Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Hadits Ghaidir Khum (Perselisihan Ummat Syiah dan Ummat Islam) Bag. 3

Hadits Ghaidir Khum (Perselisihan Ummat Syiah dan Ummat Islam) Bag. 3

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya: Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?

Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar. Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik. Siapa namamu? tanya Umar. 

 Aku Uwais, jawabnya datar. 

 Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?, tanya Umar lagi.  

Benar, Amirul Muminin, jawab Uwais tegas. 

Umar masih penasaran lalu bertanya kembali Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar uang dirham? (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panu tapi tidak hilang). 

Benar, Amirul Muminin, dulu aku terkena penyakit kulit belang, lalu aku berdoa kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar uang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku

Mintakan aku ampunan kepada Allah. Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh keheranan. Wahai Amirul Muminin, engkau justru yang lebih behak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi? 

Lalu Umar berkata Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar uang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah  

Uwais lalu mendoakan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah (HR Ahmad).



Riwayat tersebut bukan berarti Sayyidina Umar ra tidak termasuk wali Allah (kekasih Allah) namun sekedar mengabarkan Uwais ra adalah seorang wali Allah di antara Tabiin.



Sebagaimana yang dialami oleh Sayyidina Ali ra (imam para wali Allah), para Wali Allah memang pada umumnya terkena fitnah



Rasulullah bersabda : Sesungguhnya bagi Allah ada orang-orang yang baik (yang tidak pernah menonjolkan diri di antara para hamba-Nya yang dipelihara dalam kasih sayang dan dihidupkan di dalam afiat (sehat yang sempurna). Apabila mereka diwafatkan, niscaya dimasukkan kedalam surganya. Mereka terkena fitnah atau ujian, sehingga mereka seperti berjalan di sebagian malam yang gelap, sedang mereka selamat daripadanya. (Hadis riwayat Abu Nuaim dalam kitab Al Hilya jilid I hal 6)



Para Wali Allah adalah muslim yang dekat dengan Allah Azza wa Jalla. Mereka meraih manzilah (maqom / derajat) di sisiNya dan berkumpul dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam



Firman Allah taala yang artinya,



”…Sekiranya kalau bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya, niscaya tidak ada seorangpun dari kamu yang bersih (dari perbuatan keji dan mungkar) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa saja yang dikehendaki…” (QS An-Nuur:21)



Sesungguhnya Kami telah mensucikan mereka dengan (menganugerahkan kepada mereka) akhlak yang tinggi yaitu selalu mengingatkan (manusia) kepada negeri akhirat. Dan sesungguhnya mereka pada sisi Kami benar-benar termasuk orang-orang pilihan yang paling baik. (QS Shaad [38]:46-47)



Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu (QS Al Hujuraat [49]:13)



Tunjukilah kami jalan yang lurus , (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nimat kepada mereka (QS Al Fatihah [1]:6-7)



Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nimat oleh Allah, yaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya . (QS An Nisaa [4]: 69)



Jadi orang-orang yang selalu berada dalam kebenaran atau selalu berada di jalan yang lurus adalah orang-orang yang diberi karunia nimat oleh Allah atau orang-orang yang telah dibersihkan atau disucikan atau dipelihara oleh Allah taala sehingga terhindar dari perbuatan keji dan mungkar dan menjadikannya muslim yang sholeh, muslim yang ihsan atau muslim yang berakhlakul karimah dan yang terbaik adalah muslim yang dapat menyaksikanNya dengan hatinya (ain bashiroh). Mereka adalah para kekasih Allah atau wali Allah



Hubungan yang tercipta antara Allah taala dengan al-awliya (para wali Allah) menurut Al-Hakim al-Tirmidzi (205-320H/820-935M) adalah hubungan al-riayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cinta kasih), dan al-inayah (pertolongan).



Hubungan istimewa ini diperoleh karena hubungan seorang wali telah menyerahkan semua urusannya kepada Allah, sehingga ia menjadi tanggungjawab-Nya, baik di dunia maupun di akhirat.



Adanya pemeliharaan, cinta kasih, dan pertolongan Allah kepada wali sedemikian rupa merupakan manifestasi dari makna al-walayah (kewalian) yang berarti dekat dengan Allah dan merasakan kehadiranNya, hudhur maahu wa bihi.



Bertitik tolak pada al-riayah (pemeliharaan), al-mawaddah (cintakasih), dan al-inayah (pertolongan) Allah kepada al-awliya (para wali / kekasih); al-Tirmidzi sampai pada kesimpulannya bahwa al-awliya (para wali / kekasih) dan orang-orang beriman bersifat ishmah, yakni memiliki sifat keterpeliharaan dari dosa; meskipun ishmah yang dimiliki mereka berbeda.



Bagi umumnya orang-orang beriman ishmah berarti terpelihara dari kekufuran dan terus menerus berbuat dosa; sedangkan bagi al-awliya (para wali) ishmah berarti mahfudz (terjaga) dari kesalahan sesuai dengan derajat, jenjang, dan maqamat mereka.



Mereka mendapatkan ishmah sesuai dengan peringkat kewaliannya. Al-Tirmidzi meyakini adanya tiga peringkat ishmah, yakni



1. ‘ishmah al-anbiya (ishmah Nabi),

2. ‘ishmah al-awliya (ishmah para wali),

3. ‘ishmah al-ammah (ishmah kaum beriman pada umumnya).



Jadi jika Allah telah mencintai hambaNya maka akan terpelihara (terhindar) dari dosa atau jikapun mereka berbuat kesalahan maka akan diberi kesempatan untuk menyadari kesalahan mereka ketika masih di dunia.



Ust. Zon Jonggol
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger