Jl. Kudus Colo Km. 5, Belakang Taman Budaya Bae Krajan, Kudus

Menimbun Barang Saat Ramadhan dan Jelang Lebaran

Di saat Ramadhan dan Idul Fitri tingkat konsumsi masyarakat meningkat, bukan hanya untuk dikonsumsi sendiri juga untuk berbagi (bersedekah). Prilaku ini akan menggerakan sektor ekonomi secara nyata.



Namun disayangkan ulah spekulan menjadikan harga-harga melambung tinggi karena mereka menimbun barang atau mengalihkan tempat distribusi hingga harga merangkak naik barulah mereka melepas barang-barang yang dibutuhkan masyarakat. Meningkatnya permintaan barang konsumsi pada bulan Ramadhan dijadikan kesempatan bagi para spekulan untuk meraup keuntungan yang tinggi.



Imbasnya, inflasi di bulan yang penuh berkah ini terkadang di luar kendali dan perhitungan pemerintah. Harga-harga barang melonjak lebih dari perkiraan.



Secara teori, inflasi terjadi karena: 

pertama, melimpahnya uang yang beredar (kelebihan likuiditas/uang) dan kurangnya produksi atau distribusi barang. Membanjirnya likuiditas (uang) di pasar ditentukan oleh kemampuan Bank Sentral (Bank Indonesia) dalam mengatur peredaran jumlah uang, kebijakan suku bunga, dan aksi para pemain (spekulan) di pasar uang.



Negara yang menerapkan sistem fiat money (sistem mata uang yang tidak disandarkan kepada sesuatu yang berharga seperti logam mulia) akan mudah terkena inflasi karena ada perubahan nilai tukar mata uang dengan mata uang asing atau karena mencetak uang baru.



Kedua, penyebab inflasi karena kelangkaan barang sering terjadi bukan hanya karena produksinya yang kurang tetapi juga karena ketidaklancaran distribusi barang. Seringnya di bulan Ramadhan dijadikan kesempatan emas oleh para spekulan untuk menjadikan barang itu langka selain adanya permintaan yang meningkat demi mengambil keuntungan yang besar.


Di dalam sistem ekonomi Islam, inflasi karena sebab yang pertama tidak akan pernah terjadi karena Negara Islam menerapkan sistem mata uang emas (gold standard) sehingga tidak terpengaruh dengan nilai tukar, dan Bank sentral tidak akan mudah mencetak uang baru selama tidak memiliki tambahan persediaan logam mulia (emas dan perak).Sedangkan untuk mengatasi inflasi akibat penimbunan barang maka Islam telah menjelaskan bagaimana mencegah hal itu terjadi dengan mengharamkan penimbunan barang (ikhtikar).



Ulama mazhab Maliki mendefinisikan ikhtikar adalah penyimpanan barang oleh produsen baik makanan, pakaian dan segala barang yang merusak pasar, sedangkan ulama Syafiiyah mendefinisaikannya menahan sesuatu yang dibeli pada waktu mahal supaya bisa dijual dengan harga yang lebih dari waktu membeli karena orang sangat membutuhkan.



Hukuman bagi pelaku penimbun barang yang menyengsarakan masyarakat ini haruslah dihukum setimpal oleh pemerintah karena perbuatan ini termasuk perbuatan yang haram. Sabda Rasulullah SAW: “Siapa yang merusak harga pasar hingga harga itu melonjak tajam, maka Allah akan menempatkannya di dalam neraka pada hari kiamat.”(HR. Thabrani)



Pemerintah bisa menentukan hukuman penjara, denda dengan jumlah yang besar dan memaksa pemilik barang untuk menjual barangnya sesuai dengan harga normal pasar yang berlaku.



Jika sistem ekonomi Islam diterapkan, maka terjadinya inflasi hanya disebabkan oleh kurangnya produksi semisal karena ada bencana alam atau paceklik kekeringan. Sedangkan inflasi karena faktor ketamakan manusia bisa dihilangkan. Pemerintah berkewajiban menjaga kestabilan dan kemudahan masyarkat mendapatkan distribusi barang tetapi tidak bisa memaksakan penetuann harga.



Dalam ekonomi Islam, harga sepenuhnya diberikan sesuai harga pasar (pertemuan antara permintaan dan penawaran).



Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu berkata:, ”Harga barang dagangan pernah melambung tinggi di Madinah pada zaman Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu orang-orang pun berkata:”Wahai Rasulullah, harga barang melambung, maka tetapkanlah standar harga untuk kami.” Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:”Sesungguhnya Allah lah al-Musa’ir (Yang Maha Menetapkan harga), al-Qabidh, al-Basith, dan ar-Raziq. Dan sungguh aku benar-benar berharap berjumpa dengan Allah dalam keadaan tidak ada seorang pun dari kalian yang menuntutku dengan kezhaliman dalam masalah darah (nyawa) dan harta” (HR. al-Khomsah kecuali an-Nasa’i dan dishahihkan oleh Ibnu Hibban)






Tri Wahyu Cahyono
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Makan Kenyang Jebakan Setan

Dikisahkan Nabi Yahya as bertemu dengan iblis yang sedang membawa sesuatu barang. Kepada iblis Nabi Yahya menanyakan untuk apa barang itu? Iblis menjawab, barang itu syahwat untuk memancing anak cucu Adam.

"Adakah dalam diriku sesuatu yang dapat engkau pancing?" tanya Nabi Yahya. Jawab Iblis, "Tidak ada. Hanya pernah terjadi pada suatu malam, engkau makan agak kenyang, dan kami dapat menarikmu sehingga engkau merasa berat mengerjakan shalat."

"Kalau begitu, aku tidak akan makan terlalu kenyang lagi selama hidupku," kata Nabi Yahya. "Wow, sungguh menyesal sekali kami buka rahasia ini. Mulai saat ini, kami tidak akan menceritakan rahasia ini kepada siapapun," iblis menyambung.

Kisah yang dinukil dari kitab Minhajul Abidin karangan Imam Al-Ghazali tersebut, setidaknya dapat dipetik sebagai pelajaran berkaitan dengan isi perut. Bahwa untuk menjaga perut agar tidak terlalu kenyang, apalagi yang tercampur dengan barang haram dan syubhat, bukan hal yang sederhana. Karena bukan hal sederhana, maka manfaat dan ganjaran yang didapat tidak kecil. Dituntut kemampuan mengendalikan hawa nafsu.

Bukankah syetan gemar mendorong manusia menikmati makanan-minuman seenak dan sebanyak mungkin. Tetapi syetan juga mengarahkan kita mendekati barang-barang syubhat, untuk menceburkan kita ke dalam hal yang haram.

Al-Ghazali menguraikan bahaya yang timbul oleh perut yang kelewat kenyang dan mengkonsumsi barang haram/syubhat, seperti dikutip berikut ini: .

1. Terlalu banyak makan dan minum dapat membuat badan terasa berat, lesu, sifat malas, dan perilaku iseng. Juga ingin selalu melihat hal-hal haram, yang tidak bermanfat, dan berlebihan. Akal, pikir dan pengetahuan pun menjadi sempit. .

2. Kebanyakan makan akan menyebabkan manusia malas dalam menjalankan ibadah. .

3. Kebanyakan makan juga akan menjerumuskan pada perbuatan syubhat dan haram. Sedangkan makanan haram dan syubhat menjadi penghalang bagi datangnya taufik dan hidayah dari Allah swt. Perut yang dipenuhi makanan yang haram dan syubhat juga akan menjadikan si pemiliknya terhalang berbuat kebaikan. Malas berkecimpung pada hal-hal yang mengandung kemaslahatan, untuk diri dan orang lain. .


Makanan halal yang kita konsumsi pada hakikatnya adalah bekal untuk beribadah. Bila porsi itu sudah terpenuhi, lalu melewati batas itu, berarti pemborosan yang berarti berkawan dengan syaithonirrajim. Semoga kita berkemampuan menghindarinya. .

Rasulullah saw bersabda, "Sesungguhnya yang halal itu tidak datang kepadamu melainkan sebagai bekal. Dan yang haram datang kepadamu dengan melimpah." .

Sekalipun makanan itu halal, tidak menjadi alasan untuk menikmati dengan tak terkendali. Beliau saw mengatakan, "Janganlah kamu mematikan hati dengan makan dan minum berlebihan, meskipun makanan dan minuman itu halal. Sebab hati ibarat tumbuh-tumbuhan, jika terlalu banyak disiram ia akan mati." .

Sementara Abu Ja'far menasihatkan, perut jika lapar membuat seluruh anggota badan tidak banyak menuntut dan merasa tenteram. Tetapi jika kenyang, maka anggota tubuh lainnya menjadi lapar, banyak tuntutannya.



Mbah Jenggot (Pengasuh PISS KTB)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rahmat Allah Bagi Yang Berjilbab


Banyak syubhat di lontarkan kepada kaum muslimah yang ingin berjilbab. Syubhat yang ‘ngetrend’ dan biasa kita dengar adalah ”Buat apa berjilbab kalau hati kita belum siap, belum bersih, masih suka ‘ngerumpi’ berbuat maksiat dan dosa-dosa lainnya, percuma dong pake jilbab! Yang penting kan hati! lalu tercenunglah saudari kita ini membenarkan pendapat kawannya.

Syubhat lainnya lagi adalah ”Liat tuh kan ada hadits yang berbunyi: Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk(rupa) kalian tapi Allah melihat pada hati kalian..!. Jadi yang wajib adalah hati, menghijabi hati kalau hati kita baik maka baik pula keislaman kita walau kita tidak berkerudung!. Benarkah demikian ya ukhti?

Saudariku muslimah semoga Allah merahmatimu, siapapun yang berfikiran dan berpendapat demikian maka wajiblah baginya untuk bertaubat kepada Allah Ta’ala memohon ampun atas kejahilannya dalam memahami syariat yang mulia ini. Jika agama hanya berlandaskan pada akal dan perasaan maka rusaklah agama ini. Bila agama hanya didasarkan kepada orang-orang yang hatinya baik dan suci, maka tengoklah disekitar kita ada orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu atau Budha dan yang lainnya. Lihatlah dengan seksama ada diantara mereka yang sangat baik hatinya, lemah lembut, dermawan, bijaksana. Apakah anda setuju untuk mengatakan mereka adalah muslim? Tentu akal anda akan mengatakan “tentu tidak! karena mereka tidak mengucapkan syahadatain, mereka tidak memeluk islam, perbuatan mereka menunjukkan mereka bukan orang islam. Tentu anda akan sependapat dengan saya bahwa kita menghukumi seseorang berdasarkan perbuatan yang nampak (zahir) dalam diri orang itu.

Lalu bagaimana pendapatmu ketika anda melihat seorang wanita di jalan berjalan tanpa jilbab, apakah anda bisa menebak wanita itu muslimah ataukah tidak? Sulit untuk menduga jawabannya karena secara lahir (dzahir) ia sama dengan wanita non muslimah lainnya. Ada kaidah ushul fiqih yang mengatakan “alhukmu ala dzawahir amma al bawathin fahukmuhu “ala llah’ artinya hukum itu dilandaskan atas sesuatu yang nampak adapun yang batin hukumnya adalah terserah Allah.

Rasanya tidak ada yang bisa menyangsikan kesucian hati ummahatul mukminin (istri-istri Rasulullah shalallahu alaihi wassalam) begitupula istri-istri sahabat nabi yang mulia (shahabiyaat). Mereka adalah wanita yang paling baik hatinya, paling bersih, paling suci dan mulia. Tapi mengapa ketika ayat hijab turun agar mereka berjilbab dengan sempurna (lihat QS: 24 ayat 31 dan QS: 33 ayat 59). Tak ada satupun riwayat termaktub mereka menolak perintah Allah Ta’ala. Justru yang kita dapati mereka merobek tirai mereka lalu mereka jadikan kerudung sebagai bukti ketaatan mereka. Apa yang ingin anda katakan? Sedangkan mengenai hadits diatas, banyak diantara saudara kita yang tidak mengetahui bahwa hadits diatas ada sambungannya.

Lengkapnya adalah sebagai berikut:

“Dari Abu Hurairah, Abdurrahman bin Sakhr radhiyallahu anhu dia berkata, Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk tubuh-tubuh kalian dan tidak juga kepada bentuk rupa-rupa kalian, tetapi Dia melihat hati-hati kalian “(HR. Muslim 2564/33).

Hadits diatas ada sambungannya yaitu pada nomor hadits 34 sebagai berikut:


“Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada bentuk rupa kalian dan juga harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan perbuatan kalian. (HR.Muslim 2564/34).

Semua adalah seiring dan sejalan, hati dan amal. Apabila hanya hati yang diutamakan niscaya akan hilanglah sebagian syariat yang mulia ini. Tentu kaum muslimin tidak perlu bersusah payah menunaikan shalat 5 waktu, berpuasa dibulan Ramadhan, membayar dzakat dan sedekah atau bersusah payah menghabiskan harta dan tenaga untuk menunaikan ibadah haji ketanah suci Mekah atau amal ibadah lainnya. Tentu para sahabat tidak akan berlomba-lomba dalam beramal (beribadah) cukup mengandalkan hati saja, toh mereka adalah sebaik-baik manusia diatas muka bumi ini. Akan tetapi justru sebaliknya mereka adalah orang yang sangat giat beramal tengoklah satu kisah indah diantara kisah-kisah indah lainnya.

Urwah bin Zubair Radhiyallahu anhu misalnya, Ayahnya adalah Zubair bin Awwam, Ibunya adalah Asma binti Abu Bakar, Kakeknya Urwah adalah Abu Bakar Ash-Shidik, bibinya adalah Aisyah Radhiyallahu anha istri Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam. Urwah lahir dari nasab dan keturunan yang mulia jangan ditanya tentang hatinya, ia adalah orang yang paling lembut hatinya toh masih bersusah payah giat beramal, bersedekah dan ketika shalat ia bagaikan sebatang pohon yang tegak tidak bergeming karena lamanya ia berdiri ketika shalat. 

Aduhai, betapa lalainya kita ini, banyak memanjangkan angan-angan dan harapan padahal hati kita tentu sangat jauh suci dan mulianya dibandingkan dengan generasi pendahulu kita.



Ust. Yusuf Mansur
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rahasia Puasa


Sebagai muslim  yang  sejati,  kedatangan dan  kehadiran Ramadhan  yang mulia pada  tahun  ini  merupakan  sesuatu  yang  amat  membahagiakan  kita.  Betapa tidak,  dengan menunaikan  ibadah  Ramadhan,  amat  banyak  keuntungan  yang akan kita peroleh, baik dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat kelak.  Disinilah  letak pentingnya bagi kita untuk membuka  tabir rahasia puasa sebagai salah satu bagian terpenting dari ibadah Ramadhan.

Paling tidak, ada lima rahasia  puasa  yang  bisa  kita  buka  untuk  selanjutnya  bisa  kita  rasakan kenikmatannya dalam ibadah Ramadhan.

1.    Menguatkan Jiwa.  
Dalam hidup hidup, tak sedikit kita dapati manusia yang didominasi oleh hawa nafsunya,  lalu  manusia  itu  menuruti  apapun  yang  menjadi  keinginannya meskipun  keinginan  itu  merupakan  sesuatu  yang  bathil  dan  mengganggu serta merugikan  orang  lain.  Karenanya,  di  dalam  Islam  ada  perintah  untuk memerangi  hawa  nafsu  dalam  arti  berusaha  untuk  bisa mengendalikannya, bukan  membunuh  nafsu  yang  membuat  kita  tidak  mempunyai  keinginan terhadap sesuatu yang bersifat duniawi.  

Manakala dalam peperangan  ini manusia mengalami kekalahan, malapetaka besar akan  terjadi karena manusia yang kalah dalam perang melawan hawa nafsu itu akan mengalihkan penuhanan dari kepada Allah Swt sebagai Tuhan yang benar kepada hawa nafsu yang cenderung mengarahkan manusia pada kesesatan.  Allah  memerintahkan  kita  memperhatikan  masalah  ini  dalam firman-Nya  yang  artinya, “Maka  pernahkah  kamu  melihat  orang  yang menjadikan  hawa  nafsunya  sebagai  Tuhannya  dan  Allah  membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya.” (QS 45:23).  

Dengan  ibadah  puasa,  maka  manusia  akan  berhasil  mengendalikan  hawa nafsunya  yang  membuat  jiwanya  menjadi  kuat,  bahkan  dengan  demikian, manusia akan memperoleh derajat yang tinggi seperti layaknya malaikat yang suci  dan  ini  akan membuatnya mampu mengetuk  dan membuka  pintu-pintu langit  hingga  segala  do’anya  dikabulkan  oleh  Allah  Swt,  Rasulullah  Saw bersabda yang artinya, “Ada tiga golongan orang yang tidak ditolak do’a mereka: orang yang berpuasa hingga  berbuka,  pemimpin  yang  adil  dan  do’a  orang  yang  dizalimi  (HR. Tirmidzi).

2.    Mendidik Kemauan.  
Puasa mendidik  seseorang  untuk memiliki  kemauan  yang  sungguh-sungguh dalam  kebaikan, meskipun  untuk melaksanakan  kebaikan  itu  terhalang  oleh berbagai  kendala.  Puasa  yang  baik  akan  membuat  seseorang  terus mempertahankan  keinginannya  yang  baik,  meskipun  peluang  untuk menyimpang begitu besar.  

Karena  itu, Rasulullah Saw menyatakan: Puasa  itu setengah dari kesabaran. Dalam kaitan ini, maka puasa akan membuat kekuatan rohani seorang muslim semakin prima. Kekuatan  rohani yang prima akan membuat seseorang  tidak akan lupa diri meskipun telah mencapai keberhasilan atau kenikmatan duniawi yang sangat besar, dan kekuatan rohani juga akan membuat seorang muslim tidak akan berputus asa meskipun penderitaan yang dialami sangat sulit.

3.    Badan.  
Disamping kesehatan dan kekuatan  rohani, puasa yang baik dan benar  juga akan memberikan  pengaruh  positif  berupa  kesehatan  jasmani.  Hal  ini  tidak hanya dinyatakan oleh Rasulullah Saw, tetapi juga sudah dibuktikan oleh para dokter  atau  ahli-ahli  kesehatan  dunia  yang  membuat  kita  tidak  perlu meragukannya  lagi.  Mereka  berkesimpulan  bahwa  pada  saat-saat  tertentu, perut memang  harus  diistirahatkan  dari  bekerja memproses makanan  yang masuk sebagaimana  juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam  Islam, isi  perut  kita memang  harus  dibagi menjadi  tiga,  sepertiga  untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.

4.    Mengenal Nilai Kenikmatan.  
Dalam  hidup  ini,  sebenarnya  sudah  begitu  banyak  kenikmatan  yang  Allah berikan  kepada  manusia,  tapi  banyak  pula  manusia  yang  tidak  pandai mensyukurinya.  Dapat  satu  tidak  terasa  nikmat  karena  menginginkan  dua, dapat  dua  tidak  terasa  nikmat  karena  menginginkan  tiga  dan  begitulah seterusnya. Padahal kalau manusia mau memperhatikan dan merenungi, apa yang  diperolehnya  sebenarnya  sudah  sangat menyenangkan  karena  begitu banyak  orang  yang memperoleh  sesuatu  tidak  lebih  banyak  atau  tidak  lebih mudah dari apa yang kita peroleh.

Maka  dengan  puasa,  manusia  bukan  hanya  disuruh  memperhatikan  dan merenungi  tentang  kenikmatan  yang  sudah  diperolehnya,  tapi  juga  disuruh merasakan  langsung  betapa  besar  sebenarnya  nikmat  yang  Allah  berikan kepada  kita.  Hal  ini  karena  baru  beberapa  jam  saja  kita  tidak  makan  dan minum  sudah  terasa  betul  penderitaan  yang  kita  alami,  dan  pada  saat  kita berbuka  puasa,  terasa  betul  besarnya  nikmat  dari  Allah  meskipun  hanya berupa sebiji kurma atau seteguk air. Disinilah letak pentingnya ibadah puasa guna mendidik kita untuk menyadari tinggi nilai kenikmatan yang Allah berikan agar  kita  selanjutnya  menjadi  orang  yang  pandai  bersyukur  dan  tidak mengecilkan  arti  kenikmatan  dari  Allah meskipun  dari  segi  jumlah memang sedikit dan kecil.  

Rasa syukur memang akan membuat nikmat  itu bertambah banyak, baik dari segi  jumlah atau paling  tidak dari segi  rasanya, Allah berfirman yang artinya, “Dan  (ingatlah  juga),  tatkala  Tuhanmu  memaklumkan:  "Sesungguhnya  jika kamu  bersyukur,  pasati Kami  akan menambah  (nikmat)  kepadamu,  dan  jika kamu mengingkari  (nikmat-Ku), maka  sesungguhnya  azab-Ku  sangat  pedih (QS 14:7).

