Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Urgensi Mengetahui Asbabun Nuzul

Urgensi Mengetahui Asbabun Nuzul

Di dalam kitab "At-Tibyan fii 'Ulumil Qur'an" karya Syeikh Muhammad Ali ash-Shabuni halaman 27-29, cetakan Dar el-Qalam diterangkan yang artinya sebagai berikut: Mengetahui "Asbabun Nuzul" sangat besar pengaruhnya dalam memahami makna ayat yang mulia. Oleh karena itu, para ulama sangat berhati-hati dalam memahami "Asbabun Nuzul". Sehingga banyak di antara mereka yang menulis tentang itu. Di antaranya, yang terdahulu ialah Ali Al-Madani (guru Imam Bukhari r.a.).



Yang terkenal dalam bidang ilmu ini adalah kitab "Asbabun Nuzul" karya Imam Al-Wahidi. Syaikhul Islam, Imam Ibnu Hajar juga mengarang kitab tentang itu. Bahkan ada pula kitab yang besar dan lengkap, judulnya "Lubabun Nuqul fi Asbabin Nuzul", karya Imam Suyuthi.



Mengingat betapa pentingnya "Asbabun Nuzul", maka bisa kita katakan bahwa sebagian ayat tidak mungkin bisa diketahui makna-makna atau diambil hukum darinya, sebelum mengetahui secara pasti tentang asbabun nuzul-nya.



Contoh ayat yang Artinya: "Kepunyaan Allah lah Timur dan Barat, kemana pun engkau menghadapkan wajah, di sana lah kiblat (yang disukai) Allah. Sesungguhnya Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui. (Q.S. Al-Baqarah: 115).



Kadangkala terjadi pemahaman seolah-olah ayat di atas memperbolehkan shalat menghadap kepada selain qiblat (Ka'bah). Padahal pemahaman seperti ini salah, karena menghadap qiblat itu termasuk syarat sahnya shalat. Namun dengan mengetahui "sebab turunnya ayat", maka pemahaman menjadi jelas. Sesungguhnya ayat itu turun dalam kaitannya dengan orang yang dalam keadaan bepergian. Di mana ia kehilangan qiblat, tidak tahu arahnya. Kemudian setelah berijtihad, ia melaksanakan shalat. Maka, kemana pun ia menghadap, ketika itu, shalatnya tetap sah. Ia tidak wajib mengulangi shalatnya lagi manakala telah menemukan qiblat, meskipun dalam shalatnya tadi, ia menghadap ke arah bukan qiblat.



Jelaslah bahwa ayat tersebut bukan berlaku untuk umum, melainkan untuk orang-orang tertentu yang tidak mengetahui arah qiblat.



Contoh lain, betapa pentingnya mengetahui "Asbabun Nuzul" untuk memahami suatu ayat, yaitu firman Allah 'Azza wa Jalla yang Artinya: "Tiada berdosa orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan yang saleh karena memakan makanan yang telah mereka makan dahulu, apabila mereka bertakwa serta beriman, dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, kemudian mereka tetap bertakwa dan beriman, kemudian mereka (tetap juga) bertakwa dan berbuat kebajikan. Dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan". (Q.S. Al-Ma'idah: 93).



Ayat ini turun dalam kaitannya dengan masalah arak. Kadangkala terjadi salah paham, seolah-olah arak itu tidak diharamkan. Seperti anggapan sebagian orang-orang bodoh. Mereka mengatakan, "Arak itu tidak diharamkan berdasarkan Al-Qur'an". Kalau saja mereka mengerti tentang sebab turunnya ayat tersebut, sudah barang tentu mereka tidak akan berbuat kesalahan sedemikian rupa.



Sebenarnya mengenai turunnya ayat itu ada suatu peristiwa. Diceritakan bahwa ketika turun ayat yang mengharamkan arak yang Artinya: "Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan". (Q.S. Al-Ma'idah: 90).



Mendengar ayat tersebut, lantas para sahabat bertanya kepada Rasulullah saw: "Bagaimana dengan orang-orang yang ikut berperang membela agama Allah dan gugur? Mereka itu para peminum arak, padahal minum arak itu termasuk perbuatan keji.



Kemudian turun ayat tersebut yang menerangkan bahwa orang yang meminumnya sebelum diharamkan, maka Allah telah mengampuninya. Ia tidak akan mendapat dosa atau siksa. Karena, Allah tidak akan menyiksa atas perbuatan orang sebelum ia masuk Islam atau sebelum ada hukum "diharamkan". Dengan demikian, jelaslah maksud ayat tersebut. Dan ia tetap sebagai "nash qoth'i" dalam hal minum arak.




Ust. Thobary Syadzily
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger