Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh. Tampilkan semua postingan

Rasulullah SAW Adalah Kekasih Allah

Suatu saat beberapa sahabat menunggu Rasulullah SAW di masjid Madinah. Mereka berdiskusi soal agama. Sampai pada suatu tema, mereka berbicara tentang topik kelebihan para rasul dan nabi.

Ibnu Abbas RA menuturkan, sebagaimana dicatat Ad-Darami dan At-Tirmidzi dalam kumpulan hadist mereka, ada seorang sahabat berkata, “Sungguh menakjubkan! Allah telah menjadikan Ibrahim sebagai kawan dekat-Nya.”

Yang lain menyahut, “Lebih hebat lagi Allah telah bercakap-cakap secara langsung dengan Musa!”

Sebagian lagi mengutarakan, “Isa sebagai kalimat Allah dan Ruh-Nya.” Ada lagi yang mengatakan. “Allah telah memilih Adam.”

Pernyataan-pernyataan para sahabat itu telah menimbulkan perbedaan pendapat. Dan mereka belum menemukan kata akhir, siapakah yang lebih dari yang lain. Sementara dalam ayat disebutkan, “Dan sesungguhnya telah Kami lebihkan sebagian nabi itu atas sebagian yang lain.” – QS Al-Isra’ (17):55.

Tanpa disadari para sahabat, ternyata yang dinanti, Rasulullah SAW, sudah berdiri dibelakang mereka. Dan beliaupun sudah mendengar apa yang mereka bicarakan. Dengan wajah mengepresikan tanya, para sahabat menunggu Nabi bersabda.

“Aku telah mendengar apa yang kalian percakapkan dan memaklumi keheranan kalian terhadap keberadaan Ibrahim sebagai kawan dekat Allah, memang begitulah adanya. Terhadap keberadaan Musa sebagai orang yang diajak bercakap-cakap langsung, memang begitulah adanya. Terhadap keberadaan Isa sebagai kalimat dan Ruh-Nya, juga memeng begitulah adanya. Sedang aku adalah kekasih Allah ( Habib Allah ), dan ini bukan kesombongan.”

Beberapa sahabat yang mendengar keterangan, sedikit plong hatinya. Berarti mereka sudah menemukan jawaban atas apa yang mereka perdebatkan.

Nabi SAW melanjutkan, “Aku menjadi pembawa bendera kemulian pada hari kebangkitan, Aku adalah pembela pertama dan orang pertama yang dikabulkan syafa’atnya, dan ini bukan sebuah kesombongan. Aku adalah orang pertama yang mengetuk pintu surga, dan Allah akan membuka pertama kalinya untukku dan mempersilahkan aku memasukinya dengan orang-orang miskin diantara kalian. Aku adalah orang yang paling dimuliakan idi zaman awal dan di zaman akhir, dan sungguh ini bukan sebuah kesombongan.”

Istilah Habiballah (Kekasih Allah) inilah yang sering disebut-sebut dalam syair dan qashidah maulid. Mayoritas ulama berpendapat, kekasih Allah lebih tinggi daripada kawan dekat allah ( Khalilullah ). Salah satunya pendapat Imam Abu Bakar bin Furak, berdasarkan sebuah pendapat ahli kalam, “Khalil mencapai Allah melalui sebuah perantaraan sebagai yang diisyaratkan dalam firman_Nya, “Demikianlah langit dan perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda kekuasaan Kami di langit dan di bumi.” – QS Al-An’am (6):75.

Sementara bagaimana “ Seorang yang cinta” mencapai Allah, diisyaratkan dalam firman-Nya, “…Dia sangat dekat dua ujung busur mata panah atau lebih dekat lagi.”- QS An-Najm (53):9.

Khalil berkata, “Dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian.” – QS As-Syu’ara (26):84. Sedang kepada orang yang dicintai dikatakan, “Dan Kami tinggikan bagimu sebutan namamu.” – QS Alam Nasyrah (Al Insyirah):4.

Nabi Muhammad SAW dianugerahi sejumlah kemuliaan tersebut tanpa beliau memintanya, dan asih banyak lagi perbandingan yang menguatkan bahwa istilah Habib lebih tinggi dari Khalil. Dalam kehidupan sehari-hari, umumnya, kitapun lebih mengutamakan kekasih kita daripada kawan kita.

Sejumlah keterangan yang telah disampaikan, menurut Qadhi Iyadh bin Musa Al Yahsubi, dalam bukunya yang berjudul “Keagungan kekasih Allah, Muhammad SAW” menunjukkan ketinggian derajat Nabi Muhammad SAW.



Sumber : Majalah Alkisah No.06/Tahun VI/10
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Sejarah Pembuatan Kalender Hijriyah

Peringatan tahun baru Islam masih selalu dirayakan oleh masyarakat kita. Tahun baru hijriyah, peringatannya terlihat berbeda dengan peringatan tahun baru Masehi, Bahkan sangat bertolak belakang. Masehi meniup terompet, Hijriyah melantunkan zikir. Masehi menghabiskan sisa malam untuk maksiat dan sia-sia, Hijriyah menghabiskan malam dengan hati yang tunduk dan taubat. Masehi membuang mubazir uang untuk petasan dan kembang api, Hijriyah mempunyai semangat berbagi terutama dengan anak yatim.

Kedua peringatan itu memang tidak ada perintah atau larangannya secara khusus. Tidak ada keistimewaan pada keduanya sehingga harus melakukan ritual tertentu. Tetapi, kalau harus menunjukkan sesuatu, perbedaan peringatan itu menunjukkan perbedaan akar dan semangat.

Akar keduanya jelas berbeda. Masehi berdasarkan hitungan peredaran matahari, Hijriyah berdasarkan hitungan peredaran bulan. Perbedaan akar yang paling terlihat adalah Hijriyah merupakan karya para pemikir hebat di kalangan para shahabat Nabi, yang dipimpin oleh Umar bin Khattab. Permulaan hitungan tahunnya pun berdasarkan hijrah Rasul mulia Muhammad SAW.

Sebelum kedatangan Islam, orang-orang Arab tidak memiliki kalendar yang khusus untuk digunakan bersama. Walau bagaimanapun, mereka mengira setahun itu dengan 12 bulan.

Adapun masyarakat Arab, Ya'la bin Umayyah adalah orang pertama yang membuat kalender, dia adalah orang Yaman. Masyarakat Arab kuno mempunyai beberapa kalender yang berbeda-beda. Mereka tidak bisa satu dalam menentukan hitungan tahun. Anak-anak Ibrahim membuat hitungan tanggal dari peristiwa dilemparnya Ibrahim ke dalam api hingga dibangunnya Ka'bah oleh Ibrahim dan Ismail. Kemudian anak-anak Ismail membuat hitungan tanggal dari keluarnya Saad, Nahad dan Juhainah anak-anak Zaid dari Tuhamah hingga kematian Ka'ab bin Luay. Kemudian hitungan dilanjutnya dari kematian tersebut hingga peristiwa penyerangan pasukan gajah Abrahah ke Ka'bah. Kemudian perhitungan berikutnya banyak yang melihat dari peristiwa pasukan gajah tersebut. Hingga masa kekhilafahan Umar. Dan Umar pun membuat kalender.

Selepas datangnya Islam, orang-orang Arab dan Umat Islam tetap dalam keadaan demikian (tidak ada kalendar yang khusus). Mereka menetapkan suatu peristiwa, dengan peristiwa-peristiwa yang penting.

Peristiwa hijrah al-Rasul SAW ke Madinah al-Munawwarah, dalam bentuk tidak diberikan tarikh-tarikh dalam bentuk bilangan dalam setiap tahun, sebaliknya hanya diberikan nama-nama peristiwa penting yang berlaku di dalamnya, maka 10 tahun selepas hijrahnya Nabi saw ke Madinah sehinggalah kewafatan baginda diberikan nama-nama seperti berikut:
1. Tahun pertama dikenali sebagai al-Izn (الإذن)
2. Tahun ke dua dikenali sebagai al-Amr (الأمر)
3. Tahun ke tiga dikenali sebagai al-Tamhish (التمحيص)
4. Tahun ke empat dikenali sebagai al-Turfiah (الترفئة)
5. Tahun ke lima dikenali sebagai al-Zalzal (الزلزال)
6. Tahun ke enam dikenali sebagai al-Isti’nas (الاستئناس)
7. Tahun ke tujuh sebagai al-Istighlab (الاستغلاب)
8. Tahun ke delapan sebagai al-Istiwa’ (الاستواء)
9. Tahun ke sembilan sebagai al-Bara-ah (البراءة)
10. Tahun ke sepuluh sebagai al-Wada’ (الوداع)

Pada waktu sahabat Umar bin Khattab menjadi kepala Negara di Madinah, banyak Negara-negara yang takluk dengan Madinah seperti Mesir,Irak atau Mesopotamia, Yaman, Bahrain, Persi atau Iran, Palestina, Syiria, dan Turki

Sebelum Negara-negara seperti Syiria, Turki, Mesir dan Palestina masuk wilayah Medinah, Negara-negara tersebut masuk wilayah Negara Rumawi yang Kristen. Negara Negara seperti Kuffah, Baghdad , Basroh di Irak masuk wilayah Negara Persi.

Setelah Sahabat Umar bin Khattab r.a. menjadi kepala Negara Madinah selama 10 tahun beberapa Negara tersebut di atas dikuasai dan pusat pemerintahannya berada di Madinatul Munawaroh. kemudian mengangkat beberapa Gubernur yaitu antara lain :
* Sahabat Muawiyyah diangkat menjadi Gubernur di Syiria, termasuk wilayahnya adalah Yordania.
* Sahabat Amru bin Ash diangkat menjadi Gubernur Mesir.
* Sahabat Musa Al As’ari diangkat menjadi Gubernur Kuffah.
* Sahabat Mu’adz bin Jabal diangkat menjadi Gubernur Yaman.
* Sahabat Abu Hurairah diangkat menjadi Gubernur Bahrain .
Ibu Kota Negara sebagai pusat kendali pemerintahan dibawah seorang Kepala Negara yang disebut Amirul Mukminin adalah di Madinah dibawah pimpinan Sahabat Umar Bin Khathab.

Pembuatan kalender Islam Hijriyah dilakukan di masa kekhilafahan Umar bin Khattab. Ada beberapa penyebab pembuatan kalender hijriyah.

Penyebab pertama, adalah bermula dari surat Abu Musa al-Asy'ari kepada Umar. Dalam suratnya itu dia menulis: Surat-surat dari Anda datang kepada kami tanpa tanggal.

Penyebab kedua, Umar sendiri pernah merasakan masalah dari ketiadaan tanggal pada surat-surat yang masuk. Suatu saat ada surat penting kepada Umar dan hanya tertulis pada surat tersebut Bulan Sya'ban. Umar bingung dan bertanya: Apakah ini Sya'ban yang akan datang atau Sya'ban yang sekarang?

Penyebab ketiga, seseorang meminta kepada Umar: buatkan kalender! Umar bertanya: apa itu? Orang itu menjawab: Seperti yang dilakukan oleh masyarakat lain untuk mengetahui ini bulan apa dan tahun berapa.

Kemudian Sahabat Umar r.a memberikan instruksi: Buatkan kalender!

Rapat digelar. Dikumpulkan beberapa sahabat Nabi yang merupakan "ahli syuro" (orang yang dapat di percaya untuk bermusyawarah) untuk membicarakan pembuatannya.

Pembahasan pertama tentang hitungan untuk tahun pertama, dimulai dari peristiwa apa.

Ada beberapa usulan. Ada yang mengusulkan agar perhitungan tahunnya ikut masyarakat Romawi yang telah menghitung tahun mereka dimulai dari sejarah Dzul Qornain. Usulan ini ditolak rapat dengan alasan di antaranya adalah terlalu panjang.

Usulan berikutnya ikut masyarakat Persia. Usulan ini juga ditolak dengan alasan bahwa setiap ganti pemimpin, maka dia mengganti hitungan tahun sesuai kehendaknya sendiri dan membuang hitungan tahun yang telah ada sebelumnya.

Rapat akhirnya memutuskan untuk memulai hitungan tahun dari sejarah Rasulullah sendiri. Dari sekitar 23 tahun perjuangan Rasulullah, ada yang mengusulkan beberapa hal. Di antaranya ada yang mengusulkan agar dimulai dari diutusnya Nabi pertama kali. Tetapi akhirnya rapat para sahabat memutuskan untuk memulai tahun pertama dari hijrah Rasulullah.

Berikut alasan Umar: Karena hijrah beliau adalah merupakan pemisah antara yang haq dan bathil. Menurut riwayat lain, Ali bin Abi Thalib adalah orang yang usul agar penanggalan dimulai dari hijrah Rasul. Alasan Ali adalah: Itu merupakan peristiwa meninggalkan negeri kemusyrikan.

Pembahasan kedua dalam rapat itu adalah bulan untuk memulai tahun yang dimulai dari hijrah Nabi.

Berbagai usulan disampaikan. Ada yang mengusulkan agar tahun Islam dimulai dari Bulan Ramadhan, sebagai bulan suci dan bulan ibadah. Tetapi akhirnya kesepakatan didapat untuk memulai tahun dengan Bulan Muharram. Alasannya adalah Muharram merupakan bulan selesainya masyarakat melaksanakan ibadah haji mereka dan ini adalah bulan haram (mulia).

Tanggal 1 Muharam Tahun 1 Hijriah bertepatan dengan tanggal 16 Juli 622 M, dan tanggal ini bukan berarti tanggal hijrahnya Nabi Muhammad. Peristiwa hijrahnya Nabi Muhammad yaitu keluar dari kota Mekkah pada hari kamis akhir bulan Shafar, dan keluar dari tempat persembunyiannya di Gua Tsur pada tanggal 2 Rabi’ul Awwal (20 September 622 M) untuk menuju ke Madinah. Dan menurut al-Mas’udi, Rasulullah memasuki Madinah tepat pada malam hari 12 Rabi’ul Awwal , 30 September 622 M. Dokumen tertua yang menggunakan sistem Kalender Hijriah adalah papirus di Mesir pada tahun 22 H.

Kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan: Muharram-Safar-Rabiul awal-Rabiul akhir-Jumadil awal-Jumadil akhir-Rajab-Sya'ban-Ramadhan-Syawal-Dzulkaidah-Dzulhijjah.

Kemudian kalender Islam tersebut dinamakan Tahun Hijriyah. Jadi adanya ditetapkan tahun Hijriyah itu dimulai dari Sayydiina Umar bin Khathab menjabat Kepala Negara setelah 5 tahun. Dan tahun Hijriyah mulai diberlakukan bertepatan dengan tahun 640 M. Setelah tahun Hijriyah berjalan 5 tahun kemudian Sahabat Umar Bin Khathab wafat. Bila tahun masehi terdapat sekitar 365-366 hari dalam setahun, tahun hijriyah hanya berjumlah sekitar 354-355 hari. Menurut Izzudin, perbedaan ini disebabkan adanya konsistensi penghitungan hari dalam kalender hijriyah.

"Rata-rata, jumlah hari dalam tahun hijriyah antara 29-30 hari. Sedangkan, tahun masehi berjumlah 28-31 hari. Inilah yang membedakan jumlah hari antara tahun masehi dan tahun hijriyah," jelas anggota Badan Hisab dan Rukyah di Jawa Tengah.

Pada sistem kalender hijriyah, sebuah hari atau tanggal dimulai ketika terbenamnya matahari di tempat tersebut. Kalender hijriyah dibangun berdasarkan rata-rata silkus sinodik bulan yang memiliki 12 bulan dalam setahun. Dengan menggunakan siklus sinodik bulan, bilangan hari dalam satu tahunnya adalah (12 x 29,53059 hari = 354,36708 hari). Hal inilah yang menjelaskan hitungan satu tahun kalender hijriyah lebih pendek sekitar 11 hari dibanding dengan penghitungan satu tahun dalam kalender masehi.

Faktanya, siklus sinodik bulan bervariasi. Jumlah hari dalam satu bulan dalam kalender hijriyah bergantung pada posisi bulan, bumi, dan matahari. Usia bulan yang mencapai 30 hari bersesuaian dengan terjadinya bulan baru (new moon) di titik apooge, yaitu jarak terjauh antara bulan dan bumi; kemudian pada saat yang bersamaan, bumi berada pada jarak terdekatnya dengan matahari (perihelion).

Sementara itu, satu bulan yang berlangsung 29 hari bertepatan dengan saat terjadinya bulan baru di perige (jarak terdekat bulan dengan bumi) dan bumi berada di titik terjauhnya dari matahari (aphelion). Dari sini, terlihat bahwa usia bulan tidak tetap, melainkan berubah-ubah (antara 29 hingga 30 hari) sesuai dengan kedudukan ketiga benda langit tersebut (bulan, bumi, dan matahari).

Penentuan awal bulan ditandai dengan munculnya penampakan bulan sabit pertama kali (hilal) setelah bulan baru (konjungsi atau ijtimak). Pada fase ini, bulan terbenam sesaat setelah terbenamnya matahari sehingga posisi hilal berada di ufuk barat.

Jika hilal tidak dapat terlihat pada hari ke-29, jumlah hari pada bulan tersebut dibulatkan menjadi 30 hari. Tidak ada aturan khusus bulan-bulan mana saja yang memiliki 29 hari dan mana yang memiliki 30 hari. Semuanya tergantung pada penampakan hilal, sesuai dengan apa yang telah disabdakan oleh Rasulullah SAW perihal perintah melihat hilal.


Dari Berbagai Sumber

Download kalender hijriyah untuk PC/ Laptop di sini dan untuk Handphone dengan Java midp 2.0 di sini
comments (1) | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Nasab Mulia Nabi Muhammad SAW

Beliau (baginda Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم) adalah seorang Sayyid, seorang pemimpin yang sangat mulia. Yang kita manusia semuanya (ikut) menjadi mulia sebab wujudnya beliau صلى الله عليه وسلم, beliau bernama Muhammad ibnu Abdillah, dari istrinya Abdullah yang bernama Aminah binti Wahb az-Zuhriyyah al-Qurasyiyyah. Ini adalah ibunya nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم.

Abdullah (ayahnya nabi Muhammad) putra dari Abdul Muththalib, dari istrinya Abdul Muththalib yang bernama Fathimah binti Amr al-Makhzumiyyah al-Qurasyiyyah.

Abdul Muththalib putra dari Hasyim, dari istrinya Hasyim yang bernama Salmaa binti Amr an-Najjaariyyah al-Khazrajiyyah.

Hasyim putra dari Abdu Manaf, dari istrinya Abdu Manaf yang bernama Atikah binti Murrah as-Sulamiyyah.

Abdu Manaf putra dari Qushayyi, dari istrinya Qushayyi yang bernama Huyyai binti Hulail al-Khuza'iyyah.

Kemudian Qushayyi ini putra dari Sayyid Kilab, dari istrinya Sayyid Kilab yang bernama Fathimah binti Sa'd. Fathimah binti Sa'd ini adalah wanita keturunan Yaman dari qabilah Azdu Syanu'ah.

Sayyid Kilab putra dari Sayyid Murrah, dari istrinya Sayyid Murrah yang bernama Hindun binti Sarir dari qabilah Bani Fihr bin Malik.

Murrah putra dari Ka'b, dari istrinya Ka'b yang bernama Wahsyiyyah binti Syaiban dari qabilah Bani Fihr juga.

Ka'b putra dari Sayyid Lu'ayy, dari istrinya Sayyid Lu'ayy yang bernama Ummu Ka'b Mariyah binti Ka'b dari Bani Qudho'ah.

Sayyid Lu'ayy, putra dari Sayyid Ghalib, dari istrinya Sayyid Ghalib yang bernama Ummu Lu'ayy Salma binti Amr al-Khuza'i.

Sayyid Ghalib putra dari Sayyid Fihr, dari istrinya Sayyid Fihr yang bernama Ummu Ghalib Laila binti Sa'd dari qabilah Hudzail. Dan Fihr inilah yang dijuluki dengan nama QURAISY.

Kemudian Fihr adalah putra dari Sayyid Malik, dari istrinya Sayyid Malik yang bernama Jundulah bintu al-Harts dari qabilah Jurhum, Yaman.

Kemudian Malik adalah putra dari an-Nadhr, dari istrinya an-Nadhr yang bernama Atikah binti Adwan dari qabilah Qais Aylan.

Kemudian an-Nadhr adalah putra dari Sayyid Kinanah, dari istrinya Sayyid Kinanah yang bernama Barrah binti Murr bin 'id.

Kemudian Sayyid Kinanah adalah putra dari Sayyid Khuzaimah, dari istrinya Sayyid Khuzaimah yang bernama 'Uwanah binti Sa'd dari qabilah Qais Aylan.

Kemudian Sayyid Khuzaimah adalah putra dari Sayyid Mudrikah, dari istrinya Sayyid Mudrikah yang bernama Salma binti Aslam dari qabilah Qudha'ah.

Kemudian Sayyid Mudrikah adalah putra dari Sayyid Ilyas (ini bukan Nabi Ilyas, akan tetapi orang yang bernama Ilyas) dari istrinya Sayyid Ilyas yang bernama Khandaf.

Kemudian Sayyid Ilyas adalah putra dari Sayyid Mudharr, dari istrinya Sayyid Mudharr yang bernama ar-Rabab binti Jundah bin Ma'd.

Kemudian Sayyid Mudharr adalah putra dari Sayyid Nizar, dari istrinya Sayyid Nizar yang bernama Saudah bintu 'Akk.

Kemudian Sayyid Nizar adalah putra dari Sayyid Ma'd, dari istrinya Sayyid Ma'd yang bernama Mu'anah binti Jausyam dari qabilah Jurhum.

Kemudian Sayyid Ma'd adalah putra dari Sayyid 'Adnan. Para ulama ahli nasab, semuanya sepakat bahwa Sayyid 'Adnan adalah termasuk dari keturunannya Sayyidina Isma'il bin Ibrahim على نبينا وعليهم أفضل الصلاة وأتمّ التسليم

Inilah Nasabnya Baginda Rasulillah صلى الله عليه وسلم yang disepakati Shahihnya oleh para ulama ahli Tarikh (Sejarah), dan ulama ahli Hadits.

Adapun nasab selebihnya Sayyid Adnan ini, ada perbedaan pendapat. Akan tetapi kesemuanya mengarah kepada kesepakatan bahwa nasabnya RasuliLLAH صلى الله عليه وسلم itu bersambung kepada Sayyid Isma'il bin Ibrahim, yakni ayah dari para Nabi.

Inilah  nasab yang mulia sebagaimana kita lihat. Yaitu ayah-ayah, datuk-datuknya nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم adalah orang-orang yang disucikan. Dan ibu-ibu serta nenek-neneknya baginda Nabi صلى الله عليه وسلم yang disucikan semuanya.

Tidak henti-hentinya Rasulullah صلى الله عليه وسلم itu berpindah-pindah dari tulang rusuknya datuk-datuk beliau kepada rahim-rahimnya nenek-nenek beliau, SEHINGGA Allah سبحانه وتعالى memilih ayah beliau yang bernama Abdullah, dan ibunya beliau yang bernama Aminah, sehingga lahirlah beliau dengan nasab yang suci.

Sehingga Allah سبحانه وتعالى memilihkan buat beliau صلى الله عليه وسلم sebagai orang yang menunjukkan kepada agama Islam. Hingga semuanya, khususnya orang-orang Arab, mengenal beliau صلى الله عليه وسلم sebagai orang yang menjadi inti dari qabilah Quraisy yang terhormat.

Seluruh dari datuk-datuk beliau dan nenek-nenek beliau, semuanya adalah orang-orang yang tercatat di dalam sejarah sebagai orang yang terpandang.

Sebagaimana disebutkan dalam salah satu Sya'ir:

حَفِظَ الْإِلٰهُ كَرَامَةً لِمُحَمَّدٍ  آبَاءَهُ الْأَمْجَادُ صَوْنًا لِاسْمِهِ

Allah سبحانه وتعالى menjaga kemuliaan buat nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم, yaitu dengan ayah dan para datuknya yang mulia-mulia semuanya, demi menjaga nama baiknya baginda Rasulillah صلى الله عليه وسلم

تَرَكُوا السِّفَاحَ فَلَمْ يُصِبْهُ عَارُهُ  مِنْ آدَمٍ وَإِلٰى أَبِيْهِ وَأُمِّهِ

Semuanya (dari para leluhur nabi) itu meninggalkan perzinahan, hingga beliau صلى الله عليه وسلم tidak dikenali oleh aibnya perbuatan zina, semenjak Nabi Adam hingga sampai kepada ayah dan ibunya nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم

Ini adalah nasab beliau صلى الله عليه وسلم. Kita semua kalau ditanya apa pentingnya mempelajari atau mengenal nasab beliau صلى الله عليه وسلم? Apakah ada dalilnya?

Maka jawab kepada orang yang mempertanyakan hal ini, kita ini ingin atau tidak, diakui sebagai ummatnya beliau صلى الله عليه وسلم? 

Jika kita merasa ingin diakui sebagai ummatnya beliau صلى الله عليه وسلم maka sudah semestinya kita mengenal siapakah beliau, siapa nasab-nasab beliau.

Mudah-mudahan dengan mempelajari nasab-nasab beliau صلى الله عليه وسلم kita semua mendapatkan berkah dan diridhoi oleh Allah سبحانه وتعالى



Kajian Kitab Nurul Yaqin fii Siirati Sayyidil Mursaliin bersama Habib Idrus Muhammad bin Yahya Kudus
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Kesabaran Membawa Kebahagiaan

Hindun terkenal sebagai wanita pemurah, tiap kali ada musafir (orang yang dalam perjalanan) datang ke rumahnya, selalu diberinya bekal yang cukup. Dia termasuk sepuluh orang pertama yang masuk Islam bersama suaminya, Abdullah bin Abdil Asad. Dalam sejarah hidupnya, Hindun lebih dikenal dengan panggilan Ummu Salamah, karena anaknya bernama Salamah.

Setelah Ummu Salamah dan suaminya masuk Islam, orang-orang kafir Quraisy sangat marah kepadanya. Mereka memaksa agar Ummu Salamah beserta suaminya mau kembali ke agama nenek moyang, bahkan mereka melakukan kekerasan guna mencapai maksud mereka, sekaligus agar orang lain tidak masuk Islam karena melihat penderitaan yang dialaminya.

Penderitaan bukan hanya dialami keluarga Ummu Salamah, tapi juga muslim lainnya. Oleh karena itu Rasulullah mengizinkan para sahabat untuk hijrah ke Habasyah yang dipimpin oleh raja Najasyi. Dan akhirnya Ummu Salamah beserta suami dan anaknya pun berangkat meninggalkan segalanya di Makkah.

Selama di Habasyah, rindu pada kampung halaman jelas ada, apa lagi terdengar pula berita bahwa kaum muslimin semakin banyak jumlahnya dan yang lebih menggembirakan lagi adalah masuk Islamnya dua tokoh penting di Makkah yaitu Umar bin Khattab dan Hamzah bin Abdul Muthalib. Karena itu sebagian muslim bermaksud kembali ke Makkah.

Setibanya di Makkah, ternyata permusuhan orang-orang kafir Quraisy semakin menjadi-jadi, apalagi setelah Islamnya Umar dan Hamzah. Maka Rasul memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah, Ummu Salamah beserta suami dan anaknya termasuk diantara rombongan sahabat menuju Madinah yang penuh dengan kesulitan.

Di perbatasan Makkah dan Madinah, orang-orang dari Bani Makhzum yang merupakan suku dari Ummu Salamah menghadang lalu menangkap Ummu Salamah beserta anaknya, sementara Abdullah bin Abdil Asad melanjutkan perjalanan ke Madinah karena memang tidak berdaya untuk membebaskan isteri dan anaknya. Namun anaknya sendiri diperebutkan lagi oleh orang-orang dari Bani Asad, suku dari Abdullah.

Sejak saat itu Hindun berada dalam penjara sukunya sendiri. Tentu saja Hindun sangat tersiksa karena harus berpisah dengan suami dan anaknya tercinta. Setahun kemudian, saudara sepupu Hindun menemuinya, dia kasihan melihat penderitaan Hindun, dan akhirnya Hindun dibebaskan. Lalu dengan pertolongan beberapa orang, Salamah dikembalikan ke pangkuan Hindun. Setelah itu langsung Hindun bersama anaknya dengan mengendarai unta menuju Madinah.

Di tengah perjalanan menuju Madinah, Ummu Salamah bertemu dengan sahabat Usman bin Thalhah, maka Usman pun mengawal perjalanan Ummu Salamah dari segala gangguan. Sampai di Madinah, sedih bercampur gembira menyertai Ummu Salamah karena masih bisa berkumpul lagi bersama suaminya.

Meskipun begitu, ujian Allah belum habis bagi Ummu Salamah, tak lama kemudian meletuslah perang Badar yang suaminya ikut serta dan mencapai kemenangan gemilang. Abdullah kembali dengan selamat. Tak lama kemudian pecah lagi perang Uhud yang suaminya juga ikut serta. Tetapi ketika kembali dari medan tempur, Abdullah membawa luka yang cukup parah, dan Ummu Salamah dengan kelembutan dan kesabaran mengobati luka-luka yang diderita suaminya. Ketika Rasul menjenguknya, Abdullah menghembuskan nafasnya yang terakhir, beliau menutup kelopak mata Abdullah lalu berdo’a: “Ya Allah, ampuni Abu Salamah, angkat derajatnya, gantilah dia bagi keluarga yang ditinggalkan, ampuni kami dan dia, lapangkan dan beri dia cahaya dalam kuburnya”.

Tinggallah Ummu Salamah beserta puterinya yang masih kecil, tak ada sanak keluarganya di Madinah. Kaum muslimin menyadari penderitaan Ummu Salamah. Setelah habis masa iddahnya, Abu Bakar datang melamar menjadi isterinya, tapi dia menolaknya, lalu Umar tapi ditolak juga. Sesudah Umar akhirnya Rasulullah saw yang datang. Ketika mengutarakan maksudnya melamar, sulit bagi Ummu Salamah menolaknya, tapi dia katakan, “saya punya tiga masalah: pertama saya pencemburu, saya takut nanti Rasul jengkel dan menjadi sebab disiksanya saya di akhirat. Kedua saya sudah tua, tak pantas untuk kawin lagi, dan ketiga saya punya anak, bagaimana bisa bersuami lagi”.

Rasulullah kemudian menjawab, “soal cemburu, saya do’akan semoga dihilangkan Allah, soal usia bukankah saya pernah kawin dengan orang yang lebih tua dari saya, dan soal anakmu juga anak saya”. Tak lama kemudian Rasulullah menikah dengan Ummu Salamah lalu jadilah Ummu Salamah menjadi orang yang begitu gembira dan bahagia setelah derita panjang dialaminya. Demikianlah, Kesabaran akan dibalas oleh Allah SWT dengan kebaikan dan kegembiraan



Ust. Ahmad Yani
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Kisah Ahli Puasa Dzulhijjah Yang Makamnya Diziarahi Nabi SAW Dan Para Sahabat

Suatu kali Abu Yusuf Ya’qub bin Yusuf Rahimahullah bercerita tentang salah seorang sahabatnya yang unik. Beliau orang yang wara’ dan takwa meski orang-orang mengenal karibnya itu sebagai orang fasik dan pendosa Sudah 20 tahun Abu Yusuf melakukan tawaf di sekitar Ka’bah bersamanya. Tak seperti Abu Yusuf yang berpuasa terus menerus (dawam), sahabatnya ini sehari puasa sehari berbuka.

Memasuki 10 hari bulan Dzulhijjah, sahabat Abu Yusuf ini menunaikan puasa secara sempurna kendati Beliau berada di padang sahara yang tandus. Bersama Abu Yusuf, Beliau masuk kota Thurthus dan menetap di sana untuk beberapa lama. Di tempat gersang inilah, persisnya di sebuah kawasan reruntuhan bangunan, Beliau wafat tanpa seorang pun yang tahu kecuali Abu Yusuf.

Abu Yusuf pun keluar mencari kain kafan dan alangkah kagetnya tatkala dirinya kembali menyaksikan kerumunan orang berkunjung, mengafani, sekaligus menyalati jenazah sahabatnya tersebut di tempat yang semula tak berpenghuni. Karena begitu ramainya, Abu Yusuf sampai tak bisa masuk lokasi reruntuhan bangunan itu. Para pelayat menyebut-nyebut almarhum sebagai orang yang zuhud dan termasuk dari kekasih Allah (waliyyullah).

“Subhanallah, siapa yang mengumumkan kematiannya hingga orang-orang berbondong-bondong bertakziah, menyalati, dan menangisi kepergiannya?” Kata Abu Yusuf.

Setelah melalui perjuangan keras, Abu Yusuf akhirnya berhasil menghampiri jenazah sahabatnya tersebut dan terperanjat saat melihat kain kafan yang tak biasa. Pada kain itu tercantum tulisan berwarna hijau:

هذا جزاء من آثر رضا الله على رضا نفسه وأحب لقاءنا فأحببنا لقاءه
“Inilah balasan orang yang mengutamakan ridha Allah ketimbang ridha dirinya sendiri; orang yang rindu menemui-Ku dan karenanya Aku pun rindu menemuinya.”

Selepas melaksanakan shalat jenazah dan mengebumikannya, rasa kantuk berat menghampiri Abu Yusuf hingga akhirnya tertidur. Di dunia mimpi inilah Abu Yusuf menyaksikan sahabatnya yang ahli puasa tersebut menunggang kuda hijau serta berpakaian hijau dengan sebuah bendera di tangannya. Di belakangnya ada seorang pemuda tampan berbau harum. Di belakang pemuda ini, ada dua orang tua diikuti di belakangnya lagi satu orang tua dan satu pemuda.

“Siapa mereka?”, tanya Abu Yusuf.

“Pemuda tampan itu adalah Nabi kita Muhammad SAW. Dua orang tua itu adalah Abu Bakar Radhiallahu’an dan Umar Radhiallahu’an sementara orang tua dan pemuda itu adalah Utsman Radhiallahu’an dan Ali Radhiallahu’an Dan akulah pemegang bendera di depan mereka”, jelas almarhum sahabatnya dalam mimpi itu.

“Hendak ke manakah mereka?”, tanya Abu Yusuf kembali

“Mereka ingin menziarahiku.” , ucap almarhum sahabatnya

Abu Yusuf pun kagum, “Bagaimana kau bisa mendapatkan kemuliaan semacam ini?”

“Sebab aku memprioritaskan ridha Allah SWT dibanding ridha diriku sendiri dan aku berpuasa pada 10 hari Dzulhijjah” jawab sahabatnya.

Abu Yusuf pun bangun dari tidur, lalu sejak itu Beliau tak pernah meninggalkan amalan puasa itu hingga akhir hayat.

Anjuran memperbanyak amal saleh pada 10 hari pertama Dzulhijjah termaktub dalam beberapa hadits. Misalnya hadits riwayat Ibnu ‘Abbas yang ada di dalam Sunan At-Tirmidzi yang mengatakan: “Tiada ada hari lain yang disukai Allah untuk beribadah seperti sepuluh hari ini (Dzulhijjah)”

Meskipun disebutkan kata “sepuluh hari”, puasa jika dimulai 1 Dzulhijjah cukup dijalankan sembilan hari karena tanggal 10 Dzulhijjah (juga hari tasyriq: 11, 12, 13 Dzulhijjah) adalah hari terlarang untuk berpuasa, sebagaimana pendapat An-Nawawi sebagaimana dikutip Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi bahwa yang dimaksud dengan ayyamul ‘asyr (10 hari) adalah 9 hari sejak tanggal 1 Dzulhijjah



Kitab An-Nawadir karya Syekh Syihabuddin Ahmad ibn Salamah al-Qalyubi Rahimahullah
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011 - Musholla RAPI Online
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger