Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Adab. Tampilkan semua postingan

Mengadu Di Makam Rasulullah SAW

Imam kurtubi  tengah duduk di samping kubur nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu ada seorang Arab Badui pergi berhaji.

Ketika sampai di pintu masjid rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia menderumkan tunggangannya dan mengikatnya. Kemudian, dia pun masuk ke dalam masjid dan mendatangi kubur nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan berdiri di hadapan wajah rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.


Dia berkata, “Assalamu ‘alaika, Ya Rasulullah. Saya datang kepadamu dengan membawa setumpuk dosa sembari meminta syafa’at kepada Rabb-mu dengan perantaraan dirimu, karena Dia berfirman dalam kitab-Nya (yang artinya),


“Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang” (An Nisaa: 64).


Dan sungguh saya telah datang kepadamu dengan setumpuk dosa dan kesalahan, meminta syafa’at kepada Rabb-mu dengan perantaraan dirimu agar dia mengampuni dosaku dan agar dirimu (wahai rasulullah) memintakan syafa’at bagiku. Apabila Allah SWT mengampuniku, maka kau senang dan syetanpun sedih dan apabila Allah SWT tidak mengampuniku, maka kau sedih melihat umatnya disiksa dan syetan pun senang.


Kemudian, orang itu pun pergi ke kerumunan manusia sembari berdendang,


Wahai pribadi terbaik yang jasadnya disemayamkan di permukaan bumi ini



Sehingga semerbaklah tanah dan bukit karena jasadmu


Jiwaku sebagai penebus bagi tanah tempat bersemayammu


Yang disanalah terdapat kesucian, kemurahan, dan kemuliaan



Badui itu pun pergi dan kantuk pun menyerang imam kurtubi. Di dalam mimpi, Imam Kurtubi bertemu nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berkata, “Wahai ‘Utbi, kejarlah Badui tadi dan berilah kabar gembira kepadanya bahwa Allah telah mengampuninya.”




Dinukil dari Riwayat Imam Ibnu Katsir oleh Ust. Muhammad Hafidz Maqmun
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Cinta Tanah Air (Nasionalisme)

ﻟﻤﺎ ﻗﺪﻡ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻭﻋﻚ ﺃﺑﻮ ﺑﻜﺮ ﻭﺑﻼﻝ ، ﻓﺠﺌﺖ ﺭﺳﻮﻝ ﺍﻟﻠﻪ - ﺻﻠﻰ ﺍﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ - ﻓﺄﺧﺒﺮﺗﻪ ﻓﻘﺎﻝ ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺣﺒﺐ ﺇﻟﻴﻨﺎ ﺍﻟﻤﺪﻳﻨﺔ ﻛﺤﺒﻨﺎ ﻣﻜﺔ ﺃﻭ ﺃﺷﺪ ، ﻭﺻﺤﺤﻬﺎ ﻭﺑﺎﺭﻙ ﻟﻨﺎ ﻓﻲ ﺻﺎﻋﻬﺎ ﻭﻣﺪﻫﺎ ﻭﺍﻧﻘﻞ ﺣﻤﺎﻫﺎ ﻓﺎﺟﻌﻠﻬﺎ ﺑﺎﻟﺠﺤﻔﺔ


Saat Rasulullah SAW tiba di Madina, Sayidina Abu Bakar dan Bilal sakit (karena rindu kampung halaman). Kemudian Sayidah Aisyah mengabarkan itu pada Rasulullah SAW. Kemudian Rasul berdoa,  "Ya Allah jadikanlah Aku mencintai Madinah, seperti kami mencintai Mekah, atau jadikan kami lebih mencintai Madinah daripada Mekah. (Shohih Imam Bukhari dan Muslim).


Sebelumnya Rasulullah pernah berkata:


ﺇﻧﻚ ﺃﺣﺐ ﺍﻟﺒﻼﺩ ﺇﻟﻲ ، ﻭﺇﻧﻚ ﺃﺣﺐ ﺃﺭﺽ ﺍﻟﻠﻪ ﺇﻟﻰ ﺍﻟﻠﻪ


Wahai Mekah engkau kota yang paling Aku cintai, dan engkau tanah yang paling Allah cinta.


Cinta tanah air adalah perlu dan berikut ini 9 Dawuh Habib Luthfi Tentang Pancasila Dan Nasionalisme


1. “Saya salut banyak bendera Merah-Putih. Tapi nanti tolong setelah selesai, jangan pernah ditumpuk atau dilempar di tanah. Kayunya silakan ditumpuk di tanah, kalau benderanya disampirkan di bahu baru ditata yang rapi. Sikap pada bendera itu bukan mengultuskan benda, melainkan bentuk penghormatan dan sikap cinta pada tanah air. Dalam Merah-Putih meski tidak ada tulisannya, tapi ada arti jati diri bangsa, itulah kehormatan bangsa. Kalau tidak kita sekalian yang menjaga, jangan salahkan orang lain kalau ada yang menghina. Jika bukan para warga Indonesia sendiri, siapa lagi yang menjaga dan menghormatinya?"


2. "Sikap cinta tanah air harus dibangun di semua lini. Pengucapan Pancasila dan menyanyikan lagu Indonesia Raya tidak hanya saat kegiatan upacara resmi kenegaraan atau pemerintahan dan saat peringatan HUT RI 17 Agustus saja, namun harus dinyanyikan dalam setiap acara sosial dan keagamaan. Kalau hanya dikibarkan saat 17-an, bisa-bisa bangsa ini lupa pada negaranya sendiri. Ini penting sekali, kelihatannya enteng. Jangan main-main sama lagu kebangsaan. Timbulnya tidak ada rasa ‘handarbeni’ jadi penyebab merosotnya nasionalisme di kalangan anak muda."


3. "Dasar negara Indonesia yakni Pancasila dibuat memiliki keterkaitan dengan keagamaan. Makanya ada sila pertama, di belakang Pancasila ada kekuatan agama."


4. "Kecintaan terhadap tanah air akan mempengaruhi perkembangan dan kemajuan suatu bangsa. Jika nasionalisme kita semakin melemah, jangan harap kita sebagai Muslim bisa menjawab tantangan umat dan tantangan bangsa."


5. “Walau hanya sebutir pasir yang ada di atas tanah air ini akan kita jaga mati-matian. Kata siapa cinta tanah air atau nasionalisme tidak ada dalilnya? Nabi SAW. mengatakan, “Aku cinta Arab karena aku adalah bangsa Arab”. Ini contoh kongkrit kecintaan suatu bangsa pada tanah airnya. Cinta tanah air itu sebagai wujud syukur kepada Allah atas anugrah bumi pertiwi ini. Ulama adalah benteng ideologi, TNI-POLRI adalah benteng NKRI. Mari kita bersatu. Jangan goyahkan persatuan karena oknum kiai, TNI atau POLRI."


6. “Salah satu pesan yang kita ingat dari peringatan Maulid Nabi adalah ajaran agar kita taat pada pemerintah. Bangsa lain fokus membangun kita masih memperdebatkan khilafiyah-khilafah. Pancasila sudah final. Boleh berdebat penafsirannya, tapi tidak boleh memperdebatkan butir-butirnya."


7. “Muktamar NU di Situbondo sudah menegaskan Pancasila sebagai asas Negara dan Jam'iyah Thariqah menegaskan NKRI harga mati. Pendakwah dahulu begitu toleran menghormati perbedaan. Untuk itu Sunan Kudus enggan menyembelih sapi, karena menghormati tradisi non-Muslim. Bahkan bangunan Masjid Kudus mengakomodasi arsitektur non-Muslim yang berkembang pada waktu itu. Tidak anti dengan kebudayaan lokal. Simpatik."


8. “Muslim itu harus seperti air laut, meskipun ratusan sungai mengalirkan air tawar, ia tetap asin dan tak pernah memaksa ikan di dalamnya menjadi asin. Ketika kita akan melakukan perbuatan tercela, ingat Merah-Putih, malu di dalamnya ada tumpah darah para pahlawan dan jati diri bangsa yang memiliki adat dan etika ketimuran."


9. "Ajak anak-anak kita ke makam para pahlawan. Anak-anak mengerti itu orang mati, tidak akan menyembahnya. Jelaskan, ini kopral 'ini' adalah pahlawan, makam itu adalah makamnya pahlawan tak dikenal. Kenalkan para pahlawan kepada anak-anak kita sejak dini agar mereka paham kemerdekaan ini bukan hadiah. Dan agar dalam diri anak-anak tumbuh kecintaan pada bangsa. Rasa cinta yang kuat pada bangsa ini lebih dahsyat dari nuklir sekalipun."





Rijal Mumazziq


comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Mengangkat Tangan Sewaktu Berdoa

Sebab asal muasal mengangkat tangan dalam doa adalah sunnah, maka hal itu merupakan hal yang mustahab,
Qiasnya adalah sebagaimana ketika Al Hafidh Al Muhaddits Imam Nawawi menjawab masalah puasa di bulan rajab, beliau berkata :

ولم يثبت في صوم رجب نهى ولا ندب لعينه ولكن أصل الصوم مندوب إليه
“Tiada hukum yang menguatkan puasa di bulan rajab, akan tetapi asal muasal hukum puasa adalah hal yang baik dilakukan” (Fathul baari Almasyhur Juz 8 hal.38).

Jelaslah sudah bahwa Imam Nawawi berpendapat semua hal yang baik dan sunnah. Jika dilakukan di waktu kapanpun, maka boleh saja dilakukan diwaktu yang dipilih.

Juga sebagaimana diriwayatkan ketika ada Imam masjid Quba yang selalu membaca surat Al Ikhlas disetiap habis fatihah, ia selalu menyertakan surat Al Ikhlas lalu baru surat lainnya, lalu makmumnya protes, seraya meminta agar ia menghentikan kebiasaanya, namun Imam itu menolak, silahkan pilih imam lain kalau kalian mau, aku akan tetap seperti ini!, maka ketika diadukan pada Rasul SAW, maka Rasul SAW bertanya mengapa kau berkeras dan menolak permintaan teman temanmu (yang meminta ia tak membaca surat al ikhlas setiap rakaat), dan apa pula yang membuatmu berkeras mendawamkannya setiap rakaat?” ia menjawab : “Aku mencintai surat Al Ikhlas”, maka Rasul SAW menjawab : “Cintamu pada surat Al Ikhlas akan membuatmu masuk sorga” (Shahih Bukhari hadits no.741).

Bukankah Nabi SAW tak pernah mengajarkan membaca surat Al Ikhlas setiap rakaat?, bukankah kebiasaan itu Bid’ah? (hal yang baru tanpa diajarkan oleh rasul SAW), namun Rasul SAW mengakuinya bahkan memujinya.

Demikian pula mengangkat tangan ini, Nabi SAW saat berdoa sering mengangkat tangannya, maka mengangkat tangan setiap ba’da shalat dalam doa merupakan hal yang baik, bahkan pada setiap kita berdoa.

Rasul SAW mengangkat tangannya dalam berdoa, sebagaimana hadits yang dipakai oleh mereka : “Rasul SAW tak mengangkat tangannya dalam doa kecuali pada shalat Istisqa” (Shahih Muslim).

Hadits ini dijelaskan oleh Imam Ibn Hajar Al Asqalaniy dalam syarah shahih Bukhari : “riwayat ini bukan melarang mengangkat tangan dalam doa, tetapi sungguh adalah kebalikannya, karena banyak hadits shahih yang teriwayatkan bahwa Rasul SAW mengangkat tangannya dalam doa, dan yang dimaknakan dalam riwayat itu adalah mengangkat tangan setinggi-tingginya hingga terlihat kedua ketiak beliau SAW yang bercahaya, maka hal ini hanya sekali saja dilihat oleh Anas bin Malik ra dalam istisqa, namun tidak menafikan orang lain yang melihatnya selain anas pada kesempatan lain. (Fathul Baari Bisyarh shahih Bukhari Nawawi ala shahih Muslim Bab Aljum’ah).

Berkata pula Imam Nawawi dalam hadits ini : “Tidak terhitung banyaknya hadits shahih yang meriwayatkan Rasul SAW mengangkat tangannya saat doa selain pada istisqa, aku menghitungnya sekitar 30 hadits lebih, dan sungguh permasalahannya bukan seperti yang teriwayatkan….”. lalu imam nawawi meneruskan dengan penjelasan semakna dengan penjelasan Imam Ibn Hajar diatas (Syarh Nawawi ala shahih Muslim Bab Shalat Istisqa).

Diriwayatkan pula pada shahih Bukhari Rasul SAW berdoa dengan mengangkat tangannya saat melempar jamrah, dan banyak lagi. Wallahualam.



Habib Munzir Al Musawwa
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Adab Masuk Dan Keluar Dari Kamar Mandi


Dalam kehidupan sehari hari kita tentu tak bisa tidak harus ke kamar mandi/WC, baik tujuannya untuk bersuci, membersihkan diri ataupun buang hajat. Maka sudah selayaknya kita memperhatikan sunnah sunnah nabi ketika masuk dan keluar dari kamar mandi, diantaranya:

1. Membaca Do’a

Kamar mandi/WC adalah tempat tinggal setan. Karena karena itu hendaknya kita memohon perlindungan kepada Allah dari kejahatan setan laki laki dan perempuan dengan mengucapkan do’a:

- اَللَّهُمَّ إِنِّيْ أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْخُبُثِ وَالْخَبَائِثِ.
”Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari godaan setan laki-laki dan perempuan”.(HR.Ahmad dari Anas bin Malik dalam shahih al-jami; 4712).

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam jika hendak masuk WC beliau membaca

[بِسْمِ اللهِ]
“Dengan nama Allah. Ya Allah” (HR.Ibn Abi Syaibah (29902) dari Anas bin Malik. shahih al-jami’; 4714)

Dzikir ini berfungsi untuk menutup aurat manusia dari penglihatan jin karena Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam pernah bersabda, “Penutup aurat anak Adam dari Pandangan jin ketika ia masuk WC adalah dengan mengucapkan bismillah.” (shahih al-jami’ halaman 675 hadist no:3610)

2. Masuk Dengan Mendahulukan Kaki Kiri

Karena ia sedang memasuki tempat najis, maka seharusnya ia mendahulukan kaki kiri. Berbeda halnya ketika memasuki tempat yang terhormat dan mulia, hendaknya ia mendahulukan kaki kanan, misalnya masuk ke masjid. Setiap pekerjaan baik dan mulia hendaknya di mulai dengan sebelah kanan. Dan apabila pekerjaan itu sebaliknya, maka didahului yang sebelah kiri, salah satunya ketika hendak masuk ke kamar mandi/WC.

3. Jangan Berlama-lama Di Kamar Mandi/WC

Janganlah seseorang berlama lama dalam kamar mandi, usahakan selekas mungkin ia menyelesaikan hajatnya di kamar/mandi. Kalau sudah selesai segeralah keluar dan jangan berlama lama menetap di dalamnya. Karena kamar mandi/WC adalah tempat setan dan kotoran sehingga tempat seperti itu tidak di anjurkan untuk berlama lama berada di situ.

4. Keluar Dengan Mendahulukan Kaki Kanan

Sebab sebelah kanan selalu di dahulukan dalam melakukan setiap perkara yang baik. Keluar dari kamar mandi/WC berarti berpindah dari tempat yang kotor ke tempat yang bersih. Oleh karena itu mendahulukan kaki kanan ketika keluar.

5. Bacalah Do’a Ketika Keluar Dari Kamar Mandi/WC

Yaitu do’a yang pernah di ucapkan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ketika keluar dari WC:

غُفْرَانَكَ.
“Aku minta ampun kepadaMu” (HR.Ahmad (VI/155), Abu Dawud (30), An-Nasaa’I dalam kitab Al-Kubra (9907), At Tirmidzi (7), dan ia menghasankan hadist ini, Ibn Majah (300), Ibnu Hibban (1441) Ihsaan, Al-Hakim (I/158), Ad-Daarimi (I/174), Ibn Jaaruud (42), Al_Bukhari dalam Adabul Mufraad (693/97), Ibnu As-Sunni (23), dari ‘Aisyah radhiallahu’anha. Shaihi al-jami’ (4707).)



Dari Berbagai Sumber (Kitab-kitab Fiqih)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Nabi Muhammad Menyukai Memulai Sesuatu Dari Yang Kanan


قال رسول اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُعْجِبُهُ التَّيَمُّنُ فِي تَنَعُّلِهِ وَتَرَجُّلِهِ وَطُهُورِهِ وَفِي شَأْنِهِ كُلِّهِ صحيح البخاري

Sabda Rasulullah SAW: “Bahwa nabi SAW menyukai memulai dari kanan, ketika beliau (SAW) memakai sandal, ketika beliau (SAW) menyisir, ketika beliau (SAW) bersuci, dan dalam gerak gerik beliau (SAW) ” (Shahih Bukhari)

Sampailah kita pada tuntunan mulia sayyidina Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, yang disampaikan oleh sayyidah Aisyah Ra dan diriwayatkan dalam Shahih Al Bukhari bahwa nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam melakukan suatu perbuatan menyukai untuk mengawalinya dari sebelah kanan, seperti ketika memakai sandal, ketika bersuci, menyisir rambut, dan yang lainnya. 

Hal tersebut sangat disukai oleh Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, dan hal tersebut pun telah terbukti secara ilmiah bahwa peredaran darah terlebih dahulu mengalir pada anggota tubuh yang bagian kanan kemudian pada bagian yang kiri, sehingga aliran darah itu terlebih dahulu membersihkan anggota tubuh bagian kanan.

Hal-hal ini secara Ilmiah baru diketahui dalam akhir-akhir ini, namun hal tersebut telah diajarkan dalam tuntunan nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada ummat Islam, yaitu dengan mengawali segala perbuatan baik dari anggota tubuh sebelah kanan.

Dijelaskan oleh Al Imam Ibn Hajar Al Asqalany dalam Fathul Bari bisyarah Shahih Al Bukhari bahwa hadits tersbut diatas bermakna ‘aam makhsuus (bersifat umum tapi dikhususkan), yaitu secara umum bermakna demikian adanya. Namun terdapat pengecualian, diantaranya adalah ketika masuk ke masjid mendahulukan kaki kanan, namun ketika keluar dari masjid mendahulukan kaki kiri, sebaliknya ketika masuk ke kamar mandi dengan mendahulukan kaki kiri dan ketika keluar mendahulukan kaki kanan. Mengapa demikian? 

Al Imam An Nawawi berkata bahwa segala hal atau sesuatu yang baik atau bersifat ibadah maka didahulukan dengan anggota sebelah kanan, maka selayaknyalah kita memahami sunnah-sunnah nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

مَنْ تَمَسَّكَ بِسُنَّتِي عِنْدَ فَسَادِ أُمَّتِي فَلَهُ أَجْرُ مِائَةِ شَهِيدٍ

“Barangsiapa yang berpegang pada sunnahku ketika kerusakan ummatku, maka baginya pahala 100 orang yang mati syahid”

Berpegang kepada sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam seperti ini adalah hal yang mudah, namun banyak diremehkan oleh kaum muslimin, maka kita berusaha untuk menghidupkan kembali hal tersebut dengan melakukan sesuatu yang baik diawali dengan yang kanan.



Habib Munzir Al Musawwa
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Meraih Keberkahan Hidup Dengan Silaturrahim

Di dalam menjalankan perintah Allah SWT pasti ada hikmah dan kebaikan, namun sebaliknya di dalam melanggarnya terdapat bencana dan kebinasaan. Diantara sekian banyak perintah Allah kepada hamba-Nya adalah perintah untuk menyambung silaturrahmi atau kekerabatan baik secara umum dengan sesama umat islam ataupun secara khusus dengan keluarga atau famili.

Disebutkan dalam Shahîh al-Bukhâri dan Shahîh Muslim, dari Abu Ayyûb al-Anshârî: “Bahwasanya ada seseorang berkata kepada Nabi SAW, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku tentang sesuatu yang bisa memasukkan aku ke dalam surga dan menjauhkanku dari neraka,” maka Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Sungguh dia telah diberi taufik,” atau “Sungguh telah diberi hidayah, apa tadi yang engkau katakan?” Lalu orang itupun mengulangi perkataannya. Setelah itu Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Engkau beribadah kepada Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, menegakkan shalat, membayar zakat, dan engkau menyambung silaturrahim”. Setelah orang itu pergi, Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Jika dia melaksanakan apa yang aku perintahkan tadi, pastilah dia masuk surga”.

Silaturrahim juga merupakan faktor yang dapat menjadi penyebab umur panjang dan banyak rizki. Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturrahim”. [Muttafaq 'alaihi].

Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Ar-rahim (kekerabatan) itu tergantung di Arsy. Ia berkata: “Barang siapa yang menyambungku, maka Allah akan menyambungnya. Dan barang siapa yang memutusku, maka Allah akan memutus hubungan dengannya”. [Muttafaq 'alaihi].
Rasulullah SAW telah menjelaskan bahwa menyambung silaturrahim lebih besar pahalanya daripada memerdekakan seorang budak. Dalam Shahîh al-Bukhâri, dari Maimûnah Ummul-Mukminîn, dia berkata, “Wahai Rasulullah, tahukah engkau bahwa aku memerdekakan budakku?”. Nabi bertanya, “Apakah engkau telah melaksanakannya?” Ia menjawab, “Ya”. Nabi bersabda (yang artinya), “Seandainya engkau berikan budak itu kepada paman-pamanmu, maka itu akan lebih besar pahalanya”.

Yang amat disayangkan, ternyata ada sebagian orang yang tidak mau menyambung silaturrahim dengan kerabatnya, kecuali apabila kerabat itu mau menyambungnya. Jika demikian, maka sebenarnya yang dilakukan orang ini bukanlah silaturrahim, tetapi hanya sebagai balasan. Karena setiap orang yang berakal tentu berkeinginan untuk membalas setiap kebaikan yang telah diberikan kepadanya, meskipun dari orang jauh.

Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Orang yang menyambung silaturrahim itu, bukanlah yang menyambung hubungan yang sudah terjalin, akan tetapi orang yang menyambung silaturrahim ialah orang yang menjalin kembali hubungan kekerabatan yang sudah terputus”. [Muttafaq 'alaihi].

Oleh karena itu, sambunglah hubungan silaturrahim dengan kerabat-kerabat kita, meskipun mereka memutuskannya. Sungguh kita akan mendapatkan balasan yang baik atas mereka.

Diriwayatkan, telah datang seorang lelaki kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Wahai Rasulullah, aku mempunyai kerabat. Aku menyambung hubungan dengan mereka, akan tetapi mereka memutuskanku. Aku berbuat baik kepada mereka, akan tetapi mereka berbuat buruk terhadapku. Aku berlemah lembut kepada mereka, akan tetapi mereka kasar terhadapku,” maka Nabi SAW bersabda (yang artinya), “Apabila engkau benar demikian, maka seakan engkau menyuapi mereka pasir panas, dan Allah akan senantiasa tetap menjadi penolongmu selama engkau berbuat demikian.” [Muttafaq 'alaihi].

Begitu pula firman Allah Ta’ala: “Orang-orang yang merusak janji Allah setelah diikrarkan dengan teguh dan memutuskan apa-apa yang Allah perintahkan supaya dihubungkan dan mengadakan kerusakan di bumi, orang-orang itulah yang memperoleh kutukan dan bagi mereka tempat kediaman yang buruk (Jahannam)”. [ar-Ra’d/13:25].



Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Idrus (Madinatul Ilmi)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Keutamaan dan Adab Berada Dalam Masjid

قال النبيّ صلّى الله عليه وسلّم : اَلْمَسْجِدُ بَيْتُ كُلِّ مُؤْمِنٍ. رواه ابو نعيم عن سلمان

Masjid adalah rumah bagi setiap orang beriman.

وقال صلّى الله عليه وسلّم ﺇِﺫَﺍ ﺭَﺃَﻳْﺘُﻢُ ﺍﻟﺮََّﺟُﻞَ ﻣُﻼَﺯِﻡَ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﻓَﺎﺷْﻬَﺪُﻭْﺍ ﻟَﻪُ ﺑِﺎْﻹِﻳْﻤَﺎﻥِ

Ketika kamu sekalian melihat seseorang yang melanggengkan ke masjid, maka bersaksilah baginya dengan iman (orang yang beriman).

وقال صلّى الله عليه وسلّم : ﻣَﻦْ تَكَلَّمَ ﺑِﻜَﻼَﻡِ الدُّﻧْﻴَﺎ ﻓِﻲ ﺍﻟْﻤَﺴْﺠِﺪِ ﺃَﺣْﺒَﻂَ اللهُ ﻋَﻤَﻠَﻪُ اَرْﺑَﻌِﻴْﻦَ ﺳَﻨَﺔً

Barang siapa berbicara dengan perbicaraan dunia di dalam masjid, maka Allah menghapus amalnya selama 40 tahun.

وقال صلّى الله عليه وسلّم : إِنَّ الْمَلاَئِكَةَ يَتَكَرَّهُوْنَ مِنَ الْمُتَكلِّمِيْنَ فِي الْمَسْجِدِ بِكَلاَمِ اللَّغْوِ وَالْجَوْرِ

Sesungguhnya malaikat membenci orang-orang yang berbicara di dalam masjid dengan pembicaraan sia-sia dan dusta (Pembicaraan Jur adalah pembicaraan yang condong jauh dari kebenaran).

وقال صلّى الله عليه وسلّم : شَّرُّ الْبِقَاعِ أَسْوَاقُهَا وَخَيْرُ الْبِقَاعِ مَسَاجِدُهَا.

Seburuk-buruk tempat adalah pasar-pasarnya dan sebaik-baik tempat adalah masjid-masjidnya.

وقال صلّى الله عليه وسلّم : إِذَا دَخَلَ أَحَدُكُمُ الْمَسْجِدَ فَلاَ يَجْلِسْ حَتَّى يُصَلِّيَ رَكْعَتَيْنِ

Ketika salah satu di antara kamu sekalian memasuki masjid, maka janganlah duduk sehingga dia melaksanakan sholat dua rokaat (Sholat Sunnah Takhiyatul Masjid).

وقال صلّى الله عليه وسلّم : اِرْتَفَعَتِ الْمَسَاجِدُ شَاكِيَةً مِنْ أَهْلِهَا الَّذِيْنَ يَتكَلَّمُوْنَ فِيْهَا بِكَلَامِ الدُّنْيَا فَتَسْتَقْبِلُهَا الْمَلَائِكَةُ فَتَقُوْلُ ارْجِعِيْ فَقَدْ بُعِثْنَا بِهَلاَكِهِمْ.

Masjid-masjid naik seraya mengadukan penghuninya, yaitu orang-orang yang berbicara dengan pembicaraan dunia di dalam masjid, kemudian malaikat menyambutnya seraya berkata, kembalilah karena kami telah benar-benar diutus dengan kehancuran mereka.

وقال صلّى الله عليه وسلّم : مَنْ أَسْرَجَ سِرَاجًا فِي الْمَسْجِدِ بِقَدْرِ مَا يَدُوْرُ فِي الْعَيْنِ لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ ذَلِكَ الضَّوْءُ فِي الْمَسْجِدِ

Barang siapa yang menyalakan lampu di dalam masjid sekiranya meliputi pandangan mata, maka tidak henti-hentinya malaikat memohonkan ampun untuk dia selama cahaya itu tetap (bersinar) di dalam masjid.

وقال صلّى الله عليه وسلّم : مَنْ بَسَطَ حَصِيْرًا فِي الْمَسْجِدِ لَمْ تَزَلِ الْمَلاَئِكَةُ تَسْتَغْفِرُ لَهُ مَا دَامَ ذٰلِكَ الْحَصِيْرُ فِي الْمَسْجِدِ.

Barang siapa membeberkan / menggelar tikar di dalam masjid, maka tidak henti-henti nya malaikat memohonkan ampun untuknya, selama tikar itu masih di dalam masjid.

وقال صلّى الله عليه وسلّم مَنْ أَخْرَجَ قَذْرَةً مِنَ الْمَسْجِدِ بِقَدْرِ مَا يَدُوْرُ فِي الْعَيْنِ أَخْرَجَهُ اللهُ تَعَالٰى مِنْ أَعْظَمِ ذُنُوْبِهِ

Barang siapa mengeluarkan kotoran-kotoran dari masjid sekiranya meliputi pandangan mata, maka Allah yang Maha Luhur akan mengeluarkan sebesar-besar dosanya. Dalam Kitab Tanqihul Qoul oleh Syekh Nawawi Al-Banteni, kotoran itu bisa berupa kotoran yang Najis seperti kotoran hewan dan sebagainya, maupun kotoran yang suci seperti sampah dan debu debu.

وقال صلّى الله عليه وسلّم : لَا تَجْعَلُوْا مَسَاجِدَكُمْ كَالطُّرُقِ

Janganlah kamu sekalian menjadikan masjid masjid kalian seperti jalan jalan.



Kitab Lubabul Hadist
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Ziarah Walisongo Melahirkan Budaya Malu Kepada Allah

Saya pernah ditanya, “Bib, keistimewaannya ziarah walisongo apa?”

Saya jawab, “Isin! (Malu)”

Jawaban saya masih dikejar, “Lho, bukannya istimewanya ada pada berkah?”.

“Bukan. Terlalu tinggi itu buat saya.” Tandas saya.

Anda lihat, Sunan Ampel misalnya, sudah berapa ratus orang yang berdzikir di makam beliau tiap hari? Makam Sunan Kalijaga, berapa ratus orang yang sudah menyebut nama Allah di sana tiap malam? Sunan Muria, sudah berapa ribu orang yang membaca Qur'an dan membaca shalawat di sana (Muria)? 

Saya sendiri saja masih susah mengajak anak-anak sehabis maghrib untuk berkumpul dan memperkenalkan ajdad (leluhur), berdoa, berdzikir, dan membaca Quran. Bagaimana bisa seramai di makam para auliya` Allah Walisongo? Padahal mereka sudah wafat ratusan tahun yang lalu, dan saya masih hidup.

Berziarah, selain melahirkan budaya malu seperti tadi, seharusnya berfungsi memperkenalkan siapa yang ada di makam tersebut kepada anak-anak kita. Seharusnya bukan Walisongo saja, tapi perkenalkan juga siapa Kiai Sentot Prawirodirjo, siapa Kiai Diponegoro, siapa Jenderal Sudirman, karena kita semakin lupa dengan para pahlawan negeri ini. Lihatlah bendera kita, merah putih, ia berdiri tegak bukan secara gratis! Ada darah dan nyawa para pahlawan yang harus dibayar untuk “membeli” bendera itu. Coba kita kenalkan para pahlawan itu setiap habis maghrib.

Ibarat kita sudah merdeka ini, seperti ada hidangan di meja di depan kita dan kita tinggal melahapnya saja. Tapi bukannya melahap, eh malah sibuk ribut sendiri, saling sikut, mau diadu domba. Makam Sunan Ampel saja, yang sudah wafat ratusan lalu, masih sanggup mempersatukan masyarakat sekarang yang masih hidup. Pintu makam selalu dibuka, semua orang dapat menziarahi, apapun warna kulitnya, apapun partainya, dan di kanan-kiri banyak orang berjualan, pendapatan mereka bertambah, ada pekerjaan yang dapat menyambung hidup mereka. Muka kita mau ditaruh dimana, wong orang yang sudah mati saja masih bisa begini, tapi kita yang masih hidup tidak bisa apa-apa.


Mauidhoh Habib Luthfi Bin Yahya dalam Haul Sunan Ampel
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Bertabarruk di Makam Wali

Allah Ta'ala berfirman:

وَابْتَغُوا إِلَيْهِ الْوَسِيلَة

Dan carilah jalan yang mendekatkan diri (Wasilah) kepada-Nya (Al-Maidah 35).

“Aku bertanya kepada Ayahku tentang laki-laki yang menyentuh mimbar Nabi, ia bertabaruk dengan menyentuhnya dan menciumnya, dan ia melakukan hal yang sama ke makam Nabi, atau yang sesamanya. Ia bertujuan mendekatkan diri kepada Allah dengan hal tersebut.

Beliau menjawab, “Tidak apa-apa”

Demikian Adz Dzahabi membenarkan pendapat Imam Ahmad dan menyatakan bahwa yang mengingkarinya adalah Khawarij dan Ahlu Bid’ah. (Siyar A’lam an-Nubala 11/212)

Imam Abu Nu'aim (w : 430 H) melaporkan dari Gurunya, Imam Abu Syaikh (w : 369 H) di kitab Ma'rifatus Shohabah. Begitu juga salah seorang Ulama Salaf, yang juga Guru dari Imam Hakim (w : 405 H) penulis kitab "Mustadrok", Imam Al-Masarjiy (w : 350 H), pernah menceritakan acara ziarah bersama Imam Ibnu Khuzaimah (w : 311 H) dan Para Masyayikh lainnya ke makam Imam Ali Ridho Rahimahullah.

Bahkan di dalam Kitab Al-Bidayah Wa An-Nihayah Juz 18 Hal. 297 disebutkan

وشرب جماعة الماء الذي فضل من غسله, واقتسم جماعة بقية السدر الذي غسل به , ودفع بالخيط الذي كان فيه الزئبق الذي كان في عنقه بسبب القمل خمسمائة درهم , وقيل إن الطاقية التي كانت على رأسه دفع فيها خمسون درهما

“Sekelompok orang meminum air bekas basuhan jenazah Ibnu Taimiyah dan sekelompok lainnya membagi-bagikan sadr (sabun untuk memandikan mayat) Ibnu Taimiyah. Benang jahitan yang ada di lehernya karena penyakit kutu dibeli seharga 150 dirham, bahkan semacam peci dikepalanya dibeli dengan harga 500 dirham. Pada saat beliau wafat banyak sekali histeri dan air mata serta tadharru’ (merendah)”



Sayyid Machmud BSA
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Empat Hal Sebelum Tidur

روي عن النبي صلى الله عليه وسلم انه قال لعائشة رضي الله عنها: يا عائشة لا تنامي حتى تعملي أربعه أشياء: حتى تختمي القران وحتى تجعلي الأنبياء لك شفعاء يوم القيامة، وحتى تجعلي المسلمين راضين عنك، وحتى تجعلي لك حجة وعمرة فدخل صلى الله عليه وسلم، فبقيت على الفراش حتى أتم الصلاة، فلما أتمها قالت: يا رسول الله، فداك أبي وأمي، أمرتني أربعه أشياء لا اقدر في هذه الساعة أن افعلها فتبسم رسول الله وقال: إذا قرأت قل هو الله احد ثلاثا فكأنك ختمت القران، وإذا صليت علي وعلى الأنبياء من قبلي فقد صرنا لك شفعاء يوم القيامة، وإذا استغفرت للمؤمنين فكلهم راضون عنك، وإذا قلت : سبحان الله والحمد لله ولا اله إلا الله والله اكبر فقد حججت واعتمرت

Rasulullah bersabda, "Ya Aisyah, jangan engkau tidur sebelum melakukan 4 perkara, yaitu:
1. Sebelum khatam Al Qur’an
2. Sebelum membuat para Nabi memberimu syafaat di hari akhir
3. Sebelum para muslim meridhoi kamu
4. Sebelum kau laksanakan haji dan umroh”

Aisyah bertanya, "Ya Rasulullah, Bagaimana aku dapat melaksanakan empat perkara seketika?"

Rasul kemudian tersenyum seraya bersabda,

1. “Jika engkau tidur bacalah Surat Al Ikhlas tiga kali seakan-akan kau mengkhatamkan Al Quran." (Bismillaahir rahmaanir rahiim, Qulhuallaahu ahad, Allaahushshamad, lam yalid walam yuulad, walam yakul lahuu kufuwan ahad).

2. "Membaca sholawat untukku dan para nabi sebelum aku, maka kami semua akan memberi syafaat di hari kiamat." (Allaahumma shallii a`laa Sayidina Muhammad wa a`laa aalii Sayidina Muhammad).

3. "Beristighfarlah untuk para muslimin maka mereka akan meridhoi kamu." (Astaghfirullaahal adziim lii waliwalidayya waliashaabil mu'miniina wal mu'minaat al ahyaai minhum wal amwaat)

4. "Perbanyaklah bertasbih, bertahmid, bertahlil, bertakbir maka seakan-akan kamu telah melaksanakan ibadah haji dan umroh." (Subhanallaahi Walhamdu lillaahi walaailaaha illallaahu Allaahu Akbar)


Kitab Durratun Nashihin karya Syaikh Ustman bin Hasan bin Ahmad Asy-Syakiri Al-Khoubawy
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Gerhana

Allah Subhanahu Wata'ala Maha Berkuasa dan Maha Mengetahui akan segala kejadian. Dialah juga yang menjadikan apa yang ada di bumi seperti manusia, jin, tumbuh-tumbuhan dan hewan serta menjadikan apa yang ada di langit seperti bulan, matahari dan sebagainya. Allah menjadikan itu semua sebagai bukti yang nyata tentang qodrat, iradat, ilmu, serta nikmat dari Allah Subhanahu Wata'ala yang tiada terhingga, agar itu semua menjadikan makhluk-Nya memuji dan bersyukur kepadaNya serta mengabdikan diri sebagai hamba dengan khusyuk dan tawaduk kepada Allah Subhanahu Wata'ala.

Umat Islam seharusnya percaya dengan penuh yakin bahwa Allah Subhanahu Wata'ala adalah penguasa alam semesta, segala peredaran cakrawala, bumi, bulan, matahari dan seisinya adalah di bawah kekuasaan Allah Subhanahu Wata'ala. Dialah yang menggerakkan. Peredaran bulan dan matahari yang teratur setiap hari secara berganti-ganti, matahari beredar di waktu siang, manakala bulan beredar di waktu malam adalah atas kekuasaan Allah Subhanahu Wata'ala jua dan semuahnya mengandung hikmat dan tujuan tersendiri, Maha Suci Allah yang pengatur sekalian alam ini.

Firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam Surah Ibrahim ayat 33, tafsirnya:
Dan Dia telah menundukkan [pula] bagimu matahari dan bulan yang terus menerus beredar [dalam orbitnya]; dan telah menundukkan bagimu malam dan siang. (33)

Dan suatu tanda [kekuasaan Allah yang besar] bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan, (37) dan matahari berjalan di tempat peredarannya. Demikianlah ketetapan Yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui. (38) Dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga [setelah dia sampai ke manzilah yang terakhir] kembalilah dia sebagai bentuk tandan yang tua [2]. (39) Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. Dan masing-masing beredar pada garis edarnya. (40)

Sesungguhnya Allah menjadikan malam dan siang adalah sebagai tanda kekuasaan atau bukti kekuasaan-Nya, keduanya (malam dan siang) akan mengakibatkan perubahan dan perbedaan cuaca, masa dan waktu. Begitu juga dengan kejadian gerhana, adapun gerhana itu terbagi kepada dua yaitu gerhana matahari dan bulan. Gerhana itu ialah suatu perubahan, suatu kejadian, suatu keagungan dan kebesaran tuhan yang terjadi pada matahari dan bulan, di mana kejadian ini bagi Allah Subhanahu Wata'la amatlah mudah menciptakannya.

Oleh karena itu jika terjadi gerhana matahari atau bulan, itu bukanlah merupakan suatu tanda akan timbul suatu kejadian yang aneh dan mengkhawatirkan, tetapi gerhana itu tidak lain adalah bukti kebesaran Allah, bahwa Allah Subhanahu Wata'ala berkehendak dan berkuasa atas segala sesuatu yang tidak dapat dihalang oleh apapun kekuatan di dunia ini, sebagaimana hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, yang artinya:

عن‏ ‏المغيرة بن شعبة ‏ ‏قال ‏ كسفت الشمس على عهد رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏يوم مات ‏ ‏إبراهيم ‏ ‏فقال الناس كسفت الشمس لموت ‏ ‏إبراهيم ‏ ‏فقال رسول الله ‏ ‏صلى الله عليه وسلم ‏ ‏إن الشمس والقمر لا ينكسفان لموت أحد ولا لحياته فإذا رأيتم فصلوا وادعوا الله

Apabila terjadi gerhana, kita sebagai umat Islam adalah dianjurkan oleh Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam supaya bersegera melakukan amalan-amalan kebajikan seperti berdoa, berzikir, bersembahyang, bertakbir, bersedekah dan beristighfar. Sebagaimana hadis Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam, maksudnya: "Dari A'isyah Radiallahuanha ia berkata: Sabda Rasulullah Sallallahu Alaihi Wasallam: Maka apabila kamu melihat gerhana itu lalu berdoalah kamu kepada Allah Ta'ala, serta berzikir, bersembahyang dan bersedekah. (Riwayat Al-Imam Al-Bukhari).

Oleh karena itu, wahai kaum Muslimin, marilah kita sama-sama mengambil kesempatan ketika terjadi gerhana bulan ini untuk bersegera bertaubat atas segala dosa yang telahkita lakukan, serta memperbanyakkan doa dan istighfar memohon keampunan ke hadrat Allah Subhanahu Wata'ala.

Di samping itu, marilah kita melakukan amal sholih dan menghinkan dari dari melakukan perkara-perkara mungkar dan maksiat serta perbuatan syirik yang bertentangan dengan ajaran agama Islam. Mudah-mudahan kejadian gerhana bulan ini akan menimbulkan keinsafan, menambahkan dan menguatkan lagi keimanan serta ketaqwaan kita kepada Allah Subhanahu Wata'ala. Amin Ya Rabbal’alamin.

Firman Allah Subhanahu Wata'ala dalam Surah Ali 'Imran ayat 190 - 191, tafsirnya:
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal, (190) [yaitu] orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadaan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi [seraya berkata]: "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka (191). Wallahu’alam.



Sumber: My Pesantren
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Adab dan Doa-Doa Saat Bangun Tidur

Ketika engkau terbangun dari tidur, maka berusahalah agar engkau bangun sebelum keluarnya fajar, dan jadikanlah permulaan yang terucap dalam hati dan lisanmu adalah dzikir kepada Allah ta'ala, ucapkanlah ketika terbangun dari tidur,

فصل في آداب الاستيقاظ من النوم فإذا استيقظت من النوم، فاجتهد أن تستيقظ قبل طلوع الفجر، وليكن أول ما يجري على قلبك ولسانك ذكر الله تعالى؛ فقل عند ذلك: الحمدلله الذي أحيانا بعدما أماتنا وإليه النشور، أصبحنا وأصبح الملك لله، والعظمة والسلطان لله، والعزة والقدرة لله رب العالمين،

"Alhamdulillahil ladzi ahyaana ba'da maa amaatanaa wailaihin nusuur" (Segala puji bagi Allah yang menghidupkan aku kembali setelah mematikan aku dan kepada Allah akan bangkit).

"Asbahna wa asbahal mulku lillah, wal'udhmamtu was sulthonu lillah, wal 'izzatu wal qudrotu lillahi robbil 'aalamiin" (Kami telah memasuki waktu pagi dan kerajaan hanya milik Allah, keagungan dan kekuasaan hanya milik Allah, kemuliaan dan kekekuasaan hanyalah milik Allah penguasa alam).

أصبحنا على فطرة الاسلام، وعلى كلمة الاخلاص، وعلى دين نبينا محمد صلى الله عليه وسلم، وعلى ملة أبينا إبراهيم حنيفا مسلما وما كان من المشركين؛

"Asbahna 'alaa fitrotil islam, wa 'alaa kalimatil ikhlas, wa 'alaa diini nabiyyinaa Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam, wa 'alaa millati nabiina Ibraahim hanifam muslimau wamaa kaana minal musyrikin "

Kami telah memasuki waktu pagi dalam keadaan fitrah islam, diatas kalimat ikhlas, di dalam agamanya nabi kita Muhammad Shollallohu 'Alaihi Wasallam, dan pada agamanya ayah kita Ibrahim agama yang hanif, sebagai orang muslim dan nabi ibrahim itu bukanlah termasuk sebgian dari orang-orang yang musyrik.

؛ اللهم بك أصبحنا، وبك أمسينا، وبك نحيا، وبك نموت، وإليك النشور؛ اللهم إنا نسألك أن تبعثنا في هذا اليوم إلى كل خير، ونعوذ بك أن نجترح فيه سوءا أو نجره إلى مسلم، أو يجره أحد إلينا؛ نسألك خير هذا اليوم وخير مافيه ونعوذ بك من شر هذا اليوم وشر ما فيه.

"Allahumma bika ash-bahna, wa bika amsaynaa, wa bika nahyaa, wabika namuut, wa ilaykann nusyuur "

Ya Allah, dengan rahmat dan pertolonganMu kami memasuki waktu pagi, dan dengan rahmat dan perto-longanMu kami memasuki waktu sore. Dengan rahmat dan pertolonganMu kami hidup dan dengan kehendakMu kami mati. Dan kepadaMu kebangkitan (bagi semua makhluk).

Yaa Allah kami mohon kepadamu untuk mengutus kepada kami di hari ini kepada semua kebaikan, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu agar kami tidak melakukan keburukan di hari ini, atau kami menyuruh keburukan kepada orang muslim, atau seseorang menyuruh keburukan kepada kami, kami mohon kebaikannya hari ini dan kebaikan yang yang ada di hari ini, dan kami memohon perlindungan kepada-Mu dari buruknya hari ini dan keburukan yang ada di dalamnya.

فإذا لبست ثيابك فانو به امتثال أمر الله تعالى في ستر عورتك، واحذر أن يكون قصدك من لباسك مراءاة الخلق فتخسر.

Ketika engkau menggunakan baju maka niatkanlah mengikuti perintah Allah ta'ala yaitu untuk menutupi auratmu, dan berhati hatilah dari adanya niatmu memakai baju yaitu pamer terhadap mahluk, maka engkau menjadi rugi.



Kajian Kitab Bidayatul Hidayah Karya Imam Al Ghozzali oleh PISS KTB
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Adab Dalam Majelis (2)

عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا قَامَ اَحَدُكُمْ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ رَجَعَ اِلَيْهِ فَهُوَ اَحَقُّ بِهِ. مسلم 4:
1715

Dari Abu Hurairah, bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila seseorang diantara kalian berdiri dari tempat duduknya, kemudian ia kembali lagi ke tempat itu, maka ia lebih berhak (untuk duduk padanya)”. (HR. Muslim juz 4, hal. 1715)

عَنْ وَهْبِ بْنِ حُذَيْفَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اَلرَّجُلُ اَحَقُّ بِمَجْلِسِهِ، وَ اِنْ خَرَجَ لِحَاجَتِهِ ثُمَّ عَادَ فَهُوَ اَحَقُّ بِمَجْلِسِهِ. الترمذى 4: 183، رقم: 2899

Dari Wahab bin Hudzaifah bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Seseorang itu lebih berhak pada tempat duduknya. Dan apabila ia keluar untuk suatu keperluan, kemudian ia kembali lagi, maka ia lebih berhak pada tempat duduknya itu”. (HR. Tirmidzi juz 4, hal. 183, no. 2899)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص قَالَ: اِذَا كَانَ ثَلاَثَةً فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُوْنَ وَاحِدٍ. مسلم 4: 1717

Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Rasulullah SAW bersabda, “Apabila ada tiga orang, maka tidak boleh berbisik-bisik dua orang, tanpa melibatkan yang satu”. (HR. Muslim juz 4, hal. 1717)

عنْ عَبْدِ اللهِ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: اِذَا كُنْتُمْ ثَلاَثَةً فَلاَ يَتَنَاجَى اثْنَانِ دُوْنَ اْلآخَرِ، حَتَّى تَخْتَلِطُوْا بِالنَّاسِ مِنْ اَجْلِ اَنْ يُحْزِنَهُ. مسلم 4: 1718

Dari ‘Abdullah, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Apabila kalian bertiga, maka tidak boleh dua orang berbisik-bisik tanpa melibatkan yang lain, sehingga kalian bercampur dengan orang banyak, karena bisa membuatnya susah”. (HR. Muslim juz 4, hal. 1718)

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ رض اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: اِيَّاكُمْ وَ اْلجُلُوْسَ بِالطُّرُقَاتِ، فَقَالُوْا: يَا رَسُوْلَ اللهِ، مَا لَنَا مِنْ مَجَالِسِنَا بُدٌّ نَتَحَدَّثُ فِيْهَا. فَقَالَ: اِذَا اَبَيْتُمْ فَاَعْطُوْا الطَّرِيْقَ حَقَّهُ. قَالُوْا: وَ مَا حَقُّ الطَّرِيْقِ يَا رَسُوْلَ اللهِ؟ قَالَ: غَضُّ اْلبَصَرِ، وَ كَفُّ اْلاَذَى، وَ رَدُّ السَّلاَمِ، وَ اْلاَمْرُ بِاْلمَعْرُوْفِ، وَ النَّهْيُ عَنِ اْلمُنْكَرِ. البخارى 7: 126

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy RA, bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Hati-hatilah kalian dari duduk-duduk di jalan”. Para shahabat berkata, “Ya Rasulullah, kami tidak bisa meninggalkan tempat duduk kami sama sekali dimana kami berbincang-bincang padanya”. Maka Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian enggan (meninggalkannya), maka berikanlah hak jalan”. Para shahabat bertanya, “Apa itu hak jalan, ya Rasulullah ?”. Beliau bersabda, “Menundukkan pandangan, menghilangkan gangguan, menjawab salam, amar ma’ruf dan nahi munkar”. (HR. Bukhari juz 7, hal. 126)

عَنْ اَبِى مُوْسَى رض قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَثَلُ اْلجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَ اْلجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ اْلمِسْكِ وَ كِيْرِ اْلحَدَّادِ، لاَ يَعْدَمُكَ مِنْ صَاحِبِ اْلمِسْكِ اِمَّا تَشْتَرِيْهِ اَوْ تَجِدُ رِيْحَهُ، وَ كِيْرُ اْلحَدَّادِ يُحْرِقُ بَدَنَكَ اَوْ ثَوْبَكَ اَوْ تَجِدُ مِنْهُ رِيْحًا خَبِيْثَةً. البخارى 3: 16

Dari Abu Musa RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, "Perumpamaan teman duduk yang shalih dan teman duduk yang buruk adalah seperti penjual minyak wangi dan perapian tukang besi, tidak boleh tidak akan kamu dapati dari penjual minyak wangi itu, boleh jadi kamu membelinya atau mencium bau harumnya, sedangkan perapian tukang besi (bisa) membakar badanmu atau pakaianmu, atau kamu mencium bau busuknya". (HR. Bukhari juz 3, ha. 16)

عَنْ اَبِى مُوْسَى عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: اِنَّمَا مَثَلُ اْلجَلِيْسِ الصَّالِحِ وَ اْلجَلِيْسِ السَّوْءِ كَحَامِلِ اْلمِسْكِ وَ نَافِخِ اْلكِيْرِ. فَحَامِلُ اْلمِسْكِ اِمَّا اَنْ يُحْذِيَكَ وَ اِمَّا اَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ وَ اِمَّا اَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيْحًا طَيّبَةً. وَ نَافِخُ اْلكِيْرِ اِمَّا اَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ وَ اِمَّا اَنْ تَجِدَ رِيْحًا خَبِيْثَةً. مسلم 4: 2026

Dari Abu Musa, dari Nabi SAW, beliau bersabda, "Sesungguhnya perumpamaan teman duduk yang baik dan teman duduk yang buruk adalah seperti pembawa minyak wangi dan tukang pandai besi. Adapun pembawa minyak wangi, boleh jadi ia akan memberimu atau kamu akan membeli (minyak wangi) darinya, atau kamu akan mendapati bau harumnya. Adapun tukang pandai besi, boleh jadi akan membakar pakaianmu, atau kamu akan mendapatkan bau busuknya". (HR. Muslim juz 4, hal. 2026)

عَنْ اَنَسٍ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص: مَثَلُ اْلجَلِيْسِ الصَّالِحِ كَمَثَلِ صَاحِبِ اْلمِسْكِ اِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْهُ شَيْءٌ اَصَابَكَ مِنْ رِيْحِهِ وَ مَثَلُ اْلجَلِيْسِ السُّوْءِ كَمَثَلِ صَاحِبِ اْلكِيْرِ اِنْ لَمْ يُصِبْكَ مِنْ سَوَادِهِ اَصَابَكَ مِنْ دُخَانِهِ. ابو داود 4: 259، رقم: 4829

Dari Anas, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda, “Perumpamaan teman duduk yang baik seperti pemilik minyak wangi, jika kamu tidak mendapatkan dari minyaknya sedikitpun, paling tidak kamu mencium bau wanginya. Dan perumpamaan teman duduk yang buruk adalah seperti tukang pandai besi, jika kamu tidak terkena hitam-hitamnya, paling tidak kamu mendapatkan bau busuknya. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 259, no. 4829)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Adab Dalam Majelis (1)

ياَيُّهَا الَّذِيْنَ امَنُوْآ اِذَا قِيْلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوْا فِى اْلمَجلِسِ فَافْسَحُوْا يَفْسَحِ اللهُ لَكُمْ، وَ اِذَا قِيْلَ انْشُزُوْا فَانْشُزُوْا يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ امَنُوْا مِنْكُمْ وَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا اْلعِلْمَ دَرَجتٍ، وَ اللهُ بِمَا تَعْمَلُوْنَ خَبِيْرٌ. المجادلة: 11

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu, “Berlapang-lapanglah dalam majlis”, maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan, “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS. Al-Mujadalah : 11)

عَنْ جَابِرِ بْنِ سَمُرَةَ قَالَ: كُنَّا اِذَا اَتَيْنَا النَّبِيَّ ص جَلَسَ اَحَدُنَا حَيْثُ يَنْتَهِى. ابو داود و 4: 258، رقم: 4825

Dari Jabir bin Samurah, ia berkata, “Adalah kami apabila datang kepada Nabi SAW, seseorang diantara kami duduk dimana saja ia sampai”. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4825)

عَنْ اَبِى سَعِيْدِ اْلخُدْرِيّ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ ص يَقُوْلُ: خَيْرُ اْلمَجَالِسِ اَوْسَعُهَا. ابو داود 4: 257، رقم: 4820

Dari Abu Sa’id Al-Khudriy, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik majlis adalah yang luas (longgar)”. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 257, no. 4820)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ اِلىَ رَسُوْلِ اللهِ ص فَقَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ فَذَهَبَ لِيَجْلِسَ فِيْهِ، فَنَهَاهُ رَسُوْلُ اللهِ ص. ابو داود 4: 258، رقم: 4828

Dari Ibnu ‘Umar, ia berkata : Ada Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah SAW, lalu ada seorang laki-laki yang lain bangkit dari tempat duduknya, lalu pergi agar didudukinya. Lalu Rasulullah SAW melarangnya. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4828)

عَنْ سَعِيْدِ بْنِ اَبِى اْلحَسَنِ قَالَ: جَاءَنَا اَبُوْ بَكْرَةَ فِى شَهَادَةٍ، فَقَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ، فَاَبَى اَنْ يَجْلِسَ فِيْهِ، وَ قَالَ: اِنَّ النَّبِيَّ ص نَهَى عَنْ ذَا. ابو داود 4: 258، رقم: 4827

Dari Sa’id bin Abul Hasan, ia berkata: Abu Bakrah datang dalam suatu kesaksian, lalu ada seorang laki-laki yang bangkit dari tempat duduknya, maka Abu Bakrah enggan untuk duduk pada tempat tersebut, dan ia berkata, “Sesungguhnya Nabi SAW melarang dari yang demikian itu”. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4827)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لاَ يُقِيْمَنَّ اَحَدُكُمُ الرَّجُلَ مِنْ مَجْلِسِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ. مسلم 4: 1714

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian menyuruh seseorang berdiri dari tempat duduknya, lalu ia mendudukinya”. (HR Muslim juz 4, hal. 1714)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ اَنَّ النَّبِيَّ ص قَالَ: لاَ يُقِيْمَنَّ اَحَدُكُمْ اَخَاهُ ثُمَّ يَجْلِسُ فِى مَجْلِسِهِ. وَ كَانَ ابْنُ عُمَرَ اِذَا قَامَ لَهُ رَجُلٌ مِنْ مَجْلِسِهِ لَمْ يَجْلِسْ فِيْهِ. مسلم 4: 1714

Dari Ibnu ‘Umar bahwasanya Nabi SAW bersabda, “Janganlah sekali-kali seseorang diantara kalian menyuruh saudaranya untuk berdiri, lalu ia menempati tempat duduknya”. Dan adalah Ibnu‘Umar apabila ada seorang laki-laki yang berdiri dari tempat duduknya untuk menghormatinya, ia tidak mau duduk padanya. (HR. Muslim juz 4, hal. 1714)

عَنِ ابْنِ عُمَرَ عَنِ النَّبِيّ ص قَالَ: لاَ يُقِيْمُ الرَّجُلُ الرَّجُلَ مِنْ مَقْعَدِهِ ثُمَّ يَجْلِسُ فِيْهِ، وَ لكِنْ تَفَسَّحُوْا وَ تَوَسَّعُوْا. مسلم 4: 1714

Dari Ibnu ‘Umar, dari Nabi SAW, beliau bersabda, “Janganlah seseorang menyuruh orang lain untuk berdiri dari tempat duduknya lalu ia duduk di situ, akan tetapi longgarkanlah dan luaskanlah”. (HR Muslim juz 4, hal. 1714)

عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ اَبِيْهِ عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو عَنْ رَسُوْلِ اللهِ ص قَالَ: لاَ يَحِلُّ لِرَجُلٍ اَنْ يُفَرّقَ بَيْنَ اثْنَيْنِ اِلاَّ بِاِذْنِهِمَا. ابو داود 4: 262، رقم: 4845

Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari Abdullah bin ‘Amr, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Tidak halal bagi seseorang untuk memisahkan diantara dua orang (yang duduk), kecuali dengan izin dari keduanya”. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 262, no. 4845)

عَنْ حُذَيْفَةَ اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ ص لَعَنَ مَنْ جَلَسَ وَسَطَ اْلحَلْقَةِ. ابو داود 4: 258، رقم: 4826

Dari Hudzaifah, bahwasanya Rasulullah SAW melaknat orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran orang. (HR. Abu Dawud juz 4, hal. 258, no. 4826)

عَنْ اَبِىْ مِجْلَزٍ اَنَّ رَجُلاً قَعَدَ وَسَطَ اْلحَلْقَةِ. فَقَالَ حُذَيْفَةُ: مَلْعُوْنٌ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ ص اَوْ لَعَنَ اللهُ عَلَى لِسَانِ مُحَمَّدٍ ص مَنْ قَعَدَ وَسَطَ اْلحَلْقَةِ. الترومذى 4: 183، رقم: 2901، و قال حديث حسن صحيح

Dari Abu Mijlaz bahwasanya ada seorang laki-laki duduk di tengah-tengah lingkaran orang, maka Hudzaifah berkata, “Ia dilaknat atas lisan Nabi Muhammad SAW” atau “Allah mela’nat atas lisan Nabi Muhammad SAW terhadap orang yang duduk di tengah-tengah lingkaran orang”. (HR. Tirmidzi, juz 4, hal. 183, no. 2901, dan ia berkata : Hadits hasan shahih)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Alasan Rasulullah Tidur di Depan Pintu

Siti Aisyah RA mengerti betul kepribadian suaminya, Rasulullah SAW. Hidup dalam suasana keluarga memberinya kenangan indah yang kaya dari sikap keseharian utusan Allah itu.

Nabi diketahui tak pernah mengeluh meski keadaan kurang mendukung. Hatinya sangat lapang. Pernah Nabi tak medapati makanan apapun untuk sarapan di meja dapurnya. Seketika Nabi berniat puasa untuk hari itu.

Begitulah, Rasulullah tak ingin menjadi beban orang lain, termasuk keluarganya sendiri. Nabi bahkan selalu memanggil Aisyah dengan sapaan mesra ”ya humaira” (wahai pemilik pipi kemerah-merahan).

Pengalaman lain yang tetap membekas di hati Aisyah adalah ”peristiwa di pagi buta”. Suatu hari Aisyah dicengkram rasa khawatir. Hingga menjelang shubuh ia tidak menjumpai suaminya tersebut tidur di sebelahnya.

Dengan gelisah Aisyah pun mencoba berjalan keluar. Ketika pintu dibuka, Aisyah terbelalak kaget. Rasulullah sedang tidur di depan pintu.

"Mengapa Nabi tidur di sini?"

"Aku pulang larut malam. Karena khawatir mengganggu tidurmu, aku tak tega mengetuk pintu. Itulah sebabnya aku tidur di depan pintu," jawab Nabi.

Dengan demikian, tidak aneh, setiap Aisyah ditanya soal kepribadian Nabi, ia selalu menjawab tegas, kana khuluquhu al-qur'an. Akhlaknya tak ubahnya al-Qur'an!



Ust. Mahbib Khoiron
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger