Indonesia yang konon negerinya gemah ripah loh jinawi,
sampai saat ini rakyatnya masih banyak yang miskin. Yang kaya semakin
kaya dan yang miskin tetap dibawah garis kemiskinan. Tengok saja, kehidupan
para pejabat yang diberi kepercayaan untuk mengurus negara, baru sebentar
menjabat kekayaannya langsung membludak naik. Ujung-ujungnya mereka terjerat
kasus korupsi. Lalu, siapa yang salah?
Taufik Ismail pernah mengatakan,”Kita butuh dua abab untuk bisa mengentaskan kasus
korupsi di Indonesia,” ujarnya. Taufik Ismail melihat generasi se-usianya
sulit diperbaiki. Dari kalangan bawah hingga masyarakat atas seakan-akan telah
menjamur penyakit yang namanya korupsi ini.
Seharusnya para pejabat yang memegang amanah rakyat, meneladani
kehidupan-kehidupan pemimpin besar umat. Mereka benar-benar takut jika
menyelewenagkan amanah yang telah diberikan kepercayaan kepadannya. Jabatan
adalah amanah yang harus dipertangungjawabkan di hadapan masyarakat dan Allah
Subhanallahhu wata’ala.
Sebagaimana diterangkan dalam hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi Wassalam, “Seorang
imam adalah pemelihara dan pengatur urusan (rakyat), dan dia akan
diminta pertanggungjawabannya terhadap rakyatnya.” (HR. Bukhari dan Muslim).
Dalam masalah harta, para pejabat pun bisa mengambil contoh khalifah Umar bin
Abdul Aziz dari kisah sepotong rotinya. Seorang khilafah yang tidak mengkorup
harta milik rakyatnya untuk kepentingan pribadi atau keluarganya. Tidak mau
menilep uang dari rakyatnya. Ia hidup sederhana, ala kadarnya.
Alkisah, tatkala Umar Bin Abdul Aziz masih menjabat sebagai
khalifah, suatu hari ia pernah disediakan makanan oleh Istrinya. Sepotong
roti yang masih hangat, harum dan wangi. Terlihat begitu lezat hingga
membangkitkan selera.
Sang Khalifah merasa heran dan bertanya pada Istrinya: “Wahai Istriku dari mana
kau memperoleh roti yang harum dan tampak lezat ini”?
Istrinya menjawab, “Ya Amirul Mukminin itu buatanku sendiri, aku sengaja
membuatkan ini hanya untuk menyenangkan hatimu yang setiap hari selalu sibuk
dengan urusan negara dan umat.
“Berapa uang yang kamu perlukan untuk membuat roti seperti ini” tanya Khalifah.
“Hanya tiga setengah dirham saja , kenapa memangnya” jawab sang istri
“Aku perlu tahu asal usul makanan dan minuman yang akan masuk ke dalam perutku
ini, agar aku bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Allah SWT nanti, ”
jawab Khalifah, dan bertanya lagi “Terus uang yang 3,5 dirham itu kau
dapatkan dari mana”?
“Uang itu saya dapatkan dari hasil penyisihan setengah dirham tiap hari dari
uang belanja harian rumah tangga kita yang selalu kau berikan kepadaku, jadi
dalam seminggu terkumpulah 3.5 dirham dan itu cukup untuk membuat roti
seperti ini yang halalan toyyiban,” jawab istrinya.
“Baiklah kalau begitu . Saya percaya bahwa asal usul roti ini halal dan bersih,
“ kata Khalifah yang lalu menambahkan. “Berarti kebutuhan biaya harian rumah
tangga kita harus dikurangi setengah dirham, agar tak mendapat kelebihan yang
membuat kita mampu memakan roti yang lezat atas tanggungan umat. “
Kemudian Khalifah memanggil Bendahara Baitulmaal (Kas Negara) dan meminta agar
uang belanja harian untuk rumah tangga Khalifah dikurangi setengah dirham. Dan
Khalifah berkata kepada istrinya, “Saya akan berusaha mengganti harga roti ini
agar hati dan perut saya tenang dari gangguan perasaan, karena telah memakan
harta umat demi kepentingan pribadi. “
Itulah kisah Umar bin Abdul Aziz dengan sepotong rotinya. Kezuhudanya tidak
kalah dengan kakeknya, Umar bin khatab yang selalu memperhatikan keadaan rakyatnya.
Kakeknya semasa sabagai khalifah pernah mengatakan, “Seandainya ada seekor
keledai mati di Syam lantaran ketiadaan makanan, niscaya Umar akan diminta
pertanggungjawabanya di akherat.”
Sepatutnya kisah sepotong roti Umar bin Abdul Aziz di atas menjadi pelajaran
penting untuk kita semua. Teladan bukan untuk para pejabat saja, melainkan kita
semua bisa mengambil hikmah didalamnya. Ia begitu hati-hati terhadap harta yang
ia makan setiap harinya. Menanyakan asal usulya, hingga jelas sumber cara memperolehnya.
Karena harta ini, di akherat nanti akan ditanyakan 2 pertanyaan. Dari mana
sumbernya? dan kemana harta itu akan dipergunakan?. Semoga kita semua
bisa menirunya.
Ust. Nurhadi HIdayatullah






Home
Posting Komentar