Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Menyibak Rahasia Surat Al-Kahfi (2)

Menyibak Rahasia Surat Al-Kahfi (2)

Dalam Surat Al Kahfi diantaranya dijelaskan mengenai pengalaman Spiritual Musa dan Khidir (Al-Kahfi: 60-82).

Siapakah Nabi Musa? 

Beliau masih keturunan Nabi Ibrahim AS. Sejak dalam kandungan sudah menderita sebab pada masa itu adalah masa Fir’aun berjaya. Ahli Nujum selaku penasehat Fir’aun bermimpi bahwa akan lahir seorang anak yang kelak menggantikan posisinya sebagai raja. Fir’aun tidak terima dan memerintahkan untuk membunuh semua perempuan hamil. Beruntung ibunya Musa berhasil lolos karena perutnya tidak terlihat seperti hamil. 

Ahli Nujum itu mengabarkan lagi bahwa calon bayi itu masih selamat. Lalu Fir’aun memerintahkan untuk membunuh seluruh bayi di negeri itu. Dan dicurigailah rumah ibu Musa. Sementara itu, Ibu Musa sudah sedikit frustasi. Sampai-sampai dia berpikiran “daripada anakku mati di tangan Fir’aun lebih baik dia mati di tanganku”. Dengan berat hati dia menyembunyikan bayinya di atas pemanggang roti yang panas. Algojo pun tak berhasil menemukan bayinya. Satu-satunya tempat yang tidak digeledah adalah pemanggang roti itu karena mereka berpikir tidak mungkin dijadikan persembunyian. Setelah algojo pergi, si Ibu dengan lemasnya membuka pemanggang roti. Dia membayangkan bayinya telah mati terpanggang. Namun ajaib! Saat tutupnya dibuka, bayi itu justru tersenyum pada ibunya. Maasyaa Allah!

Karena cemas Fir’aun akan berulah lagi, Ibu Musa memutuskan untuk menghanyuntukan bayinya ke sungai Nil. Lagi-lagi keajaiban terjadi, alih-alih mengalir dari hulu ke hilir, peti itu justru melawan arus dan berhenti tepat di belakang istana Fir’aun. Yang akhirnya ditemukan oleh istri Fir’aun yang sedang mandi. Melihat bayi itu, Asiyah begitu gembira. Apalagi sudah lama belum dikaruniai putra. 

Maka dia membujuk suaminya agar diizinkan untuk merawat bayi itu. Asiyah tercatat sebagai salah satu perempuan mulia yang disebuntukan oleh Nabi karena ketaatannya meski pada akhir hayatnya harus disiksa oleh suaminya sendiri. Saat musa kecil mulai rewel karena minta ASI, Asiyah mencarikan ibu susuan untuk anak angkatnya. Dan satu-satunya perempuan yang berhasil menenangkan bayi Musa ternyata tak lain adl Ibu kandungnya sendiri. Musa pun disusui olehnya. Ibunya sudah merasa bahwa bayi itu adl anaknya namun dia tetap bungkam demi keselamatan putranya.

Kisah rumah tangga Fir’aun menunjukkan bahwa tidak mesti orang jahat selalu dikelilingi orang jahat. Begitu pula sebaliknya. Jangan mudah menilai seseorang dari nasab atau lingkungan keluarganya. Istri paling shalihah justru istrinya orang paling jahat (Fir'aun). Anak yang paling buruk justru anaknya nabi Nuh. Paman paling jahat justru pamannya Nabi SAW. Setiap manusia akan mempertanggungjawabkan dirinya masing-masing. Maka itu, jangan hanya mengandalkan nasab! Wajar bila orang baik lahir dari orang tua yang baik, tapi itu tidak menjamin. Tetap harus ada pendidikan yang diberikan orang tua pada anak agar menjadi baik.

Ketika sudah besar, Musa berhasil mengalahkan Fir’aun dan Allah memberinya mukjizat dapat membelah lautan yang akhirnya menenggelamkan Fir’aun. Saat menyeberangi laut merah, Fir'aun mengendarai kereta kencana yang ikut tenggelam. Pada tahun 80an, seorang arkeolog menemukan fosil kereta tersebut di dasar laut merah. (Allahu Akbar! Terbukti bahwa kisah ini nyata terjadi)

Kecerdasan Musa sangat tinggi sehingga dia bisa "bercakap-cakap" dengan Allah (oleh karena itu Nabi Musa digelari Kalimullah). Dilatarbelakangi pernyataan dari seorang khadimnya bahwa dia orang paling ‘alim, kemudian Allah berfirman bahwa ada yang lebih alim. Maka Musa antusias untuk berguru padanya. Ternyata yang dimaksud adalah Khidir. Sikap Musa menujukkan bahwa untuk bisa memperoleh ilmu, seseorang harus tawadhu’ dan mau terus belajar dari siapapun. Bahkan Musa yang memiliki kecerdasan luar biasa pun masih mau belajar. Apalagi kita?

Dalam ayat tersebut Musa menyatakan dia akan berjalan hingga melihat bertemunya dua lautan (majma’al bahrain). Dalam tafsir Ar-Razi, yang dimaksud dua lautan itu bukan secara harfiahnya namun itu perumpamaan ilmu. Lautan menjadi simbol keilmuan. Bertemunya dua lautan menggambarkan bertemunya epistimologi ilmu barat dan ilmu timur. Ilmu yang berasal dari barat adl mengedepankan rasionalitas. Sementara ilmu yang berasal dari timur adl mengasah spiritualitas. Jika keduanya mampu dipadukan dalam diri seseorang, maka dia telah menjadi manusia kamil. "Secerdas-cerdasnya akal manusia, hatinya tetap butuh sentuhan".

Kisah perjalanan Musa dan Khidir mengajarkan kita beberapa hal:

1. Tawadhu’ dan jangan sombong jika ingin memperoleh ilmu
2. Sabar dalam menuntut ilmu, artinya sabar juga untuk menaati guru
3. Jangan bersikap tadbiir (terlalu banyak bertanya/membantah)
4. Jangan mudah menyimpulkan sesuatu, sebab tiap kejadian tentu ada hikmah pelajaran yang dapat dipetik

Wallahua’lam bis showab



Prof. KH. Nasaruddin Umar (Imam Besar Masjid Istiqlal)
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger