Saudaraku seiman, hadits berikut ini sebagai renungan,
sikapilah dirimu dengan jujur, agar mampu melihat posisi kita masing-masing.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,
إن الرجل لينصرف وما
كُتِبَ له إلا عُشْر
صلاته ، تُسُعُها ،
، ثُمُنها ،
سُبُعها، سُدُسها ، خُمُسها،
رُبُعها ، ثُلُثُها ،
نِصْفُها
“Sesungguhnya seseorang selesai (dari shalat) dan tidaklah ditulis (pahala)
baginya, kecuali sepersepuluh shalatnya, sepersembilannya, seperdelapannya,
sepertujuhnya, seperenamnya, seperlimanya, seperempatnya, sepertiganya,
setengahnya.” (HR. Abu Daud)
Diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa Hasan bin ‘Athiyah radhiyallahu ‘anhu
berkata, “Sesungguhnya ada dua orang berada dalam satu shalat, akan tetapi
perbedaan keutamaan (pahala) antara keduanya bagaikan langit dan bumi”.
Wahai orang yang shalat, sesungguhnya shalat adalah kobaran api pertempuran
bersama setan, pertempuran was-was dan bisikan-bisikan, karena kita berdiri
pada tempat yang agung, paling dekatnya kedudukan (dengan Allah) dan paling
dibenci setan. Kemudian setan menghiasi di depan pandanganmu dengan kesenangan,
menawarkan keindahan dan godaan. Dia juga mengingatkan yang engkau lupakan,
sehingga dia merasa senang ketika shalatmu rusak, sebagaimana baju yang usang,
rusak, tidak mendapatkan pahala dan tidak pula mendapatkan keutamaaan.
Wahai orang yang shalat, barangsiapa yang menempuh metode Nabi dan meniti jalan
Nabi dalam shalatnya, niscaya dia dapat memperoleh kekhusyu’aan. Untuk bisa
meraih khusyu’ ada beberapa hal yang bisa membantunya. Yaitu orang yang akan
shalat, hendaknya segera menuju masjid dengan tenang dan tidak tergesa-gesa, ia
telah membersihkan pakaiannya, mensucikan badannya, mengkosongkan hatinya dari
kesibukan dunia, semerbak harum badannya, meluruskan barisan dan menutup celah
dalam barisan, dan ia tidak mengangkat kepalanya ke langit saat shalat, karena
hal ini terlarang dan bisa menghilangkan kekhusyuaannya.
Termasuk yang juga bisa menolong untuk khusyu’ dalam shalat, yaitu tidak
mengganggu orang lain dengan bacaan al-Qur’an, tidak shalat dengan pakaian atau
baju yang ada gambarnya, tulisannya, ataupun baju berwarna-warni yang bisa
mengganggunya, dan mengganggu orang lain. Begitu juga suara-suara yang berasal
dari handphone yang mengganggu kaum Muslimin, sehingga merusak kekhusyu’an.
Oleh karena itu janganlah membawa suara musik yang berdendang di dalam rumah-rumah
Allah tercampur dengan kalam Allah. kita meminta kepada Allah salamah dan
‘afiyah dari dosa dan kesalahan.
Dari Abu Qatadah radhiyallahu ‘anhu berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi
wasallam bersabda,
إِنَّ أَسْوَأَ النَّاسِ سَرِقَةً الَّذِى يَسْرِقُ صَلاَتَهُ.
قَالُوا يَا رَسُولَ اللَّهِ
وَكَيْفَ يَسْرِقُهَا قَالَ لاَ يُتِمُّ
رُكُوعَهَا وَلاَ سُجُودَهَا. أَوْ
قَالَ لاَ يُقِيمُ صُلْبَهُ
فِى الرُّكُوعِ وَالسُّجُودِ
“Sejelek-jelek pencuri adalah orang yang mencuri shalatnya.” Mereka bertanya, “Wahai
Rasulullah, bagaimana seseorang mencuri shalatnya?” Rasulullah menjawab, “Dia
tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” Atau ia (Rasulullah) berkata, “Tidak
menegakkan tulang punggungnya ketika ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad).
Majalah Immasjid






Home
Posting Komentar