Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Cermin- Cermin Hati (2)

Cermin- Cermin Hati (2)

Merekalah para Nabi, orang-orang sholeh dan orang-orang yang mati syahid, merekalah sebaik-baik teman. 

Engkau boleh saja menghargai prestasi seseorang   - meskipun dia kafir - dalam kerangka pembelajaran terhadap dirimu. Engkau boleh menirunya dalam hal karya, etos kerja maupun semangat keilmuannya, tetapi engkau dilarang mencontoh perilaku dan kebiasaanya. Jika kebiasaan orang-orang kafir senantiasa berbangga diri dengan hasil-hasil pencapaiannya, engkau harus tawadu’ betapa pun hebat hasil karyamu. Jika orang-orang kafir menganggap semua kesuksesannya berasal dari usaha dan kerja kerasnya, maka dirimu mesti sadar bahwa ikhtiarmu semata-mata berkat pertolongan dan kebaikkan Allah ta’Ala. 

Yang pertama harus engkau perhatikan bukanlah bagaimana engkau bisa mencapai keberhasilan  -sebab telah jelas bahwa semua karena Allah-, tetapi kemana hatimu bergerak saat engkau menuju, sampai dan setelah keberhasilan itu dalam genggamanmu, itulah yang harus engkau awasi. Jika geliat hatimu senantiasa menuju arah cahaya, apapun pencapaianmu tidak lagi menjadi penting bagimu. Tapi jika ia cenderung pada kegelapan, maka engkau harus berhati-hati.   

Anas r.a meriwayatkan bahwa pada suatu ketika ada seseorang dari dusun yang bertanya kepada Rasul SAW, “Kapankah datang Hari Kiamat, ya Nabi?” Nabi pun balik bertanya, “Apa yang engkau persiapkan untuk itu?’ 

Orang tersebut menjawab, “Saya menyiapkan akherat dengan mencintai Allah  dan Rasulullah”. Nabi bersabda, “Jika begitu, kelak engkau akan bersama dengan orang-orang yang engkau cintai”. 

Di dalam riwayat lain orang itu menjawab, bahwa dia tidak menyongsong Hari Kiamat dengan banyaknya ibadah puasa dan sholat juga sedekah, tetapi ia menyambutnya dengan mencintai Allah dan Rasul-Nya. Inilah kebenaran, sebaik-baik bekal adalah mencintai Allah dan Rasul SAW. Fitrah manusia adalah untuk menyembah-Nya dengan mengikuti petunjuk Rasul-Nya. Cinta adalah sebaik-baik alasan ketika engkau bersujud kepada-Nya. Sungguh naïf jika engkau mengandalkan amal ibadahmu. Amalmu tidak akan cukup untuk menebus dosa-dosamu, ibadahmu tidak akan pernah mengimbangi segala nikmat yang telah Allah berikan padamu.  

Belumlah sempurna iman seseorang jika masih lebih mencintai apa saja melebihi dari mencintai  Allah dan Rasul-Nya. Makna sabda Rasulullah tersebut adalah, engkau boleh dan dianjurkan mencintai dan berkasih sayang terhadap sesama, namun semua itu dalam rangka mewujudkan rasa cintamu kepada Allah dan Rasulullah. Ingatlah bahwa kita harus mencintai dan membenci karena Allah. 

Jika engkau lebih mencintai sesuatu melebihi cintamu kepada Allah dan Muhammad Rasulullah, itulah pertanda hatimu masih sakit. Obatilah sakitmu dengan lebih sering menghadiri majelis-majelis ilmu, melazimkan dzikir dan senantiasa bersholawat. Jika engkau tidak mengobatinya semasa hidup di dunia, engkau akan dipaksa mengobatinya di akherat. Takutlah sebab rumah sakit akherat itu adalah neraka. Hanya hati yang sehat yang akan selamat, hati yang sehat akan kembali pulang ke rumahnya, Surga! 

Abu Huraira r.a meriwayatkan salah satu wasiat Nabiyullah SAW, “manusia itu ibarat tambang kebaikkan ataupun keburukkan sebagaimana tambang emas dan perak. Manusia-manusia pilihan di zaman jahiliyah juga akan menjadi manusia-manusia pilihan di zaman Islam”. 

Arti dari sabda Rasulullah tersebut adalah jika engkau memang berbakat sebagai pejalan spiritual dan pencari kebenaran, maka datangnya Islam adalah khabar gembira bagimu. Engkau akan menyambutnya dengan suka cita dan mengikuti risalah-risalah yang dibawa oleh Nabi-Nya. Tapi jika hatimu cenderung pada kegelapan dan selalu menutup diri dari kebenaran, maka tiada beda antara zaman jahiliyah dan zaman Islam bagimu. Engkau akan tetap pada posisimu dan selalu setia pada kebodohanmu. Hatimu yang sekeras batu cenderung menolak apapun yang disampaikan oleh Rasul-Nya.  

Orang-orang pilihan adalah mereka yang memahami benar bahwa kehidupan dunia ini hanya sementara. Kesadaran itu akan menuntunya untuk selalu belajar mengenai kehidupan abadi yang hanya dapat diperoleh melalui ilmu-ilmu agama. Kesadaran tiu akan membawanya menuju pencerahan dalam perjalanan spitiualnya.    

Manusia-manusia pilihan yang dimaksud Rasul SAW adalah mereka yang ketika Allah SWT menciptakan ruh-ruh di zaman azali telah mempunyai kecenderungan selalu menuju arah cahaya. Di alam materi, ruh-ruh tersebut menjadi manusia-manusia yang selalu mencari kebenaran-kebenaran sejati.  Allah ta’Ala menciptakan ruh-ruh dalam keadaan bergerombol-gerombol. Arwah-arwah dalam kelompok itu akan saling mengenal di dunia. Kelompok yang terpisah akan saling mengingkari dan tidak mengenal satu sama lain. 



Yusron Mudzakkir (Ponpes Raudkatul Fatihah)
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger