Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » , , » Tips Mudah Bangun Saat Sahur dan Sholat Subuh (2)

Tips Mudah Bangun Saat Sahur dan Sholat Subuh (2)

2. Tekad yang Kuat



Saya yakin, tak ada yang bisa menghalangi orang yang memiliki kehendak jujur untuk bangun Shalat Subuh.



Kalau seorang muslim betul-betul merasakan tingginya nilai Shalat Subuh berjamaah, maka dia akan mengatur seluruh kehidupannya agar bisa bangun untuk Shalat Subuh.



Lihatlah apa yang difirmankan Allah berkenaan dengan orang-orang munafik.



"Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, namun Allah tidak menyukai (membenci) keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." (QS. At-Taubah: 46)



Jadi, kemauan akan muncul, manakala mereka memiliki keseriusan dan kejujuran untuk keluar, sehingga mereka benar-benar akan mempersiapkan apa saja yang memungkinkannya berangkat ke medan perang. Begitu juga bagi yang berkeinginan Shalat Subuh. Jika mereka tidak mempersiapkan apa-apa, berarti ia bukan orang yang jujur. Seakan-akan ia berkata, "Saya mau tapi saya tidak setuju...."



Contohnya, kalau tidurnya terlambat, tidak memasang jam weker, dan tidak mengusahakan apa saja yang dapat membantunya bangun pagi, bagaimana ia bisa mengatakan : "Saya mau Shalat, tetapi saya tidak mendengar adzan!" Kalau tidak ada keinginan yang kuat, maka jangan berharap bisa mendengar adzan!



"Kalau kiranya Allah mengetahui kebaikan ada pada mereka, tentulah Allah menjadikan mereka dapat mendengar." (QS. Al-Anfal : 23)



Bahkan meski sekiranya seorang muslim mendengar adzan tapi kemauannya lemah, ia tidak akan bangun juga. Namun yang lebih berbahaya adalah bila sampai pada tingkat : Allah membenci jika ia bangun. Apa yang akan terjadi kalau Allah sudah membenci bangunnya seorang muslim untuk Shalat ?



Allah membenci apabila ada seorang muslim yang bangun hanya ingin melanggar perintah-Nya. Ia tidak mempunyai kemauan kuat, dan terang-terangan berniat untuk bermaksiat. Allah tidak menginginkan seorang hamba yang "datang" kepada-Nya dengan keterpaksaan dan kebencian. Akan tetapi Dia mencintai seorang hamba yang taat, yang rela melangkahkan kakinya karena rindu akan cinta-Nya.



Apabila Allah mendapatkan seorang hamba yang lemah kemauannya, maka Ia akan semakin menanamkan keengganannya untuk Shalat, atau amal kebaikan lainnya. Bahkan Allah akan membuatnya tidak mampu dan "mencegahnya" beramal. Allah SWT berfirman :



"Tetapi Allah tidak menyukai (membenci) keberangkatan mereka. Maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, 'Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu'." (QS. At-Taubah: 46)



Jadi, introspeksilah! perkara ini sungguh penting. Jika Anda telah bersiap meninggalkan Shalat Subuh, hati-hatilah bila Anda berada dalam golongan orang-orang yang tidak disukai Allah untuk pergi (Shalat). Anda akan ditimpa kemalasan, futur (turun keimanan), lemah, dan terus berdiam diri.



3. Jangan Terpengaruh Kondisi



Nasihat saya, jangan terpengaruh oleh banyaknya orang-orang yang meninggalkan Shalat Subuh. Imam Tirmidzi meriwayatkan sebuah hadits yang ia nilai sebagai hadits hasan dari Hudzaifah ra bahwa Rasulullah saw bersabda :



"Janganlah kamu jadi orang yang ikut-ikutan; kamu mengatakan: 'Jika orang-orang baik, kami juga aka jadi baik, dan jika mereka berbuat zhalim maka kami juga akan berbuat zhalim.' 'Tetapi berdirilah dengan kokoh pada prinsip: 'Jika orang-orang menjadi baik kamu juga akan baik dan jika orang-orang jelek maka janganlah kamu berbuat zhalim'."



Jangan bandingkan diri Anda dengan orang yang hanya berdiam diri, namun bandingkanlah diri Anda dengan sahabat-sahabat Rasulullah saw. Bandingkan dengan Anas bin Malik ra, yang menangis karena ketinggalan satu Shalat Subuh. Bandingkan dengan Khalid, Qa'qa', Yusuf bin Tasyfin, dan Quthuz.



Tinggikanlah cita-citamu.

Teladanilah pada teladan yang agung.

Besarkan tujuanmu dan besarkan obsesimu.



Nasihat saya selanjutnya, buatlah jadwal evaluasi pelaksanaan Shalat Subuh. Tulislah disitu hari-hari dalam satu bulan. Apabila Anda Shalat Subuh berjamaah, berilah tanda (v), dan apabila tidak maka berilah tanda (x). Lalu evaluasilah diri Anda di akhir bulan. Niscaya akan terlihat apakah hidup Anda berjalan dengan benar, atau salah ?



Ingatlah, ini masalah serius! Umar bin Al-Khaththab berkata, Evaluasilah dirimu sebelum di evaluasi (pada hari kiamat), dan timbanglah amalmu sebelum ditimbang, dan berhiaslah Anda untuk hari persaksian yang besar."



Ust. Muhammad Eksan
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger