Adv 1
Ged a Widget
Gg. Merah Putih, Jl. Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Kudus
Home » » Islam Menebar Kedamaian Bag. 1

Islam Menebar Kedamaian Bag. 1

Islam adalah agama cinta damai, sebenarnya bukan hanya sebuah slogan. Sebagian orang mengidentikkan Islam dengan agama yang penuh kekerasan, perang dan pedang. Lebih-lebih, diantara umat Islam sendiri (baca : kelompok umat Islam), memiliki pemikiran yang demikian ekstrim. Namun sebenarnya mereka tidak memiliki pemahaman yang utuh terhadap pemahaman awal/dasar yang harus dipahami di dalam Islam. Hal yang sangat memprihatinkan. Karena pemahaman mereka yang setengah-setengah ikut menyesatkan pengikutnya pada pemikiran yang sempit dan dangkal ini.

Islam (berbeda dengan sebagian pandangan sekelompok orang ) selalu condong kepada perdamaian, membangkitkan semangat perdamaian, dan mengajak segenap umat manusia kepada perdamaian. Islam menempatkan perdamaian sebagai tujuan utama dakwahnya. 

Islam juga membenci peperangan dan mendorong setiap umatnya agar selalu mencegah peperangan sebisa mungkin. Apabila peperangan terpaksa terjadi , Islam selalu berusaha untuk membatasi cakupannya, memperkecil kerugiannya, dan meminimalisasi akibat-akibat buruk dari peperangan.

Dari segi bahasa, Islam dan salam (damai) atau silm berasal dari kata, sin, lam, dan mim. Allah SWT berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kamu turut langkah-langkah setan. Sesungguhya setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS al-Baqarah, 208).

Kata silm memiliki beberapa penafsiran, pertama, silm ditafsirkan salam (damai), kedua, silm ditafsirkan sebagai Islam, yaitu masuklah kalian ke dalam cabang-cabang Islam seluruhnya : akidah, ibadah, muamalah, akhlak, dan undang-undang. Akhirnya memasuki kedamaian yang hakiki, kedamaian dalam diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan seluruh manusia.

Asal dari makna al-silm adalah penyerahan diri dan meinggalkan perselisihan. Al silm, memiliki dua makna, makna yang pertama, rekonsiliasi, perdamaian dan meninggalkan peperangan, kedua, kepatuhan terhadap Allah, agama-Nya dan syariat-syariat.

Salam termasuk salah satu Asmaul Husna yang dimiliki oleh Allah SWT. Dalam berdo’a, seorang muslim kadang menggunakannya, dan dalam bertaqarrub kepada Allah, senantiasa menyebutnya. Allah SWT berfirman : “Hanya miliki Allah Asmaul Husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut Asmaul Husna.” (QS al-A’raf, 180).

Dalam al-Qur’an, kita membaca, “Dialah Allah Yang tiada tuhan selain Dia, Raja Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera.” (QS al-Hasyr, 23).

Umat Muslim adalah umat yang satu yang terdapat di kalangan mereka seseorang dengan nama Abdul Salam (hamba dari Zat Yang Mahasejahtera), yaitu hamba Allah.

Surga yang dirindukan oleh setiap mukmin, dan ia beramal sebanyak mungkin agar bisa menjadi penghuni surga, dinamakan juga Darus Salam. Firman-Nya, “Bagi mereka (disediakan) Darus Salam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan.” (QS, al-An’am : 127).

Kata yang paling banyak terdengar di surga nanti adalah kata salam, yaitu bentuk penghormatan kaum mukmin di akhirat kelak. Firman-Nya, “Salam penghormatan kepada mereka (orang-orang mukmin itu) pada hari mereka menemui-Nya ialah: Salam, dan Dia menyediakan pahala yang mulia bagi mereka” (QS al-Ahzab, 44).

Allah SWT berfirman : “Doa mereka di dalamnya ialah: “Subhanakallahumma”, dan salam penghormatan mereka ialah: “Salam”. Dan penutup doa mereka ialah: “Alhamdulillaahi Rabbil ‘aalamin.” (QS Yunus : 10).

“Mereka tidak mendengar di dalamnya perkataan yang sia-sia dan tidak pula perkataan yang menimbulkan dosa, akan tetapi mereka mendengar ucapan salam.” (QS al-Waqi’ah : 25-26).

Sebagaimana kata salam merupakan bentuk penghormatan orang-orang mukmin di akhirat nanti, kata ini juga merupakan bentuk penghormatan mereka di dunia. “Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh.” (semoga keselamatan, rahmata Allah dan berkah-Nya tercurahkan kepada kalian). Menebarkan salam termasuk amal yang utama di dalam Islam.

Dirirwayatkan oleh Abu Hurairah r.a. Rasulullah SAW bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga hingga beriman. Dan kalian tidak akan beriman hingga kalian saling mencintai. Maukah kalian aku tunjukkan dengan suatu amalan yang jika kalian kerjakan, niscaya kalian akan saling mencintai : tebarkanlah salam di antara kalian.” (HR Muslim, Ahmad, Al Tirmidzi dan Ibn Majah). Sesuai hadist tersebut maka salah satu ciri orang beriman adalah menebarkan salam.

Saat duduk tasyahud dalam sholat, seorang Muslim menyampaikan salam kepada Nabinya, Muhammad, dan kepada dirinya, dan umat Muhammad : “assalamu ‘alaika ayyuha al-nabiyyu warahmatullahi wabarakatuh. Assalamu ‘alaina wa ‘ala ibadillah al shalihin.” (semoga keselamatan tercurah kepadamu, wahai Nabi, juga rahmat Allah dan berkah-Nya. Semoga keselamatan tercurah kepada kita semua dan kepada hamba-hamba yang saleh).

Lalu, seseorang Muslim mengakhiri shalat dengan mengucapkan penghormatan salam ke sebelah kanan dan kiri, sebagai pemberitahuan bahwa dia dalam keadaan salam (selamat/sejahtera/damai) sewaktu mengerjakan sholat. Apabila selesai mengerjakan sholat, di menemui orang-orang dan menjalani kehidupan dengan penuh salam. Dengan demikian, dirinya menjadi salam dalam ibadahnya dan salam dalam muamalahnya.



Al Sukmana
Share this article :

Posting Komentar

 
Musholla RAPI, Gg. Merah Putih (Sebelah utara Taman Budaya Kudus eks. Kawedanan Cendono) Jl. Raya Kudus Colo Km. 5 Bae Krajan, Bae, Kudus, Jawa Tengah, Indonesia. Copyright © 2011. Musholla RAPI Online adalah portal dakwah Musholla RAPI yang mengkopi paste ilmu dari para ulama dan sahabat berkompeten
Dikelola oleh Remaja Musholla RAPI | Email mushollarapi@gmail.com | Powered by Blogger