Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , , » Kisah Rasulullah SAW dan Penagih Hutang (Tanggapan Atas Kasus Kekerasan Dalam Menagih Hutang)

Kisah Rasulullah SAW dan Penagih Hutang (Tanggapan Atas Kasus Kekerasan Dalam Menagih Hutang)

JAKARTA– Bank Indonesia (BI) akan memperketat aturan penggunaan jasa pihak lain (debt collector) dalam penagihan utang kartu kredit. Bank Sentral memastikan debt collector dilarang menggunakan cara-cara kekerasan.

Deputi Gubernur BI Bidang Pengawasan Halim Alamsyah menuturkan, Bank Sentral akan merevisi peraturan tentang ketentuan penagihan utang kartu kredit pascakekerasan yang mengakibatkan meninggalnya nasabah kartu kredit Citibank. ”Kita akan memperbarui bagaimana penagihan utang bisa jalan, tapi tidak merugikan nasabah,” ujar Halim di Jakarta kemarin. Sekretaris Jenderal DPP Partai Pemersatu Bangsa (PPB) Irzen Octa tewas saat berniat mengklarifikasi tagihan kartu kredit Citibank di Menara Jamsostek, Jakarta Selatan, Selasa lalu (29/3). Korban saat itu ditemui tiga debt collector demi mengklarifikasi tagihan kartu kreditnya yang membengkak dari Rp68 juta menjadi Rp100 juta. Saat itu, korban diinterogasi tiga penagih utang di sebuah ruang di Kantor Citibankdi Menara Jamsostek.Polisi menduga korban mendapatkan tekanan psikis hingga pecah pembuluh darahnya yang mengakibatkan meninggal dunia.

Upaya penagihan tidak boleh dilakukan dengan cara kekerasan. Apabila sampai menyalahi ketentuan, bank harus bertanggung jawab.“Kalau banknya terbukti bersalah, tidak sesuai prosedur, itu bisa jadi manajemennya bisa di-fit and proper test ulang,”paparnya. Difi menjelaskan,dalam PBI No 11/11/PBI/2009 tentang Penyelenggaraan Kegiatan Alat Pembayaran dengan Menggunakan Kartu Kredit,terutama Pasal 17 ayat 5, sudah ditegaskan, penerbit kartu kredit wajib menjamin penagihan,baik yang dilakukan penerbit kartu kredit atau menggunakan jasa pihak lain,dilakukan sesuai dengan ketentuan Surat Edaran BI.

Selama ini cara penagihan utang kartu kredit banyak dikeluhkan nasabah, terutama mengenai adanya ancaman- ancaman. ”Kita harapkan dalam satu-dua bulan ini akan selesai standardisasinya yang juga akan kita bicarakan dengan BI,”katanya. Board of Executive AKKI Dodit WProbojaktimengatakan, dengan standarisasi penagihan itu,semua bank akan memiliki aturan sama yang harus dipatuhi sehingga menghindari terulangnya kasus penganiayaan nasabah. Menurutnya,sesuai dengan PBI,setiap jasa tenaga penagih harus punya izin operasional sesuai dengan hukum dan harus tunduk dalam perjanjian kerja sama dengan bank.“Konsekuensinya yang paling ekstrem,kalau tidak mengikuti standar, lisensi penerbit kartu kredit bisa dicabut,”tandasnya. (Sumber: Koran Sindo 5 April 2011)

Berita di atas merupakan sebuah gambaran buruknya moral aparat penagih hutang di Indonesia ini. Sebenarnya, hal ini juga terjadi di jaman Rasulullah SAW. Namun, berkat ahlaq yang mulia dari Rasul SAW, beliau berhasil menyadarkan si penagih hutang tersebut. Berikut ini adalah kisahnya:

Pada suatu hari seorang Yahudi telah datang menemui Rasulullah SAW karena hendak menuntut hutangnya. Tetapi cara orang Yahudi itu datang menuntut hutangnya amatlah kasar sekali. Sedikit lagi Yahudi itu menghampiri Rasulullah dia terus merengut baju Rasulullah sambil berkata, "Hai keturunan Abdul Mutalib, engkau adalah dari golongan orang yang suka menangguh-nangguhkan hutang".

Sikap kasar serta tutur kata yang tidak sopan dari orang Yahudi itu sangat-sangat menyakitkan hati Syaidina Umar bin Khattab yang berada bersama-sama dengan Rasulullah ketika itu. Dengan kekerasan jua. Oleh karena perasaaan marahnya begitu meluap Syaidina Umar terus mencekik Yahudi itu.

Rasulullah terkejut dengan sikap Syaidina Umar itu, karena tidak dapat mengawal perasaannya. Walaupun,air muka rasulullah terbayang kemarahaannya tetapi baginda dapat mengawal perasaan itu. Lalu baginda berkata kepada Syaidina Umar, "Wahai Umar, saya dan dia, mempunyai urusan yang lebih layak. Biarlah kami berdua yang menyelesaikannya dan janganlah kau mencampurinya. Sebaiknya engkau suruh saya bayar hutang itu dengan baik dan suruh dia menuntut hutang dengan baik juga. Sebenarnya saya masih ada tiga hari lagi tempoh untuk membayar hutang tersebut". Maka baginda menyuruh Syaidina Umar membayar hutang baginda dengan memberi dua puluh gantang gandum kepadaYahudi itu sebagai balasan karena Syaidina Umar telah berlaku kasar terhadap Yahudi itu.

Pada saat Rasulallah berkata dengan Syaidina Umar, orang Yahudi itu melihat kejadian itu tiba-tiba keluarlah kata-kata dari mulut Yahudi itu, ia berkata, "Wahai Umar, semuanya ini adalah merupakan tanda-tanda kenabian. Saya telah dapat melihat tanda-tanda tersebut terbayang di ruangan wajah nabi SAW. ketika saya memperhatikan wajahnya".

Yahudi kembali berujar, "Sebenarnya saya ingin mengetahui apakah benar-benar dia seorang nabi. Sebab itulah saya uji dia untuk mengetahui apakah dia seorang yang tinggi akhlaknya dan pemaaf. Nah dengan ini saya bersaksi bahwa tiada Tuhan yang disembah melainkan Allah dan bahawasanya Muhammad itu adalah pesuruh Allah".

Begitulah besarnya pengaruh sifat dan sabar Rasulullah SAW sehingga menyebabkan Yahudi yang berbuat kasar kepada Rasulullah terbuka hatinya untuk memeluk agama Islam.


Habib Sholeh bin Ahmad bin Salim Al Aydrus

Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger