Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , , » Wudhu dan Shalat Bagi Wanita Mustahadhah (Beser)

Wudhu dan Shalat Bagi Wanita Mustahadhah (Beser)

Perlu diketahui, istihadhahnya wani­ta mustahadhah (wanita yang dari kemaluannya terus menerus keluar darah) tidak mencegah ke­wajiban menunaikan shalat, karena istihadhah itu tidak sama dengan haidh atau nifas. Akan tetapi istihadhah itu hukumnya sama de­ngan orang yang selalu menetes air ken­cingnya (beser)  atau selalu mengeluar­kan air madzi, jadi hal ini tidak mencegah kewajiban shalatnya.

Adapun cara menunaikan shalat bagi wanita mustahadhah adalah dengan me­lakukan empat perkara di bawah ini:

1.  Mencuci kemaluannya (vagina) hing­ga bersih dari darah

2. Menyumbatnya dengan pembalut atau sesuatu yang lain. 

Jika tidak me­rasa sakit, menyumbatnya de­ngan kapas terlebih dahulu sebelum menggunakan pembalut, jika tidak sedang puasa. Tetapi jika sedang puasa, cukup dengan pembalut.

3. Berwudhu dengan niat istibahah (menjadi bolehnya shalat), yaitu: Nawaitul wudhu’a listibahatish sha­lah. Atau dengan bahasa Indonesia, “Saya niat berwudhu agar diperbolehkan bagi saya melaksanakan shalat.”

Tidak sah wudhunya jika ia beniat untuk mengangkat hadats. Perlu diingat, bagi mustahadlah, tidak boleh berwudhu (untuk keperluan shalat) kecuali setelah masuknya waktu shalat tersebut, karena thaharah (bersucinya) wanita mustaha­dhah adalah thaharah yang sifatnya da­rurat. Maka tidak boleh melakukannya sebelum masuk waktu darurat itu sendiri.

4.  Cepat-cepat melaksanakan shalat fardhu. 

Setelah mengerjakan peker­ja­an di atas, wajib baginya melak­sanakan shalat fardhu dan tidak bo­leh mengakhirkannya, kecuali jika me­nundanya untuk kemaslahatan shalat, seperti untuk menutup aurat, me­nunggu shalat berjama’ah, atau un­tuk pergi ke masjid. Jika meng­akhir­kannya bukan karena kemas­lahatan shalat, batallah wudhu’nya dan wajib baginya untuk mengulangi semua pekerjaan di atas.

Jika setelah disumbat ternyata darah masih merembes keluar, hukumnya diperinci sebagai berikut:

1.   Apabila keluarnya karena banyak­nya darah, hukumnya dimaafkan atau diampuni dan sah shalatnya de­ngan wudhu’ tersebut.

2.   Apabila keluarnya darah karena ku­rang kuat pembalutnya, tidak dimaaf­kan dan batal wudhu’nya serta wajib baginya mengulang semua pekerja­an di atas.

Jika darah berhenti ketika berwudhu’ atau setelahnya, baik itu sebelum shalat atau setelah shalat, batallah wudhu’nya dan ia wajib mencuci kemaluannya dari darah untuk melakukan shalat dengan sempurna.

Jika sebelum melakukan hal itu (men­cuci kemaluan), dan wudhu dengan sempurna, kemudian darah keluar lagi, boleh baginya shalat dengan wudhu’nya yang pertama, dan sah shalatnya. 

Dan, jika ada kebiasaan darah itu berhenti sesaat (dan sesaat itu cukup untuk me­lakukan thaharah dan shalat), wajib bagi­nya melaksanakan shalat dengan sem­purna. 

Begitu pula jika ia yakin di akhir waktu shalat nanti darahnya akan ber­henti, wajib baginya untuk mengakhirkan shalatnya ke waktu tersebut agar melaku­kan shalat dengan tanpa adanya hadats atau dengan sempurna.



Habib Segaf bin Hasan Baharun, M.H.I, Pengasuh Pondok Puteri Pesantren Darul Lughah wad Da’wah, Bangil, Jawa Timur
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger