"Tiada amal yang lebih bisa diharapkan untuk diterima
ketimbang amal yang tidak engkau sadari dan engkau pandang tidak berarti"
Dalam
hikmah ini Ibnu 'Athaillah menjelaskan bahwa seorang hamba tidak boleh
meremehkan suatu amal walaupun sangat kecil. Belum tentu amal yang kelihatan
besar akan sangat mudah diterima oleh Allah SWT Karena amal yang dipandang
adalah keihlasannya, maka walaupun berupa ibadah dan pekerjaan yang tidak
berarti, di sisi Allah akan sangat berharga jika disertai rasa ihlas.
Seorang
hamba jika melakukan ibadah maka dia harus sadar dan tidak boleh lupa untuk
meminta pertolongan dari Allah SWT. Sekecil dan seenteng apapun ibadah yang
dikerjakan jika tidak mendapatkan pertolongan dari Allah maka pasti tidak akan
terwujud. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan :
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ
نَسْتَعِينُ (5) [الفاتحة/5]
5. Hanya Engkaulah yang kami sembah[6], dan Hanya kepada Engkaulah
kami meminta pertolongan[7].
[6] Na'budu
diambil dari kata 'ibaadat: kepatuhan dan ketundukkan yang ditimbulkan oleh
perasaan terhadap kebesaran Allah, sebagai Tuhan yang disembah, Karena
berkeyakinan bahwa Allah mempunyai kekuasaan yang mutlak terhadapnya.
[7] Nasta'iin (minta pertolongan), terambil dari kata
isti'aanah: mengharapkan bantuan untuk dapat menyelesaikan suatu pekerjaan yang
tidak sanggup dikerjakan dengan tenaga sendiri.
Oleh
karena itu seorang mukmin juga harus melakukan apa yang telah diajarkan oleh
Rasulullah SAW kepada ummatnya.
لا حولا ولا قوّة إلا بالله
"Tidak ada
daya untuk melakukan ibadah dan tidak ada kekuatan untuk menjauhi maksiat
kecuali Allah"
استعن بالله ولاتعجز وان أصابك شئ فلا
تقل لو أني فعلت كذا لكان كذا, فان لو تفتح عمل الشيطان ولكن قل قدر الله وما شاء
فعل. (رواه مسلم)
"Mintalah
pertolongan pada Allah dan janganlah lemah, jika kamu tertimpa sesuatu
janganlah kamu mengatakan bahwa sendainya saya melakukan seperti ini niscaya
tidak akan terjadi seperti ini, karena mengandai-andai itu akan membuka pintu
syaitan. Akan tetapi katakanlah bahwa Allah telah menakdirkan seperti ini dan
Allah berhak untuk melakukan apa saja yang Dia inginkan"
Kalau
seorang hamba telah merasa ditolong oleh Allah maka dia akan merasa bahwa dia
belum melakukan suatu amal dan ketaatan. Dia akan merasa bahwa amal yang telah
dilakukan adalah amal yang masih sedikit dan tidak bisa dibanggakan, walaupun
begitu dia tidak boleh melupakan untuk selalu berdo'a dan meminta pertolongan kepada
Allah sebagaimana do'a yang telah diajarkan oleh Rasulullah kepada sahabat
Muadz.
عَنْ مُعَاذِ بْنِ جَبَلٍ قَالَ
أَخَذَ بِيَدِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ إِنِّي
لَأُحِبُّكَ يَا مُعَاذُ فَقُلْتُ وَأَنَا أُحِبُّكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَلَا تَدَعْ أَنْ تَقُولَ فِي
كُلِّ صَلَاةٍ رَبِّ أَعِنِّي عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ
سنن النسائي - (ج 5 / ص 86)
Sayyidah
'Aisyah pernah bertanya kepada Rasulullah tentang ayat :
وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آَتَوْا
وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ (60) [المؤمنون/60]
60. Dan orang-orang yang memberikan apa yang Telah mereka
berikan, dengan hati yang takut, (karena mereka tahu bahwa) Sesungguhnya mereka
akan kembali kepada Tuhan mereka[1008]
[1008]
Maksudnya: Karena tahu bahwa mereka akan kembali kepada Tuhan untuk dihisab,
Maka mereka khawatir kalau-kalau pemberian-pemberian (sedekah-sedekah) yang
mereka berikan, dan amal ibadah yang mereka kerjakan itu tidak diterima Tuhan.
Sayyidah
'Aisyah menanyakan kenapa orang yang bersedekah tersebut takut kepada Allah
padahal dia melakukan amal kebaikan. Lalu Rasulullah menjawab bahwa mereka
takut kalau amal yang mereka kerjakan tidak diterima oleh Allah SWT.
Orang
yang paling takut kepada Allah adalah orang yang paling dekat kepada-Nya.
Seperti para Khulafah Al Rasyidin. Sayyidina umar adalah orang yang sangat
takut kepada Allah. Suatu ketika dia pernah melihat seorang wanita yang menanak
batu karena tidak memiliki apapun. Hal ini dilakukan untuk menjaga hati
anak-anaknya yang telah sangat lapar. Sayyidina umar selaku kepala negara
merasa bersalah karena tidak mengetahui ada rakyatnya yang menderita. Akhirnya
dia membawa sekarung beras yang dibawanya sendiri untuk diberikan kepada wanita
tersebut. Lalu seorang budaknya berkata : biar saya yang membawanya wahai
tuanku. Lalu sayyidina umar menjawab : apakah kamu akan membawa dosa-dosaku di
hari kiamat. Dasar kamu tidak memiliki ibu.
Suatu
hari sayyidina umar sholat dan membaca ayat :
إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7)
مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ (8) [الطور/7، 8]
7. Sesungguhnya azab Tuhanmu pasti terjadi,
8. Tidak
seorangpun yang dapat menolaknya,
Lalu
dia pingsan seketika. Hal ini terjadi karena dia sangat takut kepada Allah.
Suatu ketika sayyidina Umar juga bertemu sahabat Khudzaifah. Lalu dia bertanya: apakah saya ini termasuk orang yang munafik? Betapa takutnya sayyidina Umar
sehingga dia juga pernah meminta do'a kepada orang yang masih kecil.
Dia berkata: do'akanlah aku karena kamu adalah orang yang belum berdosa. Ini semua adalah
amal yang telah dilakukan oleh sayyidina Umar yang notabene adalah orang yang
sangat mulia di sisi Allah. Lalu bagaimana dengan seorang hamba seperti kita.
Untuk itu apa yang telah diajarkan oleh Ibnu 'Athaillah tidak boleh kita
lupakan bahwa tidak ada amal yang lebih bisa diharapkan untuk diterima
ketimbang amal yang tidak engkau sadari dan engkau pandang tidak berarti.
Pengajian Kitab Hikam oleh KH. Muhammad Wafi






Home
Posting Komentar