Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Doa Nabi Zakaria (1)

Doa Nabi Zakaria (1)

Kejadian-kejadian dalam kehidupan manusia di dunia ini ada yang biasa dan ada pula yang tidak biasa, tetapi semuanya terjadi atas keten­tuan dan kehendak Allah SWT. Hal-hal yang luar biasa itu dalam pandangan ma­nusia terkadang dianggap sesuatu yang tak masuk akal; tetapi bagi Allah, sangat mudah bagi-Nya menentukan dan mem­perbuat segala yang diinginkan-Nya.

Ayat 38 sampai 41 dari surah Ali ‘Imran berikut ini mengisahkan Nabi Za­karia yang mengalami kejadian yang sangat langka. Ia mendapatkan anak di saat telah sangat tua dan istrinya pun seorang wanita yang mandul. Tetapi Allah melakukan apa yang dikehendaki-Nya. Marilah kita perhatikan ayat-ayat tersebut dan kita simak pula penafsir­annya yang disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya.

Allah SWT berfirman: Di sanalah Zakaria berdoa kepada Tuhannya seraya berkata, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”
 
Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakaria sedang ia tengah berdiri melaku­kan shalat di mihrab (katanya), “Sesung­guhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan (yang diikuti), menahan diri (dari hawa nafsu), dan seorang nabi termasuk keturunan orang-orang shalih.” 

Zakaria berkata, “Ya Tuhanku, bagai­mana aku bisa mendapat anak, sedang aku telah sangat tua dan istriku pun se­orang yang mandul?” 

Berfirman Allah, “Demikianlah, Allah berbuat apa yang dikehendaki-Nya.” 

Berkata Zakaria, “Berilah aku suatu tanda (bahwa istriku telah mengan­dung).” 

Allah berfirman, “Tandanya bagimu, kamu tidak dapat berkata-kata dengan manusia selama tiga hari, kecuali dengan isyarat. Dan sebutlah (nama) Tuhanmu sebanyak-banyaknya serta bertasbihlah di waktu petang dan pagi hari.” 

Setelah Nabi Zakaria AS melihat bah­wa Allah menganugerahkan rizqi kepada Maryam berupa buah musim kemarau pada waktu musim hujan dan buah mu­sim hujan pada musim kemarau, ia pun sangat menginginkan kehadiran seorang anak, walaupun ia sudah tua renta dan tulang-tulangnya sudah lemah serta ram­butnya sudah dipenuhi uban. Istrinya pun sudah tua lagi mandul. Namun ia tetap memohon kepada Tuhannya dan me­nyeru-Nya dengan suara yang lembut, “Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku dari sisi-Mu keturunan yang baik”, yakni anak yang shalih. “Sesungguhnya Eng­kau Maha Mendengar doa.”

Allah Ta‘ala berfirman, yang artinya, “Kemudian Malaikat menyeru Zakaria, se­dang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab”, yakni malaikat meng­ajaknya bicara ketika ia shalat di mihrab peribadahannya. Kemudian Allah Ta‘ala memberitahukan berita gembira yang ma­laikat sampaikan kepadanya, “Se­sungguhnya Allah menggembirakanmu dengan Yahya”, yakni dengan kelahiran seorang anak yang keluar dari sulbimu dan diberi nama Yahya. Qatadah menga­takan bahwa ia dinamakan Yahya lian­nallaha ahyahu bil-iman (karena Allah menghidupkannya dengan iman).

Mengenai firman Allah, yang artinya, “Yang membenarkan kalimat Allah”, di­riwayatkan oleh Al-Aufi dari Ibnu Abbas bahwa yang dimaksud adalah yang mem­­benarkan Isa putra Maryam. Ar-Rabi` bin Anas mengatakan: Ia (Yahya) adalah orang pertama yang membenar­kan Isa. Sedangkan Ibnu Juraij mengata­kan bahwa Ibnu Abbas berkata: Yahya dan Isa adalah sepupu dari pihak ibu (ibu mereka kakak-beradik). Ibunda Yahya pernah berkata kepada Maryam, “Aku bermimpi, anak yang berada di perutku sujud kepada anak yang berada di pe­rutmu.” Nabi Yahya adalah orang per­tama yang membenarkan Nabi Isa, dan yang dimaksud “Kalimat Allah” adalah Nabi Isa. Namun Nabi Yahya lebih tua usianya. Demikian pula yang dikatakan oleh As-Sudi.

Mengenai firman Allah sayyida pada ayat di atas, ada banyak pendapat. Abu Al-‘Aliyah mengatakan bahwa yang di­maksud adalah penyantun. Qatadah me­ngatakan bahwa yang dimaksud adalah pemuka dalam hal ilmu dan ibadah. Ada­pun Ibnu Abbas berpendapat bahwa yang dimaksud adalah orang yang pe­nyantun dan bertaqwa. Sa‘id bin Al-Musayyab berpendapat, maksudnya orang yang faqih dan alim. Sedangkan ‘Athiyyah menyebutkan, maksudnya pe­muka dalam akhlaqnya dan agamanya.


Tafsir Ibnu Katsir
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger