Ya habiib salaamun ‘alaika;
Sholawaatullaahi ‘alaika
Wahai
Nabi salam kami kepadamu; Wahai Rasul salam kami kepadamu
Wahai kekasih Allah
salam kami kepadamu;
Rahmat Allah semoga melimpah terus
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi
orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
(berzikir) menyebut Allah.” (Q.S. Al-Ahzab: 21)
Syaikh Abdullah
Al-Ghazali dalam Risalah
Tafsir menjelaskan, bahwa melalui ayat 21 surah Al-Ahzab di atas,
sebenarnya langsung atau tidak langsung Allah telah memerintahkan orang-orang
yang beriman untuk meneladani dan mengikuti gerak hidup atau akhlaqul
kariimah Rasulullah SAW dan mengaplikasikannya dalam kehidupan mereka; Baik
dalam hal ibadah kepada Allah maupun dalam hal muamalah dengan sesama manusia.
Dikatakan; Bahwa
dengan meneladani atau mencontohi budi pekerti Rasulullah SAW dan
mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, adalah sekaligus merupakan cerminan
dari pengamalan nilai-nilai Al-Quran. Hal ini tentunya sangat beralasan
sekali, sebab dalam sebuah riwayat diterangkan; Bahwa tatkala kepada Siti ‘Aisyah r.a ditanyakan oleh para
sahabat tentang akhlak atau budi pekerti Rasulullah SAW, maka beliau menjawab
bahwa; akhlak atau budi pekerti Rasulullah SAW adalah Al-Quran. Artinya adalah,
bahwa semua gerak hidup Rasulullah SAW; baik perbuatan; tindakan; perkataan
bahkan duduk serta diamnya Rasulullah SAW adalah sesuai dan selaras dengan apa
yang telah ditetapkan Allah di dalam Al-Quran. Dan oleh hal yang demikian
itulah Allah SWT memuji Rasulullah SAW dengan firman-Nya:
“Nun, demi kalam dan
apa yang mereka tulis; Berkat nikmat Tuhanmu kamu (Muhammad) sekali-kali bukan
orang gila; Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak
putus-putusnya:; Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (Q.S. Al-Qalam: 1-4)
“Kemuliaan akhlak” atau keindahan budi pekerti Muhammad SAW tidak hanya nampak
dan ada setelah beliau diutus menjadi Nabi dan Rasul Allah, akan tetapi
sebelumnya sudah ada sejak beliau dilahirkan. Hal ini telah dicatat dalam
sejarah, bahwa pada masa remajanya Muhammad sudah diberi dan dipanggil dengan
gelar “Al-Amin” oleh orang-orang yang ada di sekitar beliau. “Al-Amin”
sebuah gelar yang menunjukkan pada sifat jujur orang yang menyandangnya;
seseorang yang sangat dipercaya kata-kata dan janjinya.
“Para ulama” sepakat untuk mengelompokkan sifat diri atau
akhlak Rasulullah SAW menjadi 3(tiga) bagian, yakni sifat yang: “wajib;
mustahil dan harus”.
KH. Bachtiar Ahmad






Home
Posting Komentar