Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » 3 Tanda Kebodohan Bag. 2

3 Tanda Kebodohan Bag. 2

Kedua Selalu menceritakan apa yang dia saksikan. 

Ini juga menunjukkan betapa bodohnya orang tersebut. Kalau dia menceritakan suatu kecacatan (kejelekan) dari orang lain maka hal ini akan sangat berbahaya dan merupakan dosa besar. Kita tidak boleh menceritakan kejelekan orang lain karena itu merupakan rahasia Allah swt. Oleh karena itu kalau kita ingin menasehati teman kita yang melakukan maksiat kita harus menasehatinya di tempat yang sepi bukan di tempat umum, sehingga bisa diketahui orang banyak. Orang yang selalu menceritakan kejelekan orang lain selalu merasa bahwa dialah orang paling baik dan yang lain berada di bawahnya. Kalau dia sadar bahwa dia adalah orang yang rendah maka dia pasti tidak akan berani menjelekkan orang lain. Dalam sebuah hadits telah disebutkan :

ان الله ستير يحب الستر السنن الكبرى للبيهقي - (ج 7 / ص 97)

Ketiga Selalu mengatakan kepada orang lain apa saja yang ia ketahui. 

Terkadang seseorang menceritakan bahwa dia telah melakukan ibadah-ibadah maka hal ini adalah kebodohan yang sangat parah. Dia tidak pernah memikirkan apa yang dia omongkan. Dia juga tidak pernah berpikir apakah omongan tersebut termasuk tahddus bin ni'mat atau hanya ingin menunjukkan bahwa dia adalah orang yang tinggi derajatnya. Memang Al-Qur'an telah menjelaskan :

وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ (11) [الضحى/11]

Kalau memang tahadduts maka itu adalah hal yang baik.

Diantara kebodohan yang lain adalah menceritakan kejelekan atau maksiatnya sendiri. Ini adalah kesalahan yang fatal dan kalau sampai mengarah pada kekafiran maka dia menjadi kafir. Kalau kita melakukan maksiat maka kita tidak boleh berkeluh kesah kepada orang lain. Kita harus kembali kepada Allah. Dalam Al-Qur'an telah disebutkan :

فَفِرُّوا إِلَى اللَّهِ إِنِّي لَكُمْ مِنْهُ نَذِيرٌ مُبِينٌ (50) [الذاريات/50]

Kalau ada orang yang telah taubat dari kemaksiatannya maka semua dosanya diampuni. Jadi kita tidak boleh menceritakan kemaksiatan orang tersebut karena terkadang orang tersebut telah bertaubat.

Kalau kita memiliki banyak ilmu maka kita tidak boleh menceritakan semuanya kepada masyarakat. Kita harus bisa memilah-milah. Dalam sebuah hadits telah disebutkan :

124 - وَقَالَ عَلِيٌّ حَدِّثُوا النَّاسَ بِمَا يَعْرِفُونَ أَتُحِبُّونَ أَنْ يُكَذَّبَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ صحيح البخاري - (ج 1 / ص 217)

Contoh saja kita menjelaskan ilmu tauhid dengan sangat dalam sekali maka hal tersebut akan membingungkan masyarakat. Oleh karena itu seorang khotib haruslah orang yang pintar menyampaikan dan dia harus bisa mengarahkan masyarakat pada kebaikan. Walhasil jika kita melihat tiga indikator di atas pada diri seseorang maka dia adalah orang bodoh sebagaimana penjelasan Ibnu Athaillah dalam hikmahnya.



Kajian Kitab Hikam oleh KH. Muhammad Wafi, Lc, M. Si
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger