![]() |
| Suasan Ngaji Malam Jumat Legi |
Pengajian rutin Selapanan
Malam Jumat Legi di Jl. Pangeran Puger Gang. 2
Demaan Kudus kembali digelar setelah libur Ramadhan. Majelis yang diasuh
oleh Habib Ja’far Al Kaff tersebut digelar pada malam Jumat 4 Juli 2019 mulai
pukul 20.00 WIB. Acara diawali dengan pembacaan Kitab Maulid Nabi Muhammad SAW
dan alunan Qasidah Sholawat oleh Gus Apank yang diiringi hadrah Al Mubarrok
Kudus.
Acara kemudian
dilanjutkan dengan pengajian yang disampaikan oleh Habib Ali. Dalam tema
Majelis Maulidurrasul beliau menyatakan semakin banyak menyebut nabi semakin
cinta kita kepada beliau, Semakin banyak kita mengikuti cara-cara yang
dilakukan rasul semakin cinta kita kepadanya.
“Hal ini dicontohkan para
sahabat dan ulama. Ibnu Abbas misalnya, saat ke Syam mengikuti cara duduk rasul
di bawah sebuah pohon yang pernah diduduki oleh Rasul SAW”, ungkap Habib Ali.
Imam Ahmad Bin Hambal
tidak mau makan semangka, bukan karena haram tetapi karena beliau tidak mengetahui
bagaimana cara rasul memotong semangka, karena saking kepengenya beliau
mengikuti Rasul SAW”, terang beliau.
Habib Umar al Muthohar
dari Semarang melanjutkan pengajian. Dalam mauidhoh hasanahnya beliau
menyinggung pentingnya berdoa kepada Allah. “Kalau kita mau berdoa Allah pasti
akan ijabah apalagi jika yang berdoa seorang Waliyullah”, ucap beliau.
Beliau bercerita,
Waliyullah Syaikh Abu Yazid al Busthomi suatu hari jalan-jalan dengan muridnya,
kemudian ada sekumpulan orang bermain gitar dan mabuk-mabukan di jalanan dan mengejek
Syaikh Abu Yazid. Dibegitukan orang-orang itu Syaikh Abu Yazid diam, tetapi murid-muridnya
tak terima. Para murid Syaikh Abu Yazid langsung memarahi dan hendak memukuli orang
itu.
Disini pesan Habib Umar
al Muthohar, “Murid atau santri sangat diharuskan membela kehormatan kyai atau
gurunya. Kita harus hati-hati kalau ngeyek guru/ kyai, mungkin sang guru/ kyai
tersebut terima dengan ejekan kita, tetapi yang “ngemong” guru/ kyai yaitu Gusti
Allah pasti tidak akan terima”. Begitu yang diingatkan oleh Habib Umar kepada
para jamaah.
Lanjut ke cerita, Syaikh Abu
Yazid Al Busthomi melarang santrinya memukuli orang itu. Beliau bilang lebih
baik didoakan saja orang itu. Akhirnya para santi itu mengaminkan doa Abu
Yazid, “Allahumma kama farakhtahum fiddunya fafarrikhhum fil akhirah (Ya
Allah sebagaimana engkau memberikan kebahagiaan bagi mereka di dunia, maka
bahagiakan lah juga mereka di akhirat)”.
Karena yang berdoa
seorang Waliyullah, maka Allah langsung mengijabah. Akhirnya orang-orang tadi
memohon maaf kepada Abu Yazid dan mereka menjadi Waliyullah lantaran doa Abu
Yazid
Di akhir ceramahnya,
Habib Umar al Muthohar mengingatkan kepada jamaah yang hadir, “Ketika anda
diundang Allah (adzan), cepatlah datang, maka Allah pun akan cepat menanggapi
doa anda”.







Home
Posting Komentar