5.    Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain.  
Merasakan  lapar  dan  haus  juga  memberikan  pengalaman  kepada  kita bagaimana  beratnya  penderitaan  yang  dirasakan  orang  lain.  Sebab pengalaman  lapar  dan  haus  yang  kita  rasakan  akan  segera  berakhir  hanya dengan  beberapa  jam,  sementara  penderitaan  orang  lain  entah  kapan  akan berakhir.  
Dari  sini,  semestinya  puasa  akan  menumbuhkan  dan  memantapkan  rasa solidaritas  kita  kepada  kaum muslimin  lainnya  yang mengalami  penderitaan yang  hingga  kini masih  belum  teratasi. Oleh karena  itu, sebagai simbol dari  rasa solidaritas  itu, sebelum Ramadhan berakhir,  kita  diwajibkan  untuk  menunaikan  zakat  agar  dengan  demikian setahap  demi  setahap  kita  bisa  mengatasi  persoalan-persoalan  umat  yang menderita. Bahkan zakat  itu  tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan  menderita,  tapi  juga  bagi  kita  yang  mengeluarkannya  agar  dengan demikian, hilang kekotoran  jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya. Allah berfirman yang artinya:

Ambillah zakat dari sebagian  harta  mereka,  dengan  zakat  itu  kamu  membersihkan  dan mensucikan mereka dan mendo’alah untuk mereka. Sesungguhnya do’a kamu itu  (menjadi) ketentraman  jiwa bagi mereka. Dan Allah Maha Mendengar  lagi Maha Mengetahui (QS 9:103).


Dr. Yusuf Qardhawi dalam kitabnya "Al Ibadah Fil Islam"
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Al Quran dan Lailatul Qadar


Sesungguhnya kami telah menurunkan Alquran pada malam qadar.’’ (QS: Al-Qadar [97]:1)

Suatu hari, dalam sebuah riwayat, Rasulullah SAW berkisah kepada para sahabat tentang seorang seorang yang saleh dari Bani Israil. Orang tersebut menghabiskan waktunya selama 1.000 bulan  untuk berjihad fi sabilillah. Mendengar kisah itu, para sahabat merasa iri, karena tak bisa memiliki kesempatan untuk beribadah selama itu.

Usia umat Nabi Muhammad SAW memang lebih pendek dari umat terdahulu. Dalam riwayat lainnya disebutkan bahwa Rasulullah SAW pernah merenungi hal itu. Nabi SAW pun bersedih, karena mustahil umatnya dapat menandingi amal ibadah umat-umat terdahulu.

''Dengan penuh kasih sayang yang tak terhingga, Allah SWT lalu mengaruniakan Lailatul Qadar kepada umat Nabi Muhammad SAW,'' ungkap Maulana Muhammad Zakariyya Al-Kandahlawi dalam kitab Fadha'il Ramadhan. Menurutnya,  Lailatul Qadar adalah suatu malam karunia Allah yang sangat besar kebaikan dan keberkahannya.

Lalu apa sebenarnya Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar berarti malam yang penuh dengan kemuliaan. Pada malam itu, kata dia,  diturunkan Alquran yang memiliki kemuliaan, melalui seorang malaikat yang juga sangat mulia dan diterima seorang nabi yang juga sangat mulia.

Qadar   bisa bermakna ukuran. Ukuran segala sesuatu itu ditetapkan pada malam itu, rezeki seseorang, apakah dia bahagia atau tidak? Sampai setahun ke depan ditetapkan pada malam itu. Lailatul Qadar memiliki sejumlah keistimewaan. Betapa tidak. Pada malam itu, Alquran diturunkan. Selain itu, Lailatul Qadar itu lebih baik dari 1.000 bulan.

Pada malam itu,  para malaikat dan Ar-ruh (yang dimaksud adalah Malaikat Jibril) turun ke bumi.  Para malaikat itu turun dengan membawa rahmat dan keberkahan. Yang tak kalah penting, malam yang istimewa itu membawa kedamaian, rasa aman kepada siapa saja yang menjumpainya sampai terbit fajar.

Dalam sebuah riwayat, yang dimaksud fajar adalah terbit fajar di keesokan harinya. Tapi hatta mathla'il fajr, berarti sampai tiba saatnya fajar kehidupannya yang baru di akhirat nanti. Lalu seperti apa ciri-ciri akan datangnya Lailatul Qadar?

Tanda-tanda fisik seperti yang populer di kalangan masyarakat bahwa malam itu tenang, angin sepoi-sepoi, kemudian matahari di keesokan harinya berawan dan tidak terlalu panas. Namun, riwayat-riwayatnya tidak dapat dipertanggungjawabkan kesahihannya.

Tanda-tanda fisik semacam itu secara logika memangsulit diterima. Karena, sangat relatif, tergantung musim. Kalau musim hujan, ya,  pasti mendung, apalagi dengan perubahan iklim sekarang. Jadi, tanda-tanda fisik itu tidak bisa dijadikan ukuran. Tanda yang pasti adalah salaamun hiya hatta mathla'il fajr.

Yang pasti, salah satu tanda yang pasti dari Lailatul Qadar adalah  orang selalu merasa damai,  selalu menebar kedamaian dalam hidupnya sampai dia meninggal dunia bahkan sampai dibangkitkan kembali menyongsong fajar kehidupan yang baru.

Tak ada seorang pun yang tahu kapan tamu agung itu akan datang. Hanya Allah SWT yang mengetahui kapan malam yang lebih baik dari 1.000 bulan itu akan menghampiri hambanya. Terlebih, sebagai tamu agung, Lailatul Qadar hanya dianugerahkan kepada orang-orang yang mendapat taufik dan beramal saleh pada malam itu.  Mengapa begitu? Supaya kita semakin giat mencarinya sepanjang hari, khususnya pada malam-malam sepuluh terakhir Ramadhan.

Sesungguhnya,  Lailatul Qadar itu memiliki banyak makna. Lailatul Qadar bisa diartikan secara fisik bahwa betul-betul memang malam itu ada sesuatu yang istimewa. Pada malam itu Malaikat turun berbondong-bondong sangat luar biasa dan hanya detik itu, menit itu atau jam itu. Adalagi yang memaknai Lailatul Qadar simbolis sesungguhnya. Laila artinya malam, malam bisa berarti keheningan, kesyahduan, kepasrahan, tawakal, kerinduan, kehangatan, termasuk juga kekhusyukan.

Sebagaimana banyak dijelaskan dalam berbagai buku sejarah, termasuk Sirah Nabawiyyah, Lailatul Qadar itu hanya terjadi sekali dalam setahun, yakni hanya pada bulan Ramadhan. Dan itupun, waktunya tidak ditentukan. Ada yang berpendapat, terjadi di malam ganjil pada sepuluh malam terakhir Ramadhan.

Karena begitu mulianya Laailatul Qadar, Rasulullah saw mengajak seluruh sahabatnya, istri-istrinya sampai kepada pembantu-pembantunya untuk memperbanyak ibadah.  Karena itu, ketika istri-istri Rasulullah diminta untuk mencari Lailatul Qadar, Aisyah RA  berkata, Ya Rasulullah bagaimana kalau saya yang mendapatkan? Apa yang harus saya baca? Minta rumah, minta kekayaan atau minta yang lainnya?




Rasulullah mengajarkan bacalah,  ''Allahumma innaka afuwwun karim tuhibbul afwa fa'fu anni (Ya Allah Engkalau Yang Maha Pengampun Lagi Maha Pemurah, Engkau senang mengampuni hamba-hambaMu karena itu ampunilah dosa-dosaku).''




