وَأَمَّا الَّذِيْنَ خَتَمُوا فِي الأُسْبُوعِ مَرَّةً فَكَثِيْرُونَ
نُقِلَ عَنْ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ
وَزَيْدٍ بْنِ ثَابِتٍ وَأُبَيٍّ بْنِ كَعْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ وَعَنْ جَمَاعَةٍ
مِنَ التَّابِعِينَ كَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ يَزِيدٍ وَعَلْقَمَةَ وَإِبْرَاهِيْمَ
رَحِمَهُمُ اللهُ ...
Orang-orang yang mengkhatamkan sekali dalam sepekan jumlah
mereka banyak. Diriwayatkan (amal ini) dari Utsman bin ‘Affan radhiyallahu
‘anhu, Abdullah bin Mas’ud, Zaid bin Tsabit, dan Ubay bin Ka’ab radhiyallahu
‘anhum. Dan diriwayatkan dari jamaah tabi’in seperti Abdurrahman bin Yazid,
‘Alqamah, dan Ibrahim rahimahumullah. (At-Tibyan, halaman 61).
Siapa yang ingin mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan dapat
menggunakan cara فَمِي بِشَوْقٍ “Famii
bisyauq” yang artinya “mulutku selalu rindu (Al-Quran)”.
Famii Bisyauq ini setiap hurufnya mengisyaratkan nama surat
pertama yang dibaca setiap harinya selama sepekan. Huruf faa untuk surat
Al-Fatihah, huruf miim untuk Al-Maidah, huruf yaa untuk Yunus, huruf baa untuk
Bani Israil (Al-Isra), huruf syiin untuk Asy-Syu’ara, huruf wawu untuk wash-shaaffaati-shaffaa
(surat Ash-Shaffat), dan huruf Qaaf untuk surat Qaf.
Jadwal hariannya menjadi seperti ini:
Hari ke-1: surat
Al-Fatihah - surat An-Nisa (Al-Fatihah + 3 surat)
Hari ke-2: surat
Al-Maidah - surat At-Taubah (5 surat)
Hari ke-3: surat
Yunus - surat An-Nahl (7 surat)
Hari ke-4: surat
Al-Isra - surat Al-Furqan (9 surat)
Hari ke-5: surat
Asy-Syu’ara – surat Yasin (11 surat)
Hari ke-6: surat
Ash-Shaffat – surat Al-Hujurat (13 surat)
Hari ke-7: surat Qaf
– surat An-Nas (yang disebut dengan hizb al-mufashal)
Dasar mengkhatamkan Al-Quran dalam sepekan ini adalah arahan
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Abdullah bin ‘Amru bin ‘Ash
radhiyallahu ‘anhuma yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari yang telah disebutkan
sebelumnya. Sedangkan jadual harian di atas diambil dari hadits yang diriwayatkan
oleh Ibnu Majah dan Abu Dawud dalam Sunan keduanya, juga Imam Ahmad dalam
Musnadnya.
Disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa Rasulullah
shallallahu ‘alaihi wasallam terbiasa menemui utusan kabilah atau kaum setiap
malam ba’da Isya dan berbicara dengan mereka sambil berdiri. Hingga pada suatu
malam beliau terlambat hadir. Aus bin Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu, salah satu
utusan dari Tsaqif bertanya:
يَا رَسُولَ اللَّهِ لَقَدْ أَبْطَأْتَ عَلَيْنَا اللَّيْلَةَ قَالَ:
«إِنَّهُ طَرَأَ عَلَيَّ حِزْبِي مِنَ الْقُرْآنِ فَكَرِهْتُ أَنْ أَخْرُجَ حَتَّى
أُتِمَّهُ» ، قَالَ أَوْسٌ: فَسَأَلْتُ أَصْحَابَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ كَيْفَ تُحَزِّبُونَ الْقُرْآنَ؟ قَالُوا: ثَلَاثٌ وَخَمْسٌ وَسَبْعٌ وَتِسْعٌ
وَإِحْدَى عَشْرَةَ وَثَلَاثَ عَشْرَةَ وَحِزْبُ الْمُفَصَّلِ.
Ya Rasulullah, sungguh engkau telah terlambat menemui kami
malam ini. Beliau bersabda: “Sesungguhnya telah luput hizib (wirid) Al-Quran
ku, maka aku tidak suka keluar (menemui kalian) sebelum menyempurnakannya.” Aus
berkata: Maka aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam, “Bagaimana kalian membagi hizb (wirid) Al-Quran?” Mereka menjawab:
tiga, lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan hizb al-mufashal.
Maksudnya: Mereka mengkhatamkannya dalam sepekan dengan 3
surat di hari pertama, 5 surat di hari kedua dan seterusnya. Para ulama
menyebutkan bahwa yang dimaksud dengan 3 surat hari pertama adalah Al-Baqarah,
Ali Imran & An-Nisa, sedangkan Al-Fatihah tidak disebutkan karena sudah
dipastikan ia dibaca di awal.
FP Akrab dengan Al Quran






Home
Posting Komentar