Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Habil dan Qobil, Antara Baik dan Buruk

Habil dan Qobil, Antara Baik dan Buruk

Semua anak cucu Adam tidak pernah luput dari kekecewaan. Kekecewaan dimulai dari Adam dan Hawa ketika keduanya tergoda mendekati dan memakan buah khuldi yang terlarang olehnya, yang mengakibatkan keduanya jatuh dari surga kenikmatan ke bumi penderitaan. 


Kekecewaan berikutnya ketika melahirkan anak-anaknya tidak semuanya mengikuti hukum dan ketentuan Tuhan. Adam-Hawa pertama kali dikaruniai sepasang anak yaitu Habil dan kembar perempuannya, lalu disusul dengan sepasang anak kembar berikutnya, yaitu Qabil dan kembar perempuannya. Menurut ketentuan, Habil mestinya dijodohkan dengan kembaran Qabil dan Qabil dijodohkan dengan kembaran Habil. Namun Qabil menolak ketentuan itu karena pasangan Habil tidak secantik gadis kembarannya. Kecemburuan, kebencian, dan dendam mulai merasuk di dalam diri Qabil. Sebaliknya budi baik dan kearifan mulai tertanam di dalam diri Habil.

Habil memilih profesi bercocok tanam dan Qabil memilih profesi beternak binatang. Habil kemudian menjadi simbol pribadi yang baik dan Qabil menjadi simbol pribadi buruk. Ketika keduanya diminta mengeluarlan zakat dan infaknya, Habil mempersembahkan hasil tanaman yang berkualitas tinggi, sedangkan Qabil mempersembahkan binatang yang kurus dan kecil. Tuhan menerima persembahan Habil dan menolak persembahan Qabil. Tentu saja orangtuanya, Adam dan Hawa, lebih respek kepada perilaku Habil ketimbang Qabil yang selalu menampilkan perbuatan tidak terpuji.


Akumulasi kebencian dan kecemburuan berkecamuk di hati Qabil lalu muncul niat buruk untuk membunuh kakaknya, Habil. Alhasil, Qabil mengambil batu besar lalu dipukulkan ke kepala Habil dan Habil jatuh tersungkur dan menghembuskan nafas terakhirnya. Inilah pembunuhan pertama dalam sejarah kemanusiaan. Habil dan Qabil merupakan simbolisasi dari drama kehidupan anak manusia. 


Habil menjadi simbol manusia agung yang mempunyai sifat-sifat ideal, taat hukum, mengendalikan nafsu, menyembah Tuhan dengan baik, dan memelihara sopan santun. Sedangkan Qabil menjadi simbol manusia jahat yang mempunyai sifat-sifat buruk, egois, curang, dikuasai hawa nafsu, jauh dengan Tuhan, dan merelakan orang lain binasa demi kepentingan pribadinya. Drama kehidupan Habil dan Qabil akan selalu berlangsung sepanjang kehidupan manusia. 


Bahkan drama kehidupan itu semakin gampang ditemukan di mana-mana; memasuki seluruh profesi dan lapangan kehidupan umat manusia. Di kantor dan tempat kita berusaha, di pasar, di persawahan, di perkebunan, di laut dan di darat, di dalam rumahtangga, dan bahkan di dalam rumah-rumah ibadah pun tak terkecuali.


Nenek moyang figur manusia ideal ialah Habil dan nenek-moyang figur manusia jahat ialah Qabil. 

Setiap anak cucu Adam diberi pilihan (ikhtiyar), untuk mengikuti kedua figur kontradiktif tersebut. Seseorang mengikuti figur Habil akan menempuh jalan hidup yang benar, mengikuti ketentuan hukum Tuhan, mampu mengendalikan nafsu syahwat, termasuk syahwat politiknya, rela berkorban dan memberikan yang terbaik untuk orang lain dengan penuh ketulusan, bahkan rela berkorban dan menanggung segala risiko dengan pilihan hidup yang diambilnya. 


Sebaliknya seseorang mengikuti figur Habil akan menempuh jalan hidup yang sesat, melanggar berbagai ketentuan hukum Tuhan, dikendalikan oleh nafsu syahwatnya, dan rela membangun istana di atas puing kehancuran orang lain. Figur Habil dijanjikan surga dan figur Qabil dijanjikan neraka. Semoga kita menjadi pengikut Habil. Aamiin...



Prof DR. KH. Nasaruddin Umar
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger