”Wahai Musa, jika engkau melihat seorang fakir datang, maka katakanlah,
’Selamat datang syiar kaum sholihin.’
Dan jika engkau melihat orang kaya
datang, maka katakanlah, ’Inilah dosa yang disegerakana siksanya.’
Wahai Musa
jangan lupakan Aku, sebab ketika seseorang melupakan-Ku dia akan berbuat banyak
dosa. Dan jangan merasa senang dengan memiliki banyak harta, sebab banyak harta
akan mengeraskan hati.’
Wahai saudarakau, ketahuilah, orang-orang sebelum
kita hidup di zaman yang baik. Mereka hidup selalu memandang orang-orang mulia
dan cerdas, bersikap shidq dalam mencapai semua tujuannya dan berlomba-lomba
mengamalkan sunnah. Hati merekapun menjadi bersih.
Kenikmatan hati adalah
kenikmatan yang sebenarnya. Orang yang berhati bersih menikmati berbagai
kebajikan, merasakan kesenangan batin dan berkelanan dengan
pikiran-pikiran baiknya. Orang yang berhati bersih akan merasa cukup
dengan harta (qona’ah), menyukai semangat yang muncul dari pikiran mereka dan
menikmati batin serta taman-taman pemikiran mereka.
Sedangkan kenikmatan orang
yang terbelenggu oleh nafsu kadang sulit didapat dan melelahkan, seperti usaha
untuk menumpuk harta tetapi tidak menyedekahkannya, usaha untuk membalas dengam
dan usaha untuk menghindari musuh dan penentang. Semua usaha ini melelahkan. Demi
memenuhi keinginan syahwat yang hina, manusia rela melakukan berbagai dosa
besar.
Setelah zaman yang baik ini berlalu, penghuninya
pergi, kebaikanpun hilang. Mereka yang hidup di akhir zaman tidak merasakan
nikmatnya akhlak mulia serta tidak menyaksikan orang-orang yang shidq. Ahirnya
mereka mencari kenikmatan lain, kenikmatan yang rendah dan melelahkan. Mereka
tidak merasakan berbagai kenikmatan mulia yang diperoleh orang-orang zaman
dahulu.
Nafsu harus disibukkan dengan sesuatu. Begitulah fitrah nafsu. Jika mampu
nafsu akan mencari kemuliaan dan jika tidak mampu maka dia akan menggantinya
dengan perbuatan-perbuatan yang hina.
Oleh karena itu, Wahai Saudaraku, sibukkanlah nafsumu dengan kenikmatan hati. Itulah kearjaan sejahtera. Kenikmatan
ini tidak diketahui oleh para pecinta dunia yang diuji dengan mengumpulkan
harta dan menyimpan harta.
Barang siapa mengerjakan amal soleh, baik pria
maupun wanita, dalam keadaan beriman,maka sesungguhnya akan Kami berikan
kepadanya kehidupan
yang baik (An-Nahl 16:97).
yaitu perasaan qona’ah dan bahagia walau tak memiliki
harta. Perasaan ini merupakan hubungan yang baik. Sebaliknya, engkau melihat
seorang hamba memiliki kekayaan dan kehidupan yang baik, tetapi merasa
tersiksa. Dadanya terasa sempit, ahlaknya jelek dan kesedihan selalu
menyertainya. Sebab dia mengabaikan hak-hak Allah SWT.
Sumber: Kitab Idhahu Asrori ‘Ulumil Muqorrobin






Home
Posting Komentar