Sumber: Republika Online
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Jangan Matikan Aku Sebelum Hafal Qur'an


Tepatnya tanggal 5 Oktober 2008 – seorang gadis kecil Indonesia mengalami musibah yang luar biasa di negeri antah berantah nan jauh  - Syria. Dia terjatuh dari ketinggian sekiar 15 meter dan terbanting-banting di anak tangga ampiteater Roma di Busrah. Akibat kecelakaan ini gadis kecil tersebut mengalami pendarahan otak yang sangat hebat, dia harus menjalani berbagai pembedahan otak dan merasakan sakit yang luar biasa di kepalanya sampai berbulan-bulan kemudian.  Pada saat pendarahan masih menguasai otaknya sehingga kesadarannya timbul tenggelam, gadis kecil ini lirih berdoa :

"Ya Allah, jangan matikan aku sebelum aku selesai menghafal Al-Qu’ran...".

Dengan tekad yang luar biasa inilah gadis kecil tersebut berjuang melawan sakit di kepala yang tidak kunjung henti, terkadang dia harus menjeduk-jedukkan kepalanya di tempat tidur untuk mengimbangi rasa sakit yang sangat di dalam kepalanya.

Beratnya komitmen untuk menghafal Al-Qur’an yang dialami oleh gadis kecil ini juga jauh diatas beban manusia pada umumnya, betapa frustasinya dia ketika hafalan ayat-ayat Al-Qur’an seolah timbul tenggelam di kepalanya silih berganti dengan rasa sakit yang bisa tiba-tiba muncul kapan saja. Tetapi dia terus  belajar dan terus menghafal nyaris tanpa henti, dia hanya berhenti menghafal ketika sakit kepalanya sudah tidak tahan lagi.

Allah dan para malaikatNya  rupanya menyaksikan betapa kuatnya niat gadis kecil ini untuk menghafal Al-Qur’an, pada bulan Mei 2010 oleh ustadzah-nya dia dibimbing untuk menyelesaikan ujian tahfiz setengah Al-Qur’an (15 Juz) dengan seorang syeikh Qura di Damascus.

Gadis kecil ini-pun lulus dan memperoleh syahadah (ijazah) sanad bacaan Al-Qur’an yang sampai kepada Ali bin Abi Talib Radhiallahu 'Anhu, dan tentu saja sampai kepada Rasulullah Shallallahu 'Alayhi Wasallam.

Tidak berhenti di sini, gadis kecil tersebut mencanangkan niatnya untuk menyelesaikan hafalan Al-Qur’an penuh 30 juz pada Ramdhan 1432 H. Maka target ini hanya meleset kurang lebih 3 pekan ketika pada  tanggal 19 Syawwal 1432 H /19 September 2011 kemarin gadis kecil ini menyelesaikan hafalannya yang 30 juz, diiringi sujud syukur orang tuanya. Allahu Akbar…

Atas permintaan kedua orang tuanya yang tawadhu’, saya tidak bisa ungkapkan nama gadis kecil ini.  Tetapi bagi para gadis kecil – gadis kecil lainnya yang belajar Al-Qur’an di Madrasah Al-Qur’an Daarul Muttaqiin Lil-Inaats (Pesantren Putri) – Jonggol, gadis kecil penghafal Al-qur’an ini kini menjadi salah satu guru atau mudarrisah ( ustadzhah) mereka.
Bahkan bukan hanya bagi anak-anak putri yang belajar Al-qur’an di madrasah tersebut dia menjadi guru, gadis kecil penghafal Al-qur’an ini juga layak untuk menjadi guru bagi kita semua para orang tua.

Guru dalam hal menyikapi musibah, guru dalam hal menghadirkan Allah dalam mengatasi persoalan kita, guru dalam mengisi hidup dengan Al-Quran, guru dalam merealisasikan niat, guru dalam menjaga komitment, guru dalam syukur dan syabar.

Bila gadis kecil dengan beban sakit kepala yang luar biasa ini bisa menyelesaikan hafalan Al-Qur’an-nya 30 Juz dalam kurun waktu kurang dari 3 tahun, berapa banyak yang sudah kita hafal ?, berapa banyak yang kita niatkan untuk menghafalnya di sisa usia kita ?, seberapa kuat niat kita untuk mengamalkannya ?.  Kita tahu persis jawabannya untuk diri kita masing-masing.

Maka memang tidak berlebihan kalau saya menyebut gadis kecil itu kini sebagai  Sang Guru…!. Semoga Allah dan para malaikatNya terus mendampingimu hingga dewasa dan menjadi guru dan sumber inspirasi untuk memperbaiki anak-anak (dan para orang tua) dunia…InsyaAllah.



Ust. Yusuf  Mansur
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Adab - Adab Khatam Alquran

Adab-adab berkhatam Al-Qur’an dan segala yang berkaitan dengannya. Dalam bab ini ada beberapa Masalah:

Masalah pertama, berkenaan dengan waktunya telah ditentukan bahwa pengkhataman oleh pembaca sendirian disunahkan untuk dilakukan dalam sembahyang. 

Ada orang yang berpendapat, disunahkan melakukan pengkhataman itu dalam dua rakaat sunah Fajar dan dalam dua rakaat sunah Maghrib, sedangkan dalam dua rakaat Fajar lebih utama.

Disunahkan pengkhataman Al-Qur’an sekali khatam di awal siang dalam suatu rumah dan mengkhatamkan lainnya diakhir siang di rumah lain. Manakala yang mengkhatamkan di luar sembahyang dalam jamaah yang mengkhatamkan bersama-sama, maka disunahkan pengkhataman mereka berlangsung di awal siang atau di awal malam sebagaimana dikemukakan. Awal siang lebih utama menurut sebagian ulama.

Masalah kedua, diutamakan berpuasa pada hari pengkhataman, kecuali jika bertepatan dengan hari yang dilarang syarak puasa hari itu.  

Diriwayatkan oleh Ibnu Dawud dengan isnadnya yang sahih, bahwa Thalhah bin Mutharif dan Habib bin Abu Thabit, serta Al-Musayyib bin Raafi’ para tabi’im Kuffah ra, dianjurkan berpuasa pada hari di mana mereka mengkhatamkan Al-Qur’an.

Masalah ketiga, diutamakan sekali menghadiri majelis pengkhataman Al-Qur’an.

Diriwayatkan dalam Shahihain, “Bahwa Rasulullah saw menyuruh perempuan-perempuan yang haid keluar pada hari raya untuk menyaksikan kebaikan dan doa kaum muslimin.”
 
Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dan Ibnu Abi Dawud dengan isnadnya dari ibnu Abbas ra bahwa dia menyuruh seseorang memperhatikan seorang yang membaca Al-Qur’an. Jika pembaca Al-Qur’an itu akan khatam, hendaklah dia memberitahukan kepada Ibnu Abbas, sehingga dia dapat menyaksikan berkhatam itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Dawud dengan dua isnadnya yang sahih dari Qatadah seorang tabi’in besar sahabat Anas ra, katanya: Anas bin Malik ra. Apabila mengkhatamkan Al-Qur’an, dia kumpulkan keluarganya dan berdoa. Dia meriwayatkan dengan isnad-isnadnya yang sahih dari Al-Hakam bin Uyainah seorang tabi’in yang mulia.

