Umar ibnul Khathab r.a. berkata, “Orang yang berdzikir kepada Allah pada
bulan Ramadhan akan diampuni dosa-dosanya; dan yang memohon kepada Allah pada
bulan Ramadhan tidak akan kecewa.
Puasa mengatur keseragaman ummat. Selama Ramadhan, umat berseragam dalam
sahur dan berbuka, dalam bekerja dan beristirahat, serta dalam shalat,
istighfar, dan bertobat kepada Allah. Lidahpun seragam dalam bertakbir,
bertasbih, dan bertahmid sehingga tercegah dari kata-kata buruk dan menyakiti
orang lain, menjauhi perbuatan keji dan munkar, mengisi hati dengan cinta kasih
kepada sesama hamba Allah, selalu baik dan bersih lahir bathin, serta sabar
meng- hadapi segala macam kesulitan hidup.
Imam Al Ghazali berkata, “Betapa banyak orang berpuasa yang sebenarnya
berbuka, dan yang berbuka padahal ber- puasa. Yang berbuka tetapi sebenarnya
berpuasa adalah yang makan dan minum, tetapi menjaga seluruh anggota tubuhnya
dari perbuatan dosa. Dan yang berpuasa tetapi sebenarnya berbuka adalah yang
lapar dan haus, tetapi tercemar anggota tubuhnya (dalam perbuatan dosa).
Menurut Imam al-Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin, tingkatan puasa
diklasifikasi menjagi tiga, yaitu puasa umum, puasa khusus, dan puasa khusus
yang lebih khusus lagi.
Puasa umum adalah tingkatan yang paling rendah yaitu menahan dari makan,
minum dan jima’. Puasa khusus, di samping menahan yang tiga hal tadi, juga
memelihara seluruh anggota tubuh dari perbuatan maksiat atau tercela. Sedangkan
puasa khusus yang lebih khusus adalah puasa hati dari segala kehendak hina dan
segala pikiran duniawi serta mencegahnya memikirkan apa-apa yang selain Allah.
Puasa level ketiga tadi adalah puasanya para nabi-nabi, shiddiqin, dan
muqarrabin. Sedangkan puasa level kedua adalah puasanya orang-orang salih -
puasa tingkat ini yang seharusnya kita tuju untuk mencapainya.
Selanjutnya imam Al Ghazali menjelaskan enam hal untuk mencapai kesempurnaan
puasa tingkatan kedua itu.
Pertama, menahan pandangan dari segala hal yang
dicela dan dimakruhkan serta dari tiap-tiap yang membimbangkan dan melalaikan
dari mengingat Allah. Rasulullah SAW bersabda: Barang siapa meninggalkan
pandangan karena takut kepada Allah, niscaya Allah menganugerahkan padanya
keimanan yang mendatangkan kemanisan dalam hatinya.
Kedua menjaga lidah dari perkataan yang sia-sia, berdusta, mengumpat,
berkata keji, dan mengharuskan berdiam diri, menggunakan waktu untuk berzikir
kepada Allah serta membaca Alquran. “Dua perkara merusakkan puasa,” sabda
Rasulullah SAW, “Yaitu mengumpat dan berbohong.”
Ketiga, menjaga pendengaran dari mendengar kata-kata yang tidak baik, karena
tiap-tiap yang haram diucapkan maka haram pula mendengarnya. Rasulullah SAW
menjelaskan: Yang mengumpat dan yang mendengar, berserikat dalam dosa.
Keempat,
mencegah anggota-anggota tubuh yang lain dari perbuatan dosa. Seperti mencegah
tangan dan kaki dari berbuat maksiat dan mungkar, mencegah perut dari memakan
yang syubhat dan haram.
Kelima, tidak berlebih-lebihan dalam berbuka sampai perutnya penuh makanan.
Orang yang berbuka secara berlebihan tentu tidak akan dapat memetik manfaat dan
hikmah puasa. Bagaimana dia berusaha mengalahkan musuh Allah dan mengendalikan
hawa nafsunya, jika saat berbuka dia justru memanjakan nafsunya dengan makanan
yang terhitung banyak dan jenisnya.
Keenam, hatinya senantiasa diliputi perasaan cemas (khauf) dan harap
(raja’), karena tidak diketahui apakah puasanya diterima atau tidak oleh Allah.
Rasa cemas diperlukan untuk meningkatkan kualiti puasa yang telah dilakukan,
sedangkan penuh harap berperanan dalam menumbuhkan optimisme.
Khoirul Anam






Home
Posting Komentar