Sifat Wajib bagi Rasulullah SAW dan “yang wajib” pula untuk diteladani dan dilakoni oleh orang-orang
yang beriman kepada beliau meliputi 4(empat) hal yakni:
Pertama: “Shiddiq” yang
artinya adalah bahwa beliau selalu benar. Benar dalam ucapan dan
sekaligus dalam setiap perbuatan dan tindakan yang beliau lakukan.
Kedua: “Amanah” atau
“yang sangat dipercaya”. Sifat ini
menunjukkan bahwa Muhammad Rasulullah SAW adalah orang sangat dipercaya dalam
hal menjaga kemashlahatan agama; Baik yang berhubungan dengan kepentingan Allah
maupun kepentingan sesama manusia.
Yang ketiga: “Tabligh” atau
“yang selalu menyampaikan kebenaran”;
Baik dalam hal menyampaikan kebenaran yang diwahyukan Allah kepada
beliau, atau mendudukkan setiap persoalan yang ada (ibadah ataupun muamalah)
dengan keadaan yang sebenar-benarnya.
Yang ke-empat: “Fathanaah” yang secara umum bermakna orang yang memiliki ilmu; cerdik
dan bijaksana sebagai modal dalam mempertahankan kebenaran yang sesungguhnya.
Sehingga dengan demikian mampu menolak semua kesesatan dan kebohongan.
Adapun “sifat yang
Mustahil” bagi Rasulullah SAW pada dasarnya adalah segala
sesuatu yang berlawanan dengan yang wajib bagi diri beliau. Yakni:
Yang pertama: “Kadzib” dalam
artian dusta atau bohong pada setiap ucapan beliau dan tidak
pula bersikap munafik dengan pengertian: lain bicara lain pula yang
dibuat.
Yang kedua: “Khiyanaat” yang bermakna; Tidak melanggar
apa yang telah dilarang Allah dan merusak
perjanjian yang telah disepakati dengan sesama manusia.
Yang ketiga: “Kitmaan” yang berarti suka menyembunyikan segala
kebenaran yang diwahyukan Allah yang harus disampaikan kepada
seluruh manusia. Atau menyembunyikan kebenaran lainnya untuk kepentingan
diri sendiri.
Yang keempat:
“Balaadah” yang bermakna;
Bahwa sesungguhnya Rasulullah SAW bukanlah orang yang bodoh, melainkan beliau
adalah seorang pandai dan berilmu dan mampu menguasai setiap
permasalahan.
Sedangkan sifat “Harus” yang dimiliki oleh
Muhammad SAW adalah sifat-sifat yang pada umumnya dimiliki oleh setiap manusia
seperti; kenyang, lapar, sehat, sakit, menikah (berkeluarga) dan lain
sebagainya. Akan tetapi sebagai “panutan”
manusia, maka Muhammad SAW terhindar dan
dihindarkan Allah SWT dari sifat takut (penakut), rakus, sombong,
rendah diri dan lain sebagainya yang dapat merendahkan martabat
beliau.
Inilah sifat diri
atau budi pekerti mulia yang harus diteladani dan dilakoni oleh setiap “umat
Muhammad SAW” semaksimal mungkin yang bisa mereka lakukan di dalam setiap
gerak kehidupannya. Sebab bagaimanapun juga adalah suatu hal yang sangat “mustahil
dan tidak mungkin” untuk mencapai kesempurnaan akhlak sebagaimana halnya
akhlak Rasulullah SAW, kecuali Allah berkehendak lain. Dan atas dasar
sifat-sifat yang telah diterangkan dalam catatan inilah, insya Allah pada
“bagian berikutnya” akan kita bahas serba sedikit; Bagaimana Rasulullah
SAW menjalani hidup dan kesehariannya. Wallahua’lam.
KH. Bachtiar Ahmad






Home
Posting Komentar