Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Boleh Pamer Asal Jangan Riya’ (3)

Boleh Pamer Asal Jangan Riya’ (3)

Mengaku atau pun tidak, manusia pasti memiliki dosa akibat kejahatan yang dilakukan hati atau pun anggota tubuhnya. Memang terkadang seseorang itu merasa khawatir bahwa kalau dia menyimpan dosanya akan dianggap sebagai periya’. Sebenarnya tidak demikian. Yang tidak boleh adalah apabila dia menutupi dosanya agar dianggap sebagai orang suci, wira’i, atau dekat dengan Allah. Padahal dirinya berlumuran banyak dosa.

Seorang shodiq (memiliki kejujuran hati) yang aman dari riya’ diperbolehkan melakukan hal ini dalam delapan keadaan:

1. Merasa senang karena Allah merahasiakan perbuatan dosanya. Dan akan merasa susah jika dosanya tersebut diperlihatkan Allah kepada orang lain. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa “Barangsiapa yang di dunia dosanya ditutupi oleh Alloh maka kelak di akherat Allah juga akan menutupi dosanya”. Maka jangan sampai bercerita perbuatan dosa yang dilakukan kepada orang lain.

2. Meyakini bahwa Allah sangat membenci dosa yang diperlihatkan dan lebih suka kalau dirahasiakan. Sebagaimana dalam sabda nabi yang artinya, “Barangsiapa yang berbuat dosa maka hendaknya dia membuat tutup dengan tutupnya Allah”. Karena dengan demikian meskipun dia melakukan kejahatan akan tetapi di dalam hatinya masih menyisakan rasa kecintaan akan apa yang dicintai oleh Allah.

3. Membenci cacian orang lain kepadanya yang bisa menyibukkan dan menyusahkan hati dan pikirannya sehingga dia lupa beribadah kepada Allah. Karena harus diakui bahwa karakter manusia memang sangat tidak menyukai hinaan orang lain. Dan karena faktor ini pula seseorang harus membenci pujian orang lain karena juga bisa menyibukkan diri dan hatinya dari penghambaan kepada Allah.

4. Menutupi kesalahan karena tidak suka hinaan orang lain yang bisa menyakitkan hati, sebagaimana pukulan yang juga bisa menyakiti badan. Takut sakit hati karena cercaan orang lain memang bukan hal yang dosa dan pelakunya bukan pelanggar aturan agama. Akan tetapi perasaan ngersulo dan sambat-sambat akibat sakit hati dan memaksa dia melakukan hal-hal yang melanggar norma-norma agama akibat rasa sakit dari cacian orang lain tersebut inilah yang sangat dilarang oleh agama.

Memang kesempurnaan sebuah kesungguhan hati terhadap Allah (as-shidqu) adalah ketika seseorang itu tidak membedakan antara pujian dan cacian orang lain. Karena dirinya sangat menyadari bahwa yang bisa memberi kemanfaatan dan kemudlorotan hanyalah Allah saja. Manusia adalah makhluq lemah yang tidak bisa memberikan apa-apa.

Sejujurnya ini bukanlah hal yang mudah dilakukan. Sangat jarang sekali orang yang mampu menanggungnya. Karena pada realitasnya mayoritas watak dan karakter manusia itu sangat benci cacian dan suka pujian. 

Ketika seseorang dicaci, dia akan merasa punya kekurangan, dan ketika dia puji maka dia akan merasa punya banyak kelebihan. Padahal tidak jarang pula cacian yang pada hakekatnya adalah merupakan pujian. Yaitu ketika itu dilakukan oleh seorang yang waskitho kepada Allah. Karena mereka adalah saksi-saksi Allah. 

Cacian mereka berarti pula cacian Allah swt. dari kekurangannya dalam masalah agama. Kesusahan yang dibenci agama adalah bila itu timbul akibat dirinya tidak mendapatkan pujian dari orang lain.



Penulis Berasal dari Ponpes Langitan (Sumber: Kitab Ikhya')
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger