa tughlithuhul masaa`il

ﻳﺎ ﻣﻦ ﻻ ﻳﺘﺒﺮﻡ ﺑﺈﻟﺤﺎﺡ ﺍﻟﻤﻠﺤﻴﻦ

yaa man la yatabarromu bi ilhaahil malhiin

ﺃﺫﻗﻨﻲ ﺑﺮﺩ ﻋﻔﻮﻙ ﻭﺣﻼﻭﺓ ﺭﺣﻤﺘﻚ

adziqnii burda ‘afwika wa halaawata rohmatika

“Wahai Dzat yang tidak disibukan pendengarannya dengan
pendengaran lain.

Wahai Dzat yang tidak pernah salah memberi kepada banyak
orang yang meminta-minta.

Wahai Dzat yang tidak pernah bosan mendengar permintaan
hamba-Nya yang terus menerus(Fathul Baari)

Pengunjung ke-

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger