Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , » Keadaan Jenazah Ketika Wafat (3)

Keadaan Jenazah Ketika Wafat (3)

“ Tidakkah kalian mendengar suara tangisku ”, kata Rasul SAW tentunya para sahabat mendengar. Maka Rasul SAW berkata Allah itu tidak akan marah kalau seandainya kita mengalirkan air mata kesedihan atau hati kita bersedih atas saudara kita yang wafat, tidak akan murka Allah, namanya kekasih di tinggal oleh orang yang dicintainya, anaknya kah, suaminya kah, temannya kah, tentunya ia menangis dan sedih, maka Allah tidak akan murka akan hal itu tetapi Allah bisa murka karena ini ( seraya menunjuk ke lidah beliau) atau mengasihani dan melimpahkan kasih sayang sebab lidah. Maksudnya apa? 

Allah SWT bisa murka karena ucapan kita, Allah juga bisa menyayangi kita karena ucapan kita , demikian pula jenazah, akan menyulitkannya kalau keluarganya terus tidak menerima takdir kematiannya ( misalnya berkata : aku tidak rela saudaraku ini mati, kenapa takdir begini, kenapa Allah tidak adil ) hal itu akan memberatkan jenazah, karena Allah akan menuntutnya, engkau tidak mengajari saudara, kerabat dan keluargamu tentang kesabaran? Dan sebaliknya Allah bisa mengasihi jenazah kalau di doakan oleh keluarganya dan kerabatnya .

أَلَا تَسْمَعُوْنَ إِنَّ اللهَ لَا يُعَذِّبُ بِدَمْعِ اْلعَيْنِ وَلَابِحُزْنِ اْلقَلْبِ وَلَكِنْ يُعَذّبُ بِهَذَا فَأشَارَ إِلَى لِسَانِهِ أَوْ يرْحَمُ

Ingatlah ucapan ini, hati-hatilah Allah itu bisa murka atau melimpahkan kasih sayang karena ucapan lidah kita. Jadi, kelanjutannya adalah memperbanyak doa menambah kasih sayang Allah kepada kita, memperbanyak zikir menambah kasih sayang Allah kepada kita, oleh sebab itu berkumpul untuk mendoakan jenazah dan lain sebagainya sudah jelas hadits ini bisa di angkat sebagai dalil, bahwa orang yang di dalam kubur sungguh mendapat kasih sayang sebab lisan, ucapan zikir seperti tahlil dan lain sebagainya, dan tentunya di dalam seluruh mazhab telah berittifaq semua amal pahala yang dikirimkan kepada yang wafat sampai kepada yang wafat. 

Dan yang disebut putus amalnya adalah amalnya dia karena dia tidak bisa beramal lagi kecuali tiga hal saja yaitu shadaqah jariyah, anak shalih yang mendoakannya dan ilmu yang bermanfaat, selain itu tidak ada lagi dia bisa beramal, namun amal orang lain yang dikirimkan tentunya hal itu sampai dan hal itu sudah dilakukan oleh Rasulullah SAW sebelum semua orang melakukannya, bahkan Rasulullah SAW mengirimkan pahala untuk semua yang hidup dan yang wafat . Diriwayatkan dalam Shahih Muslim saat Rasulullah SAW menyembelih kurban seraya berkata :

اَللَّهُمَّ فَتَقَبَّلْ مِنْ مُحَمَّد وَمِنْ آلِ مُحَمَّدٍ وَمِنْ أُمَّةِ مُحَمَّدٍ

“ Wahai Allah terimalah kurban ini dari Muhammad, dari keluarga Muhammad dan dari seluruh ummat Muhammad “

Sembelihan untuk seluruh ummat beliau yang masih hidup,yang sudah wafat atau yang belum lahir di masa itu kebagian dari pahala kurbannya Rasulullah SAW, demikian hadits riwayat Shahih Muslim.


Lantas hadits yang tadi disebutkan:


إِنَّ اْلمَيِّتَ لَيُعَذَّبَ بِبُكَاء أَهْلِهِ عَلَيْهِ

“ Sesungguhnya mayyit itu di siksa karena tangisan keluarganya atasnya”.

Al Imam Ibn Hajar di dalam Fathul Bari mensyarahkan makna hadits ini, menukil beberapa hadits shahih bahwa yang dimaksud adalah di masa itu orang-orang yang akan wafat itu sudah berwasiat kalau aku wafat nanti tangisi, ada kelompok penangis yang memang tugasnya menangisi mayyit, maksudnya kalau seandainya orang-orang yang tidak baik maka tentunya banyak yang tidak menangis, maka dibayarlah orang-orang untuk menangisi mayyit itu, ini yang dimaksud dalam hadits tersebut. 

Makna yang kedua adalah orang yang minta ditangisi ketika ia wafat, nanti kalau aku wafat kalian harus menangisiku maka hal ini yang di maksud oleh Al Imam Ibn Hajar. Yang ketiga, orang yang tidak mengajari keluarganya untuk bersabar kalau seandainya ada kematian dari keluarganya. Namun pendapat yang terkuat adalah yang pertama dan yang kedua, dan yang ketiga ini bukan pendapat jumhur (jumhur : mayoritas) . 

Pendapat jumhur adalah dulu di masa jahiliyah ada orang yang sengaja membayar kelompok tertentu untuk menangisi, hal itu yang membuat mayyit tersiksa disebabkan perbuatan orang itu menangisi, tapi jika seseorang menangisi mayyit begitu saja hal itu terjadi di masa Rasulullah SAW, demikian juga para shahabat besar sebagaimana riwayat tadi Sa’ad bin Ubadah RA, namun karena Rasulullah menjenguknya ia belum wafat, maka di saat itu Sa’ad Bin Ubadah sembuh dari sakitnya dan tidak wafat.

Diriwayatkan dalam Shahih Bukhari ketika Sayyidina Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan ayahnya wafat , “ di saat ayahku wafat aku menangisi jenazah ayahku yang wafat, dan orang-orang melarang aku, supaya jangan menangis keras, tapi Rasullullah tidak melarangku “. Orang sedang menagis sedih mau dilarang dihardik lagi, Rasul SAW adalah orang yang paling lembut, beliau diam. Namun ketika datang Fathimah Ra (bibi Jabir bin Abdillah) maka ia menangisinya (tidak melarang/menghardik), lihat (bagaimana) cara Rasul untuk mendiamkan orang yang menangis , Rasul SAW tidak menghardik “keluar jangan tangisi mayyit..!!” beliau tidak berkata begitu, tapi beliau berkata :

تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ

“Engkau menangisi atau tidak menangisi jenazah ini, sungguh malaikat tetap menaunginya sampai kalian mengangkat jenazahnya “.

Lihat cara Nabi SAW menenangkan orang yang sedang dalam kesedihan, ditenangkan, maksudnya apa? Supaya berhenti tangisnya, supaya terhibur dari kesedihannya, bukan dihardik. Demikianlah akhlak Nabi Muhammad SAW ketika Sayyidina Jabir menangis, Rasul tidak melarang yang lain melarang sedangkan Rasul diam. Tapi ketika bibinya datang dan menagis, maka Rasul menenangkan denagn ucapan ini :

تَبْكِيْنَ عَلَيْهِ أَوْلَا تَبْكِيْنَ مَا زَالَتِ اْلمَلاَئِكَةُ تَظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رَفَعْتُمُوْهُ

Demikian indahnya cara dan metode yang sangat luhur dan sempurna dari budi pekerti Rasulullah SAW.



Habib Munzir Al Musawwa
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger