Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , , » Dandangan, Berkah Pedagang Jelang Ramadhan di Kota Kudus

Dandangan, Berkah Pedagang Jelang Ramadhan di Kota Kudus

Bila Yogyakarta punya Sekatenan dan Semarang dengan Dugderan, kota Kudus punya Dandangan. Wujudnya adalah pasar malam dari kawasan Menara Kudus melintasi Jalan Sunan Kudus, rumah kuno kembar milik keluarga Nitisemito, jembatan Sungai Gelis, hingga alun-alun Simpang Tujuh kota. Tradisi puluhan tahun yang membuat kota Kudus bagai tak pernah tidur setiap jelang Ramadhan.



Kata Dandangan sendiri berawal dari bunyi beduk besar di masjid Menara Kudus, ”dang-dang-dang”, menggema setiap pasar malam di kota soto dan jenang itu untuk sambut bulan puasa. Sehingga, warga pun menyebutnya Dandangan. Pada yaman dahulu sekitar tahun 1450-an masyarakat Kudus berkumpul di depan Menara Masjid "Al Aqsha" yang kini populer dengan sebutan Masjid "Menara" Kudus, menunggu pengumuman awal puasa Ramadhan dari Syeikh Dja'far Sodiq (dikenal dengan sebutan Sunan Kudus). Setelah keputusan awal puasa itu disampaikan oleh Kanjeng Sunan Kudus, maka dipukullah beduk di Masjid Menara Kudus, "dang-dang-dang", begitu bunyinya. Konon, puncak malam Dandangan pada masa lampau juga menjadi malam yang ditunggu karena gadis-gadis cantik warga Kudus Kulon pun keluar rumah untuk menikmati Dandangan.



Namun seiring perkembangannya "Dandangan Yang dulu dikenal dengan acara tabuh beduk saja, sekarang menjelma menjadi acara selayaknya pasar malam.Banyak pedangang kaki lima menjajakan segala macam dagangannya.Menurut para pedagang,mereka tidak hanya ingin sekedar mencari keuntungan dari dagangannya,namun ingin juga memperoleh berkah dari Sunan Kudus. Yang jelas, berkah itu datang dari Allah dalam bentuk dagangan yang laris manis menjelang Ramadhan dan Lebaran, sebagai rejeki untuk anak istri.

Puncak Dandangan, yaitu pada malam hari jelang esoknya hari pertama puasa, merupakan malam yang ramai dan macet. Sebab, selain jalanan penuh oleh para pedagang makanan, minuman, pakaian, dan mainan anak, pada malam itu juga terkenal dengan istilah boboran (barang dagangan yang dijual secara murah di malam penghabisan). Para pedagang yang mremo (berdagang secara musiman) dengan berbagai jenis produk, dari yang modern hingga tradisional, berbaur memberi warna Dandangan. Para pedagang yang membuka lapak berdatangan dari berbagai kota di daerah, seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, dan bahkan dari Jakarta. Demikian juga para pengunjung, apalagi setelah sholat tarawih di malam pertama Ramadhan juga tidak hanya datang dari kalangan warga Kudus, tetapi juga banyak dari luar daerah yang jyga bertujuan untuk ziarah dan berdoa di komplek pemakaman Sunan Kudus dan masjid Al Aqsho Menara Kudus.



Demikianlah, barokah dan rejeki datangnya tak disangka-sangka. Dari sebuah tradisi menunggu pengumuman awal Ramadhan, menjadi sebuah ladang rejeki bagi mereka yang mau berusaha dengan tidak melupakan ibadah kepada Allah. Allah SWT tidak akan mengubah kehidupan suatu kaum kecuali atas usaha mereka sendiri.


JANGAN LUPA MAMPIR KE KUDUS, TEMUKAN KEAJAIBANNYA....
Ngkus (Admin 2)
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger