Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Wali-Wali Allah SWT (3)

Wali-Wali Allah SWT (3)


Dan jikalau Allah telah mencintai hamba-Nya, maka Allah menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, Allah akan menjadi penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, Allah akan menjadi tangannya yang ia gunakan untuk membela diri , Allah akan menjadi kakinya yang ia gunakan untuk berjalan.  

Tentunya maksudnya bukan secara makna kalimat, tetapi mengandung majas yaitu makna kiasan. Maksudnya adalah jika seseorang telah taat kepada Allah, selalu ingin berbuat yang luhur, selalu menghindari hal yang hina, maka apa-apa yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata'ala, seperti jika ia mendengar aib orang lain maka ia doakan orang itu, ia mendengar cacian dan umpatan dari orang lain maka ia doakan orang itu, semua yang ia dengar menjadi rahmat Allah subhanahu wata'ala. Semua hal yang ia lihat menjadi rahmatnya Allah subhanahu wata'ala, misalnya ia melihat orang berbuat dosa maka ia doakan agar ia diampuni dosanya oleh Allah dan diberi hidayah, matanya yang melihat membawa rahmat Allah subhanahu wata'ala, tangan dan kakinya pun demikian, hari-harinya pun demikian. Maka maksud firman Allah dalam hadits qudsi itu adalah Allah memancarkan rahmat dan cahayaNya dari hamba itu, melalui penglihatannya, pendengarannya, ucapannya, dan hari-harinya penuh rahmat Allah subhanahu wata'ala, demikianlah keadaan para wali Allah. 

Maka jika hamba itu meminta kepada Allah maka Allah kabulkan permintaannya, dan jika ia memohon perlindungan kepada Allah maka Allah akan melindunginya. Allah melanjutkan firman-Nya dalam hadits qudsi, "Tidaklah Aku ragu-ragu melakukan sesuatu seperti keraguanKu ketika hendak merenggut jiwa hambaKu yang beriman, dia membenci kematian sedang aku tak suka menyakitinya".

Yang dimaksud bukanlah Allah subhanahu wata'ala ragu dalam menentukan sesuatu untuk hambanya, karena Allah tidak memliki sifat ragu. Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari mensyarahkan makna hadits ini, bahwa yang dimaksud adalah Allah subhanahu wata'ala merasa berat jika ingin menentukan suatu ketentuan yang bisa membuat para kekasih-Nya kecewa. Allah tidak pernah merasa berat dalam menentukan sesuatu, kecuali kepada para walinya karena Allah subhanahu wata'ala tidak ingin mengecewakan mereka. Allah tidak mau mengecewakan para kekasih-Nya, jika kekasih-Nya belum ingin wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya. Maka ketika Allah mengundang hamba-Nya untuk wafat namun hamba-Nya masih ragu untuk wafat maka Allah tidak mau mewafatkannya, Allah panjangkan usianya, kenapa? karena ia telah menjadi kekasih Allah. Bukan berarti Allah mengikuti semua yang dia inginkan, tetapi Allah sangat mencintainya dan tidak mau mengecewakannya. Tetapi banyak kejadian di masa nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, beliau didzalimi, disakiti, dan dianiaya ?!, ingat ucapan Allah subhanahu wata'ala :

وَلَئِنْ اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ
" Dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya "

Namun Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam tidak ingin musuhnya celaka, maka beliau diam saja atas perbuatan musuh-musuhnya, sampai jika sesuatu itu membahayakan muslimin barulah beliau bertindak membela diri, tetapi jika hanya membahayakan dirinya sendiri maka beliau hanya bersabar dan bertahan. Beliau tidak ingin kecelakaan terjadi pada musuh-musuhnya dan beliau masih berharap mereka bertobat dan kembali kepada keluhuran. 

Sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari di saat perang Uhud ketika panah menembus tulang rahang Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, maka di saat itu darah mengalir Rasulullah sibuk menahan darah agar tidak sampai jatuh ke tanah, para sahabat berkata: " wahai Rasulullah biarkan saja darah itu mengalir ", diriwayatkan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany di dalam Fathul Bari bisyarh Shahih Al Bukhari bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam menahan darah yang mengalir jangan sampai jatuh ke tanah, karena Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda : " Kalau ada setetes darah dari wajahku yang jatuh ke tanah, maka Allah akan tumpahkan musibah yang dahsyat bagi mereka orang-orang Quraisy yang memerangiku ". Allah murka jika ada setetes darah dari wajah Rasulullah sampai tumpah ke bumi, maka Rasulullah menjaga agar jangan sampai ada setetes darah pun yang mengalir ke bumi, dan beliau tidak peduli ada panah yang menancap di rahang beliau, beliau memikirkan jangan sampai musibah turun kepada orang yang memeranginya. Inilah sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam .

Demikian pula perbuatan Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam kepada sayyidina Abdullah bin Abdullah bin Ubay bin Salul, sebagaimana dalam riwayat Shahih Al Bukhari bahwa dia adalah seorang yang beriman tetapi ayahnya adalah pemimpin munafik yang paling jahat kepada nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, berkelompok dengan orang-orang yang memusuhi nabi, mengabarkan berapa jumlah tentara nabi, berapa senjatanya, kapan keluar Madinah, kapan masuk Madinah, kapan perdagangan di Madinah, kapan orang-orang Madinah berdagang keluar dan lainnya, semua itu yang membocorkannya adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, sungguh jahat sekali tetapi anaknya adalah orang yang beriman, ia bernama Abdullah juga. 

Maka sayyidina Abdullah datang kepada Rasul dan berkata : " Wahai Rasulullah, ayahku sudah sakaratul maut dan tidak ada yang mau mengurus jenazahnya ", kenapa? karena teman-temannya yang munafik tidak mau mengurus jenazahnya, mereka takut jika mereka mnegurusi jenazahnya maka orang-orang muslim mengetahui bahwa mereka adalah pengikut Abdullah bin Ubay juga, sedangkan orang-orang muslim juga tidak mau mengurusi jenazah itu karena jelas-jelas yang wafat adalah pimpinan orang munafik yang sangat jahat, dimana ketika orang muslim mengirim bahan makanan atau ke Madinah dimonopoli oleh Abdullah bin Ubay, mau mengirimkan bantuan atau perdagangan ke Madinah dirampok karena kapalnya sudah dibocorkan oleh Abdullah bin Ubay, justru mereka orang muslim senang dengan wafatnya Abdullah bin Ubay bin Salul. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bangkit dan berdiri untuk mengurus jenazah Abdullah bin Ubay bin Salul, maka sayyidina Umar berkata : " Wahai Rasulullah, dia pimpinan munafik jangan engkau urus jenazahnya ", maka Rasulullah berkata: " biarkan aku wahai Umar ", maka Rasulullah lah yang memandikannya, Rasul yang mengkafaninya , Rasul yang menshalatinya, Rasul yang menurunkannya ke kuburnya, Rasul yang mendoakannya. 

Lalu turunlah ayat, " Dan janganlah kamu sekali-kali menyolatkan (jenazah) seorang yang mati di antara mereka, dan janganlah kamu berdiri (mendoakan) di kuburnya. Sesungguhnya mereka telah kafir kepada Allah dan Rasul-Nya dan mereka mati dalam keadaan fasik." ( QS. At Tawbah : 84 ).

" Kamu memohonkan ampun bagi mereka atau tidak kamu mohonkan ampun bagi mereka (adalah sama saja). Meskipun kamu memohonkan ampun bagi mereka tujuh puluh kali, namun Allah sekali-kali tidak akan memberi ampun kepada mereka. Yang demikian itu adalah karena mereka kafir kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang fasik." ( QS. At Tawbah : 80 ).

Di dalam ayat ini ada makna yang tersembunyi, dijelaskan oleh guru mulia kita Al Musnid Al Allamah Al Habib Umar bin Muhammad bin Salim bin Hafizh menukil makna syarh ayat ini bahwa Allah subhanahu wata'ala sangat mencintai nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam. Nabi Muhammad tidak menentang Allah, beliau diciptakan oleh Allah penuh dengan sifat lemah lembut, maka Allah biarkan beliau mengurus jenazah Abdullah bin Ubay, dan setelah semua selesai barulah turun larangan dari Allah subhanahu wata'ala, maksudnya supaya orang munafik yang lain tau bahwa jenazah orang yang seperti itu tidak boleh dishalati sehingga mereka mau bertobat.

Kalau seandainya Allah subhanahu wata'ala betul-betul tidak menginginkannya, maka sebelum Rasulullah melakukannya pastilah dilarang tetapi justru Allah melarang setelah Rasulullah melakukannya, supaya menjadi pelajaran bagi orang munafik yang lainnya untuk tidak memusuhi dakwah Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam. 

Lalu Rasulullah berkata kepada sayyidina Umar : " Wahai Umar, engkau lihat firman Allah bahwa aku tidak boleh memohonkan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul karena Allah tidak mau mengampuninya walaupun 70 kali aku memohonkan pengampunan, wahai Umar kalau aku tau bahwa Allah akan mengampuninya jika kumintakan pengampunan lebih dari 70 kali, maka akan kumintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay bin Salul ", misalnya Allah menuntut harus 1000 kali nabi memintakan pengampunan untuk Abdullah bin Ubay maka beliau akan mintakan pengampunan itu demi keselamatan Abdullah bin Ubay bin Salim dari kemurkaan Allah subhanahu wata'ala. Demikian mulianya sayyidina Muhammad Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam.


Habib Munzir Al Musawwa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger