Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah

Ucapan Selamat Tahun Baru Hijriyah

Begitu banyak tulisan mengenai hukum mengucapkan “salamat tahun baru” di bulan Muharram ini, namun semuanya hanya merujuk kepada pendapat pihak kontemporer, yang menyatakan bahwa perbuatan itu bid’ah dan dilarang. Sebab itulah penulis tertarik untuk menelisik hukumnya yang sebenarnya menurut para hufadz dan fuqaha mu’tabar. Dan hasilnya, demikianlah pendapat mereka:


Al Hafidz Abu Hasan Al Maqdisi


Al Imam Al Hafidz As Suyuthi dalam Al Hawi li Al Fatawi (hal. 101) menyatakan,”Al Qamuli menyatakan dalam Al Jauhar (yakni Jauhar Bahr Al Muhith-pent):”Kami belum melihat ashab kami (yakni para ulama As Syafi’iyah-pent) pernyataan dalam tahni’ah (ucapan selamat) dua hari raya, tahun-tahun serta bulan-bulan sebagaimana apa yang dilakukan oleh manusia. Dan aku melihat dari beberapa faidah dari Syeikh Zakiyuddin Abdul Adzim Al Mundziri bahwa Al Hafidz Abu Al Hasan Al Maqdisi telah ditanya tentang tahni’ah di awal tahun-tahun dan bulan-bulan. Maka beliau menjawab bahwa sesungguhnya manusia masih berselisih mengenai hal itu, dan beliau berkata,”Dan yang aku lihat bahwa sesungguhnya hal itu mubah, bukan sunnah juga bukan bid’ah.”


As Suyuthi menambahkan bahwa Ibnu Qasim Al Ghazzi telah menukil pernyataan di atas dan tidak menambahnya. Sedangkan Ibnu Alan dalam Al Futuhat (6/311) menyatakan bahwa Ibnu Qasim tidak membantahnya. Ini menunjukkan bahwa Ibnu Qasim menyetujuinya. Demikian pula sikap yang diambil oleh Al Hafidz As Suyuthi.


Syihab Ibnu Hajar


Namun ada pula yang menanggapi pernyataan Al Hafidz Abu Al Hasan Al Maqdisi di atas, yakni Syihab Ibnu Hajar. Al Khatib As Syarbini dalam Mughni Al Muhtaj (1/429) menyatakan,” Dan Syihab Ibnu Hajar menjawab setelah menela’ah akan hal itu (pendapat Al Hafidz Al Maqdisi- pent) bahwa hal itu (tahni’ah-pent) disyariatkan. Dan beliau berhujjah untuknya bahwa Imam Al Baihaqi telah membuat bab khusus tentang hal itu, kemudian beliau (Ibnu Hajar-pent) menyatakan bab tentang apa-apa yang diriwayatkan dalam perkataan manusia satu sama lain dalam ied  تقبل الله منا و منك dengan menyebutkan sejumlah akhbar dan atsar dhaif, akan tetapi perkumpulannya dijadikan hujjah dalam permasalahan seperti ini.


Dan beliu kemudian mengatakan,”Dan menjadi hujjah juga keumuman tahni’ah ketika memperoleh kenikmatan atau terhindar dari balak dengan disyariatkannya sujud syukur dan takziyah, juga dengan periwayatan Ka’ab bin Malik di Shahihain dalam kisah taubatnya ketika mundur dari perang Tabuk,’Bahwa sesungguhnya ia ketika memperoleh kabar gembira mengenai diterimanya taubatnya pergi kepada Rasulullah صلي الله عليه وسلم berdirilah kepadanya Talhah bin Ubaidllah kemudian memberi ucapan selamat kepadanya.”


Yang juga menukil komentar Syihab Ibnu Hajar atas pendapat Al Hafidz Abu Al Hasan Al Maqdisi selain As Syarbini adalah As Syarwani dalam Hasyiyah At Tuhfah (3/56).


Al Qalyubi dalam Hasyiyah Syarhi Al Mahalli (1/359) juga menyatakan,”Tahni’ah untuk hari-hari raya, tahun-tahun dan bulan-bulan, Ibnu Hajar mengatakan, mandub (sunnah-pent) dan mengambil teladan untuknya dengan diperintahkannya sujud syukur ketika memperoleh nikmat dan terhindar dari adzab.


As Syarqawi


Syeikh Sayyid Ba Alawi, Mufti Diyar Al Hadrami menyatakan dalam Bughyah Al Mustarsyidin (hal.89),”Dan menambah As Syarqawi, demikian juga (disunnahkan tahni’ah-pent) untuk tahun dan bulan menurut pendapat mu’tamad…”


Syaikh Al Islam Al Baijuri


As Syarwani menyatakan dalam Hasyiyah At Tuhfah (56/3),Dan ungkapan syaikh kami, disunnahkan tahni’ah untuk ied dan sejenisnya seperti tahun dan bulan menurut pendapat mu’tamad…”


Ungkapan “syeikh kami” oleh As Syarwani dalam Al Hasyiyah biasanya menunjukkan pernyataan guru beliau Syeikh Al Islam Al Baijuri.


Walhasil, dalam masalah ini para fuqaha’ dan huffadz, khususnya dalam As Syafi’iyah memandang bahwa tahni’ah untuk awal tahun sebagai perkara mubah yang bukan bid’ah dan ada pula yang memandang bahwa hal itu termasuk sunnah. Bahkan pendapat terakhir merupakan pendapat mu’tamad menurut As Syarqawi dan Syeikh Al Islam Al Baijuri. Wallahu Ta’ala A’la wa A’lam.


Kitab-kitab yang dapat menjadi rujukan:

1. Al Hawi li Al Fatawi karya Imam As Suyuthi, Dar Al Kitab Al Arabi (1425 H), t. Syeikh Khalid Thurthusi.

2. Mughni Al Muhtaj karya Khatib As Syarbini, Dar Al Fikr (1426 H), t. Syeikh Jaubali As Syafi’i.

3. Hasyiyatan, karya Qalyubi dan Umairah, Dar Al Fikr (1419 H).

4. Nihayah Al Muhtaj ma’a Hasyiyah As Syubramallisi, Dar Al Kutub Al Ilmiyah (1424 H).

5. Hawasyi Tuhfah Al Muhtaj karya As Syarwani dan Ibnu Qasim, Al Maktabah At Tijariyah Al Kubra.

6. Al Futuhat Ar Rabaniyah karya Ibnu Alan, Dar Ihya At Turats Al Arabi.

7. Bughyah Al Mustarsyidin  karya As Sayyid Ba Alawi, Nur Al Huda Surabaya,




Al Manar Press
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger