Masih banyak yang beranggapan bila
orang matinya tidak wajar seperti karena gantung diri, dianiaya atau tabrakan
maka arwahnya akan gentayangan selama 40 hari, bahkan ada yang meminta sesuatu
agar arwahnya bisa tenang, kalau tidak dipenuhi dia mengancam akan muncul lagi
dan mengganggu keluarganya.
Benarkah anggapan yang demikian ini
? Dalam catatan ini kita akan mencoba menelusuri tentang kebenaran faktanya. Arwah orang yang telah meninggal dunia
ketika keluar dari jasad akan berada pada suatu tempat sesuai dengan derajat
dan amal orang tersebut :
1. Arwah para Nabi bertempat di surga
dengan menikmati segala kenikmatannya
2. Arwah para Syuhadaa' berada pada
perut burung hijau yang berlalu lalang disurga sembari menikamati makanan dan
minuman surga
3. Arwah orang Mukmin yang taat berada
di taman surga namun belum bisa menikmati hidangan surga melainkan hanya bisa
menikmati panoramanya
4. Arwah orang Mukmin yang durhaka
berada di ruang angkasa antara bumi dan langit
5. Arwah orang kafir yang mengingkari
Tuhannya berada pada perut burung berwarna hitam di tempat bernama Sijjin
yang berada dilapisan bumi ketujuh dengan mengalami siksaan yang pedih
Dalam sebuah Hadits Nabi Muhammad
SAW bersabda
لا عدوى ولا طيرة ولا هامة ولا صفر
"Tidak ada (penyakit) menular,
ramalan buruk, arwah gentayangan dan cacing kudis (yang menular)" (HR
Bukhari dan Muslim)
Redaksional hadits tersebut dengan
menggunanakan nafi pada lafadz (لا هامة) yang mengindikasikan bahwa
fenomena arwah orang mati gentayangan tidak
terjadi. Hadits ini sesuai dengan sebuah ayat dalam AlQuran
"Allah memegang jiwa (orang)
ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya; maka
Dia tahanlah jiwa (orang) yang telah Dia tetapkan kematiannya dan Dia
melepaskan jiwa yang lain sampai waktu yang ditentukan. Sesungguhnya pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi kaum yang berpikir"
(QS. 39:42).
Dalam menafsiri ayat ini Imam
AlQurthuby dengan mengutip beberapa pendapat Ulama' Ahli Tafsir mengatakan
bahwa ketika seseorang tidur akan bisa terjadi perjumpaan antara ruhnya dengan
ruh-ruh orang yang telah mati,keduanya saling mengutarakan keadaan
masing-masing, dan ketika keduanya hendak kembali ke jasad mereka
masing-masing, Allah SWT menahan ruh orang yang telah mati dan melepas ruh
orang yang masih hidup. Sehingga sangat
mustahil arwah orang mati yang berada dalam genggaman Allah dan
menjalani ketentuannya masing-masing akan gentayangan dalam wujud hantu.
Dari keterangan tempat arwah setelah
berpisah dari jasad dan dalil nash yang berkaitan dengannya, klaim yang
paling logis perihal fenomena diatas adalah bahwa hantu atau arwah gentayangan
ini merupakan penjelmaan jin (khususnya Jin Qorin).
Jin Qorin adalah jin yang selalu dekat menyertai orang sejak
lahir hingga kematian. Qorin inilah yang paham betul dengan tipikal, kebiasaan
dan kepribadian orang yang disertainya sehingga tidak aneh jika Qorin sanggup menjawab
hal-hal yang bersifat intim dan privasi serta bisa meniru gaya, perilaku bahkan
menyamar menjadi orang yang disertainya ketika hidup. Dalam sabdanya Rasulullah
SAW telah menegaskan mengenai eksistensi Qorin ini
"Tidaklah seorang pun dari
kalian kecuali telah ditetapkan jin yang menyertainya" (HR. Muslim
dan Ahmad)
Dan bukti bahwa hantu atau arwah
gentayangan tersebut adalah jelmaan Jin berdasarkan apa yang
tersirat dalam Hadits Nabi, "Jin ada tiga kelompok, ada yang mempunyai
sayap dan bisa terbang, ada yang menyerupai ular, dan ada yang bisa berjalan
dan bergerak (seperti manusia). (H.R. Tabrani).
Berdasarkan keterangan dari Imam
Az-Zuhaily golongan jin yang ketiga inilah yang biasanya menjelma dan
menampakkan diri dalam wujud hantu apalagi jin memang diberi kemampuan untuk
menjelma dalam bentuk yang beraneka ragam.
Adapun perihal arwah orang yang mati
tidak wajar gentayangan selama 40 hari memang memiliki relevansi kebenaran jika
yang dimaksud adalah arwah orang-orang ahli maksiat, namun kendati demikian
arwah tersebut tidak menjelma dalam bentuk hantu dan juga tidak terbatas dalam
masa 40 hari saja tetapi mereka menempati dalam ruang antara bumi dan langit
dan dalam masa yang dikehendaki oleh Allah SWT. Wa Allaahu A'lamu bi
as-Shawaabi
Diambil dari Sab'ah Kutub
al-Mufiidah 186, Anwaar al-Buruuq 2/227, Tafsiir Al-Qurthuuby 15/260, Faidh
al-Qadiir 1/111-112, I'aanah at-Thaalibiin 2/107 oleh Ust. Masaji Antoro






Home
Posting Komentar