Mujahid dan Utbah bin Lubabah mengutus orang kepadaku, keduanya berkata, kami mengutus orang kepadamu karena kami ingin mengkhatamkan Al-Qur’an. Doa sangat mustajab ketika mengkhatamkan Al-Qur’an. Dalam suatu riwayat yang sahih disebutkan, bahwa rahmat turun ketika mengkhatamkan Al-Qur’an.

Diriwayatkan dengan isnadnya yang sahih dari mujahid, katanya: Mereka berkumpul ketika mengkhatamkan Al-Qur’an dan berkata, rahmat Allah swt turun.

Masalah keempat, berdoa sesudah pengkhataman Al-Qur’an amat disunahkan berdasarkan apa yang kami sebutkan dalam masalah sebelumnya. 

Diriwayatkan oleh Ad-Daarimi dengan isnadnya dari Humaid Al-A’raj, katanya: Barangsiapa membaca Al-Qur’an, kemudian berdoa, maka doanya diamini oleh 4.000 malaikat. Hendaklah dia bersungguh-sungguh dalam bedoa dan mendoakan hal-hal yang penting serta memperbanyak untuk kebaikan kaum muslimin dan para pemimpin mereka. (At-Tibyaan fii Aadaabi Hamalatil Quran)

حدّثنا عمرو بنُ حمادٍ ثَنَا قزعةُ بنُ سويدٍ ، عَنْ حميدٍ الأعرجِ ،، قال: مَنْ قرأَ القرآنَ ثُمَّ دعا، أمَّنَ علَى دعائِهِ أربعةُ آلافِ مَلَكٍ اسم الكتاب: سنن الدارمي
رقم الجزء: 2
رقم الصفحة: 470

وعن طلـحة بن مصرف التابعي الـجلـيـل الإِمام قال: من ختـم القرآن أيّة ساعة كانت من النهار صلّت علـيه الـملائكة حتـى يـمسي، وأيّة ساعة كانت من اللـيـل صلّت علـيه الـملائكة حتـى يصبح. ثم قال ـ رحمه اللـه تعالـى ـ ويستـحب الدعاء عند الـختـم استـحبـاباً متأكداً شديداً، لـما روينا عن حميد الأعرج ـ رحمه اللـه تعالـى ـ قال: من قرأ القرآن ثم دعا أمّن علـى دعائه أربعة آلاف ملك. وينبغي أن يـلـح فـي الدعاء، وأن يدعو بـالأمور الـمهمة، والكلـمات الـجامعة، وأن يكون معظم ذلك أو كلـه فـي أمور الآخرة، وأمور الـمسلـمين، وصلاح سلطانهم، وسائر ولاة أمورهم، وفـي توفـيقهم للطاعات، وعصمتهم من الـمخالفـات، وتعاونهم علـى البرّ والتقوى، وقـيامهم بـالـحق، واجتـماعهم علـيه، وظهورهم علـى أعداء الدين، وسائر الـمخالفـين. اهـ.
اسم الكتاب: إعانة الطالبين
رقم الجزء: 2
رقم الصفحة: 301



http://www.facebook.com/groups/piss.ktb/permalink/460715423951271/?comment_id=460729933949820&offset=0&total_comments=11 oleh Mbah Jenggot
comments (1) | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Tips Sehat Berpuasa


Bulan suci Ramadan telah tiba dan itu menandakan bahwa kita akan menjalani ibadah puasa selama 1 bulan. Puasa berarti menahan lapar dan dahaga mulai dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ini artinya selama sekitar 14 jam tubuh tidak akan mendapatkan asupan makanan.Agar tubuh tetap sehat saat berpuasa, maka penting untuk mengatur pola makan. Ada beberapa tips dan saran dalam menjalankan ibadah puasa, diantaranya: 


Konsumsi jenis makanan yang lambat dicerna oleh sistem pencernaan
 

Mengingat waktu berpuasa cukup panjang, cobalah untuk mengonsumsi makanan yang lambat dicerna, termasuk makanan berserat. Pilihlah makanan sahur yang mengandung biji-bijian seperti bermacam jenis olahan gandum, sereal, millet, semolina, kacang-kacangan, lentil, tepung gandum, beras kasar. Makanan tersebut lambat dicerna, sehingga disarankan untuk dikonsumsi ketika sahur. 


Makan sahur mendekati Subuh
 

Memang berat menjalani ritual sahur di pagi buta. Namun, makan sahur akan membantu Anda untuk tetap berenergi. Makan sahur mendekati waktu Subuh juga akan mencegah Anda melewati salat Subuh. Disarankan untuk mengonsumsi makanan yang kaya akan karbohidrat kompleks, protein, juga berbagai vitamin. 


Makan secukupnya saat berbuka 


Makanlah secukupnya saat berbuka. Ikuti sunnah untuk berbuka dengan manisnya buah kurma dan secangkir minuman hangat. Langsung makan banyak saat buka puasa bisa membuat perut terasa sesak akibat lambung akan mengecil dan enzim-enzim pencernaan berkurang. Anda dapat melanjutkan acara berbuka dengan mengonsumsi makanan rendah kalori setelah melakukan ibadah salat Maghrib. Makan secara bertahap akan membantu perut Anda, untuk beradaptasi kembali mencerna makanan seperti sedia kala. Personal trainer sekaligus konsultan nutrisi dan kesehatan Dionisius Henry juga menyarankan untuk berbuka dengan makanan manis yang sifatnya cepat serap. 


Setelah membatalkan puasa dengan sesuatu yang manis, istirahatkan dulu lambung (dengan tidak makan atau minum) selama 30 menit. Baru diperbolehkan makan nasi lengkap dengan lauk pauknya. Bagi penderita maag, dokter lulusan Universitas Padjajaran ini menyarankan untuk berbuka puasa dengan minum jus melon. Setelah itu, bisa mengonsumsi kurma atau buah segar karena mengandung gula alami yang aman bagi tubuh. Menurut praktisi gaya hidup sehat dr. Phaidon L. Toruan, air kelapa murni, kurma serta buah-buahan lainnya merupakan makanan dan minuman paling ideal untuk berbuka puasa. Air kelapa kaya akan elektrolit yang diperlukan untuk mengganti cairan elektrolit yang hilang selama berpuasa. 


Hindari makanan berminyak, berlemak, dan mengandung kadar gula tinggi
 

Makanan berminyak akan membuat sel darah merah menggumpal sehingga menyebabkan aliran oksigen menjadi berkurang hingga 20 persen. Akibatnya Anda akan mengantuk pada siang hari. Makanan berminyak juga dapat membuat Anda cepat haus, sementara makanan berkadar gula tinggi bisa membuang garam mineral penting bagi tubuh Anda. Makanan atau minuman manis juga baik untuk berbuka puasa, hanya saja gunakan gula aren atau madu sebagai pemanis, jangan gula pasir atau gula diet yang mengandung aspartan. 


Kurangi mengonsumsi kopi dan teh
 

Hindari minum-minuman olahan seperti kopi, teh, atau soda, yang dapat meningkatkan produksi air seni dan mengeluarkan zat-zat mineral dalam tubuh yang diperlukan.  Kopi dapat  membuat Anda sulit tidur dan menimbun banyak lemak. Ganti kedua minuman tersebut dengan air mineral dan jus buah. Terlalu banyak teh di sahur membuat Anda sering buang air kecil dan berakibat garam mineral berharga yang diperlukan tubuh saat siang hari hilang. 


Lakukan olahraga ringan 


Meski terkesan berat, berolahraga ringan saat menjalankan puasa dapat mengusir rasa rasa lesu, malas, dan mengantuk. Berolahraga dapat mengubah cadangan energi atau lemak dalam tubuh menjadi menjadi glukosa. Hasilnya, badan akan menjadi segar. Untuk merasakan efeknya, disarankan untuk melakukan olahraga ringan di sore hari menjelang waktu berbuka. 


Hindari merokok 


Bukan merokok yang menjadi penutup sahur Anda, melainkan banyak minum air putih. Selain itu konsumsi jus buah juga penting untuk membantu menambah cairan pada tubuh. 


Atur pola tidur 


Pengaturan pola tidur juga merupakan hal yang penting. Mengantuk selama puasa bukanlah disebabkan karena tak makan dan minum seharian, melainkan karena tak memiliki waktu tidur yang cukup. Jika harus bangun pagi untuk menyiapkan makan sahur, maka pada malam harinya Anda tidak boleh begadang untuk keperluan yang tidak terlalu penting.






Fajri Rahmawati (fajrirahmawatii@rocketmail.com)

comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Tadarus Dengan Pengeras Suara

Pada bulan Ramadlan, pahala amal kebaikan akan dilipatgandakan oleh Allah SWT. Nabi SAW sangat menganjurkan umatnya untuk memperbanyak melaksanakan ibadah kepada Allah SWT padda malam hari bulan Ramadlan. Dalam sebuah Hadits, Nabi SAW bersabda:

عن ابى هريرة رضي الله عنه أن رسول الله ص.م. قال من قام رمضان ايماناواحتسابا غفرله ماتقدم من ذنبه. (صحيح البخاري, رقم 1870 )
“dari Abi Hurairah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang memeriahkan bulan Ramadlan dengan ibadaah, (dan dilaakukan) dengan penuh keimanan dan keikhlasan, maka akan diampuni segala dosanya yang telah lalu” (Shahih al-Bukhari: 1870).

Tentang apa yang dimaksud dengan memeriahkan malam bulan Ramadlan yang ada dalam hadits ini, al-Shan’ani dalam kitabnya Subul al-Salam menjelaskan:

قيام رمضان اي قيام لياليهامصليااوتاليا. (سبل السلام, ج 2 ص 173 )
“yang dimaksud dengan qiyam Ramadlan (dalam hadits itu) adalah mengisi dan memeriahkan malam Bulan Ramadlan denga melakukan shalat atau membaca al-Qur’an” (Subul al-Salam, juz II, hal 173).

Lebih lanjut, Syaikh al-Manawi, pengarang kitab Faidl al-Qadir Syarh al-Jami’ al-Shaghir menjelaskan:

ويحصل بنحو تلاوة اوصلاة اوذكر او غلم شرعي وكذاكل اخروي (فيض القدير , ج  6  ص 191 )
“Qiyam Ramadlan itu dapat dilaksanakan dengan membaca al-Qur’an, shalat, dzikir atau mempelajari ilmu agama. Dan juga dapat terwujud dalam setiap bentuk perbuatan baik.” (Faidl al-Kabir, juz VI, hal. 191)

Maka sudah jelas, bahwa membaca al-Qur’an pada malam bulan puasa itu sangat dianjurkan oleh agama. Kemudian bagaimana jika hal itu dilakukan secara bersama-sama. Yang satu membaca al-Qur’an, sedang yang lain mendengarkan serta memperhatikan bacaan tersebut? Menjawab pertanyaan ini syaikh Nawawi al-Bantani mengatakan:

فمن التلاوة المدارسة المعبر عنها بالادارة وهي ان يقرأ على غيره ويقرأ غيره عليه ولوغيرماقرأه الأول. (نهاية الزين , ص 195-194)
“Termasuk membaca al-Qur’an (pada bulan Ramadlan) adalah mudarasah, yang sering disebut pula dengan idarah. Yakni seseorang membaca pada orang lain. Kemudian orang lain itu membaca pada dirinya. (Yang seperti ini tetap sunnah) sekalipun apa yang dibaca (orang tersebut) tidak seperti yang dibaca orang pertama.” (Nihayah al-Zain, 194-195)

Dan ternyata, praktik seperti ini pernah dilakukan Rasulullah SAW bersama malaikat Jibril. Dalam sebuah hadits disebutkan:

عن ابن عباس ان رسول الله ص.م. كان من اجودالناس واجودمايكون في رمضان حين يلقاه جبريل يلقاه كل ليلة يدارسه القرأن فكان رسول الله ص.م. حين يلقاه جبريل اجود من الريح المرسلة. (مسندأحمد , رقم 3358)
“Dari Ibn ‘Abbas RA bahwa Rasulullah SAW adalah orang yang paling pemurah. Sedangkan saat yang paling pemurah bagi beliau pada bulan Ramadlan adalah pada saat malaikat Jibril mengunjungi beliau. Malaikat Jibril selalu mengunjungi Nabi setiap malam bulan Ramadlan, lalu melakukan mudarasah al-Qur’an dengan Nabi. Rasulullah SAW ketika dikunjungi malaikat Jibril, lebih dermawan dari angin yang berhembus.” (Musnad Ahmad: 3358).

Dapat disimpulkan bahwa tadarus yang dilakukan di masjid-masjid atau mushalla pada malam bulan Ramadlan tidak bertentangan dengan agama dan merupakan perbuatan yang sangat baik, karena sesuai dengan tuntunan dan ajaran Nabi SAW. 

Jika dirasa perlu menggunakan pengeras suara, agar menambah syiar agama Islam, maka hendaklah diupayakan sesuai dengan keperluan dan jangan sampai mengganggu lingkungannya, supaya ajaran syiar tersebut bisa diraih.



KH Muhyiddin Abdusshomad, Dikutip dari Buku Fiqh Tradisionalis (Malang:Pustaka Bayan, 2004)
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Adab Saat Makan


Segala puji bagi Allah ta’ala, Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi manusia dan langit sebagai atap, Yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia menghasilkan dengan hujan itu segala buah-buahan sebagai rezeki untuk manusia. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa salam, keluarganya, sahabat serta seluruh pengikutnya yang setia hingga akhir zaman.


Dengan memohon taufiq Allah ta’ala, berikut ini akan kami sampaikan beberapa adab atau tatacara makan dan minum yang diajarkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam, dengan harapan kita bisa mengamalkannya manakala kita hendak makan atau minum.


1. Membaca Basmalah Ketika hendak Makan


Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan dari Ummu Mukminin Aisyah Radhiallahu anhaa, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda,


إذا أكل أحدكم طعما فليقل بسم الله

“Jika kalian hendak makan, maka ucapkanlah Bismillah” (Shahih, HR Abu Daud nο 3767, Tirmidzi nο 1858). 

Dan jika lupa membaca Bismillah di awal makan, maka ucapkanlah doa:


بسم اللهِ أوَّلَهُ وَآخِرَهُ


Lafadz doa ini terdapat dalam sebuah hadits dari Aiysah Radhiallahu anhaa. Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


إِذَا أكَلَ أحَدُكُمْ فَلْيَذْكُرِ اسْمَ اللهِ تَعَالَى، فإنْ نَسِيَ أنْ يَذْكُرَ اسْمَ اللهِ تَعَالَى في أوَّلِهِ، فَلْيَقُلْ: بسم اللهِ أوَّلَهُ وَآخِرَهُ

“Jika kalian hendak makan , maka sebutlah nama Allah ta’ala (dengan ucapan bismillah), dan jika lupa menyebut nama Allah ta’ala pada awal makan, maka ucapkanlah Bismillahi awwalahu wa akhirohu” (HR Tirmidzi nο 1858, Tirmidzi berkata: hadits hasan shahih).


2. Makan dan Minum dengan Tangan Kanan


Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam bersabda,


إذا أكل أحدكم فليأكل بيمينه و إذا شرب فليشرب بيمينه فإن الشيطان يأكل بشماله و يشرب بشماله

“Jika kalian hendak makan, maka makanlah dengan tangan kanan. Jika hendak minum, minumlah dengan tangan kanan. Karena sesungguhnya syaithan memakan dengan tangan kiri, minum dengan tangan kiri” (HR Abu Daud nο 3776, dishahihkan oleh Syaikh Al Bany dalam Shohihul Jami’ nο 383).


3. Tidak Makan dalam keadaan Tidur


Sahabat Abu Zuhaifah Radhiallahu anhu meriwayatkan sebuah hadits, bahwa Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam pernah bersabda, “Adapun aku tidaklah makan dalam keadaan tiduran” (Shahih, HR Bukhari nο 5398).


Untuk sementara, demikian yang dapat saya sampaikan, insya Allah di kesempatan selanjutnya akan saya sampaikan adab-adab yang lain berkaitan dengan makan dan minum dengan ijin Allah ta’ala. Semoga bermanfaat bagi saya dan seluruh kaum muslimin.




Rahmat A.P.
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Rahasia Berbuka Dengan Kurma


Kurma adalah buah yang berkah, Rosulullah SAW mewasiatkan kepada kita untuk memakannya ketika mulai berbuka dari puasa Ramadhan. Dari Salman ibn 'Aamir, Sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda, "Jika salah seorang diantara kalian akan berbuka puasa, maka berbukalah dengan kurma sebab kurma itu berkah, kalau tidak ada maka dengan air karena air itu bersih dan suci (HT. Abu Daud dan Tirmidzi).

Dari Anas, sesungguhnya Nabi Muhammad SAW berbuka puasa dengan beberapa ruthab (kurma mengkel segar yang baru dipetik dari pohonnya-pent) sebelum shalat, kalau tidak ada ruthab, maka dengan beberapa kurma matang, kalau tidak ada, maka dengan meneguk beberapa tegukan air putih (HR. Abu Daud dan Tirmidzi).

Tidak diragukan lagi bahwa dibalik sunnah nabi ini ada petunjuk medis dan manfaat yang banyak bagi kesehatan, dan hukum yang bagus. Rosulullah SAW telah memilih makanan ini dan tidak memilih yang lainnya karena adanya manfaat yang sangat besar, tidak hanya karena buah itu banyak dijumpai di lingkungannya semata. 

Maka, ketika seorang yang berpuasa mulai berbuka maka organ-organ tubuhnya akan bersiap; dan organ pencernaan mulai berakivitas kembali, khususnya lambung yang butuh untuk diberikan sesuatu yang lembut, dan memulai mengakifkan kerjanya kembali dengan halus. Dan orang yang sedang berpuasa, pada keadaan ini, sangat butuh akan makanan yang mengandung gula yang mudah dicerna, yang bisa menghilangkan rasa lapar, persis seperti ia butuh akan air. Dan nutrisi makanan yang tercepat bisa dicerna dan sampai ke darah adalah zat gula, khususnya makanan yang mengandung satu atau dua zat gula (glukosa atau sukrosa). Sebab tubuh mampu menyerap dengan mudah dan cepat zat gula itu hanya dalam beberapa menit. Apalagi jika lambung dan perut sedang kosong, seperti orang yang berpuasa ini.

Andai anda mencari makanan yang bisa menyamai dua kandungan yang dituju ini secara bersama (menghilangkan lapar dan dahaga secara bersamaan dengan satu makanan), maka anda tidak akan pernah menemukan makanan itu lebih baik daripada apa yang disuguhkan oleh sunnah nabawiyah, dimana sunnah memotivasi orang yang berpuasa untuk membuka puasanya dengan zat gula manis sekaligus kaya akan air (ruthab) atau pun tamar (kurma matang). Berdasarkan penelitian bio-kimia, ditemukan bahwa satu bagian kurma yang kita makan sama dengan 86 - 87 % beratnya; mengandung 20 - 24 % air; 70 - 75 % gula; 2 - 3 % protein; 8,5% serat; sangat kecil sekali kandungan lemah jenuh (lecithine). 

Berdasarkan penelitian tersebut, juga ditemukan bahwa ruthab (kurma mengkel) mengandung 65 - 70 % air berdasarkan berat bersihnya; 24 - 58 % zat gula; 1,2 - 2 % protein; 2,5 % serat, dan sedikit sekali mengandung lemak jenuh (lecithine).

Berdasarkan penelitian kimiawi dan fisiologi yang dilakukan Dr. Ahmad Abdul Ra'ouf Hisyam dan Dr. Ali Ahmad Syahhat, diperoleh data sebagai berikut: 

Mengkonsumsi ruthab (kurma mengkel, masih segar, matang dipohon) atau tamar (kurma matang kering seperti yang tersebar di Indonesia -pent) setiap kali mengawali buka akan menambah terhadap badan persentase yang besar akan kandungan zat gula, maka dengan ini akan hilang penyakit anemia (kurang darah), sehingga tubuh lebih menjadi bergairah;

Saat lambung kosong dari makanan, maka ia akan mudah mencerna dan menyerap makanan kecil yang mengandung gula ini secara cepat dan maksimal; 

Sesungguhnya kandungan ruthab dan tamar akan zat gula dalam bentuk kimia sederhana menjadikan proses mencerna dan menyerap di lambung sangat mudah, sebab 2/3 (dua per tiga) zat gula ada dalam tamar dan dalam bentuk zat kimia sederhana. Hal ini pun bisa meningkatkan kadar gula dalam darah dalam waktu yang singkat;

Sesungguhnya adanya tamar yang mengandung air, dan ruthab yang mengandung air tinggi (65 - 70 %) akan menambahkan terhadap tubuh persentase yang tidak membahayakan, maka dengan itu seorang yang berpuasa tidak harus meminum air dalam jumlah banyak ketika berbuka.



Dr. Hissaan Syamsi Basya
comments | | Selengkapnya...
Jadilah Publisher Artikel MRO di facebook anda. Klik di sini
Download Aplikasi Mushollarapi for Android di sini

Download File Audio

Sholat

Adab

Keluarga dan Pernikahan

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger