Hanya karena beda pilihan dalam pilpres, kita menjadi mudah
marah dan melontarkan kata-kata yang kurang baik. Lihatlah bagaimana Iblis,
walaupun kafir dengan nash Al-Qur'an:
أبى واستكبر وكان من الكافرين
Namun ia tidak berani melontarkan cemoohan terhadap Tuhan, ia
masih beradab dalam ucapan dan sumpahnya: فبعزتك "Maka dengan kemuliaan-Mu
aku bersumpah".
Orang-orang kafir Quraisy yang sudah sepakat akan membunuh Nabi
sebelum peristiwa Hijrah, mereka menunggu di sekitar rumah Nabi untuk menunggu
nabi keluar untuk sholat Shubuh. Mereka tidak langsung mendobrak paksa rumah,
walaupun sebenarnya mereka mampu untuk melakukannya.
Sebagian orang dari mereka berfikir untuk mendongkrak paksa
rumah dan membunuh Nabi, tetapi Abu Jahal melarang dengan keras sambil berkata:
"Kita lindungi rumah kita dengan tembok, tetapi merusak pagar pelindung
putri-putri Muhammad?".
Orang-orang kafir Quraisy masih memiliki batas sebagai manusia
yang memiliki adab. Mereka tahu bahwa di dalam rumah ada orang perempuan, yang
tidak boleh diserang, tidak boleh dibuka auratnya dan harus dijaga
kehormatannya.
Suatu saat Abu Jahal kafir memukul wajah Asma' binti Abu Bakar,
seketika ia meminta maaf kepada Asma' dan berkata: "Sembunyikan ia
dariku"... Ia seolah berkata: "Jangan katakan kepada orang-orang
bahwa aku telah menampar wajahmu".
Saat Abu Sufyan masih dalam keadaan kafir, ia berdagang bersama
kafilah pedagang ke Negeri Romawi. Di sana ia dan pedagang lain dihadapkan
kepada raja Romawi yang saat itu mencari kabar tentang Nabi Muhammad yang telah
mengirimkan surat yang ditujukan kepada sang Raja.
Sang Raja bertanya kepada Abu Sufyan tentang Muhammad yang saat
itu masih menjadi musuhnya: "Apakah kalian mencurigai Muhammad sebagai
tukang bohong?. Atau pernah membunuh?. Dan berbagai macam pertanyaan".
Tetapi Abu Sufyan masih mempunyai jiwa laki-laki jantan dan
berkata: "Kalau saya tidak malu untuk berbohong, maka aku akan
membohonginya". Ia takut dan malu, bila berbohong dan kembali ke Makkah ia
akan dicap sebagai pembohong. Padahal dirinya masih dalam keadaan kafir.
Kita tidak sedang memuji Abu Jahal atau Abu Sufyan saat masih
kafir. Tapi lihatlah masyarakat yang masih belum beriman, tetapi sudah
mempunyai Akhlak yang begitu mulia.
Tetapi lihatlah keadaan kita yang sudah dicap beriman, tetapi
akhlak terhadap orang yang berbeda pilihan, bahkan kepada guru yang berbeda
pilihan sudah seperti berhadapan dengan musuh. Padahal Iman mengikuti Nabi yang
pemimpin orang beriman yang berkata:
بعثت لأتمم مكارم الأخلاق
Dan dinash oleh Alloh dalam Al-Qur'an:
وإنك لعلى خلق عظيم
Apakah akhlak kita sebagai orang beriman lebih rendah dari pada
akhlak orang kafir Quraisy?
Marilah kita bersama-sama kita renungi doa dalam wirid
Naqsyabandy:
واهدنا لأحسن الأخلاق فإنه لا يهدي لأحسنها إلا أنت.
Ditulis di Sarang menjelang Shubuh, Kamis Kliwon, 14 Rojab 1440 H/ 21 Maret
2019 M oleh Yai Kanthongumur.






Home
Posting Komentar