Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Keutamaan Sholat Fardhu

Keutamaan Sholat Fardhu

Ketahuilah wahai saudara-saudaraku, semoga Allah memberikan pemahaman agama, ilham, dan petunjuk kepada kita, serta melindungi kita dari keburukan hawa nafsu kita.


Sesungguhnya shalat adalah tiang agama, dan shalat merupakan pilar terkuat dalam rukun Islam yang lima setelah syahadat. Dan posisi shalat dalam agama bagaikan posisi kepala pada tubuh seseorang. Seperti halnya seseorang takkan hidup tanpa kepala, maka seseorang tidak dianggap beragama tanpa melaksanakan shalat. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam hadits.
 
Semoga Allah menjadikan kita sebagai orang-orang yang memelihara shalat, senantiasa mendirikannya, yang khusyuk dalam melaksanakannya, dan selalu menjaganya. Demikianlah Allah memerintahkan hamba-hamba-Nya yang beriman dalam kitab-Nya. Ia berfirman, “Peliharalah segala shalat (mu), dan (peliharalah) shalat wustha. Berdirilah karena Allah (dalam shalatmu) dengan khusyuk.”
 
Shalat yang dimaksud dalam firman di atas adalah shalat wajib yang lima jumlahnya, yaitu : zhuhur, ashar, maghrib, isya`, dan shubuh. Inilah shalat yang tidak seorang pun boleh meninggalkannya dalam keadaan apapun selama ia masih berakal, walau orang itu telah memasuki usia lanjut, menderita sakit, dan lain sebagainya.
 
Adapun yang dimaksud dengan shalat wustha ialah shalat ashar. Demikianlah keterangan yang terdapat dalam hadits shahih yang juga disebutkan Allah secara khusus karena memiliki keutamaan tersendiri. Dan hal ini sudah cukup dikenal dan masyhur dalam Islam.
 
Dikabarkan bahwa sebab turunnya izin melaksanakan shalat khauf adalah sebagai berikut. Dahulu orang-orang Islam pernah berada dalam suatu peperangan bersama Rasulullah. Dalam peperangan tersebut Rasulullah saw bersama orang-orang Islam melaksanakan shalat zhuhur sebagaimana biasanya, dan saat itu kaum musyrikin dekat dengan mereka dan melihat Rasulullah beserta orang-orang Islam sedang melaksanakan shalat zhuhur. Ketika mereka selesai dari shalat, sebagian kaum musyrikin berkata, “Seandainya kita menyerang mereka dan mereka dalam keadaan shalat, pasti kita akan berhasil menghancurkan mereka.” Sebagian kaum musyrikin lainnya berkata, “Sesungguhnya setelah shalat yang mereka kerjakan ini masih ada shalat yang lebih mereka cintai daripada ayah-ayah mereka dan anak-anak mereka (yaitu shalat ashar).” Kemudian turunlah Jibril as kepada Rasulullah dengan shalat khauf. Perhatikanlah bagaimana keutamaan shalat ashar, yang sampai kaum musyrikin pun mengetahuinya.
 
Allah SWT berfirman, “..dengan kembali bertaubat kepada-Nya dan bertakwalah kepada-Nya serta dirikanlah shalat dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Allah.” Yang dimaksud al-Inabah dalam ayat tersebut adalah kembali kepada Allah, sedangkan bertaqwa adalah takut kepada Allah, dan mendirikan shalat adalah melaksanakannya dengan cara yang telah diperintahkan oleh Allah.
 
Allah SWT berfirman, “Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyuk dalam shalatnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna, dan orang-orang yang menunaikan zakat, dan orang-orang yang menjaga kemaluannya, kecuali terhadap istri-istri mereka atau budak yang mereka miliki, maka sesungguhnya mereka dalam hal ini tiada tercela. Barangsiapa mencari yang di balik itu maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas. Dan orang-orang yang memelihara amanat-amanat (yang dipikulnya) dan janjinya, dan orang-orang yang memelihara shalatnya.”
 
Allah SWT berfirman, “..kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya..” Allah mengecualikan mereka dari golongan orang-orang yang diciptkan dengan penuh keluh-kesah dan gelisah ketika mereka tertimpa keburukan, dan lalai ketika mereka mendapat kebaikan. Seakan-akan Allah swt berkata, “Sesungguhnya orang-orang yang mendirikan shalat pada hakikatnya tidak termasuk orang-orang yang suka berkeluh-kesah dan gelisah.”
 
Allah SWT berfirman, “Dan dirikanlah shalat, sesungguhnya shalat mencegah perbuatan keji dan munkar, dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-badah yang lain).” Seseorang yang mendirikan shalat seperti yang telah diperintahkan Allah dan Rasul-Nya, maka shalatnya akan mencegahnya dari perbuatan yang tidak disuakai Allah, seperti yang telah disebutkan di atas dan lain sebagainya dari perbuatan yang tidak disukai Allah.
 
Rasulullah SAW bersabda, “Shalatlah sebagaimana kalian melihatku shalat.” Orang yang mendirikan shalat dengan mengikuti dan mencontoh Rasulullah SAW dalam shalatnya, yakni seperti tata cara yang telah dinukil oleh para ulama salaf maupun khalaf, maka ia juga dianggap sebagai orang yang mendirikan dan senantiasa memelihara shalat.
 
Adapun shalat dibagi menjadi dua, yaitu shalat zhahir dan shalat batin, yang mana tidak akan sempurna shalat seseorang kecuali mendirikan keduanya secara bersamaan. Adapun shalat zhahir adalah berdiri, membaca, ruku`, sujud, dan lain sebagainya dari amal shalat zhahir. Dan shalat batin adalah khusyuk, hadirnya hati, ikhlas, tadabbur dan memahami makna bacaan yang dibacanya, tasbih, dan lain sebagainya dari amal shalat batin. Shalat zhahir adalah tugas seluruh anggota tubuh, dan shalat batin adalah tugas hati. Dan hati itulah yang menjadi tolak ukur al-Haq melihat seorang hamba.
 
Imam al-Ghazali berkata, “Perumpamaan orang yang mendirikan shalat zhahir dan lalai akan shalat batin bagaikan seseorang yang memberikan hadiah kepada seorang raja pelayan yang sudah mati. Dan perumpamaan orang yang lalai akan shalat zhahir bagaikan seseorang yang memberikan hadiah kepada seorang raja pelayang yang terpotong anggota tubuhnya dan tercukil kedua matanya. Kedua orang tersebut berhak mendapatkan hukuman dan siksan dari raja karena hadiah yang mereka berikan merupakan salah satu bentuk penghinaan.”
 
Kemudian al-Ghazali berkata, “ Dan sesungguhnya engkau menghadiahkan shalatmu kepada Tuhanmu, maka janganlah pernah engkau mempersembahkan bentuk shalat seperti yang telah disebutkan, karena hal tersebut akan mengakibatkan engkau mendapat siksa dan hukuman dari Allah.”



Habib Muhammad Syhab
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger