Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Melarat Yang Dahsyat Bag. 2

Melarat Yang Dahsyat Bag. 2

Uneg-uneg-nya orang sekarang dan yang lalaikan sabda Nabi saw kebanyakan pada beratnya beban kehidupan. Bila sabda Nabi saw tadi sampai orang-orang ini mereka tidak mau dan tidak mampu melihat perolehan dahsyat hidup faqir kecuali rasa berat dan wagu (naif) saja, “Perolehan cuman gituan, koq, dibilang dahsyat? Masak iya…!!!

Iya, bila orientasi hidupnya hanya kehidupan dunia. Iya, bila merespon hidup dunia ini sebagai kehidupan yang utama, pertama sekaligus terakhir atau satu-satunya kehidupan. Namun, camkan, daur hidup manusia tidak sesederhana kehidupan binatang, tanaman, gunung dan lain-lain. Fakta ayatnya, hidup manusia juga meliputi kehidupan pasca-dunia yang kekal dan bekal yang mesti manusia tata agar selamat dan sejahtera di akhirat hanya bisa dilakukan saat di kehidupan dunia –satu-satunya periode menata bekal. Jadi, setiap hal yang terjadi dan dilakukan manusia di kehidupan dunia ini butuh ‘ilmu yang dirisalahkan Rasulullaah saw agar produktif dan bermanfaat jadi bekal hidupnya di akhirat, tak tersesat maupun mendatangkan madlarat baginya. Termasuk pula di dalam kefaqiran hidup, di situ  terdapat manfaat yang dahsyat bagi manusia yang menjalaninya.    

Manfaat dahsyat hidup faqir tidak direken orang jaman sekarang lantaran orang-orang ini doyannya mengeluh. Saya menyebut jaman ini jaman sambat-sebut (mengeluh-merintih).  

Hampir-hampir tidak ada orang yang tidak mengeluh, resah dan gelisah. Tingkah berkeluh-kesah beban hidup bukan hanya monopoli orang-orang melarat tapi juga konglomerat. Jaman sambat-sebut ini orang-orang yang berpunya dan berkecukupan pun jarang bersyukur justru nggresula ngaluwara (mengerutu menjalar-jalar) ke sesamanya bahkan kepada Tuhan, “Kenapa kami mesti dibebani seberat ini, Duh Gustiiii?!!!”

Dulu, jaman Nabi saw, utusan kaum faqir sowan pada beliau saw menyampaikan uneg-uneg dalam upaya meraih pahala. Dahsyatnya manfaat hidup faqir telah disabdakan Nabi saw. Mendengar risalah Rasulullaah saw orang-orang melarat itu serta-merta menyatakan ridla –atas kemelaratan yang mereka tanggung sekaligus manfaat dahsyat dari melaratnya hidup-  kepada Allah. Kaum faqir di jaman dan di dalam didikan Nabi saw itu tidak mengeluhkan beratnya beban kemelaratan. Beban macam itu hal yang remeh saja dan tak jadi uneg-uneg bagi faqir yang shabar dan ikhlas.

Sekarang, andai Nabi saw masih hidup, orang-orang pasti sowan juga menghadap Nabi saw. Sowan-nya bukan mohon pengajaran untuk meraih pahala tapi menyampaikan uneg-uneg tentang beratnya beban hidup lalu menghiba-hiba agar Nabi saw membereskan beban itu dengan doa (Rasulullaah saw bukanlah anak-Tuhan ataupun Tuhan itu sendiri melainkan hamba yang Dia Utus dan Terkasih hingga doanya tiada tertolak di sisi-NYA).

Begitulah sowan-nya orang-orang jaman ini pada Nabi saw andai beliau masih hidup. Saya pastikan begitu. Kenapa? Wong kepada Pewaris Nabi saw (yakni ‘ulama akhirat) saja orang-orang ini sowan dengan permohonan agar membereskan persoalan keduniawian. Mereka berusaha memeras doa dalam kepentingan duniawi ke Pewaris Nabi saw yang tentu saja enggan memenuhi permintaan orang-orang yang memperturutkan hawa-nafsu.

Sowan-nya orang-orang ini ke ‘ulama akhirat bukan untuk mendalami ‘ilmu seperti utusan kaum faqir yang sowan ke Nabi saw untuk meraih pahala maksimal dalam penghidupannya yang minimal. Kaum faqir dulu disambut dan disebut Nabi saw dengan begitu hebatnya: orang-orang yang di-Cintai Allah! Nabi saw adalah Utusan Allah Tuhannya semesta alam- tentu mengetahui kaum faqir yang mengirim delegasi menghadap beliau itu layak di-Cintai Allah: hidupnya faqir diliputi shabar, ikhlas dan orientasi hidup meraihkan pahala.

Apabila kita lihat manusia-manusia yang tak gentar hadapi derita dunia, tak terguncangkan oleh hawa nafsu, bahagia dalam sempitnya penghidupan, tetap tenang di tengah badai dan topan cobaan, tak silau gemerlapnya dunia, hidup berorientasi meraihkan pahala …apakah keteguhan macam itu tak memaksa kita menghormati insan-insan tadi? Lalu, bagaimana pula kita tak menghormatinya sedang Allah mencintai insan-insan itu?

Shaahibut Taaj KH Fuad berwasiat agar kita rila-lila-legawa (rela, lega, menerima) terhadap setiap Ketentuan Allah yang tiba ke kita. Bila Allah nglakokke (menentukan, men-casting)  diri kita hidup dalam keadaan faqir atau berkekurangan maka hendaknya kita kenangi sabda Nabi saw: pada hidup berkekurangan dan melarat terdapat hal yang dahsyat.
Teguhkan hati kita bila hidup dililit sempit dan pahit. Bertahanlah. Jalani casting ini dengan shabar dan ikhlas. 

Ketekunan menjalani casting ini moga-moga mengantarkan kita masuk nominasi memenangi Allah Awards (hadiah dari Allah) berupa memasuki mahligai-mahligai tinggi di surga yang menjadi haknya para VVIP (very very important persons) yakni para nabi dan pahlawan syahid; masuk surga dengan akses hotline lebih cepat dan lebih dulu lima ratus tahun dari para hartawan; previlese bisa meraih pahala yang melebihi orang-orang yang di-casting jadi orang kaya-berharta.



Penulis adalah Santri Ponpes Raudhatul Fatihah, Bantul
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger