Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Home » » Akibat Mencium Istri di Hadapan Orang Lain

Akibat Mencium Istri di Hadapan Orang Lain

وَالْمُرُوءَةُ تَخَلُّقٌ بِخُلُقِ أَمْثَالِهِ فِي زَمَانِهِ وَمَكَانِهِ، فَالْأَكْلُ فِي سُوقٍ، وَالْمَشْيُ مَكْشُوفَ الرَّأْسِ، وَقُبْلَةُ زَوْجَةٍ وَأَمَةٍ بِحَضْرَةِ النَّاسِ، وَإِكْثَارُ حِكَايَاتٍ مُضْحِكَةٍ، وَلُبْسُ فَقِيهٍ قُبَاءَ وَقَلَنْسُوَةٍ حَيْثُ لَا يُعْتَادُ، وَإِكْبَابٌ عَلَى لَعِبِ الشِّطْرَنْجِ أَوْ غِنَاءٍ أَوْ سَمَاعِهِ، وَإِدَامَةُ رَقْصٍ يُسْقِطُهَا، وَالْأَمْرُ فِيهِ يَخْتَلِفُ بِالْأَشْخَاصِ وَالْأَحْوَالِ وَالْأَمَاكِنِ،

Martabat (wibawa) adalah beretika sesuai dengan kalangan, waktu dan tempatnya. Karenanya seperti makan di pasar, berjalan dengan kepala terbuka, mencium istri atau amat (sahaya wanita) dihadapan orang, banyak bercerita yang membuat tertawa, memakai pakaian laksana orang ahli fiqh Qubba, memakai peci yang tidak menjadi kebiasaan (setempat), hobi bermain catur, bernyanyi atau mendengarkannya, dan hobi berjoget dapat meruntuhkan keperwiraan. Dan segalanya memang berbeda-beda sesuai karakter, situasi dan kondisinya. (Al-Manhaj li an-Nawaawy I/497)

 ( وَقُبْلَةُ زَوْجَةٍ أَوْ أَمَةٍ ) فِي نَحْوِ فَمِهَا لَا رَأْسِهَا أَوْ وَضْعُ يَدِهِ عَلَى نَحْوِ صَدْرِهَا

(Keterangan mencium istri dan sahaya wanita) disemacam bibirnya tidak kepalanya atau tidak pula menaruh tangan pada dada istrinya. (Tuhfah al-Muhtaaj 44/11)

 قال البلقيني المراد الناس الذين يستحيا منهم في ذلك والتقبيل الذي يستحيا من إظهاره فلو قبل زوجته بحضرة جواريه أو بحضرة زوجات له غيرها فإن ذلك لا يعد من ترك المروءة وما يعتاد من تقبيل العروس ليلة جلائها في عده من ترك المروءة توقف لأن اعتبار ذلك أخرجه عن مقام الاستحياء وأما تقبيل الرأس ونحوه فلا يخل بالمروءة
 ا هـ

Berkata al-Bulqyny Yang dimaksud dengan Orang lain (dalam keterangan diatas) adalah orang-orang yang malu melihat hal diatas, sedang yang dimaksud dengan mencium adalah setiap perbuatan yang sekiranya membuat malu bila ditampakkan (tidak hanya sebatas mencium), karenanya bila mencium istri didepan sahaya-sahaya wanitanya atau istri-istrinya yang lain maka tidak tergolong meruntuhkan martabat.

Mencium istri yang biasa terjadi saat malam perkawinan di hadapan orang banyak (menurut pendapat kebanyakan ulama) juga tergolong menjatuhkan martabat. Namun menurut Imam Zakaria al-Anshari dan Al-Bulqyny, mengklasifikasikannya kearah sana masih mauquf (belum dapat disimpulkan dengan tegas) karena hal tersebut sudah keluar dari kajian “menimbulkan perasaan malu”, sedang mencium kepala dan sejenisnya tidak menimbulkan celanya martabat. (Hasyiyah ar-Romli IV/348). Wallaahu A'lamu Bis Showaab


facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/240343905988425/ oleh Ust. Masaji Antoro
Adv 1
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger