Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Membunuh Orang Yang Telah Bersyahadat

Membunuh Orang Yang Telah Bersyahadat

Sebagai pengantar, marilah kita membaca sebuah Hadist berikut ini:

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda, Sesungguhnya Allah tidak menghimpun ummatku di atas kesesatan. Dan tangan Allah bersama jamaah. Barangsiapa yang menyelewengkan (menyempal), maka ia menyeleweng (menyempal) ke neraka. (HR. Tirmidzi: 2168).



Al-Hafidz Ibnu Hajar rahimahullah dalam Fathul Bari XII/37 menukil perkataan Imam Thabari rahimahullah yang menyatakan, Berkata kaum (yakni para ulama), bahwa jamaah adalah as-sawadul azham (mayoritas kaum muslim)



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda Sesungguhnya umatku tidak akan bersepakat pada kesesatan. Oleh karena itu, apabila kalian melihat terjadi perselisihan maka ikutilah as-sawad al azham (mayoritas kaum muslim). (HR.Ibnu Majah, Abdullah bin Hamid, at Tabrani, al Lalikai, Abu Nuaim. Menurut Al Hafidz As Suyuthi dalam Jamius Shoghir, ini adalah hadits Shohih)



Mayoritas kaum muslim pada masa generasi Salafush Sholeh adalah orang-orang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni para Sahabat, Tabiin, Tabiut Tabiin. Sedangkan pada masa sekarang mayoritas kaum muslim (as-sawad al azham) adalah bagi siapa saja yang mengikuti para ulama yang sholeh yang mengikuti Rasulullah shallallahu alaihi wasallam dengan mengikuti Imam Mazhab yang empat.



Allah Taala berfirman yang artinya Kitab yang dijelaskan ayat-ayatnya, yakni bacaan dalam bahasa Arab, untuk kaum yang mengetahui (QS Fush shilat 3)  dan “Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui. (QS. an-Nahl 43).



Al Quran adalah kitab petunjuk namun kaum muslim membutuhkan seorang penunjuk. Al Quran tidak akan dipahami dengan benar tanpa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam sebagai seorang penunjuk. Firman Allah Taala yang artinya Dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberi kami petunjuk. Sesungguhnya telah datang rasul-rasul Tuhan kami, membawa kebenaran. (QS Al Araf  43)



Secara berjenjang, penunjuk para Sahabat adalah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Penunjuk para Tabiin adalah para Sahabat. penunjuk para Tabiut Tabiin adalah para Tabiin dan penunjuk kaum muslim sampai akhir zaman adalah Imam Mazhab yang empat.



Berikut sedikit kutipan berita dari Majalah dakwah Islam Cahaya Nabawiy Edisi no 101, Januari 2012 memuat topik utama berjudul SYIAH-WAHABI: Dua seteru abadi



Sebenarnya ada fakta lain yang luput dari pemberitaan media dalam tragedi itu. Peristiwa itu bermula dari tertangkapnya mata-mata utusan Darul Hadits oleh orang-orang suku Hutsi yang menganut Syiah. Selama beberapa lama Darul Hadits memang mengirim mata-mata untuk mengamati kesaharian warga Syiah. Suku Hutsi merasa kehormatan mereka terusik dengan keberadaan mata-mata ini.



Kehormatan adalah masalah besar bagi suku-suku di Jazirah Arab. Tak ayal, suku Hutsi pun menyerbu Darul Hadits sebagai ungkapan amarah mereka. Selama beberapa hari Darul Hadits dikepung orang-orang Hutsi yang kebanyakan tergabung dalam milisi pemberontak. Dua warga Indonesia tewas dalam baku tembak, sementara yang lainnya bersembunyi di kampus. Anehnya, meskipun beberapa kali dibujuk, para mahasiswa tetap tak mau dievakuasi pihak kedutaan. Mereka berdalih bahwa diri mereka sedang berjihad melawan musuh. Doktrin yang ditanamkan kepada mahasiswa Darul Hadits cukup, sangar yakni, Jihad terhadap syiah rafidah al-Houtsi



Ironis sekali, mereka merasa berjihad dan memerangi sesama manusia yang telah bersyahadat. Marilah kita melihat hadist berikut ini:



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bertanya lagi: Apakah kamu yang telah membunuhnya? Dia menjawabnya, Ya. Beliau bertanya lagi: Lalu apa yang hendak kamu perbuat dengan kalimat, Tidak ada tuhan (yang berhak disembah) kecuali Allah, jika di hari kiamat kelak ia datang (untuk minta pertanggung jawaban) pada hari kiamat nanti? (HR Muslim)



Dari Usamah bin Zaid bin Haritsah, katanya, "Kami diutus (keperluan operasi militer) oleh Rasulullah s.a.w. ke Hurawah (nama sebuah kampung) dari suku Juhainah. Pagi-pagi buta kami mulai menyerang dan musuhpun lalu mundur. Saya dan seorang dari sahabat Anshar dapat mengejar seorang dari pihak musuh. Tatkala ia terdesak, iapun mengucapkan syahadat dan oleh karena itu teman saya orang Anshar itu terhenti, dan musuh itu segera kutikam dengan anak panah sampai mati." Kata Usamah, "Setelah kami tiba di madinah dan kabar itupun telah sampai pula kepada Rasulullah s.a.w. beliau bertanya kepada saya, katanya. 'Apakah anda membunuhnya setelah ia mengucapkan syahadat ?' Jawab ku, 'Ya Rasulullah! Dia minta perlindungan.' Maka Rasulullah s.a.w. mengulangi pertanyaan (nabi tidak mempercayai apa yang dilakukan Usamah) itu berkali-kali sehingga inginlah saya sekiranya saya belum lagi memeluk islam sebelum peristiwa itu (karena takut akan dosa perbuatannya)

Jika dua orang muslim saling bertemu (untuk berkelahi) dengan menghunus pedang masing-masing, maka yang terbunuh dan membunuh masuk neraka. aku pun bertanya: Wahai Rasulullah, ini bagi yang membunuh, tapi bagaimana dengan yang terbunuh? Maka Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab: Dia juga sebelumnya sangat ingin untuk membunuh temannya. (HR Bukhari)



Pepatah orang tua kita dahulu menyatakan: Menang jadi arang, kalah jadi abu. artinya mereka sama-sama dalam kerugian.



Diriwayatkan hadits dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Demi Allah, kalian tidak akan masuk surga hingga kalian beriman. Belum sempurna keimanan kalian hingga kalian saling mencintai. (HR Muslim)



Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: Kamu akan melihat orang-orang mukmin dalam hal saling mengasihi, mencintai, dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada salah satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya). (HR Bukhari dan Muslim)






Ust. Zon Jonggol
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger