Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Pendapat Ulama Salaf Tentang Wajibnya Taqlid

Pendapat Ulama Salaf Tentang Wajibnya Taqlid

Syaikh Muhammad Sa'id Ramadhan al-buthi mendefinisikan taqlid sebagai berikut :

ﻭﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻫﻮ ﺇﺗﺒﺎﻉ ﻗﻮﻝ ﺇﻧﺴﺎﻥ ﺩﻭﻥ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺠﺔ ﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺫﻟﻚ ﺍﻟﻘﻮﻝ، ﻭﺇﻥ ﺗﻮﻓﺮﺕ ﻣﻌﺮﻓﺔ ﺍﻟﺤﺠﺔﻋﻠﻰ ﺻﺤﺔ ﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻧﻔﺴﻪ .
ﺍﻟﻼ ﻣﺬﻫﺒﻴﺔ ﺍﺧﻄﺮ ﺑﺪﻋﺔ ﺗﻬﺪﺩ ﺍﻟﺸﺮﻳﻌﺔ ﺍﻹﺳﻼﻣﻴﺔ، ﺻﺤﻴﻔﺔ٦٩

Taqlid adalah mengikuti pendapat orang lain tanpa mengerti dalil yang digunakan atas keshahihan pendapat tersebut, walaupun mengetahui tentang keshahihan hujjah taqlid itu sendiri. Taqlid itu hukumnya haram bagi seorang Mujtahid dan Wajib bagi seorang yang bukan mujtahid.

Imam al- Suyuthi mengatakan :

ﺛﻢ ﺍﻟﻨﺎﺱ ﻣﺠﺘﻬﺪ ﻭﻏﻴﺮﻩ . ﻓﻐﻴﺮ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪ ﻳﻠﺰﻣﻪ ﺍﻟﺘﻘﻠﻴﺪ ﻣﻄﻠﻘﺎ . ﻋﺎﻣﻴﺎ ﻛﺎﻥ ﺍﻭ ﻋﺎﻟﻤﺎ، ﻟﻘﻮﻟﻪ ﺗﻌﺎﻟﻰ : ﻓﺎﺳﺌﻠﻮﺍ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﺬﻛﺮ ﺇﻥ ﻛﻨﺘﻢ ﻻ ﺗﻌﻠﻤﻮﻥ .
ﺍﻟﻜﻮﺍﻛﺐ ﺍﻟﺴﺎﻃﻊ ﻓﻲ ﻧﻈﻢ ﺟﻤﻊ ﺍﻟﺠﻮﺍﻣﻊ ﺟﺰ ٢ ﺻﺤﻴﻔﺔ ٤٩٢

Kemudian , manusia itu ada yang menjadi mujtahid dan ada yang tidak. Bagi yang bukan mujtahid wajib bertaqlid secara mutlaq, baik ia seorang awam ataupun orang alim. Berdasarkar firman Allah SWT ( QS. Al- anbiya' 7) bertanyalah kamu kepada orang yang ahli ( dalam bidangnya) jika kalian tidak tahu..

Dengan demikian taqlid itu tidak hanya terbatas pada orang awam saja. orang- orang alim yang sudah mengetahui dalilpun masih dalam kategori seorang muqallid. Selama belum sampai pada tingkatan mujtahid, mereka tetap wajib ber-taqlid, sebab pengetahuan mereka hanya sebatas dalil yang digunakan, tidak sampai kepada proses, metode dan seluk-beluk dalam menentukan suatu hukum.

Dalam kitab turats ulama disebutkan, bahwa ulama salaf juga mewajibkan taqlid bagi orang awam (bukan mujtahid) kepada ulama yang mujtahid. Bahkan, al Hafizh al Iraqi dan Imam al Qarafi menyebut praktik taqlid kepada ulama yang mujtahid adalah ijma' mulai zaman shahabat.

1. Imam Malik Bin Anas

Dalam kitab adz Dzakhirah, Imam al Qarafi al Maliki menukil dari al Hafizh Ibn al Qashshar, bahwa Imam Malik juga mewajibkan taqlid bagi orang awam.

ﻗﺎﻝ ﻣﺎﻟﻚ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻌﻮﺍﻡ ﺗﻘﻠﻴﺪ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﻓﻲ ﺍﻷﺣﻜﺎﻡ ﻭﻳﺠﺐ ﻋﻠﻴﻬﻢ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﻥ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﻛﻤﺎ ﻳﺠﺐ ﻋﻠﻰ ﺍﻟﻤﺠﺘﻬﺪﻳﻦ ﺍﻻﺟﺘﻬﺎﺩ ﻓﻲ ﺃﻋﻴﺎﻥ ﺍﻷﺩﻟﺔ ﻭﻫﻮ ﻗﻮﻝ ﺟﻤﻬﻮﺭ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺧﻼﻓﺎ ﻟﻤﻌﺘﺰﻟﺔ ﺑﻐﺪﺍﺩ

"Imam Malik berkata: "Wajib bagi orang awam bertaqlid kepada ulama mujtahid dalam perkara hukum. Mereka juga wajib berijtihad mencari mujtahid tertentu sebagaimana mujtahid berijtihad terhadap dalil. Ini adalah pendapat mayoritas ulama yang menyelisihi kaum Muktazilah Baghdad".

2. Imam Ahmad Bin Hanbal

ﻭَﻣَﻦْ ﺯَﻋَﻢَ ﺃَﻧَّﻪُ ﻻَ ﻳَﺮَﻯ ﺍﻟﺘَّﻘﻠﻴﺪَ، ﻭَﻻَ ﻳُﻘﻠِّﺪُ ﺩﻳﻨَﻪ ﺃَﺣَﺪﺍً، ﻓَﻬَﺬَﺍ ﻗَﻮْﻝُ ﻓَﺎﺳﻖٍ

"Barang siapa yang menyangka bahwa dia tidak menganggap taqlid dan tidak bertaqlid dalam agamanya kepada siapapun, maka ini adalah ucapan orang fasiq" (I'lamul Muwaqqin).

Beliau juga berkata:

ﻣﻦ ﺗﻜﻠﻢ ﻓﻲ ﺷﻴﺊ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﻓﻴﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﺃﺧﺎﻑ ﻋﻠﻴﻪ ﺍﻟﺨﻄﺄ

"Siapa yang berbicara sesuatu sementara dalam hal tersebut dia tak ada imam panutan, aku khawatir dia silap". (Al Adab asy Syar'iyyah)

3. Salaf Ber-Ijma Boleh Taqlid

Al-Qarafi dalam adz Dzakhirah dan al Iraqi dalam nukilan Musallam ats Tsubut berkata:

ﻗﺎﻋﺪﺓ : ﺍﻧﻌﻘﺪ ﺍﻹﺟﻤﺎﻉ ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺃﺳﻠﻢ ، ﻓﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﻘﻠﺪ ﻣﻦ ﺷﺎﺀ ﻣﻦ ﺍﻟﻌﻠﻤﺎﺀ ﺑﻐﻴﺮ ﺣﺠﺮ . ﻭﺃﺟﻤﻊ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﺭﺿﻮﺍﻥ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻬﻢ : ﻋﻠﻰ ﺃﻥ ﻣﻦ ﺍﺳﺘﻔﺘﻰ ﺃﺑﺎ ﺑﻜﺮ ، ﻭﻋﻤﺮ ﺭﺿﻲ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﻤﺎ ، ﺃﻭ ﻗﻠﺪﻫﻤﺎ ، ﻓﻠﻪ ﺃﻥ ﻳﺴﺘﻔﺘﻲ ﺃﺑﺎ ﻫﺮﻳﺮﺓ ، ﻭﻣﻌﺎﺫ ﺑﻦ ﺟﺒﻞ ، ﻭﻏﻴﺮﻫﻤﺎ ، ﻭﻳﻌﻤﻞ ﺑﻘﻮﻟﻬﻤﺎ ﻣﻦ ﻏﻴﺮ ﻧﻜﻴﺮ ، ﻓﻤﻦ ﺍﺩﻋﻰ ﺭﻓﻊ ﻫﺬﻳﻦ ﺍﻹﺟﻤﺎﻋﻴﻦ ﻓﻌﻠﻴﻪ ﺍﻟﺪﻟﻴﻞ

"Telah terjadi ijma, orang yang masuk Islam boleh bertaqlid kepada ulama manapun dia suka tanpa ada pelarangan. Shahabat juga berijma', orang yang meminta fatwa Abu Bakar atau Umar radhiyalllahu anhuma atau taqlid kepada keduanya, maka ia boleh meminta fatwa kepada Abu Hurairah dan Muadz bin Jabal dan yang lainnya dan mengamalkan pendapat mereka tanpa diingkari. Barang siapa yang mengaku dua ijma' ini tidak berlaku, maka hendaklah dia menampilkan dalil".

4. Harus Punya Imam

Abdullah bin Wahb, pakar hadits murid Imam Malik, berkata:

ﻛﻞ ﺻﺎﺣﺐ ﺣﺪﻳﺚ ﻟﻴﺲ ﻟﻪ ﺍﻣﺎﻡ ﻓﻲ ﺍﻟﻔﻘﻪ ﻓﻬﻮ ﺿﺎﻝ

"Setiap ahli hadits yang tidak memiliki imam panutan dalam fikih, maka dia bisa tersesat". (Al Jami' lil Qairuwani).

Ini bagi ahli hadits yang belum sampai level mujtahid mutlak baik mustaqil atau muntasib.

6. Tidak Boleh Sembarangan Mengambil Pendapat Tetapi Tetap Merujuk Ulama Mujtahid

Imam Ahmad berkata:

" ﺇﺫﺍ ﻛﺎﻥ ﻋﻨﺪ ﺍﻟﺮﺟﻞ ﺍﻟﻜﺘﺐ ﺍﻟﻤﺼﻨﻔﺔ ﻓﻴﻬﺎ ﻗﻮﻝ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ ﻭﺍﺧﺘﻼﻑ ﺍﻟﺼﺤﺎﺑﺔ ﻭ ﺍﻟﺘﺎﺑﻌﻴﻦ ﻓﻼ ﻳﺠﻮﺯ ﺃﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﺑﻤﺎ ﺷﺎﺀ ﻭﻳﺘﺨﻴﺮ ﻓﻴﻘﻀﻲ ﺑﻪ ﻭﻳﻌﻤﻞ ﺑﻪ ﺣﺘﻰ ﻳﺴﺄﻝ ﺃﻫﻞ ﺍﻟﻌﻠﻢ ﻣﺎ ﻳﺆﺧﺬ ﺑﻪ ﻓﻴﻜﻮﻥ ﻳﻌﻤﻞ ﻋﻠﻰ ﺃﻣﺮ ﺻﺤﻴﺢ

"Jika pada seseorang terdapat kitab-kitab karangan yang di sana terdapat sabda Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam, ikhtilaf shahabat dan tabi'in, maka ia tidak boleh mengamalkan sembarangan dan memilih apa saja hingga menjadikannya sebagai putusan dan pengamalan sampai dia mau bertanya kepada pakar ilmu; mana yang bisa diambil. Dengan demikian dia telah mengamalkan hal yang benar" (I'lam al Muwaqqi'in Li Ibn Qayyim)



Ust. Hidayat Nur dan Ust. Ulil Albab, Alumni Pondok Ploso Kediri, Alumni Pondok kalibeber Wonosobo, Anggota Bahtsul Masail NU Jateng.
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger