Agar tidak menjadi hina maka dia
harus kembali pada ajaran tauhid bahwasanya yang memberi segala sesuatu
hanyalah Allah SWT. Tidak akan ada harta atau kekayaan kecuali hanya Allah lah
yang memberi. Dalam surat Al-Imran ayat 26 Allah telah menjelaskan :
قُلِ اللَّهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ
تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ وَتُعِزُّ
مَنْ تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَنْ تَشَاءُ بِيَدِكَ الْخَيْرُ إِنَّكَ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ قَدِيرٌ (26) [آل عمران/26]
26. Katakanlah: "Wahai Tuhan yang
mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki
dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan
orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di
tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala
sesuatu.
Perasaan
inilah yang harus selalu ditanamkan dalam hati setiap manusia. Dalam surat
Ad-Dzariyat ayat 58 juga telah dijelaskan :
إِنَّ اللَّهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو
الْقُوَّةِ الْمَتِينُ (58) [الذاريات/58]
58. Sesungguhnya Allah dialah Maha
pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.
Dengan
demikian maka manusia harus mencari rizki dan memintanya hanya kepada Allah.
Karena Allah lah Dzat yang maha melihat dan maha mendengar. Dalam surat Thaha
ayat 46 telah dijelaskan :
قَالَ لَا تَخَافَا إِنَّنِي
مَعَكُمَا أَسْمَعُ وَأَرَى (46) [طه/46]
46. Allah berfirman: "Janganlah
kamu berdua khawatir, Sesungguhnya Aku beserta kamu berdua, Aku mendengar dan
melihat".
Sebelum
nabi diutus, masyarakat arab adalah orang yang sangat hina karena mereka tidak
pernah ingat dan berdzikir kepada Allah. Mereka tidak tahu bahwa yang memberi
sesuatu adalah Allah. Namun setelah nabi muncul maka mereka menjadi mulia
karena mereka telah tahu bahwa pertolongan hanyalah dari Allah. Oleh karena itu
kita tidak boleh melupakan hikmah Ibnu Athaillah bahwa "Dahan-dahan
kehinaan tidak tumbuh kecuali dari benih-benih ketamakan"
Ngaji Kitab Hikam Bersama KH.
Muhammad Wafi, Lc, M.Si






Home
Posting Komentar