Ketika tiba di langit keempat, beliau berjumpa
Nabi Idris AS. Kembali beliau mendapat jawaban salam dan doa yang sama seperti
Nabi-Nabi sebelumnya.
Di langit kelima, beliau berjumpa Nabi Harun bin ‘Imran AS, separuh janggutnya
hitam dan seperuhnya lagi putih (karena uban), lebat dan panjang. Di sekitar
Nabi Harun tampak umatnya sedang khusyu’ mendengarkan petuahnya.
Setelah sampai di langit keenam, beliau berjumpa beberapa nabi dengan umat mereka
masing-masing, ada seorang nabi dengan umat tidak lebih dari 10 orang, ada lagi
dengan umat diatas itu, bahkan ada lagi seorang nabi yang tidak ada
pengikutnya. Kemudian beliau melewati sekelompok umat yang sangat banyak
menutupi ufuk, ternyata mereka adalah Nabi Musa dan kaumnya. Kemudian beliau diperintah
agar mengangkat kepala beliau yang mulya, tiba-tiba beliau tertegun dan kagum
karena pandangan beliau tertuju pada sekelompok umat yang sangat banyak,
menutupi seluruh ufuk dari segala sisi, lalu ada suara:” Itulah umatmu, dan
selain mereka terdapat 70 ribu orang yang masuk surga tanpa hisab “.
Pada tahapan langit keenam inilah beliau berjumpa dengan Nabi Musa AS, seorang
nabi dengan postur tubuh tinggi, putih kemerah-merahan kulit beliau. Nabi SAW
bersalam kepadanya dan dijawab oleh beliau disertai dengan doa. Setelah itu
Nabi Musa berkata:” Manusia mengaku bahwa aku adalah paling mulyanya manusia di
sisi Allah, padahal dia (Rasulullah SAW) lebih mulya di sisi Allah daripada
aku”.
Setelah Rasulullah melewati Nabi Musa, beliau menangis. Kemudian ditanya akan
hal tersebut. Beliau mejawab:” aku menangis karena seorang pemuda yang diutus
jauh setelah aku, tapi umatnya lebih banyak masuk surga daripada umatku”.
Kemudian Rasulullah SAW memasuki langit ketujuh, disana beliau berjumpa Nabi
Ibrahim AS sedang duduk di atas kursi dari emas di sisi pintu surga sambil
menyandarkan punggungnya pada baitul Makmur, di sekitarnya berkumpul umatnya.
Setelah Rasulullah bersalam dan dijawab dengan salam dan doa serta sambutan
yang baik, Nabi Ibrahim berpesan:” Perintahkanlah umatmu untuk banyak menanam
tanaman surga, sungguh tanah surga sangat baik dan sangat luas”.
Rasulullah bertanya:” apakah tanaman surga
itu?”, Nabi Ibrahim menjawab:” (dzikir) Laa haula wa laa quwwata illa billahil
‘aliyyil ‘adziim”.
Dalam riwayat lain beliau berkata:” Sampaikan salamku kepada umatmu, beritakanlah
kepada mereka bahwa surga sungguh sangat indah tanahnya, tawar airnya dan
tanaman surgawi adalah Subhanallah wal hamdu lillah wa laa ilaaha illallah
wallahu akbar”.
Kemudian Rasulullah diangkat sampai ke Sidratul Muntaha, sebuah
pohon amat besar sehingga seorang penunggang kuda yang cepat tidak akan mampu
untuk mengelilingi bayangan di bawahnya sekalipun memakan waktu 70 tahun. Dari
bawahnya memancar sungai air yang tidak berubah bau, rasa dan warnanya, sungai
susu yang putih bersih serta sungai madu yang jernih. Penuh dengan hiasan permata
zamrud dan sebagainya sehingga tidak seorang pun mampu melukiskan keindahannya.
Kemudian beliau SAW diangkat sampai akhirnya berada di hadapan telaga Al
Kautsar, telaga khusus milik beliau SAW. Setelah itu beliau memasuki surga
dan melihat disana berbagai macam kenikmatan
yang belum pernah dipandang mata, didengar telinga dan terlintas dalam hati
setiap insan.
Begitu pula ditampakkan kepada beliau neraka yang dijaga oleh malaikat Malik, malaikat
yang tidak pernah tersenyum sedikitpun dan tampak kemurkaan di wajahnya. Dalam
satu riwayat, setelah beliau melihat surga dan neraka, maka untuk kedua kalinya
beliau diangkat ke Sidratul Muntaha, lalu beliau diliputi oleh awan dengan
beraneka warna, pada saat inilah Jibril mundur dan membiarkan Rasulullah
berjalan seorang diri, karena Jibril tahu hanya beliaulah yang mampu untuk
melakukan hal ini, berjumpa dengan Allah SWT.
Diterjemahkan dengan ringkas dari Kitab Al Anwaarul Bahiyyah Min Israa’ Wa
Mi’raaj Khoiril Bariyyah Karya Al Imam Al Muhaddits As Sayyid Muhammad bin
Alawy Al Hasany RA.






Home
Posting Komentar