Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Renungan Muharram (2)

Renungan Muharram (2)

Banyak sesuatu yang dianggap baru tetapi sebetulnya lama. Harus selalu bertajadud dalam bercermin yang benar, baik dan abadi. 

Kalau mengakui dirinya dalam barisan umat Islam, maka mengamalkan sumber ajaran, sistem Islam, hukum Islam adalah hak bahkan kewajiban asasi muslim termasuk menghargai agama lain.

Sebagai umat terpilih, identitas menuntut siap perang total melawan penjajahan pemikiran dan fisik, dan pemberantasan unsur-unsur yang menjadi budak atau kaki tangannya. Mengapa kita masih rela dan lega na’budu maa ya’buduu pecundang-pecundang Islam? 

Na`kulu kama ta`kulu an an’aam. 

Firman Allah: “Dan orang-orang yang kafir bersenang-senang (di dunia) dan mereka makan seperti makannya binatang-binatang.” (QS 47:12).

Tiga puluh tahun lebih, berhati, berpikiran, bersikap dan berbuat sama dengan musuh-musuh Islam. Dipaksa dan berbuat sama dengan musuh-musuh Islam. Dipaksa dan banyak yang akhirnya terpaksa husnudzon kepada orde sekuler dan otomatis su`udzon kepada Allah Swt. 

Firman Allah, “Dan supaya Dia mengazab orang-orang munafik dan perempuan dan orang-orang musyrik laki-laki dan perempuan yang mereka itu berprsangka buruk terhadap Allah.” (QS 48:6).

Kita harus bertobat, bukan malah membandel, menantang Allah seperti Walid bin Mughirah. Dalam Al Qur`an dikatakan: “Sekali-kali tidak (akan Aku tambah), karena sesungguhnya dia menentang ayat-ayat Kami (Al Qur`an).” (QS 74:16).

Menantang ayat “walan tardho….” selama Al Qur`an ini dibaca sampai kiamat, isi ayat itu menjadi pekerjaan rumah kita. Kesombongan mengandalkan usaha tanpa doa atau mengandalkan doa tanpa usaha. Menyerah pada takdir atau menyalahkan takdir, menggantungkan diri pada pihak lain atau menyalahkan diri pada pihak lain atau menyalahkan orang lain. Lempar melempar kesalahan dan merebut-rebut “monopoli kebenaran.” Meneguk air keruh, menyantap makanan berpenyakit, pergi ke dokter goblok minta sehat. 

Mana bisa? 

Sumber daya alam dunia Islam dibuat pesta pora kelicikan ilmiah profesor iblis, dokter iblis, jenderal-jenderal iblis profesional. Lucunya ada yang rela dan ada yang terpaksa. Dunia Islam sami’naa wa atho’naa, taat dan patuh kepada “Hadratus Syaikh Ifrit profesional.”



KH Hasan Abdullah Sahal
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger