“Keluarkan dirimu dari nafsumu dan jauhilah ia! Lepaskan
segala kepemilikanmu dan serahkan semua pada Allah. Jadilah gerbang di pintu
kalbumu. Patuhilah perintah-perintah-Nya untuk memasukkan orang-orang yang
memang diperintahkan dan diizinkan masuk. Patuhi pula larangan-larangan-Nya
untuk mengusir orang-orang yang diperintahkan-Nya untuk kau usir. Jauhi dari
pintu kalbumu!
Jangan masukkan hawa nafsu ke dalam kalbumu setelah ia
terusir darinya. Pengusiran hawa nafsu dari kalbu adalah dengan menentangnya
dan menolak mengikutinya dari segala kondisi. Sedangkan, memasukkannya ke dalam
kalbu adalah dengan menuruti kehendaknya dan menyetujuinya.
Janganlah engkau berkehendak selain dengan Kehendak Allah
Azza wa Jalla. Kehendak yang kauinginkan selain itu adalah belantara kebodohan
yang akan mengantarkanmu pada malapetaka dan kebinasaanmu, juga kejatuhanmu di
mata-Nya dan keterjauhanmu dari-Nya.
Maka dari itu, jagalah selalu perintah-Nya dan jauhilah
larangan-Nya. Pasrahkan selalu dirimu kepada-Nya dalam segala ketentuan yang
telah ditetapkan-Nya. Jangan pernah sekutukan Dia dengan sesuatu pun dari
makhluk-Nya. Karena itu, janganlah terlalu berambisi tinggi, menginginkan kesenangan
dan bersyahwat besar agar dirimu tak menjadi orang yang musyrik.
Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengharap perjumpaan
dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal shaleh dan janganlah ia
mempersekutukan dengan sesuatu pun dalam beribadah kepada Allah,” (QS Al-Kahfi
[18]: 110).
Syirik bukan hanya terbatas pada penyembahan berhala saja,
namun termasuk juga tindak kesyirikan adalah menurutkan hawa nafsumu, memilih
sesuatu selain-Nya berupa dunia seisinya, dan segala sesuatu selain-Nya. Jika
engkau terhanyut dengan segala sesuatu selain-Nya, maka berarti engkau telah
menyekutukan-Nya. Maka, waspaadalah dan jangan terlena, takutlah selalu dan
jangan merasa diri aman, telitilah selalu dan jangan lalai, niscaya engkau akan
merasa tenang.”
Sumber: Kitab Adab As-Suluk
wa At-Tawassul ila Manazil Al-Muluk






Home
Posting Komentar