Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Tampilkan postingan dengan label Seputar Kudus. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Seputar Kudus. Tampilkan semua postingan

Ngaji Al Qur'an Menurut KH. Arwani Amin Kudus


Kuncine Ngaji Al Qur'an iku ono telu:

1. Ojo nyawang sopo gurune (Jangan melihat siapa gurunya)

2. Ora usah isin karo umur (Jangan malu karena umur)

3. Suwe waktune (lama waktu tempuhnya)

Ora gelem ngaji Al Qur'an mergo pangkat/kedudukan gurune luwih rendah? Gusti Kanjeng Nabi Muhammad SAW iku muride malaikat Jibril As ing babakan Wacan Al Qur'an. Beliau ora isin ngaji Al Qur'an (musyafahah) marang Malaikat Jibril senajan secara pangkat derajat/kedudukan malaikat Jibril as iku luwih rendah.

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena kedudukan guru lebih rendah. Nabi Muhammad SAW saja tidak malu mengaji alquran kepada malaikat Jibril walaupun derajat Rasululloh jauh di atas malaikat Jibril.

Males ngaji Al Qur'an mergo umur wis Tua? Gusti kanjeng Nabi Muhammad SAW iku mulai ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as umur 40 tahun.

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji Al Qur'an karena umur sudah tua. Nabi Muhammad saja mulai belajar al Qur'an kepada malaikatJibril pada umur 40 tahun.

Isin ngaji Al Qur'an mergo suwe waktune? Kanjeng Nabi SAW ora pernah ngrasa isin (minder) ngaji Al Qur'an marang malaikat Jibril as awit beliau SAW umur 40 tahun tekane 63 tahun (wafat).

Artinya: Tidak boleh ada lagi alasan tidak mau mengaji al Qur'an karena waktunya lama. Nabi Muhammad saja menerima wahyu al Qur'an 23 tahun lamanya.

ﺍﻟﻠﻬﻢ ﺻﻞ ﻭﺳﻠﻢ ﻋﻠﻰ ﺳﻴﺪﻧﺎ ﻣﺤﻤﺪ ﻭﻋﻠﻰ ﺍﻟﻪ ﻭﺻﺤﺒﻪ ﺍﺟﻤﻌﻴﻦ

Semoga kita dan keturunan kita dijadikan sebagai ahli qur'an.



M. Luqmanul Hakim Habibie
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Mbah Surgi Murang Djoyo, Cikal Bakal Desa Pasuruhan


Menurut cerita lisan dari para orang tua dahulu, asal nama Desa Pasuruhan Lor diambil ‎dari sebuah nama daerah di Jawa Timur bernama Pasuruan. Hal ini lantaran leluhur atau ‎ cikal bakal yang telah diyakini sejak dahulu dari para orang tua hingga turun temurun sampai ‎sekarang, bahwa Mbah Surgi Murang Joyo adalah pepunden desa yang aslinya berasal dari ‎Pasuruan Jawa Timur.‎

Konon, dahulu Sunan Kudus mempunyai anak yang berguru pada seseorang di daerah ‎Pasuruan Jawa Timur. Melihat anaknya yang jauh-jauh mencari ilmu dan berguru sampai ‎daerah Jawa Timur, Sunan Kudus meminta kepada anaknya agar mengajak gurunya ke Kudus ‎untuk mengajarkan ilmunya di Kudus. Atas permintaan Sunan Kudus, kemudian guru anak ‎Sunan Kudus bersedia datang ke Kudus. Guru anak Sunan Kudus tersebut berjalan ke Kudus ‎dengan menggendong anak Sunan Kudus. Setelah menempuh perjalanan jauh akhirnya ‎sampailah di Kudus.


Saat melewati pintu kembar Menara Kudus, guru anak Sunan Kudus ‎lemas dan terjatuh di daerah sekitar Jember sebelah barat Menara Kudus. Melihat kondisi ‎gurunya yang lemas, anak Sunan Kudus kemudian menyuruh anaknya kembali menemui ‎gurunya agar membaca syahadat. Setelah menjalani apa yang di perintahkan oleh Sunan ‎Kudus, yaitu membaca Syahadat, maka guru anak Sunan Kudus dapat berdiri kembali dan ‎minta agar dipertemukan kepada Sunan Kudus. Singkat cerita, kemudian guru anak Sunan ‎Kudus malah menjadi murid Sunan Kudus.‎

Guru anak Sunan Kudus yang menjadi murid Sunan Kudus, tak lain adalah Murang ‎Joyo. Setelah sekian lama menjadi muridnya, kemudian oleh Sunan Kudus, Murang Joyo ‎diberikan suatu tempat untuk menetap di sebelah barat daya. Murang Joyo kemudian berjalan ‎menuju ke barat daya, sampai pada suatu tempat di persimpangan yang sekarang dikenal ‎dengan nama Tugu Telon (yang merupakan perbatasan tiga desa Pasuruhan Lor, Prambatan ‎dan Purwosari). Di tempat tersebut, Murang Joyo kebingungan mencari tempat yang di ‎maksudkan oleh Sunan Kudus. Hingga Akhirnya Murang Joyo melihat ke selatan. Ada kilatan ‎cahaya yang menunjuk sebuah pohon Gandri dan dianggap sebagai pertanda sebagai tempat ‎yang ditunjukkan oleh Sunan Kudus.‎

Selanjutnya, Murang Joyo berjalan keselatan menuju arah pohon Gandri. Dalam cerita, ‎Murang Joyo diberikan wasiat berupa Kembang Putih (bahasa jawa : Sekar Petak) yang ‎kemudian di kenal menjadi nama sebuah pedukuhan ”Sekar Petak”. Setelah sekian lama ‎menetap dan mempunyai banyak pengikut, kemudian oleh pengikutnya pedukuhan ini penjadi ‎sebuah desa dan di beri nama Pasuruhan, merujuk dari asal nama daerah Mbah Murang ‎Joyo. Dalam perkembangannya, karena semakin banyaknya masyarakat kemudian Pasuruhan ‎di bagi manjadi 2 bagian yaitu wilayah selatan dan wilayah utara. Untuk wilayah selatan ‎menjadi Desa tersendiri yaitu Pasuruhan Kidul dan wilayah utara juga menjadi desa ‎sendiri yaitu Pasuruhan Lor



Abu Nayya, Pasuruan Lor
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Sunan Kedu, Penyebar Dakwah Islam di Desa Gribig

Kanjeng Sunan Kedu lahir di Parakan Kabupaten Temanggung (daerah sentra tembakau) yang merupakan Putra dari Sunan Abdullah Taqwim. Ketika masih kecil beliau bernama Abdul Hakim. Pada saat beranjak dewasa, beliau belajar ke Mekah untuk memperdalam ilmu agama. Setelah kembali dari Mekah, beliau diberi gelar Sunan Kedu / Syeih Abdul Basyir (setingkat wali). Beliau mempunyai lima saudara dan di Desa Gribig ada dua saudara.

Untuk menjalankan kehidupannya Beliau sangat gigih dalam menjalankan syariat Islam dan pemerintahan. Untuk itu Beliau dipercaya sebagai Tumenggung / sejajar dengan Wedono oleh Kerajaan Demak dan Beliau datang ke Gribig sekitar tahun 1576 M.

Kedatangan Sunan Kedu ke Kudus sendiri karena beliau mempunyai unek-unek yang kurang enak untuk dipendam sendiri. Sehingga beliau ingin disampaikan kepada Sunan Kudus. Beliau ke Kudus tidak menggunakan kendaraan seperti biasa tetapi dengan mengendarai tampah. Saat sampai ke Kudus, Sunan Kedu belum tahu tempat tinggal Sunan Kudus. Beliau mengelilingi kota Kudus sembari mencari tempat Sunan Kudus. Kedatangan Sunan Kedu dengan mengendarai tampah, membuat orang-orang Kudus heran sehingga terjadi keributan. Keributan itu sampai ke telinga Sunan Kudus. Karena khawatir orang-orang akan meniru kesaktiannya bukan agamanya, akhirnya Sunan Kudus menunjuk tampah itu kemudian Sunan Kedu pun jatuh ke jember yang artinya daerah daerah yang becek. Sehingga tempat dimana Sunan Kedu saat jatuh ke jember dinamakan Desa Jember.

Saat jatuh, beliau berpikir dimana mencari air. Lalu beliau merambat ke selatan yang sekarang tempat itu dinamakan Desa Prambatan. Kemudian beliau menuju ke timur menuju Desa Damaran, terus berjalan ke timur lagi menuju Desa Mbetekan. Kemudian menuju ke arah utara, disini beliau menemukan telaga kecil, lalu beliau menyucikan diri. Sekarang tempat itu dinamakan Desa Sucen. Sehingga pada akhirnya beliau bertemu dengan Sunan Kudus di tempat itu (Desa Sucen). Setelah bertemu dengan Sunan Kudus (Syaikh Jafar Sodiq) , beliau menceritakan unek-unek yang memang menjadi tujuan pertamanya.

Beliau nyantri di Mbah Sunan Kudus dan menjadi muridnya. Beliau ditempatkan di Desa Gribig untuk menjalankan syiar Islam di Kudus dan sekitarnya, khususnya di Desa Gribig. Sunan Kedu menjalankan syiar Islam dengan cara bertani. Beliau wafat sekitar tahun 1612 M. Jadi, keberadaan Kanjeng Sunan Kedu di Desa Gribig sekitar 36 tahun.  Peninggalan Sunan Kedu masih dapat kita lihat sampai sekarang yaitu:

Masjid At-Tagwa 

Sunan Kedu mendirikan masjid At-Taqwa sekitar tahun 1599 M pada hari Jum’at Pahing dan didirikan sekitar 3 Minggu. Pendirian masjid ini dibantu para santri Mbah Sunan Kudus. Bagian yang masih asli yaitu empat soko (penyangga) yang sampai sekarang belum dirubah. Di belakang masjid terdapat makam. Makam tersebut adalah makam Mbah Hadi Wijoyo (Putra Sunan Kedu) dan dua kerabatnya. 

Watu Kenong 

Batu alam atau yang lebih dikenal dengan watu kenong yang berada di belakang masjid digunakan Sunan Kedu untuk berdo’a secara khusus. Watu kenong berada di belakang Masjid At-Taqwa. pada zaman dahulu banyak orang yang nyepi di batu kenong peninggalan Sunan Kedu tersebut untuk mensucikan hati, namun hanya duduk di samping batu tersebut tidak ada yang berani duduk di batu kenong apalagi melempar batu kenong tersebut, jika hal tersebut dilakukan batu tersebut mental dari orang yang mencoba menduduki atau melempar. Sehingga sekarang sudah tidak ada yang berani menepi di batu tersebut. 

Mbelik Sumber Joyo ( Mbelik Pundung )

Mbelik Sumber Joyo (Mbelik Pundung) adalah sumber mata air kehidupan yang letaknya tidak jauh dari masjid. Mbelik Pundung ini digunakan tempat wudhu Sunan Kedu. Mbelik Pundung terletak di sebelah timur masjid. Dahulu kala di mbelik (pundung) adalah satu-satunya akses untuk membawa air, yang digunakan untuk mandi, untuk minum, membersihkan penyakit. Dulu apabila ada warga yang gatal-gatal dan mandi di mbelik tersebut penyakit tersebut dapat hilang, begitu juga dengan penyakit-penyakit yang lain hanya dengan minum airnya bisa sembuh. Dulu mbelik asli tanpa ada`batu batanya tapi sekarang sudah dikelilingi batu bata.

Sumur Bertempat di sebelah kanan masjid

Sumur tersebut sekarang sudah ditutup. Kabarnya airnya tidak bening melainkan berwarna putih. 

Untuk menghormati jasa-jasa Sunan Kedu sekaligus napak tilas kehidupan beliau dan memperkenalkan jasa-jasa beliau ke generasi penerus, setiap tanggal 13 Syuro masyarakat dan pihak Dinas Pariwisata Kudus mengadakan acara buka luwur di komplek makam Sunan Kedu yang juga diisi dengan kegitan pengajian dan dzikir bersama.


Ditulis oleh: Retsa Insantia (PGSD UMK 2012)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Berwisata Di Air Terjun Muria

Wisata alam merupakan salah satu destinasi liburan yang akhir-akhir ini menjadi favorit para remaja. Tak terkecuali wisata di daerah pegunungan. Saya bahkan pernah naik kereta yang satu gerbong berisi para pewisata alam dengan tas-tas ransel besarnya yang memenuhi gerbong kereta. Rata-rata mereka adalah remaja, remaja yang sedang mengisi liburan sekolah atau mungkin hanya sekedar iseng jalan-jalan menghabiskan waktu.


Segala sesuatu ciptaanNya tidak ada yang sia-sia. Pemandangan alam selalu menyejukkan mata untuk menikmatinya. Bahkan tak jarang menghasilkan pundi-pundi uang bagi siapapun yang pandai mengambil peluang.


Jawa Tengah sebagai propinsi yang terkenal memiliki alam yang indah pun tak ketinggalan menawarkan berbagai tujuan wisata alam. Salah satunya adalah kawasan alam Gunung Muria di Kudus. Konon, Kawasan Muria ini dahulu dipisahkan oleh selat yang disebut Selat Muria hingga terpisah dari daratan Jawa Tengah seperti yang kita kenal saat ini.


Gunung Muria, selain sebagai destinasi wisata alam juga terkenal sebagai destinasi wisata religi. Hal itu disebabkan karena banyaknya peziarah lokal maupun luar daerah, bahkan hingga berasal dari luar negeri yang datang ke Gunung Muria ini untuk berziarah ke Makam Sunan Muria, salah satu anggota dari Wali Songo.

  
Banyak sekali destinasi wisata alam yang ditawarkan di Gunung Muria ini. Diantara yang terkenal adalah Sumber Mata Air Rejenu yang memiliki tiga rasa, Puncak Dua Sembilan yang sangat disukai oleh para pendaki gunung, dan satu lagi wisata Air Terjun Montel.



Air Terjun Montel sangat terkenal di kalangan anak muda, terutama di Kota Kudus karena keindahan alamnya. Kesan pertama menginjakkan kaki di Kawasan Wisata Air Terjun Montel ini sungguh luar biasa. Sejuk, adem, dan tentunya indah alami. Berwisata seperti ini sangat cocok bagi Sahabat yang penat dan lelah karena aktivitas pekerjaan maupun sekolah.


Untuk mencapai Air Terjun Montel, Sahabat wajib datang terlebih dahulu ke kawasan Gunung Muria yang tepatnya berada di  Kudus bagian utara di Kecamatan Dawe. Bagi Sahabat yang menaiki mobil atau kendaraan umum diharuskan memarkir kendaraannya di jalan atau terminal sebelum tangga pendakian menuju Makam Sunan Muria. Dari situ Sahabat bisa menyewa jasa Ojek Muria. Untuk menuju kawasan Air Terjun Montel, tukang Ojek Muria mematok tarif Rp 10.000,00.


Ada pengalaman menarik yang akan Sahabat rasakan saat menaiki Ojek Muria ke Kawasan Air Terjun Montel ini. Adrenalin Sahabat akan terpacu karena jalur yang dilewati ojek ini tergolong ekstrim. Pendakian terjal dengan lebar jalan yang sempit dan tergolong ngebut, menjadikan perjalananmu tak akan pernah terlupakan. Belum lagi ketika melewati tikungan yang tajam sebelum pintu masuk Kawasan Air Terjun Montel. Pasti membuat Sahabat deg-degan. Yah, setidaknya itu yang saya rasakan. Tapi tenang, keselamatan tetap terjamin karena Tukang Ojek Muria merupakan Tukang Ojek yang sudah terlatih dan terbiasa melewati jalur-jalur Ekstrim itu. Tukang Ojek akan mengantarkan Sahabat sampai ke dalam kawasan air terjun.


Bagi Sahabat yang membawa motor, Sahabat bisa parkir di tempat parkir motor yang telah disediakan di sekitar pintu masuk. Jangan coba membawa motor ke dalam kawasan air terjun ya, karena tak ada jaminan keamanan, kecuali Sahabat mau jaga motor sendiri di situ dan tak ikut jalan ke air terjun.



Untuk memasuki kawasan air terjun ini dipungut biaya hanya Rp 7.500,00 yang pastinya cukup murah bukan? Masuk ke kawasan air terjun, Sahabat akan disambut suara burung-burung berkicau dan indahnya tumbuhan-tumbuhan hijau. Ada juga kebon kopinya lho, benar-benar alami dan sejuk. Apalagi jalan menuju ke air terjun adalah jalan yang terbuat dari bebatuan yang tertata rapi dan cantik. Cocok banget buat yang pengen “nyeker” alias berjalan tanpa alas kaki.  Oh iya sekedar mengingatkan, bagi para wisatawan yang akan mengunjungi Air Terjun Montel diharapkan tidak membawa sandal atau sepatu berhak tinggi karena akan menyakitkan. Namun, jika sudah terlanjur, tak usah khawatir karena banyak pedagang sandal karet yang ada di sekitar jalan menuju ke air terjun.


Sekawanan monyet akan menyambut  Sahabat dari ranting-ranting pepohonan yang rimbun. Yah, monyet hutan asli dan bukan monyet kebon binatang. Monyet-monyet itu tidak berbahaya, karena mereka tidak minta makanan ke pengunjung. Mereka hanya bergelantungan di atas pohon mencari makanan sebagai mana monyet hutan lainnya.


Perjalanan menuju ke air terjun dari tempat berhentinya tukang ojek hanya dicapai dalam beberapa menit saja. Air Terjun Montel dikelilingi bebatuan yang berukuran besar dan dinding-dinding bebatuan yang seolah-olah dicat hijau karena rimbunnya pepohonan di kawasan ini. Air terjun ini ramai dikunjungi saat liburan atau pada hari Sabtu dan Minggu.






Pengunjung dapat dengan bebas mendekati air terjun karena tidak terlalu dalam. Bahkan anak-anak pun banyak yang bermain di bawah air terjun. Namun, saat cuaca buruk dan hujan deras melanda kawasan Gunung Muria, pengunjung dilarang mendekati air terjun karena dikhawatirkan datang air yang cukup besar dari atas tebing. Bahkan menurut pedagang yang setiap harinya berdagang di sekitar air terjun, ketika banjir air bisa sampai menenggelamkan warung-warung yang memang tersedia di dekat air terjun tersebut.


Ada satu hal yang saya soroti dari kunjungan saya ke Air Terjun Montel yang mungkin dapat dijadikan masukan ke pengelola kawasan wisata ini untuk memberikan arahan kepada para pedagang agar lebih profesional dalam menjajakan dagangannya

Maraknya pedagang yang terkesan “memaksa” pengunjung untuk membeli barang dagangannya dengan harga yang bisa dua kali lipat. Apalagi jika pengunjung membawa anak kecil, pedagang akan langsung memberikan barang dagangannya (snack) ke anak itu. Dan namanya anak kecil, tentu ketika snack sudah ada di tangan, mau tidak mau ia akan merengek meminta orang tuanya membelikan. 

Saya sih memandang dari sisi positifnya saja, mungkin ini adalah kreatifitas para pedagang agar dagangannya cepat laku untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, dan saya pun tak mau ketinggalan mencoba membeli snack dari salah seorang pedagang. Snack yang di luar dipasarkan sekitar Rp 2.000,00 dijual dengan harga Rp 5.000,00. Namun, cara berdagang yang seperti itu tidak akan banyak mengganggu kenyamanan pengunjung saat berwisata. Kita anggap saja sebagai ladang amal jariyah, karena dibukanya kawasan wisata ini juga merupakan berkah tersendiri bagi penduduk setempat. Entoh, tak ada ruginya mengeluarkan beberapa lembar uang ribuan untuk berbagi rejeki dengan para pedagang setempat.

Jangan lupa untuk tidak membuang sampah sembarangan lho ya. Bekas bungkus makanan dapat Sahabat taruh di tempat-tempat sampah yang tersedia di sekitar lokasi air terjun. Yuk kita jaga kebersihan di tempat-tempat wisata.


Secara keseluruhan Wisata Alam Air Terjun Montel di Gunung Muria ini recommended banget untuk dikunjungi. Tak hanya keindahan alam, bagi Sahabat pecinta olah raga motor, tak ada salahnya naik ojek menuju ke air terjun ini dan pacu adrenalinmu. Selain itu, Sahabat juga bisa menikmati kuliner Pecel Pakis yang legendaris itu. Selamat berwisata di Kudus, Jawa Tengah…



Foto-foto tersebut adalah koleksi pribadi Admin MRO
Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Menu Khusus Ala Kudus

Berselancar di twitter melihat twit dari teman-teman sungguh merupakan suatu hal yang menurut saya menyenangkan. Kita bisa dapatkan informasi, ilmu, dan sesuatu yang membuat kita berfikir kreatif. Hingga tak terasa mata saya tertuju pada salah satu twit dari akun Twitter yang saya follow yaitu @VisitJawaTengah milik Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Jawa Tengah. Ternyata ada lomba blog bertemakan Visit Jawa Tengah. Hal yang telah lama saya nantikan karena dengan lomba seperti itu, saya bisa mempromosikan kota saya yang saya cintai yaitu Kota Kudus ke seluruh dunia melalui dunia maya seperti yang biasa saya lakukan sebagai salah satu admin di akun twitter @mushollarapi. Ya… selain berharap bisa menang dan dapat hadiah tentunya.

Saya berasal dari Kota Kudus, asli Kudus, tinggal dan dibesarkan di Kota Kudus, kota yang terkenal dengan industri kreteknya dan kota yang sangat religius dengan berbagai tujuan wisata religi dan pondok-pondok pesantren yang terkenal . Kebetulan Kota Kudus baru saja memasuki usia ke yang ke 466 pada tanggal 23 September 2016 yang lalu, sehingga momen lomba blog bertemakan Visit Jawa Tengah ini sangat relevan untuk saya ikuti, karena Kudus merupakan salah satu kota yang cukup menarik dijadikan sebagai tujuan wisata di Jawa Tengah.

Mungkin, ketika orang berpikir tentang pariwisata maka yang terngiang di benaknya adalah tempat-tempat menarik untuk berwisata. Namun, disini saya akan mencoba mengulas segi pariwisata dari sisi kuliner yang langka. Dan tentu, karena saya asli Kudus maka yang akan sedikit saya kupas adalah kuliner-kuliner langka khas Kota Kudus.

Berbicara kuliner khas Kota Kudus, kita tentu sudah mengenal Jenang Kudus yang mendunia, Soto Kudus yang sudah menjadi menu wajib di berbagai restoran di Indonesia,  dan Sate Besusul yang biasa kita temukan di angkringan. Namun, di sini saya akan membahas kuliner khas Kota Kudus yang mungkin akan sangat sulit ditemukan di kota-kota lain (ilustrasi gambar berasal dari google dan wikipedia).

Lentog Tanjung

Lentog itu lontong dan Tanjung itu sebuah kawasan yang berada di Kecamatan Jati Kudus. Lentog tanjung adalah makanan khas Kudus yang biasanya dijual pagi hari sebagai menu sarapan. Bahan utamanya adalah lontong yang dibungkus dengan daun pisang, bukan plastik, bukan juga ketupat dan yang harus ada yaitu sayur nangka muda yang ditumbuk halus. Masyarakat Kudus biasa menyebutnya “Tewel”.  Lentog Tanjung ini sepertinya hanya tersedia di Kudus saja, karena kemanapun saya pergi ke luar kota, belum pernah saya temui kuliner Lentog ini.

Untuk menikmati Lentog Tanjung, sahabat bisa menambahkan sate telur puyuh, sate usus, bakwan, ataupun kerupuk udang yang selalu disediakan oleh penjual.  Tak perlu mengeluarkan kocek yang banyak, karena satu porsi Lentog Kudus polosan paling hanya dibanderol sekitar 3.000 hingga 4.000 Rupiah dan itu sudah mengenyangkan lho.

Rasa Lentog Kudus ini sangat pas di lidah. Saat satu per satu lontong yang tercampur kuah Tewel menyentuh lidah, Sahabat pasti akan ketagihan dan ingin menambah porsi lagi. Belum lagi jika “dihajar” dengan sate telur puyuh yang manis namun gurih. Jika beruntung, dalam salah satu kunyahan, sahabat akan merasakan pedas karena penjual Lentog Tanjung biasanya menaruh jebakan cabe rawit di antara tumpukan tewel.

Kini Lentog Tanjung tidak hanya dijual di kawasan Tanjung saja, tetapi hampir di setiap tempat di Kudus pasti sahabat temui penjual Lentog ini setiap pagi. Nah, langganan saya biasanya di Jalan Kudus Colo depan Kecamatan Bae atau di Sentra Kuliner depan Pabrik Rokok Nojorono Bae. Kalau pengen mencari suasana yang lebih rame, Sahabat bisa menikmati Lentog Kudus di sekitar kawasan Komplek Gedung Olah Raga Kudus dan Kawasan Wisata Taman Krida Kudus.

Bagi wanita yang ingin menjaga berat badan, cocok nih sarapan Lentog karena selain porsinya yang tidak terlalu banyak, serat dari sayur nangka muda ini dipercaya berhasiat untuk memperlancar pencernaan. Dan bagi kakek nenek yang sudah ompong, dianjurkan sarapan Lentog Tanjung yang tidak perlu dikunyah ini. Enak kan, tinggal lep lep dan lep….

Sate Kebo

Sate yang satu ini tak bakal Sahabat temui di Kota manapun di dunia ini (kecuali ada yang iseng bikin, hehehehe). Kalau tidak percaya, silahkan dibuktikan. Bahkan pejabat-pejabat sekelas mantan presidenpun saat lewat di Kudus suka mencicipi kuliner yang satu ini. Ya… mungkin karena di Jakarta kagak ade kali ye….

Daging Kerbau adalah alternatif dari daging sapi. Di dalamnya tidak hanya terkandung roh kuliner yang dahsyat tetapi juga terkandung makna toleransi beragama di Kudus. Hal ini bisa sahabat rasakan saat perayaan Idul Adha dimana mayoritas hewan kurban di Kudus adalah Kerbau dan hanya sedikit saja yang menyembelih sapi.

Untuk membuat sate kerbau dipilih daging kerbau yang empuk dengan kualitas pilihan. Pada proses ini, hanya orang yang mengerti dunia “per-kebo-an” saja yang tahu. Daging kerbau terpilih kemudian di sayat-sayat dan ditumbuk hingga halus. Bahasa Kudusnya “digecek”. Daging tersebut kemudian direndam dalam bumbu khusus selama berjam-jam hingga meresap sempurna. Bumbu ini adalah original recepy yang tidak mungkin Sahabat temui di tempat lain.

Daging kemudian ditusuk-tusuk dengan tusuk bambu seperti sate pada umumnya dan dicampur dengan bumbu khas sate kerbau. Naaaah, ini dia uniknya… bumbu sate kerbau berbeda dengan sate ayam apalagi kambing dan khas banget. Rasa sate Kudus sendiri lebih dominan manis. Jika ingin pedas, tinggal tambahkan saja irisan cabai.

Untuk menikmati sate Kerbau, Sahabat harus Visit Jawa Tengah dan mampir ke Kudus. Sate Kerbau bisa sahabat dapatkan di pagi hari maupun sore hari hingga malam. Sentra sate kerbau yang terkenal adalah di kawasan ruko Agus Salim, dekat Kawasan Wisata Religi Menara Kudus, maupun di kawasan Pasar Kliwon Kudus. Bisa juga datang ke daerah Getas Pejaten karena di situ ada rumah makan Sate Kerbau langganan mantan presiden kita lho. Kalau langganan saya sih biasanya di dekat Hotel Air Mancur depan Gaya Busana, cuma sudah lama gak ke situ dan gak tahu masih ada gak ya….

Pecel Pakis

Pecel sering kita jumpai di berbagai daerah di Indonesia. Namun, Pecel Pakis mungkin hanya bisa kita jumpai di Kudus dan itu pun hanya di kawasan wisata Gunung Muria Kudus. Jika sahabat senang mengikuti tour ziarah Wali Songo atau hanya sekedar menjajal wisata alam Gunung Muria dan Air Terjun Montel, maka Pecel Pakis bisa jadi alternatif sebagai santapan yang sangat lezat dan langka.

Pecel Pakis ini merupakan makan yang sehat dan menyehatkan. Cocok banget buat sahabat yang cenderung vegetarian karena pecel  jenis ini berbahan utama daun pakis (cychas rumpii) yaitu sejenis tumbuhan paku-pakuan. Coba deh baca lagi buku biologi sahabat, pasti akan ketemu dengan tanaman pakis ini di family paku-pakuan. Sedangkan sebagai pelengkap biasanya akan disajikan bersama kecambah (tauge), kacang panjang yang direbus, tempe, dan kerupuk (peyek kacang ataupun peyek teri dan lainnya) dengan paduan bumbu kacang.

Para peziarah Sunan Muria ataupun para wisatawan yang sedang berlibur di kawasan Gunung Muria menikmati Pecel Pakis ini sebagai menu makan siang. Kalau saya sendiri, menikmati pecel pakis ini biasanya setelah ziarah Sunan Muria, ya walaupun gak sering-sering amat sih. Kuliner Pecel Pakis ini bisa sahabat temui di rumah-rumah makan di dekat tangga masuk ke makam Sunan Muria. Nah, setelah ziarah ke Sunan Muria, menuruni anak tangga yang jumlahnya ribuan itu tuh, kita akan dimanjakan lezatnya santap siang dengan pecel pakis. Kalau saya lebih suka rasa bumbu yang agak pedas dan dipadu dengan lauk ayam goreng khas Wisata Muria.

Sego Pindang Kebo

Sego Pindang Kebo (Nasi Pindang Kerbau) adalah makanan khas Kudus berikutnya yang mungkin sahabat akan sulit temui di daerah lain. Sego Pindang Kebo adalah Nasi yang di basahi oleh kuah pindang dengan rasa yang manis dan legit berpadu dengan empuknya daging kerbau yang diiris lembut dan yang paling khas adalah daun melinjau berwarna hijau yang wajib ada di makanan ini. Kalau sahabat ingin tahu kuah pindang itu terbuat dari apa, jangan tanya ke saya, karena tugas saya adalah menyantapnya, bukan membuatnya. Hehehe.

Khasnya lagi, Dalam cara penyajiannya si pembuat akan menyediakan sambel kecap di sebuah sendok yang diletakkan di atas Sego Pindang itu. Jadi, jika ingin rasa pedas ya tinggal dicampur saja sambelnya, jika tidak ingin pedas tinggal dikepret dah tu sambel ke pinggir piring. Unik bukan?

Sego Pindang ini biasanya disajikan dalam acara hajatan masyarakat Kudus misalnya acara syukuran kelahiran bayi, syukuran pernikahan, sunatan, dan lain sebagainya. Yah, kuliner yang satu ini benar-benar menjadi tradisi dan rasanya Kudus banget deh.

Selain disajikan dalam acara hajatan, Sego Pindang ini bisa sahabat temui sebagai menu makanan rumah makan di Kota Kudus. Kalau saya, biasanya langganan di kawasan Sentra Kuliner Taman Bojana Simpang Tujuh Kudus setelah acara Car Free Day hari Minggu. Di Taman Bojana itu, rata-rata penjual makanan pasti menjual Sego Pindang ini. Ada yang pakai daging ayam, tetapi yang khas Kudus banget adalah yang pakai daging kerbau. Biasanya kawasan ini akan ramai saat jam makan siang.

Untuk merasakan rasa khas Sego Pindang Kebo, yuk Visit Jawa Tengah dan datang ke Kota Kudus. Jangan lupa, jika sahabat luar kota ada yang memiliki suadara yang sedang hajatan di Kota Kudus, pastikan sahabat meluangkan waktu datang ke hajatan itu, dan temukan Sego Pindang Kebo ini.

Sego Jangkrik Menara


Jangkrik Bos…. ! Eits, ini bukan lagi ngomongin film Warkop DKI yang terkenal itu ya. Jangkrik yang satu ini adalah nama kuliner khas kawasan Kauman Menara kota Kudus yang nggak bakalan sahabat temukan di daerah lain. Jangan berpikir macam-macam bila mendengar nama Sego Jangkrik. Sego Jangkrik bukan Nasi dengan lauk hewan jangkrik ya, tetapi nasi yang dipadukan dengan lauk daging kerbau dan kuah jangkrik.

Entah mengapa dinamakan Jangkrik. Yang jelas bukan karena Om Kasino “Jangkrik Bos…” yang pertama menemukannya, tetapi konon katanya Kuah itu sudah ada sejak jaman Sunan Kudus dan disebut Kuah Jangkrik.

Rasa Sego Jangkrik ini adalah perpaduan manis, gurih, dan pedas dari kuah jangkrik dengan hangatnya nasi dan empuknya daging kerbau yang dibuat sedemikian rupa. Kalau saya boleh bilang, daging kerbau di Sego Jangkrik itu adalah “stik jawa” atau “javanesse steak” nya Kudus. Karena rasanya yang demikian, maka menurut analisis saya…. Kemungkinan kuah jangkrik terbuat dari bumbu cabai, bawang, dan ada gulanya sedikit. Hehehehe.

Cara penyajiannya unik banget, karena Sego Jangkrik ini dibungkus dengan daun jati. Dan saya yakin, si penjual juga tidak sembarangan memilih daun jati. Daun Jati yang digunakan pastilah daun jati terpilih yang dapat memberikan aroma sedap ke makanan.

Bagi yang ingin merasakan kuliner ini, bisa datang ke kawasan Menara Kudus di Jalan Sunan Kudus. Namun, bagi pecinta gratisan seperti saya, bisa mencoba nikmatnya Sego Jangkrik ini saat acara Buka Luwur Sunan Kudus setiap awal Bulan Muharam/ Suro di Komplek Menara Kudus. Jika  stok masih tersedia dan keberuntungan sedang menaungi, sahabat bakalan mendapatkannya secara gratis.

Madu Mongso

Kudus terkenal dengan sebutan Kota Jenang. Dan memang, Jenang Kudus sudah ada di mana-mana, bahkan sudah diekspor ke manca Negara lho. Di Kudus banyak bermunculan merek-merek jenang yang kesemuanya memiliki rasa yang khas. Namun ada satu makanan yang mirip jenang ini.

Madu Mongso namanya. Kalau saya boleh bilang sih makanan ini adalah versi “metal” nya jenang. Kenapa? Jenang itu makanan yang Kenyal, manis, dan halus teksturnya sedangkan Madu mongso ini terkenal memiliki tekstur yang kasar dan rasanya rame banget, manis berpadu asem. Ya mirip-mirip lagu metal yang kasar dan cadas itu lah. Ternyata eh ternyata, Madu Mongso tidak hanya diproduksi di Kudus saja, tetapi Madu Mongso Kudus tentu memiliki cita rasa yang khas.

Bahan dasar madu mongso adalah ketan hitam yang difermentasikan sehinggga menjadi seperti tape. Tapi ini bukan tape ketan ya. Setelah terfermentasi, maka rasanya akan menjadi asem-asem manis gitu deh, dan dibentuk lonjong kemudian dibungkus klobot jagung atau plastik mirip jenang yang terkenal itu.

Madu mongso sangat mudah kita jumpai di sentra oleh-oleh Kota Kudus. Biasanya penjual jenang juga akan menjual madu mongso ini. Madu Mongso akan lebih mudah kita jumpai saat menjelang dan setelah Idul Fitri. Sentra pembuatan madu mongso yang terkenal adalah di daerah Kaliputu dan Karang Bener.

Kaliputu sendiri merupakan daerah yang terkenal dengan Jenang Kudusnya. Berbagai merek Jenang Kudus berasal dari daerah ini. Uniknya lagi, setiap tahun di bulan Muharam atau Suro diadakan Festival Tebokan sebagai simbol Asal Usul Jenang Kudus.

Nah… Dari sekian kuliner Kudus yang saya sebutkan tadi, rasanya hanya Madu Mongso ini yang bisa dijadikan oleh-oleh ke luar daerah karena madu mongso ini bisa bertahan hingga berminggu-minggu. Untuk mendapatkannya, sahabat bisa mampir ke kawasan kaliputu Kudus dan membelinya di outlet-outlet Jenang di situ, sekalian membeli oleh-oleh khas Kudus yang lainnya.

Masih banyak kuliner khas Kudus yang mungkin tidak bisa penulis uraikan satu persatu di sini. Misalnya saja Soto Kebo dan Kacang Kudus. Oh iya, untuk Kacang Kudus ini adalah makanan favorit penulis saat musim Lebaran tiba. Kacangnya rasa bawang yang khas dan ukurannya besar-besar. Kalau mampir ke Kudus, coba deh cari Kacang Kudus dan jadikan oleh-oleh untuk keluarga tercinta. Pasti beda dengan kacang-kacang yang lain.

Gimana, penasaran? Makanya Visit Jawa Tengah dan datang ke Kudus. Pokoke, Jawa Tengah Gayeng tenan….



Oleh Anggota Remaja Musholla RAPI

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba Blog Visit Jawa Tengah 2016 yang diselenggarakan oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Tengah @VisitJawaTengah
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

7 Alasan Menghapal Quran di Kota Kudus (2)

5. Sanad
  
Sanad merupakan runtutan mengalirnya pertanggung jawaban. Sanad hafalan adalah runtutan petanggung jawaban atas bacaan dan nash qur’an yang anda hafal. Semakin kuat sanadnya maka akan semakin terpercaya juga hafalan qur’an anda. Di Kudus sanad sangat jelas dan masyhur. 

Mbah Kyai Arwani adalah orang yang akan menjadi jalan bagi seluruh hafalan quran santri Kudus untuk sampai kepada Rasulullah SAW. Jadi tak jarang banyak hafidz yang sudah hatam dan lancar masih meluangkan waktunya untuk mengambil sanad di Kudus ini. 

Tapi itu tidak mudah, mereka harus belajar dulu Makhroj Madzhab Kudus seperti yang saya katakan tadi. Bagi mereka yang memang menghafal di sini, khatam setoran, sanad akan otomatis didapat. Begitu kata senior senior saya di Kudus.

6. Biaya

Di samping kualitas kualitas yang telah saya sebutkan di atas, biaya hidup dikota ini juga tidaklah mahal. Bahkan bisa dikatakan sangat bersahabat untuk ukuran kantong santri santri perantauan seperti saya ini. 

Untuk masalah makan, dengan minimal uang sebesar 70rb kalian sudah bisa makan dua kali sehari selama satu bulan. Ada juga warung yang menyediakan kost 100rb untuk sekali makan dalam sehari, tapi dengan porsi yang lebih banyak (nasi nyentong dibi’) dan menu yang lebih beragam. 

Untuk biaya pesantren (pesantren saya khususnya) biaya pertama kali masuk adalah sebesar 240 ribu bonus seragam pesantren. Biaya syahriahnya tiap bulan adalah sebesar 15rbu. Harga yang sangat bersahabat bagi orang kota pensiun ekonomi menengah ke bawah (sebutan untuk kota Bondowoso). Jadi, masalah biaya hidup jangan khawatir. Tapi ada juga pesantren yang berbiaya mahal.

7. Kemasyhuran

Entah kapan saya pernah mengatakan bahwa Kudus memang masyhur dan terpercaya dalam masalah menghasilkan huffadz yang berkualitas di kalangan para kyai dan ulama sepuh. Disamping memang dipenuhi oleh pesantren pesantren tahfidz, sosok Mbah Arwani dan sesepuh lainnya seperti Mbah Sya’roni Ahmadi juga menjadi jaminan kudus sebagai kota huffadz. 

Dengan kemasyhuran semacam ini, para alumninya tentu juga akan mendapatkan semacam keuntungan. Contoh, ketika dua orang hafidz melamar seorang wanita, lalu mereka ditanya menghafal qur’annya dimana. Yang satu menjawab di kota anu dan satunya lagi menjawab di kudus, tentu 100% saya yakin bahwa yang akan diterima lamarannya adalah yang alumni kudus. Meskipun sebenarnya yang alumni kudus kalah lancar dibandingkan yang satunya, hehehe. Itulah salah satu misal jaminan dan keuntungan menghafal di kudus.



Penulis adalah seorang yang pernah nyantri di Kudus, di tulis di Kota Bondowoso dan di muat ulang di ISK Kudus
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

7 Alasan Menghapal Quran di Kota Kudus (1)

Kota jenang merupakan sebutan lain dari kota kudus selain kota huffadz, kota kretek, dan kota wali. Tak tepat kiranya kalau saya bahas jenang itu seperti apa dan bagaimana pada episode kali ini, dikarenakan khusus pada episode kali ini saya akan memberitahukan alasan alasan kuat mengapa kudus dijadikan pilhan utama bagi mereka yang ingin menghafal kitab suci al qur’an. Mengapa bukan di malang? Tempat berdirinya pondok qur’an asuhan KH. Bashori Alwi. Mengapa bukan di kota lain selain kota kudus? Mengapa harus di kudus? Tanpa mencoba membanding bandingkan, Semuanya akan coba saya jawab dengan tujuh alasan.


Awal mulanya pertanyaan pertanyaan di atas juga kerap menghinggapi pikiran saya. Semenjak saya berkonsutasi dengan al mukarrom KH. Zuhri Zaini, dan beliau menyarankan kudus sebagai tempat yang bagus untuk menggapai keinginan saya, mulailah saya mencari jawaban jawaban pertanyaan di atas. Dan jawaban pertanyaan itu terangkum menjadi 7 alasan sebagai berikut :



1. Lingkungan


Alasan yang pertama adalah lingkungan. Lingkungan sangatlah berdampak pada pembentukan karakter seseorang. Lingkungan juga sangat berperan penting bagi keberhasilan usaha seseorang untuk menggapai sesuatu. Seorang anak yang mulai kecil hidup dilingkungan pencuri tidak mungkin dewasanya menjadi seorang kyai (meskipun itu tidak mustahil), seorang santri tidak akan bisa berbahasa arab dengan fasih bila tidak didukung oleh lingkungan yang semua anggotanya juga berbahasa arab. Intinya, lingkungan sangat penting!. 

Di kudus, semua pesantren mayoritas berorientasi pada tahfidz al qur’an, jadi akan jarang anda temukan disana pesantren pesantren selain pesantren tahfidz. Disamping dipenuhi oleh pesantren pesantren tahfidz, masyarakat kudus juga kebanyakan yang hafal qur’an (meskipun tidak keseluruhan). Jadi, tidak salah kalau andaikan kudus juga disebut madinatul huffadz. Dengan adanya lingkungan yang seperti ini, mereka yang menghafalpun akan terus bersemangat dan tidak merasa berat dalam menghafal qur’an, dikarenakan “hafal qur’an” sudah sangat lumrah disana.



2. Teman

  
Disamping lingkungan, teman adalah salah satu faktor penting kesuksesan seseorang. Sebuah ungkapan “seorang yang berkawan dengan tukang minyak wangi akan terikut wangi meskipun dia tidak menjual minyak wangi” adalah salah satu yang mengisyaratkan bahwa pertemanan sangat perlu untuk diperhatikan. Kalau anda ingin mengetahui karakter, sifat dan dalamya seseorang, maka cukup lihat dengan siapakah dia berteman. 

Di kudus, jangan khawatir soal teman!, karena andaikan anda nyantri di kota ini dengan maksud untuk menghafal al qur’an, maka dengan otomatis anda akan berkawan dengan sesama penghafal al qur’an juga. Dengan begitu proses menghafal akan terasa lebih ringan dan menyenangkan. Kita bisa saling takrir menakrir dengan seorang teman, anda yang membaca teman anda yang menyimaknya, begitu sebaliknya. Dan juga Teman anda tidak mungkin mengajak anda kepada sesuatu yang dapat mengganggu hafalan anda, dikarenakan dia juga sedang berjuang untuk menghafal.



3. Para guru

  
Sepengalaman saya, guru dalam proses menghafal di kota ini ada dua macam. Pertama guru setoran dan yang kedua guru makhroj. Guru setoran adalah ustadz yang mana akan menerima setoran hafalan kita tiap harinya, beliaulah nantinya yang akan membenarkan yang salah dan menentukan apakah kita sudah layak untuk terus melangkah pada lembar lembar berikutnya atau harus mengulang kembali hafalan yang kita setorkan keesokan harinya. Terkait dengan hafalan, guru inilah yang berperan. Yang kedua adalah guru makhroj. Kita tidak diijinkan untuk menghafal dan menyetorkan hafalan kalau bacaan kita belum memenuhi standart bacaan kudus (kurang fasih), lengkapnya saya akan ceritakan di item no 4. Intinya, semua yang terkait dengan bagus tidaknya bacaan qur’an kita, guru makhrojlah yang berperan. Bagaimana dengan kualitas guru disini? 

Jangan khawatir!. Kalau anda ingin menjadi ustadz setoran, maka syarat sayarat berikut ini harus dipenuhi. 
(1) anda sudah harus hafidz selama kurang lebih lima tahun, 
(2) anda sudah harus bisa menghatamkan qur’an dalam 1x 24 jam,
(3) anda juga harus sudah memiliki sanad hafalan, 
(4) anda harus khatam qira’atus sab’ah,
(5) yang terakhir sudah harus memiliki sanad qira’atus sab’ah. 

Bagaimana? syarat menjadi guru makhroj adalah hafidz, lancar dan menghatamkan makhorijul huruf al qur’an tiga puluh juz. Jadi tidak usah diragukan lagi guru guru yang akan mendampingi anda nantinya.


4. Metode

  
Untuk masalah hafalan, dikudus sebenarnya tidak ada satu metode paten yang diharuskan bagi seluruh santri menerapkannya dalam menghafal al qur’an. Tapi di Kudus, seseorang tidak akan diijinkan untuk menghafal al qur’an atau menyetorkan hafalannya sebelum bacaannya sesuai dengan standart fasih madzhab kudus. Mengapa saya katakan madzhab kudus? 

Karena bentuk dan cara yang diajarkan sangat berbeda dengan apa yang saya pelajari selama enam tahun di Nurul Jadid. Terutama dalam masalah tata cara pengucapan huruf huruf hijaiyyah (makhorij al huruf). Pertama di kudus, saya seperti anak kecil umur 5 tahun yang baru belajar al qur’an. Dan itu berjalan selama kurang lebih 1,5 bulan. Dan pada akhirnya saya boleh menyetorkan hafalan saya. Ijin setoran bukan berarti membuat saya bebas dari kewajiban menyetorkan makhroj. 

Diawali dengan menyetorkan ta’awwudz, lulus, pindah ke al fatihah. Lulus, pindah at tahiyyat. Lulus, baru menyetorkan huruf huruf hijaiyyah satu persatu dari alif sampai ya ditambah surat surat pendek mulai an naas sampai an naba’. Hingga boyong saya hanya berhasil lulus pada makhroj alif, wawu, lam, mim, nun, ya, fa, dan kaf. Selebihnya tidak lulus. 

Seperti Itulah metode makhroj madzhab kudus yang saya maksud. Kalau untuk hafalan lebih kepada metode kesadaran individu. Yang rajin menghafal ya cepat hatam, yang malas menghafal ya lama hatam. Jadi, pulang dari kudus saya jamin anda akan menjadi orang yang paling fasih bacaan qurannya di desa anda. Plus hafal al qur’an.



Penulis adalah seorang yang pernah nyantri di Kudus, di tulis di Kota Bondowoso dan di muat ulang di ISK Kudus
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011 - Musholla RAPI Online
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger