Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Siapa Yang Bangkrut?

Siapa Yang Bangkrut?


Suatu ketika Baginda Rasulullah SAW bertanya kepada para sahabatnya: “Tahukah kalian siapa orang yang bangkrut itu?”. Salah seorang sahabat menjawab “Bagi kami orang yang bangkrut itu, adalah orang yang kehilangan harta dan seluruh miliknya “.

Baginda Rasulullah SAW bersabda: “Bukan, orang yang bangkrut itu ialah orang yang datang pada hari kiamat dengan membawa pahala dari seluruh amal shalehnya, seperti dari puasanya, zakatnya ataupun wakafnya, tetapi ketika pahala itu akan ditimbang, datanglah orang-orang yang mengadu, “Ya Allah, duhulu ia pernah menuduhku berbuat sesuatu, padahal aku tidak pernah melakukannya”, kemudian Allah SWT menyuruh agar ia membayar orang yang mengadu itu dengan sebagian pahalanya. Kemudian datang lagi orang lain yang mengadu, “ ya Allah, ia pernah mengambil hak-ku dengan sewenang-wenang”, lalu Allah SWT menyuruhnya lagi membayar dengan pahalanya kepada orang yang mengadu itu. Setelah itu datang lagi orang lain yang mengadu lagi; sampai akhirnya seluruh pahala shalat, haji dan puasanya itu, habis dipakai untuk membayar orang-orang yang pernah ia rampas haknya ataupun ia tuduh tanpa alasan yang benar.

Kini tidak ada lagi pahala yang tersisa, semuanya telah habis dipakai untuk membayar hutang atas kelakuan dzalim pada waktu ia hidup didunia. Sementara itu, orang yang mengadu masih datang juga, maka Allah SWT memutuskan agar dosa orang yang mengadu itu dipindahkan kepadanya sebagai tebusan atas kesalahan yang dilakukannya pada orang-orang itu didunia dahulu.

Itulah orang yang bangkrut di hari kiamat, yaitu orang yang rajin beribadah tetapi ia tidak memiliki akhlak yang baik, dia merampas hak orang lain dan banyak menyakiti hati saudara-saudaranya.

Kisah ini memberi pelajaran pada kita, bahwa pada intinya tidak ada hutang yang tidak dibayar, semua bentuk kadzaliman yang kita lakukan, harus kita bayar tunai dengan pahala yang kita miliki diakhirat nantu. Allah SWT berfirman, “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, maka sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”. (Q.S. Annisa: 111). “Jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri”. (Q.S. Al Isra`: 7).

Sayyidina Ali bin Abu Thalib k.w, berkata: “Hidup ini adalah suatu bagian dari mata rantai perjalanan yang harus dilalui manusia, yaitu bermula dari alam roh lalu menuju alam janin, kemusian alam dunia lalu masuk kealam kubur dan kemudian menetap abadi dialam akherat. Orang yang bijak akan menabung sebanyak-banyaknya agar diakhir perjalanan nanti ia dapat bersenang-senang. Ia mengerti benar, bahwa tempat bersenang-senang itu bukan diperjalanan, tetapi nanti bila sampai ditempat tujuan. Orang bijak, tidak mau memanggul bekalnya sendirian, ia titipkan bekal-bekalnya pada orang lain sehingga ia dapat menempuh perjalanan ini tanpa repot-repot diganduli oleh perbekalannya”.

Salah seorang bertanya kepada Sayyidina Ali k.w: “Bagaimana caranya menitipkan bekal kepada orang lain itu? Sayyidina Ali k.w. Menjawab: “Ketahuilah, bahwa tidak ada hutang yang tidak dibayar. Bila seseorang menyakiti hatimu, maka ia harus membayarnya nanti dengan pahalanya. Begitu juga bila seseorang memfitnahmu, maka ia harus bayar perbuatan jahatnya itu dengan pahalanya atau bila seseorang yang berhutang padamu dan ia tidak mau membayar hutangnya itu, kelak ia harus membayarnya dengan pahalanya. Intinya, kedzaliman orang terhadapmu, pada hakikatnya adalah tambahan pahala bagimu. Begitulah caranya menitipkan bekal kita pada orang lain."

Mudah-mudahan kisah ini dapat memberikan pencerahan bagi jiwa kita, bahwa perbuatan buruk yang kita lakukan akan sangat merugikan diri kita sendiri, karena diakherat nanti harus kita bayar tunai dengan pahala yang payah-payah kita kumpulkan. Sebaliknya, tidak usah kita risau dengan perbuatan dzalim orang lain pada diri kita, karena bukankah hal itu berarti ia membawakan perbekalan kita yang kelak akan diserahkannya diakhir perjalalan nanti? Wallahu A`lam….



Ahlukisa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger